
Sabtu siang, waktu sudah menunjukan pukul sebelas. Melody duduk di meja makan bersama Prothos, dan Aramis, sedangkan Anna di dapur. Athos sedang pergi bersama Tasya saat ini sehingga Anna yang memasak untuk makan siang mereka.
"Kenapa lama sekali makanannya jadi? Aku sudah lapar." protes Aramis sambil memainkan handphone miliknya. "Aku sudah sangat lapar!"
"Diamlah, atau ku bunuh kau?!" seru Anna menoleh kesal pada Aramis.
"Ya ampun, kenapa kau jadi seperti ayah?" ujar Aramis.
Melody terus saja bersin-bersin karena tertular flu dari Lion. Lion benar-benar menulari gadis itu.
"Kau masih flu, Melo? Sudah minum obatnya lagi?" tanya Prothos yang duduk di hadapan Melody. "Kenapa kau bisa flu?"
Melody tidak menjawab dan meminum susunya. Kalau mengingatnya itu membuat dirinya sangat kesal pada Lion.
"Selamat siang semuanya." sapa Lion yang baru masuk ke rumah dan langsung menghampiri mereka. "Kau masak apa, Anna?"
"Hanya ayam goreng saja." jawab Anna sambil meletakan sepiring ayam goreng di atas meja.
"Ah, ini kesukaanmu kan, Ars." sindir Lion sambil menyenggol lengan Aramis dengan lengannya.
Aramis tak memedulikannya dan langsung mengambil ayam goreng tersebut lalu memakannya.
"Kau sudah sehat?" tanya Prothos menoleh pada Lion yang berdiri di antar dirinya dan Aramis.
"Aku rasa sudah." senyum Lion.
Tiba-tiba Melody bersin-bersin beberapa kali. Lion menatapnya dengan tatapan sedikit terkejut karena dia tidak menyangka kalau dirinya benar-benar menulari Melody.
"Astaga, sebaiknya aku segera pergi sebelum tertular flu disini." ucap Lion sambil mengambil satu potong ayam goreng.
Melody melihatnya kesal karena kata-kata Lion barusan. Padahal dirinya lah yang menulari Melody flu tersebut.
"Aku pergi ya." seru Lion sambil berjalan ke pintu keluar.
"Kau mau kemana?" tanya Aramis menoleh.
"Bersenang-senang." jawab Lion.
"Kau tidak ikut makan dulu?" ujar Prothos.
Lion hanya mengangkat tangan kanannya yang membawa sepotong ayam dan setelah itu keluar rumah.
"Anak itu benar-benar hidup semaunya." kata Anna sambil duduk di samping Melody.
Si bodoh itu sama sekali tidak bisa diam di rumah. Batin Melody.
...***...
Athos menemani Tasya berbelanja pakaian. Tasya sangat bersemangat sekali hingga mengambil banyak sekali pakaian yang dia suka.
"Ato, mana yang lebih bagus? Ini atau yang ini?" tanya Tasya menunjukan dua buah pakaian. Yang satu berwarna merah muda dan satunya berwarna hijau mint bermotif bunga. "Ah, tidak, aku ambil keduanya saja." lanjut Tasya langsung memberikannya pada Athos.
Athos hanya diam saja tidak bisa berkomentar.
"Aku tahu kau pasti akan bilang keduanya bagus untukku. Makanya aku ambil saja keduanya." ujar Tasya sambil berjalan melihat pakaian yang lainnya.
Akhirnya Tasya selesai memilih pakaian yang dia hendak beli. Total ada delapan pakaian yang di bawa Athos menuju meja kasir.
"Semuanya total 18 juta." ucap kasir yang melayani.
Tasya mengeluarkan dompetnya, namun Athos lebih dulu memberikan kartu kredit tambahan milik paman Ronald pada kasir.
Athos hanya tersenyum melihat Tasya menatapnya. Dia tidak mungkin membiarkan kekasihnya membayar sendiri. Mau ditaruh mana mukanya?
