MELODY 911 With The Three Musketeers

MELODY 911 With The Three Musketeers
Jaket Pelindung (Revisi)



Hujan juga tidak berhenti sampai jam istirahat. Meski sempat reda untuk beberapa saat, tetapi akhirnya turun deras kembali ketika Melody berada di sekolah. Melody pergi ke toilet saat jam istirahat. Awalnya dia merasa biasa saja ketika segerombolan siswi mengikutinya masuk ke dalam toilet.


Ketika Melody keluar dari WC dan mencuci tangannya, dia memperhatikan segerombolan siswi tadi menatapnya melalui cermin. Tiba-tiba siswi yang berjumlah enam orang itu mendorongnya ke pojok toilet hingga membentur wastafel.


Melody tidak mengerti apa yang mereka lakukan padanya dan kenapa mereka semua melakukan hal itu pada dirinya.


"Sorry, siapa namamu?" tanya seorang siswi. Siswi itu cukup terkenal di sekolah karena kecantikannya. Namanya adalah Cindy, kelas XI IPS 5. Hampir seluruh wajahnya di tutupi make-up yang membuatnya terlihat beda di antara siswi lainnya. "Melody. Bagaimana hubunganmu dengan Felix? Sepertinya berjalan dengan lancar kan?" Cindy menyeringai membuatnya terlihat seperti penyihir jahat dengan bibir semerah darah. "Pasti sangat senang kan? Jangan sombong karena Felix menyukaimu dan jangan merasa kecantikan. Aku yakin Felix hanya mempermainkanmu saja.


"Aku rasa itu bukan urusan kalian?" ucap Melody mencoba terlihat berani walau saat ini ketakutan menyelimuti dirinya.


"Berani sekali kau bicara begitu padaku?!" ujar Cindy kesal.


Dengan gerakan tangannya, Cindy menyuruh teman-temannya untuk memegangi Melody agar Melody tidak dapat bergerak untuk melawan. Cindy mulai menarik baju seragam Melody hingga semua kancingnya terlepas, dengan iringan tawa mengejek mereka. Dia bersama teman-temannya tidak membiarkan gadis malang itu melawan, walau Melody mencoba sebisa mungkin lepas dari cengkraman mereka.


Setelah mereka puas, mereka keluar dengan mengunci pintu toilet dari luar, meninggalkan Melody sendiri dalam kesedihan.


Melody merasa sedih dan kesal karena tidak bisa menghentikan Cindy dan teman-temannya mempermainkan dirinya. Ketika semua sudah terjadi dia hanya bisa menangis seperti sekarang. Melody merasa benar-benar benci pada dirinya yang lemah tersebut, karena selalu seperti ini pada akhirnya.


"Kau dimana? Pelajaran sudah di mulai lagi dari tadi. Kenapa belum datang juga?" tanya Lion ketika Melody menghubunginya menggunakan handphone untuk meminta bantuan pria itu.


"Tolong aku! Aku terkunci di toilet." ucap Melody menahan tangisnya.


Tidak sampai dari lima menit Lion datang membuka pintu toilet yang di kunci.


Melody yang berada di salah satu WC menghapus air matanya karena tidak ingin Lion tahu dirinya menangis. Benar. Selalu seperti ini. Sejak taman kanak-kanak, hanya Lion yang aku hubungi untuk meminta bantuannya. Bahkan bukan dari taman kanak-kanak, melainkan saat kami belum sekolah aku selalu memanggilnya, meminta bantuannya. Pernyataan tersebut terumbar dalam batin Melody sehingga membuatnya semakin sedih karena dia merasa dirinya sangat lemah dan tidak dapat berbuat apa-apa tanpa Lion.


"Melon!!" seru Lion yang baru saja masuk toilet.


"Aku disini." jawab Melody.


"Kau tidak apa-apa kan?" Lion bertanya sekali lagi. "Ayo cepat keluar. Apa pintunya tidak bisa dibuka juga?"


"Bajuku tersangkut pintu saat masuk toilet tadi, dan sekarang semua kancingnya terlepas." ucap Melody berbohong.


Tanpa di minta Lion langsung melepas jaketnya dan memberikannya pada Melody, diapun langsung memakainya. Jaket warna biru dongker yang ukurannya sangat besar di badan Melody itu membuatnya terlihat seperti badut, tetapi Melody tidak bisa menolaknya karena inilah yang terbaik untuknya saat ini bahkan dia sangat memerlukannya.


"Lion..."


"Kenapa? Ayo cepat keluar!!"


"Aku tidak bohong, tadi bajuku tersangkut. Jadi jangan beritahu kakak-kakakku!!"


"Iya aku tidak akan beritahu. Sekarang cepat keluar kalau tidak aku dobrak."


Secepatnya Melody membuka pintu.


Lion menatapnya dengan tajam. "Karena Felix kan?"


"Sudah aku bilang tadi..."


"Aku tidak akan kasih tahu mereka tapi ayo kita temui anak itu!!" Lion menarik lengan Melody dan mencoba membawanya keluar dari toilet untuk menemui Felix.


"Felix tidak tahu apa-apa." Melody mulai meneteskan air mata lagi.


Lion pun berhenti menarik tangannya. Tatapan Lion terlihat bingung menatap wajah Melody.


"Aku mohon bantu aku lagi." pinta Melody dengan nada sangat memohon.


"Terserah." jawab Lion ketus setelah itu berjalan keluar toilet.


...***...


