
Hari ulang tahun ketiga Musketeers tiba. Hari ini juga akan berlangsung pembukaan cabang baru dari The Three Musketeers Café.
Café sudah dibuka sejak pukul sepuluh pagi. Dekorasi dibuat semeriah mungkin dengan berbagai ornamen-ornamen dan spot untuk berfoto. Sejak dibuka banyak pengunjung yang datang. Terutama para wanita yang sangat antusias berkunjung ke café tersebut. Tak sedikit dari mereka yang membawakan hadiah untuk salah satu Musketeers ataupun ketiganya.
Ketiga Musketeers dan Anna beserta karyawan lainnya melayani para pengunjung sebaik mungkin hingga pukul tujuh malam dimana acara puncaknya akan dimulai. Pengundian grand prize dengan berhadiah voucher makan gratis selama sepuluh kali dan berfoto dengan salah satu karyawan café favoritnya akan diundi di akhir acara.
Anna berada di ruang ganti sedang merapikan seragam kerjanya. Dia bercermin ke cermin kecil yang ada di pintu lokernya. Dia mengambil lipstik yang baru dia beli dan memakainya.
Disana hanya ada Anna dan Aramis yang memperhatikannya sambil duduk di sofa. Aramis tertawa melihat Anna memakai Lipstiknya. Anna menoleh dengan kesal pada Aramis dan menghampirinya.
"Kenapa kau tertawa?" senggol kakinya ke kaki Aramis yang di letakannya di atas kursi. "Aku cantik tidak pakai lipstik ini?"
"Ada lipstik di gigimu." jawab Aramis sambil bangkit berdiri.
"Benarkah?" tanya Anna langsung kembali melihat ke cermin.
"Cepatlah keluar, pengunjung sudah makin ramai!!" seru Aramis yang langsung keluar.
"Sial! Aku dikerjai." gumam Anna saat bercermin tak ada lipstik di giginya.
Hari ini Melody bermain piano di podium yang disediakan untuk live music. Lion juga berada di sana memakai seragam café karena hari ini dia menjadi relawan untuk membantu teman-temannya.
Tasya masuk ke café setelah menghabiskan waktu seharian di klinik kecantikan dan salon. Hari ini dia benar-benar berdandan secantik mungkin dengan mengenakan pakaian berwarna putih yang terlihat sangat elegant untuk acara pembukaan café sederhana. Namun baginya hari ini adalah hari yang sangat spesial karena merupakan hari ulang tahun kekasihnya tercinta.
Athos melihat kehadiran Tasya yang langsung duduk di salah satu meja dengan melambaikan tangannya pada Melody yang menatap kehadiran Tasya.
"Kau sudah datang?" ujar Athos duduk di kursi meja Tasya.
Seketika beberapa mata pengunjung lainnya melihat pada mereka, karena Athos hampir tidak pernah duduk bersama pengunjung.
"Kau benar-benar sangat cantik seperti ucapanmu kemarin, Tasya." senyum Athos. "Akan aku ambilkan minum untukmu."
"Ato." ujar Tasya memegang tangan Athos dengan senyum.
Athos membalas senyumnya sambil mengusap tangan Tasya yang memegang tangannya.
Seketika suara pengunjung lain ramai.
"Ato benar-benar melakukannya hari ini." ucap Prothos yang melihat Athos menunjukan hubungannya dengan Tasya pada pengunjung lain.
Prothos langsung masuk ke podium untuk mengalihkan perhatian pengunjung.
"Selamat malam para pecinta TTM café." ucap Prothos yang langsung menjadi pusat perhatian setelah suaranya terdengar. "Terimakasih karena sudah datang ke acara pembukaan cabang café. Jangan lupa pesan makanan dan minuman hingga mencapai lima ratus ribu untuk mendapatkan nomer undian grand prize berupa voucher makan gratis selama sepuluh kali dan berfoto dengan salah satu karyawan café favorit kalian."
"Kenapa hanya berfoto? Ganti jadi menikah saja! Aku pasti akan mengajakmu menikah Oto." seru seorang pengunjung wanita.
"Berkencan juga boleh, Oto." sahut yang lainnya.
Wanita-wanita lain menyoraki perkataan-perkataan itu.
Prothos hanya bisa tersenyum untuk menanggapi perkataan seperti itu.
"Baiklah, untuk sekarang silahkan nikmati dulu makanan dan minuman yang kalian pesan. Ingat, pastikan harganya mencapai minimal pembelian untuk mendapatkan nomer undian ya." ujar Prothos dengan mengedipkan satu matanya.