"Kau tidak harus membayarnya, Ato." ucap Tasya ketika hendak keluar toko tersebut.
"Sudah aku bilang, aku akan memberimu hadiah-hadiah lainnya." jawab Athos tersenyum.
Tasya langsung memeluk kekasihnya tersebut dengan senang. Baginya Athos adalah pria yang sangat sempurna di muka bumi ini.
"Natasya?" tiba-tiba muncul seorang wanita berusia empat puluhan dengan tas tangan bermerek yang harganya ratusan juta. "Sedang apa kau disini? Siapa pria ini?"
Tasya langsung melepas pelukannya pada Athos dengan raut wajah ketakutan.
"Kau pergi bersama pria lain dan memeluknya disaat kau sudah bertunangan?" ujar wanita itu lagi dengan ketus. "Ya ampun, ini benar-benar keterlaluan!! Dion sangat malang mempunyai tunangan nakal sepertimu."
"Mohon maaf, sebaiknya jaga bicara anda dan jangan menghina seorang gadis seperti itu." bela Athos yang tidak suka mendengar perkataan wanita itu.
"Astaga, berani sekali bocah ini menasehatiku." Wanita itu sangat kesal. "Kau ini benar-benar gadis nakal Tasya, Dion sangat sial bertunangan dengan gadis sepertimu."
Tiba-tiba wanita itu menampar pipi Tasya tanpa siapapun menduga.
"Dasar gadis nakal!!"
Athos terlihat marah namun Tasya langsung menariknya pergi agar tidak terjadi keributan lebih lanjut lagi.
"Kau tidak apa-apa?" tatap Athos pada Tasya yang mengeluarkan air mata. "Kenapa kau menarikku?"
"Aku tidak ingin semuanya semakin buruk." jawab Tasya.
Athos menghapus air mata Tasya setelah menurunkan emosinya.
"Dia pasti ibu dari si pecundang itu kan?" tanya Athos.
Tasya mengangguk.
Athos terlihat kembali emosi. Bertolak pinggang dan menggeram untuk melampiaskan emosinya saat ini. Namun sekali lagi dia menahannya saat melihat Tasya.
"Sudahlah, jangan menangis lagi." peluk Athos menenangkan Tasya.
...***...
Prothos berada di apartemen Widia. Dia berdalih ingin belajar disana dan meminta Widia menemani dan membantunya belajar. Widia sebenarnya tahu kalau semua itu hanya alasannya, namun dia sendiripun tidak bisa menolak permintaan kekasihnya tersebut.
"Hanya mengganti dekorasi ruangan ini saja." jawab Widia yang berada di meja dapur.
"Ah, aku tahu tujuanmu, biar aku tidak mengulangi-"
"Sudah, kau belajar saja!! Sebentar lagi kau akan ujian kelulusan." potong Widia membawakan es teh manis untuk Prothos.
"Bu guru, apa saat aku lulus aku boleh mempublikasi hubungan kita?" tatap Prothos pada Widia yang duduk di hadapannya. "Aku ingin memberitahu kedua kembaranku, mereka berdua terus saja mendesakku agar memberitahu siapa pacarku sekarang."
"Ya, aku rasa saat kau sudah lulus, tidak masalah." jawab Widia ragu setelah itu menyeruput es teh manisnya. "Sekarang cepatlah belajar!!"
Tiba-tiba bel berbunyi, Widia mengintip ke lubang di pintu dan melihat muridnya yang bernama Wilda berdiri di depan pintu.
"Dia muridku, cepat kau bersembunyi!!"
Prothos mengikuti perintah kekasihnya dan langsung masuk ke balik tirai di tempat tidur Widia.
"Ada apa, Wilda?" tanya Widia membuka pintu.
Tanpa di sadari Widia, Wilda sedikit bergeser untuk mengintip ke dalam dan melihat sepatu seorang pria ada di dekat balik pintu. Di atas meja juga terdapat kacamata yang dia tahu dipakai oleh Prothos.
