MELODY 911 With The Three Musketeers

MELODY 911 With The Three Musketeers
Cermin Penghubung



Sepeninggalan Aramis, Melody dan Lion diam dalam kesunyian.


Melody merasa bingung harus bersikap bagaimana pada Lion. Dia hanya menatap Lion yang memunggunginya.


"Ada apa? Kenapa terus menatap padaku begitu?" tanya Lion membuat Melody terkejut.


Melody melihat Lion memandang padanya melalu cermin yang ada di samping jendela, karena itu Lion tahu kalau dirinya memperhatikan Lion.


"Bagaimana keadaan sekolah ketika aku tidak ada? Pasti kau kesepiankan karena tidak ada aku."


Melody terdiam dan menundukan kepalanya. Untuk beberapa saat mereka berdua kembali terdiam namun setelah itu Melody mengangkat kepalanya lagi, menatap Lion di pantulan cermin.


"Maafkan aku, ucap Melody. Aku membuatmu diskors."


"Itu benar, karena kalian berdua mengganggu tidurku aku jadi emosi." ujar Lion bersandar di tempat tidur, di samping bawah Melody. "Tapi aku senang dapat skorsing, aku jadi tidak perlu bangun pagi dan terus bersantai di kamar." Lion meregangkan tubuhnya. "Jangan khawatir Melon, aku tidak marah tapi bukan berarti hutang empat kali traktiran kau lupakan!!" seru Lion menoleh pada Melody.


Melody masih terdiam dan menghindar dari tatapannya. Dalam benaknya saat ini, dia sedang menimbang-nimbang apa yang akan di katakannya lagi, apakah hal itu harus dia bicarakan dengan Lion atau tidak.


"Lion..." panggil Melody ragu.


"Ada apa?" sahut Lion masih menatap Melody.


"Aku bilang pada Felix untuk berhenti menghubungiku lagi."


Lion terdiam mendengar perkataan Melody. Karena Lion tidak berkata apapun, Melody menoleh pada Lion yang menatapnya.


Dengan cepat Lion mengalihkan pandangan dari tatapan Melody. "Jadi begitu." hanya kalimat itu yang keluar dari mulut Lion.


"Menurutmu, bagaimana menurutmu? Apa aku benar melakukannya?" tanya Melody.


"Kenapa harus tanya menurutku?" Lion balik bertanya sambil memandang langit-langit dengan kepala menengadah bersandar di sisi tempat tidur.


Melody terdiam mendengar jawaban Lion. Dia tidak tahu harus berkata apa lagi karena dia sendiri pun bingung kenapa bertanya, meminta pendapat Lion mengenai hal itu.


Kenapa aku bertanya begitu padanya? Apa yang aku pikirkan? Ucap Melody dalam hati.


"Baiklah aku siap mengalahkanmu sekarang juga!!" seru Aramis membuka pintu. Memecahkan kesunyian yang terjadi di ruangan tersebut. "Minggir, minggir!! Aramis mengusir Lion yang mengambil tempat duduknya. Rekor tak terkalahkanmu akan berakhir malam ini juga!!" ujar Aramis pada Lion ketika mereka berdua memulai kembali permainannya.


Permainan di mulai dan Lion atau pun Aramis serius bermain tanpa bicara hingga Lion dapat mencetak dua gol.


"Lihat, aku akan segera membalik keadaan!! kau tidak akan bisa mengalahkan aku!!" seru Lion ketika dia mencetak gol keduanya.


"Kita lihat saja." ucap Aramis. "Ngomong-ngomong, apa Sandra menghubungimu?" tanya Aramis pada Lion.


Mendengar perkataan Aramis, jantung Melody berdetak lebih cepat dan dia merasakan penasaran dengan jawaban yang akan di katakan Lion mengenai hal tersebut.


"Sandra terus menerus mencarimu di café jadi aku memberitahu nomer handphone-mu padanya. Sepertinya dia sangat menyukaimu." kata Aramis sesekali menoleh pada Lion yang duduk di sampingnya. "Dia pasti menelepon atau kirim pesan kan? Heh, kau dengar tidak??" Aramis menyenggol kaki Lion dengan kakinya.


"Ya, dia menelepon dua kali dan pagi siang sore terus mengirim pesan padaku." jawab Lion. "Karena itu aku merasa seperti sedang diteror olehnya."


"Tapi kau membalasnya kan??"


"Menurutmu?!" tatap Lion pada Aramis. "Jangan beritahu nomerku pada pengunjung di café!! kau dengar?!" Lion menyikut Aramis.


"Tidak usah berpura-pura, pasti kau senang kan?" ucap Aramis. "Sandra sangat cantik jadi tidak mungkin kau tidak menanggapinya. Bukan begitu Melo??"