Di kelas Melody merasa canggung pada Lion. Tidak biasanya seperti itu. Sudah lebih dari lima belas tahun terhitung dari dirinya lahir mereka berdua selalu bersama-sama, Melody tidak pernah sekalipun merasa canggung pada Lion sebelumnya. Melody memang sering kesal melihat tingkah sahabatnya itu tapi dia tidak pernah benci padanya. Kejadian tadi membuatnya bingung. Melody takut kalau Lion memberitahukan kakak-kakaknya.


Melody mengambil buku dan meletakannya di atas kepala Lion karena malas mendengar kata-katanya. Dia tidak marah, batin Melody merasa lega melihat Lion sudah kembali seperti dirinya yang menyebalkan.


"Pilih mana, Traktir dua kali atau traktir sekali tapi aku beritahu Ars tentang kejadian tadi?" Lion mengambil buku yang menutupi pandangannya dari Melody dan mengangkat kepala. Dia terus menatap Melody menunggu jawabannya. "Baiklah aku akan..."


Melody merampas buku yang di pegang Lion dan memukul kepalanya. Lion meringis kesakitan. "Awas kalau berani bilang!!" ancam Melody.


"Berarti dua kali kan?" Lion tersenyum.


Melody bersama Lion berjalan keluar kelas ketika waktu belajar usai. Seluruh siswa juga sudah berhamburan keluar kelas. Hari ini juga kakak-kakak Melody menyuruh adiknya pulang bersama Lion. Mau tidak mau Melody menurut saja. Felix juga tidak menghubunginya.


"Sekarang traktirannya kan?" seru Lion yang berjalan di belakang Melody ketika keluar pintu kelas. "Aku akan cari tempat yang sangat mahal..."


Melody menghentikan langkahnya saat melihat Felix berdiri di luar kelas. Pria itu menunggunya, tetapi Melody merasa aneh karena Felix tidak menghubunginya seperti biasanya? Lion juga menghentikan langkahnya di belakang Melody, dan menatap Felix dengan tatapan malas.


"Ayo kita pulang Melody..." ajak Felix tanpa memedulikan sosok Lion.


"Kalau tidak jadi sekarang, berarti traktirannya jadi tiga kali." seru Lion dengan tampang kesal pada Melody.


Yang benar saja. Dalam dua hari ini, dia minta traktiran tiga kali. Ini namanya pemerasan. Apa di pikirannya hanya ada makanan? Pikir Melody sedikit kesal pada Lion.


"Dengar tidak, Melon?" Tanya Lion memegang bahu Melody. tiba-tiba Felix menyingkirkan tangan Lion dari bahu Melody tersebut. Lion mulai terlihat tidak senang.


"Sorry, kau itu siapanya? Kenapa..."


"Siapa?" Lion balik bertanya dengan kesal menatap Felix. "Aku hanya tukang ojeknya?" lanjut Lion. "Dengar jadi empat kali ya?" Lion berbicara pada Melody setelah itu berjalan meninggalkannya bersama Felix sambil memasang headphone ke telinganya.


...***...


Dengan wajah babak belur dan seragam yang hampir basah seluruhnya, Aramis berlari memasuki sebuah apotek untuk membeli obat untuk mengolesi luka-lukanya yang habis berkelahi. Hujan sedang turun saat ini.


Ibu penjaga apotek yang sudah dikenal Aramis sedang melayani seorang wanita bertubuh jangkung dengan tampilan seperti seorang pria. Memakai jaket kulit hitam dan topi hitam dengan tulisan huruf A. Sebuah tisu menyumbat lubang kiri hidungnya. Aramis tidak bisa melihat jelas wajahnya karena kupluk jaketnya menutupi wajah gadis itu dari samping, tempat dia berdiri.


"Sebaiknya periksa ke dokter dulu, mimisanmu itu diakibatkan oleh apa." ucap Ibu penjaga apotek.


"Aku sedang flu, kemungkinan karena itu." jawab gadis bertopi tersebut.


"Kalau begitu coba pakai ini, semoga cocok." Ibu penjaga apotek memberikan sebuah obat pada gadis itu. "Aku tidak pernah melihatmu sebelumnya."


"Aku dari luar kota, ke sini karena ada urusan keluarga." jawab gadis itu sambil memberikan uang untuk membayar.


"Semoga cepat sembuh."


"Terimakasih." ucap gadis itu berbalik dan berjalan keluar apotek.


"Ars, kau datang dengan wajah penuh lebam lagi." ujar ibu apotek pada Aramis yang menoleh melihat kepergian gadis tadi. "Kenapa kau melihatnya terus?"


"Dia itu wanita atau pria?" Aramis menoleh pada ibu penjaga apotek.


"Dia seorang gadis, walau tampilannya seperti itu dia gadis cantik. Tapi sepertinya aku tidak asing dengan wajahnya." Ibu penjaga apotek terlihat mengingat-ingat.


"Berikan aku obat biasanya, yang kemarin sudah habis."


"Kau ini selalu berkelahi." gumam ibu penjaga apotek memberikan sebuah salep pada Aramis. "Astaga, gadis tadi meninggalkan payungnya." ibu penjaga toko mengambil payung yang berada tidak jauh dari pintu. "Dia pasti sudah pergi jauh."


"Berikan padaku, biar aku mencarinya." seru Aramis langsung mengambil payung tersebut dan bergegas keluar.


Aramis mencari gadis bertopi tadi, dan melihatnya menaiki motor besar tanpa jas hujan padahal hujan semakin deras. Aramis berlari hendak mendekatinya tetapi gadis itu sudah dulu melajukan motornya sangat cepat menembus hujan.


"Astaga, pantas saja dia flu, dia naik motor tanpa jas hujan padahal hujan sederas ini." ujar Aramis dengan memakai payung merah gadis tadi. "Kalau begitu untuk apa dia memakai payung? Gadis bodoh."