"Ah, tidak bu. Ini aku mau mengembalikan buku yang aku pinjam saja." ucap Wilda tersenyum. "Baiklah kalau begitu aku langsung pulang ya bu." pamit Wilda.
"Hati-hati ya." jawab Widia tersenyum dengan sebuah buku dari Wilda di tangannya.
Widia menutup kembali pintunya, dan berjalan mendekati tempat tidur yang tertutup tirai dimana Prothos bersembunyi.
"Keluarlah, untung saja dia tidak masuk." ujar Widia.
Prothos membuka tirai namun langsung menarik Widia masuk lalu menciumnya. Widia terkejut hingga mendorong Prothos melepaskan ciumannya.
"Kau ini, sudah aku bilang jangan macam-macam!! Kau lupa tujuanmu ke sini dan kenapa aku membolehkanmu kesini?"
Prothos menggeleng dengan senyum.
"Aku ingin belajar." jawab Prothos tersenyum dengan maksud tersembunyi. "Praktek biologi dengan bu guru."
Prothos mendorong Widia ke tempat tidur dan Prothos mendekatinya.
Plakk!!
Prothos mendapat tamparan keras di pipinya dari Widia. Sama seperti sebelumnya.
...***...
Saat senja menjelang, sepasang kekasih lainnya menghabiskan waktu bersama. Aramis dan Anna, mereka berdua berada di halaman rumah Anna sedang melakukan sesuatu atas permintaan Aramis.
"Apa kau yakin, Ars?" tanya Anna dengan sebuah gunting di tangannya. "Aku tidak tanggung kalau hasilnya berantakan."
"Cerewet, lakukan saja!!" seru Aramis yang duduk di sebuah kursi dengan kain putih terikat di lehernya.
Anna pun mulai menggunting rambut Aramis yang sudah memanjang. Walau ini pertama kalinya dia melakukannya, Anna terlihat santai dengan gunting dan sisir di tangannya.
"Kenapa kau tidak memotongnya di barber shop atau salon?" tanya Anna yang serius memotong rambut Aramis.
"Buat apa menghabiskan uang hanya untuk rambut." jawab Aramis. "Aku bukan Oto."
Anna tertawa mendengarnya.
"Kapan terakhir kali kau memotong rambutmu?"
"Sekitar empat atau lima bulan lalu, Lion yang memotongnya."
"Astaga, pantas saja rambutmu sudah sepanjang ini." ujar Anna memukul kepala Aramis pelan.
"Anna."
"Hhmm."
"Sebenarnya aku tidak masalah dengan yang sekarang." ucap Aramis.
"Apa maksudmu?" tanya Anna yang berada di belakang Aramis sambil menggunting rambutnya.
"Aku ingin kau memanjangkan rambutmu." jawab Aramis.
"Memangnya kenapa?"
"Apa satu tahun cukup untuk memanjangkan rambut sampai sepanjang ini?" tanya Aramis lagi sambil memegang pinggangnya.
Anna berhenti dari kegiatannya.
"Apa harus sepanjang itu? Lalu kenapa harus satu tahun?"
"Satu tahun lebih beberapa bulan lagi kau lulus sekolah kan?"
"Katakan saja yang jelas semuanya, jangan seperti itu!!"
Aramis berbalik dan menatap Anna.
"Setelah kau lulus dan rambutmu sepanjang itu, aku akan menikahimu." ucap Aramis menatap Anna lekat.
Anna terkejut mendengar perkataan Aramis. Setelah itu memukul kepala Aramis dengan sisir hingga Aramis meringis kesakitan.
"Kenapa harus memukul?"
"Kenapa aku harus menikah denganmu? Aku juga tidak ingin memanjangkan rambutku!!" seru Anna membalikkan kembali tubuh Aramis agar dia bisa melanjutkan menggunting rambutnya.
Anna mengerti kenapa Aramis memintanya untuk menggunting rambutnya, tujuannya untuk mengatakan hal itu padanya. Secara tidak langsung Aramis melamarnya.
Anna tersenyum di balik punggung Aramis.