MELODY 911 With The Three Musketeers

MELODY 911 With The Three Musketeers
Hasrat Muda



Athos dan Aramis segera mendekati panggung. Sedangkan Prothos langsung menghalangi Niko yang menatap adiknya tercinta di atas podium. Beberapa karyawan lain berhenti dari kegiatan mereka dan ikut berjalan mendekat ke podium karena melihat ketiga Musketeers terlihat marah pada pria yang menatap adik perempuan mereka. Namun Lion masih berdiri di dekat pintu masuk. Sejenak suasana langsung hening.


Prothos memberikan isyarat agar Athos dan Aramis diam saja. Lalu dia tersenyum pada Niko mencoba mencairkan suasana.


"Sayang sekali, Melody tidak termasuk dalam daftar karyawan. Dia hanya mitra café ini." ucap Prothos. "Jadi sebaiknya pilih saja yang lainnya."


Niko tersenyum sambil menggeleng-geleng tidak percaya dengan ucapan Prothos yang menolaknya.


Dua dari rombongan teman Niko yang tadinya ada di luar langsung masuk ke dalam karena sebelumnya Lion meminta mereka untuk melakukan sesuatu jika Niko berulah.


"Niko, ayolah... kita harus segera pergi." seru salah satu dari teman Niko yang merupakan teman Lion juga.


"Baiklah." jawab Niko masih tersenyum terlihat menahan emosinya. "Kalau begitu, aku akan berfoto denganmu saja, si tampan Musketeers. Tolong foto kami ya." ujar Niko memberikan handphone-nya pada Anna.


Prothos dan yang lainnya tampak lega mendengar jawaban Niko.


Niko segera mendekati Prothos dan merangkulnya. Prothos hanya bisa berakting agar semuanya berjalan dengan lancar di hari pembukaan cabang café mereka. Anna mulai berhitung untuk mengambil foto.


"1, 2..."


Ckrek


Niko merubah posisi kepalanya dan bibirnya mencium bibir Prothos tepat ketika gambar diambil.


Semua terkejut dan para pengunjung berteriak melihat adegan yang baru saja terjadi. Adegan dua pria tampan sedang mengecupkan bibir mereka di depan mata mereka membuat mereka takjub sehingga mereka bersorak histeris.


Niko langsung mengambil handphone-nya dari Anna dan turun dari podium berjalan cepat ke pintu. Prothos yang terkejut karena seorang pria baru saja menciumnya mulai naik pitam hendak mengejar Niko, namun Aramis dan Athos menahannya.


Niko tersenyum dengan merentangkan tangannya seperti gestur menantang pada ketiga Musketeers. Tangan kiri yang selalu dimasukannya ke saku mantel, terlihat memakai sarung tangan kulit menutupi telapak tangannya. Sebelum keluar dari café dia melambaikan tangan pada Melody dengan senyum mengembang di bibirnya.


Melody melihatnya namun langsung mengalihkan tatapannya dari pria itu.


"Kenapa kalian menahanku?" geram Prothos.


"Setidaknya dia menciummu bukan Melo." jawab Athos dengan menahan tawanya. "Terimakasih, Oto, aku sangat menyayangimu." peluk Athos.


"Kau benar-benar mengatasinya dengan baik." ucap Aramis tertawa melihat adegan langka barusan. "Tak ada perkelahian dan pengunjung senang."


Prothos hanya bisa kesal dengan apa yang terjadi dan mendengar ejekan dari kedua kembarannya.


Sedangkan Lion, tak ada ekspresi apapun pada wajahnya setelah melihat semua yang terjadi.


...***...


Prothos menjadi sangat kesal saat ini, ditambah kekasihnya tak kunjung datang ke café padahal café sebentar lagi akan tutup. Dia segera menghampiri Anna yang berada di lantai dua.


"Pinjam handphone-mu." ujar Prothos pada Anna yang sedang membersihkan meja.


"Bu guru?" tanya Anna sambil menyodorkan handphone-nya pada Prothos.


Prothos langsung mengambil handphone Anna tanpa menjawab pertanyaan Anna dan berlari turun. Dia masuk ke ruang ganti yang tak ada siapapun di sana.


"Kau dimana?" tanya Prothos saat Widia menjawab teleponnya.


"Maaf, aku tidak bisa datang. Kau juga tahu kalau di sana banyak muridku dan adikku juga bekerja di café-mu." jawab Widia.


"Kau dimana?" Prothos mengulangi pertanyaannya. "Aku akan ke sana walau kau melarangku."


Prothos langsung menutup teleponnya. Dia mengganti seragamnya dan mengambil kunci mobil setelah itu langsung bergegas keluar tanpa memedulikan Aramis yang bertanya.


"Mau kemana kau, Oto?" tanya Aramis namun Prothos tak menjawabnya. "Astaga, sepertinya dia benar-benar marah dengan kejadian tadi."


...***...


