MELODY 911 With The Three Musketeers

MELODY 911 With The Three Musketeers
Dari Atas Helikopter



Ibu Tasya sangat terkejut ketika mendengar Athos mendapatkan Double Eagle atau Albatross. Sampai-sampai dia menutup mulutnya saking terkejutnya Tasya melompat kegirangan dan langsung memeluk kekasihnya. Sedangkan Dion tampak kesal karena dengan pukulan terakhir Athos tersebut, sama saja membuktikan kalau pukulan-pukulan sebelumnya bukanlah sebuah kebetulan.


Dari kejauhan, Lion yang masih memantau hanya tertawa geli melihat yang terjadi di lapangan golf.


"Kau hebat sekali, Ato." ujar Tasya memeluk Athos.


"Itu sangat menakjubkan Ato." seru ibu Tasya. "Lain kali aku akan mengajakmu untuk bermain permainan lainnya. Aku jadi ingin tahu apa ada hal yang tidak bisa kau lakukan."


"Maaf tante, saat aku sudah bersungguh-sungguh, aku rasa tak ada yang tidak bisa aku lakukan." jawab Athos percaya diri seperti biasanya.


Ibu Tasya hanya tersenyum dan langsung berjalan pergi, dan Tasya mengikutinya dari belakang.


Athos berjalan mendekati Dion, walau dia membawa dua penjaga, pria pengecut itu masih saja mundur saat Athos mendekatinya. Hal itu membuat Athos sedikit tertawa.


"Kau lihat kan? Aku rasa kau berurusan dengan orang yang salah." Athos berbicara dengan menunjukan gestur sombongnya.


...***...


Lion sudah menunggu Athos di dalam mobil saat akan pulang. Dia menghubungi seseorang sambil menunggu kedatangan Athos.


"Aku sangat berterimakasih padamu, Gilang. Terimakasih atas bantuanmu tadi ya. Hubungi aku kalau kau membutuhkan bantuan apapun, mau siang atau malam aku pasti akan membantumu." ujar Lion di telepon.


Athos masuk ke mobil dan langsung disambut high five oleh Lion dengan gelak tawa.


"Ucapkan terimakasihku pada temanmu itu." seru Athos membuka topi yang dipakainya. "Kalau tidak ada temanmu itu si pecundang itu pasti sudah menghinaku."


"Kau tidak perlu khawatir, aku juga sudah mengiriminya uang yang kau berikan langsung ke rekeningnya tanpa dia sendiri tahu." kata Lion sambil menjalankan mobil. "Tapi aktingmu sangat bagus Ato, tidak aku sangka kau bisa berakting seperti itu. Dan selain double eagle itu, permainanmu sangat bagus. Kau memang menyeramkan."


"Aku lelah sekali. Hampir empat jam aku merasa tegang, takutnya rencana kita gagal." jawab Athos bersandar ke jok mobil dan menutup matanya. "Semoga saja ibunya Tasya semakin menyukaiku."


"Kau tidak perlu khawatir." jawab Lion sambil mengunyah permen karet yang di mulutnya. "Lain kali ayo kita bermain golf bersama."


...***...


Anna membuka pintu untuk Lion setelah dirinya mengirim pesan pada Lion untuk menemuinya. Dia berniat menanyakan hal itu langsung pada Lion. Apakah Lion mengetahui hubungan Prothos atau tidak.


"Ada apa? Aku harus segera pergi karena temanku meminta bantuan." ucap Lion berdiri menatap Anna yang duduk di sofa.


"Jujurlah Lion, apa kau tahu sesuatu mengenai rahasia Oto?" tatap Anna lekat mencoba membaca ekspresi Lion.


Lion terdiam sesaat dan setelah itu memasang tampang bodohnya.


"Memangnya Oto punya rahasia apa? Astaga, sekarang kau mau bergosip denganku? Apa sekarang Oto gay?" tanya Lion.


"Sekarang aku mengerti denganmu Lion, setiap kali kau menyembunyikan sesuatu kau pasti memasang tampang bodohmu itu." ujar Anna tertawa skeptis.


"Heh, jangan bilang aku bodoh! Tidak ada yang aku sembunyi-"


"Seseorang meneror Oto, dan Oto mengira itu kau!" sambar Anna menatap serius Lion. "Tapi aku tidak percaya, bahkan Ars marah pada Oto saat Oto mengatakan hal buruk tentangmu."


Lion terdiam dengan wajah serius menatap Anna. Kedua tangannya dimasukan ke saku celana panjang berwarna putih, sesuai dengan warna kaos polos yang dikenakannya. Memang begitu kebiasaannya saat jalan ataupun berdiri, dan di saat tidak memasang tampang bodohnya atau kata lain di saat dia sedang serius.


