MELODY 911 With The Three Musketeers

MELODY 911 With The Three Musketeers
Ciuman Pertama



Pagi-pagi sekali Widia terbangun setelah mendengar handphone-nya terus saja berdering, tanda masuknya pemberitahuan di beberapa grup chat sekolah.


Sambil membenarkan pandangannya yang masih kabur, Widia membuka grup chat tersebut dan melihat beberapa chat dari anak muridnya di grup sekolah membahas tentang Olimpiade The Three Musketeers.


"Olimpiade The Three Musketeers?" ujar Widia terkejut sampai bangun dari posisi tidurnya. "Pasti anak itu yang memulainya. Anak sekolah jaman sekarang ada-ada saja. Tapi setidaknya mereka tidak berkelahi lagi."


Widia tersenyum.


"Tapi apa-apaan ini? Kenapa menonton bayar?" Widia terkejut ketika melihat sebuah poster yang memberlakukan harga tiket masuk.


...***...


Athos keluar kamar membawa tas. Hari ini walau liburan akhir semester dirinya tetap datang ke sekolah karena ada rapat osis. Ketika Dia keluar kamar bersamaan dengan Prothos yang hendak masuk ke kamarnya.


"Kau sudah sarapan?" tanya Athos pada adik kembarannya. "Aku sudah membuatkan susu untukmu tadi. Sudah kau minum?"


Bukannya menjawab, Prothos malah masuk ke kamarnya dengan membanting pintu.


Paman Ronald melihat kejadian itu, dan merasa aneh pada kedua kemenakannya yang biasanya selalu akur.


"Kalian bertengkar?" tanya paman Ronald yang hendak turun tangga. "Tidak biasanya Oto bersikap begitu."


"Sepertinya dia sedang lelah, paman." jawab Athos setelah itu menuruni tangga.


"Kau sudah mau berangkat?" tanya ayah yang duduk di meja makan bersama Melody. "Tidak sarapan?"


"Aku bawa saja." jawab Athos sambil memasukan kotak makan ke tas miliknya. "Melo, kemarin kakak sudah mendaftarkanmu ke khursus vocal, jam sepuluh nanti datanglah ke tempat khursus-nya."


Melody mengangguk menjawabnya.


"Besok ayah ke luar kota lagikan? Kalau begitu hari ini kau jangan ke mana-mana... bantulah di café, aku akan pulang malam hari ini." ucap Athos pada ayahnya.


"Kau mau kemana?" tanya paman Ronald yang duduk di meja makan samping Melody.


"Sudah lama aku tidak olahraga, jadi aku akan olahraga." jawab Athos. "Aku berangkat ya, ingat ayah jangan kemana-mana!! Kau harus lebih banyak meluangkan waktumu dengan anak-anakmu!!"


"Apa-apaan dia? Kenapa jadi anak itu yang mengaturku?" gumam ayah saat putra tertuanya pergi.


"Kak Ato pasti ingin berlatih." ujar Melody.


"Berlatih apa?" tanya paman Ronald.


"Olahraga." jawab Melody singkat setelah itu pergi menaiki tangga.


...***...


Jam setengah dua belas siang Melody keluar dari tempat khursus vocal yang baru dia ikuti hari ini. Namun di luar bukan ayahnya yang menjemputnya namun Lion yang sudah menunggu di atas motor.


Lion melambaikan tangannya pada Melody.


"Kenapa kau?"


"Ayahmu memintaku menjemputmu. Dia ke café karena Ato memintanya mengecek beberapa perlengkapan, Oto sedang ke pertandingan timnya, dan Ars entah kemana karena tidak bisa dihubungi." jawab Lion. "Apa ayahmu tidak memberitahumu?"


"Kenapa mereka tidak pernah memberitahuku dan hanya memberitahumu setiap kali seperti ini?" ucap Melody kesal.


"Tanyakan pada mereka." jawab Lion. "Ayo naik, kita makan siang dulu ya. Tenang saja aku yang traktir, walau kau masih punya hutang mentraktirku."


Melody memakai helm pemberian Lion dan naik ke motor tanpa menjawab.


Lion dan Melody berhenti di restoran ramen yang berada di kawasan rumah mereka.


"Lion, apa menurutmu ada yang bisa aku lakukan agar kak Ato dan kak Oto berbaikan? Aku tidak ingin mereka bertengkar terus, dan aku rasa jika di pertandingan besok siapapun yang menang mereka berdua akan tetap bertengkar."


"Kau tidak perlu memikirkan mereka. Mereka berdua tahu bagaimana caranya mengetahui masing-masing diri mereka. Mereka anak kembar, pasti mereka akan segera berbaikan." jawab Lion sambil mengunyah ramen.


Melody membuang napas.


"Kenapa kau suka sekali membuang napas seperti itu?" gumam Lion.


Melody mengabaikan perkataan Lion seperti biasanya.


...***...


Athos berada di sebuah lapangan basket ketika senja menjelang. Sejak dua jam yang lalu, dia terus saja berlatih melempar di luar area Three points.