Café sudah tutup sekitar pukul sembilan malam. Semua berkumpul untuk merayakan ulang tahun Musketeers, walau tanpa Prothos yang pergi. Semua karyawan café duduk di kursi yang sudah disusun memanjang dan berbagai hidangan sudah tersaji di atasnya.


"Terimakasih semuanya untuk kerja keras kalian." ucap Athos pada para karyawan-nya. "Silakan nikmati kerja keras kita semua."


Semua langsung menyantap makanan yang tersedia.


"Aku yakin sekali kalau saat ini Oto menemui pacarnya." ucap Aramis pada Athos. "Kenapa dia tidak menyuruhnya datang saja?"


Anna hanya tersenyum tidak mau menjawabnya.


"Apa jangan-jangan pacar Oto adalah seseorang yang harus disembunyikan?" ujar Tasya. "Seperti istri orang, atau bisa jadi guru kalian?"


"Tasya, jangan bicara sembarangan tentang Oto!!" seru Aramis.


"Maaf, habisnya Oto aneh sekali."


Anna hanya berusaha terlihat tidak berekspresi dengan ucapan Tasya yang benar kalau kekasih Prothos adalah guru mereka.


"Lion!!" seru Aramis pada Lion yang duduk di hadapan Melody.


"Hhmm." sahut Lion karena di mulutnya penuh makanan dan tatapannya fokus ke layar handphone-nya karena saat ini dia sambil bermain game.


"Kau harus memutus pertemanan dengan si tengik itu segera!!" seru Aramis.


"Kenapa?" tanya Lion dengan nada tak bersemangat dan pandangannya tak berpaling dari handphone-nya.


"Karena kau ya harus melakukannya!! Putuskan pertemanan kalian biar bocah tengik itu bernasib sama dengan Mario!!"


Lion menggeleng tanpa memandang Aramis.


"Kau tenang saja, dia sudah pulang ke kotanya. Kemungkinan kecil dia kesini lagi." ucap Lion masih bermain game.


Melody hanya diam memandang Lion yang sibuk dengan handphone-nya, tanpa memedulikan apapun. Dia sedikit kesal pada Lion karena disaat ketiga kakaknya tadi tampak kewalahan menghadapi sikap arogan Niko, Lion hanya diam saja tanpa mencegah temannya itu berbuat seenaknya.


...***...


Pintu apartemen Widia dibuka ketika Prothos membunyikan bel-nya. Saat melihat kekasihnya, Prothos langsung masuk dan menutup pintu lalu mencium Widia.


Widia harus menghentikan ciuman Prothos yang terasa sangat bersemangat itu, dengan mendorongnya.


"Kenapa tiba-tiba menciumku?" tanya Widia sedikit kesal.


"Maaf, karena kejadian tadi membuatku langsung ingin menciummu sesegera mungkin saat bertemu denganmu." jawab Prothos.


"Kejadian apa?" tanya Widia.


"Tidak ada." senyum Prothos karena malu menceritakannya.


"Selamat ulang tahun, maaf aku tidak bisa datang ke café." ucap Widia.


Prothos tersenyum lalu memegang lengan gurunya dan mencium punggung telapak tangan kiri Widia.


"Terimakasih, dengan melihatmu saja aku sudah bahagia." jawab Prothos setelah itu memeluk Widia.


Mereka berdua duduk di kursi meja bulat dengan sebuah cake mini ada di hadapan Prothos. Di atasnya terdapat satu lilin kecil yang sudah menyalakan api.


"Sebenarnya akupun ingin mengundangmu datang kesini karena aku tidak bisa ke café-mu." ucap Widia sedikit malu. "Aku ingin merayakan ulang tahunmu juga."


Prothos tersenyum bahagia.


"Berdoalah, dan tiup lilinnya." ujar Widia.


"Aku berdoa agar kita selalu bersama." ucap Prothos setelah itu meniup lilinnya.


"Tunggu dulu, aku juga punya sesuatu untukmu." kata Widia beranjak dari duduknya dan berjalan menuju laci samping tempat tidurnya berada.


"Bu guru, aku sudah usia 18 tahun. Kau tahu apa yang bagus dari usia itu?" tanya Prothos melihat gurunya mengambil sebuah hadiah yang terbungkus kertas kado yang ukurannya sedang.


"Apa?" tanya Widia yang duduk di sisi tempat tidurnya.


Prothos beranjak berdiri dan berjalan mendekati Widia, lalu tersenyum dengan maksud tersembunyi.


"Sepertinya aku sudah boleh menonton film adegan dewasa, dan melakukannya." jawab Prothos.


"Hah?"


Prothos langsung mencium gurunya tersebut hingga mereka terjatuh ke tempat tidur. Prothos benar-benar semangat di hari ulang tahunnya ini. Dia terus mencium gurunya dengan penuh hasrat mudanya walau Widia berusaha lepas darinya sekuat tenaga.