Pengunjung lainnya mulai berdatangan hingga semua meja di lantai utama dan kedua terisi penuh. Muncul gerombolan pria yang datang ke café namun karena di dalam semua meja sudah terisi penuh, mereka semua duduk di teras cafe.
Mereka semua adalah gerombolan teman Lion yang dimana Niko memimpinnya. Niko masuk ke café dan mencari kursi yang kosong seorang diri. Dia melihat meja Tasya kursi lainnya masih kosong sehingga dia menghampiri meja tersebut.
"Ah, ya. Silakan." jawab Tasya yang tidak bisa menolak demi kesopanan. "Kau seperti vampir, apa jangan-jangan kalau kau seorang vampir?"
Niko hanya tertawa mendengar pertanyaan Tasya.
"Kau berasal dari mana? Kau berdarah campuran kan? Kau memang tampan, tapi maaf aku sudah punya pacar dan pacarku sangat keren." ujar Tasya yang salah mengira kalau Niko duduk disitu karena ingin mendekatinya.
"Ya, aku sudah tahu." jawab Niko dingin.
Ketiga Musketeers melihat Niko yang duduk di meja Tasya. Mereka bertiga saling tatap karena tidak bisa berbuat apa-apa di café. Mereka tidak mungkin membuat keributan, apalagi Niko datang sebagai pengunjung.
"Ars, bilang pada Lion." ujar Prothos. "Ato, masuklah ke dapur. Lion bisa mengatasi ini."
Athos dan Aramis mengikuti instruksi Prothos.
"Lion, si tengik itu datang dan dia duduk di meja Tasya. Cepat urus dia sebelum Athos lepas kendali." ucap Aramis pada Lion yang berada di lantai dua sehabis mengantarkan pesanan.
"Apa?" tatap Lion terkejut. "Dia belum pergi dari kota ini?"
Lion langsung turun dan menghampiri meja Tasya dimana Niko melihat Lion.
"Astaga, kenapa kau datang ke sini?" tanya Lion duduk di kursi di hadapan Niko. "Mereka semua juga datang." Lion melihat ke teras dan teman-temannya yang lain juga datang. "Kenapa tidak memberitahuku biar aku siapkan tempat buat kalian semua."
"Dia temanmu, Lion?" tanya Tasya.
Lion mengangguk.
"Habis dari sini aku akan kembali. Kami datang ingin meramaikan café teman kami." jawab Niko. "Bagaimanapun Ars dan kedua kembarannya adalah teman kami."
"Niko, jangan duduk disini. Duduklah bersama yang lainnya di teras." ucap Lion. "Ayo, akan aku pesanan hidangan spesial buat kalian semua di luar."
"Baiklah."
"Aku adalah pacar Ato. Jadi kau teman mereka juga?" sambar Tasya ramah. "Kalau begitu tidak apa-apa, temani aku duduk disini."
"Da net problem." jawab Niko dalam bahasa Rusia sambil kembali duduk.
Lion menatap Tasya dan menjadi bingung. Dia menoleh pada Prothos yang memperhatikan mereka. Usahanya gagal karena kebaikan hati Tasya yang tidak tahu duduk permasalahan yang sebenarnya.
"Lion, pesankan apa saja untuk mereka semua. Aku sudah janji mentraktir mereka saat datang ke kota ini." ujar Niko.
Lion berjalan untuk mengambil buku menu dan berbicara pada Prothos.
"Maaf, kau lihat sendirikan tadi. Tasya malah menahannya." kata Lion. "Bilang pada Ato, dia tidak akan berbuat apa-apa pada Tasya. Tenang saja, aku menjaminnya."
"Dengan apa kau menjaminnya?" tanya Prothos. "Ato pasti membunuhmu kalau dia menggoda Tasya."
"Kalau begitu dengan nyawaku." jawab Lion sambil pergi membawa buku menu.
"Aku tidak akan menahan lagi kalau si tengik itu bertingkah." gumam Aramis pada Prothos. "Sepertinya aku tahu tujuannya kesini."
Prothos menoleh pada Aramis yang berdiri di sampingnya.
Melody bermain piano dengan serius sejak tadi. Dia mulai melihat ke sekitar. Café sudah benar-benar terisi penuh oleh para pengunjung. Tiba-tiba matanya terhenti ke meja dimana Tasya berada. Gadis itu melihat Niko yang melambaikan tangan kanannya pada dirinya. Melody langsung membuang muka menghindari tatapannya.
Tasya melihat Niko yang melambaikan tangan pada Melody dan dia langsung tahu maksud kedatangan Niko.