"A... apa?" tanya Melody bingung.


"Kau sudah melihat Sandra kan? bagaimana dia menurutmu? Kira-kira apa dia cocok dengan si bodoh ini??" Aramis menoleh pada Melody yang sedang kebingungan mencari jawaban yang akan dia katakan.


"Tidak!!" jawab Melody membuat Lion menghentikan permainannya dan melihat Melody melalu cermin. "Dia terlalu cantik untuk orang aneh seperti si bodoh ini, bukan begitu kak Ars??" lanjut Melody.


Lion melanjutkan permainannya kembali. "Kakak dan adik sama saja." ujar Lion dengan kesal. "Sama-sama menyebalkan!!"


"Lihat aksi terakhirku, bodoh!!" seru Aramis, yang di maksud adalah game yang sedang mereka mainkan.


"Tidak, tidak!!" Lion panik ketika Aramis menyerang dan mencetak gol kemenangannya di akhir babak kedua.


Permainan berakhir dengan skor 4-2, kemenangan untuk Aramis.


"AKU MENANG!!" teriak Aramis sambil merebahkan tubuhnya. "Lihat El Clasico dalam game pun tetap dimenangkan Barcelona." senyum Aramis.


"Kau curang lagi!! kau terus menerus mengganggu konsentrasiku!!" protes Lion.


Aramis bangun dan menantap Lion, "Menang tetap saja menang, bukan begitu Melo?" Aramis menoleh pada Melody dan mengangkat tangan kanannya.


Melody menepuk tangan kakaknya tersebut, "Yang menang adalah juara dan yang kalah adalah pecundang." ucapnya.


"Kau dengar? Yang kalah adalah pecundang!!" seru Aramis tersenyum mengejek pada Lion sehingga Lion semakin kesal.


Aramis bangkit berdiri dan berjalan ke arah beranda. Membuka tirai dan pintu lalu berjalan ke luar beranda. "Celaka!!" Aramis kembali berjalan masuk setelah melihat keluarganya baru saja pulang.


"Ada apa?" tanya Lion.


Tiba-tiba handphone Aramis berbunyi.


"Dalam hitungan sepuluh kau tidak membawa pulang Melo, aku akan mematahkan lehermu!!" seru paman Ronald di ujung telepon.


"Melo, ayo pulang!!" ujar Aramis setelah mematikan teleponnya. "Lion, jangan lupa taruhan kita, kau kalah dan harus menuruti perintahku!!" seru Aramis sebelum keluar kamar.


Aramis berlari secepat mungkin menuju rumahnya, diikuti Melody yang berjalan santai di belakangnya.


Saat membuka pintu dan berjalan masuk, Aramis tidak sadar kalau dua kembarannya ada di balik pintu. Athos dan Prothos mendorong Aramis dengan salah satu kaki mereka hingga Aramis terjatuh ke lantai, dan mereka berdua tertawa puas.


"Si bodoh ini tidak sadar keberadaan kami." tawa Prothos.


"Kalian berdua ini ya... " geram Aramis bangkit berdiri.


"Kenapa kau membawa anak gadis ke kamar seorang pria? Dasar bodoh!!" ucap Athos. "Aku bunuh kau kalau melakukannya lagi!!"


"Kita lihat siapa yang akan mati malam ini, disini?!" geram Aramis langsung lompat pada kedua kembarannya yang baru saja menjahilinya.


Akhirnya mereka bertiga saling gulat.


Melody yang baru saja masuk ke dalam pintu rumahnya hanya menatap ketiga kakak kembarnya dengan menggelengkan kepalanya, karena ini bukan kali pertamanya mereka gulat seperti itu.


"Melo, tolong aku!!" panggil Aramis yang kalah karena diserang kedua kembarannya.


Melody mengacuhkanya dan terus berjalan menaiki tangga, hendak ke kamar.


"Melo, kau sudah makan malam?" tanya ayah yang melongok melihat anak gadisnya yang berada di tangga. Sebuah spatula ada di tangan kanannya dan dia juga mengenakan apron, tanda kalau dia sedang masak di dapur.


"Sudah, ayah." jawab Melody sambil lalu.


"AYAH TOLONG AKU!!" teriak Aramis saat Athos mengunci tangan Aramis dan Prothos kakinya.


"Ron, bersihkan meja makannya." ujar ayah, tidak peduli dengan teriakan anaknya.


"Oke." paman Ronald berjalan menuju meja makan dengan santai.


"PAMAN!!" Teriak Aramis putus asa. "AKU TIDAK AKAN MELAKUKANNYA LAGI."