"Aku tidak ingin ikut campur masalah seseorang lagi." jawab Lion. "Aku juga tidak tahu apapun tentang itu."


Lion berjalan ke arah pintu, dan membuka pintu.


"Kali ini pun aku berniat menonton saja dari atas helikopterku." ucap Lion setelah itu keluar.


"Ternyata dia memang tahu hubungan Oto dan bu guru." gumam Anna.


...***...


"Oto, maafkan aku. Aku hanya tidak mau kau berbicara sembarangan tentang Lion. Dia sahabatku." seru Aramis.


"Cih, si bodoh itu minta maaf tapi masih membelanya." gerutu Prothos yang duduk di kursi meja belajarnya. Dia mengusap-usap wajahnya dengan sangat kesal.


"Aku tidak tahu apa yang terjadi sampai-sampai kau mencurigai Lion. Tapi sudah sering aku bilang, dia bukan tipe pengkhianat. Kenapa kau selalu mencurigainya?" Aramis masih berusaha agar Prothos membuka pintu kamarnya.


"Ada apa, Ars?" tanya Athos yang baru saja datang. "Ada apa dengannya?"


Aramis mengikuti Athos masuk ke kamarnya untuk mengatakan apa yang terjadi.


"Aku hanya mendengar saat Oto berbicara buruk mengenai Lion. Dia sangat mencurigai Lion." jawab Aramis. "Kau pun juga sering bilang padanya kalau dia terlalu curiga pada si bodoh itu 'kan?"


"Tapi pasti Oto juga punya alasan kenapa dia sampai mencurigai Lion." ucap Athos sambil membuka kaos polo putih yang dikenakannya.


"Jadi kau juga mencurigai Lion?"


"Tidak, aku percaya pada Lion." jawab Athos setelah itu keluar kamar hendak mandi. "Biarkan dia berpikir, dia tidak akan percaya sebelum melihatnya langsung Lion itu seperti apa." tambah Athos sebelum menutup pintu kamar mandi.


Prothos mendengar perkataan Athos barusan.


"Bahkan dia juga lebih mempercayai bocah itu dari pada mempercayaiku."


...***...


Pagi-pagi sekali Widia memasuki ruangan guru, dan di atas meja kerjanya terdapat sebuah amplop asing bukan miliknya. Dia melihat ke seluruh ruangan dan melihat beberapa guru sedang duduk di mejanya masing-masing.


Dengan perlahan, dia membuka amplop tersebut dan di dalamnya terdapat foto-foto saat Prothos menciumnya di gudang.


Widia langsung memasukannya kembali ke amplop coklat karena takut seseorang melihat foto-foto tersebut. Dengan perasaan yang takut Widia duduk di kursinya dan bingung harus berbuat apa.


Ketika jam istirahat tiba, Widia membawa amplop coklat berisi beberapa foto-foto dirinya saat berciuman dengan Prothos ke gudang dimana Prothos selalu tidur siang di tempat itu.


Sebelum masuk dia memperhatikan ke sekitar dan memastikan tak ada siapapun di sana.


"Ada apa bu guru?" tanya Prothos melepas earphones dari telinganya dan berjalan menghampiri Widia.


Widia menyodorkan amplop coklat tersebut dan Prothos segera membukanya.


"Amplop itu ada di meja kerjaku tadi pagi."


"Kurang aja, orang itu benar-benar meneror kita." geram Prothos kesal.


"Kita harus bagaimana? Aku takut sekali kalau dia memberitahunya ke sekolah." ucap Widia dengan gemetar.


"Tenang bu guru, tak akan terjadi apa-apa padamu." ujar Prothos memegang kedua tangan kekasihnya tersebut. "Dengan ini pasti pelakunya ada di dalam sekolah."


...***...


Lion bertemu dengan David di belakang gedung sekolah. Mereka membicarakan kesepakatan yang dulu mereka lakukan.


"Aku tidak terpilih sebagai wakil sekolah untuk kompetisi nasional. Seperti yang sudah kau katakan, Lion." ujar David berdiri berhadapan dengan Lion. "Perkiraanmu tepat sekali."


"David, foto-foto itu, apa kau bisa menahannya dulu? Ada sesuatu yang harus aku lakukan." seru Lion. "Lakukan seperti apa kataku saat aku memintanya. Apa kau bisa melakukannya?"


David menatap Lion karena dia merasa Lion memikirkan sesuatu sebelum mengatakan hal tersebut. Sebenarnya David tidak ingin percaya pada Lion, tapi beberapa hal sudah dilakukan Lion untuknya. Dan dia pun tahu kalau Lion juga turut membantu masalah Aramis kemarin. Jadi sekarang dia benar-benar menganggap Lion adalah temannya.


"Ya, aku akan melakukan semua sesuai dengan perkataanmu." jawab David.