Tasya berjalan ke arah kekasihnya yang sangat fokus pada usahanya hingga tidak sadar dengan kedatangannya. Untuk beberapa saat Tasya hanya memandang usaha kekasihnya tersebut yang memunggunginya. Hingga Athos menoleh dan melihat keberadaannya.


"Kau sudah datang?" tanya Ato mengambil bola basket yang terjatuh dan berjalan menghampiri Tasya.


"Pasti kau lelah 'kan?" senyum Tasya memberikan air mineral dingin yang di bawanya.


Athos meminumnya dan berjalan ke pinggir lapangan untuk duduk disana, Tasya mengikuti.


"Sudah jangan berlatih lagi." ucap Tasya.


Athos menggeleng sambil mengelap keringat dengan handuk yang dibawanya.


"Dari lemparan seratus, hanya delapan puluh delapan yang berhasil. Kalau Oto pasti bisa memasukan semua bola itu, bahkan dengan mata tertutup." jawab Athos. "Aku yakin di pertandingan renang dan lari, aku pasti menang... walaupun biasanya setiap balap lari Ars yang menang tapi kali ini, aku yakin akan berbeda. Ini pertandingan aku dan Oto, walaupun ingin, aku rasa Ars tidak akan bisa mengeluarkan segala kemampuannya."


"Kenapa begitu?" tatap Tasya.


"Seperti halnya saat kita berlari ketika ada yang mengejar kita, maka otak kita akan bekerja semaksimal mungkin dan membuat kita berlari lebih cepat dari biasanya, begitupun ketika kita bersungguh-sungguh ingin mencapai sesuatu, otak kita akan bekerja maksimal juga. Ars tidak akan berlari maksimal karena dia tidak berniat mengikuti pertandingan."


Tasya sedikit bernapas lega, karena penjelasan kekasihnya masuk di akal.


"Sedangkan di pertandingan lemparan three points, itu berbeda. Karena ketika melempar tidak hanya asal melempar, ada teknik yang digunakan juga. Aku jarang bermain basket selama ini, jadi kemungkinannya kecil kalau aku bisa menang dari Oto."


"Lalu apa kita akan berpisah?"


"Kau tidak perlu khawatir." ucap Athos. "Aku sudah memikirkan semuanya. Jika aku tidak bisa melempar dengan bagus, maka ada kemungkinan juga Oto mengalaminya. Banyak faktor bisa mempengaruhi. Seperti tiupan angin atau gigitan serangga saat dia melempar. Atau bisa juga karena tangannya keram. Ya, selalu banyak kemungkinan."


"Kalau begitu aku akan berdoa agar saat Oto melempar ada serangga yang menggigitnya." senyum Tasya. "Ato, aku suka sekali aromamu saat berkeringat."


Perkataan Tasya membuat Athos salah tingkah.


...***...


Anna memasuki gedung tua yang sangat gelap setelah Aramis mengirim lokasinya berada. Seharian dirinya mencari Aramis setelah ayah Aramis memintanya.


"ARS, DIMANA KAU?" teriak Anna sambil berjalan menaiki tangga tanpa pegangan dengan cahaya dari handphone-nya. "KAU DENGAR TIDAK??"


Aramis yang duduk di pinggiran gedung tertawa mendengar panggilannya. Ketika Anna hampir dekat Aramis bersembunyi dan muncul saat Anna masuk ke tempatnya berada, mengejutkan gadis itu.


Secara reflek, Anna membanting Aramis sekuat tenaga di atas lantai tanpa keramik.


"Awww..."


"JANGAN MENAKUTIKU!!" teriak Anna menarik Aramis bangun. "Kau ini ada-ada saja, kenapa berada di tempat menyeramkan seperti ini?"


Anna berjalan menuju pinggiran dan langsung melihat pemandangan kota yang terlihat indah dari tempatnya berada di lantai ke tujuh bangunan tersebut.


"Waaahhh... indah sekali."


Aramis berdiri di samping Anna menatapnya dengan senyum tipis.


"Aku kira kau pergi kencan dengan Jessica." ujar Anna menoleh.


"Apa tidak masalah kalau aku kencan dengannya?"


Anna menarik tatapannya dari Aramis dan naik ke pinggiran gedung untuk duduk.


"Terserah padamu. Itu urusanmu, aku tidak akan ikut campur." jawab Anna. "Dia sesuai dengan tipemu 'kan? Dada dan bokongnya sangat besar. Arghh... apa dia memompanya ya." gumam Anna.


Aramis tertawa mendengarnya.


"Baiklah, kalau begitu." ucap Aramis. "Ayo kita bertarung, kalau kau menang aku akan mendengarkan kata-katamu."


"Apa?" tanya Anna bingung. "Kalau kau yang menang?"


"Lihat saja nanti..." jawab Aramis menaikan bahunya.


Mereka berdua saling berhadapan. Tanpa berpikir, Anna menendang dada Aramis hingga Aramis mundur namun bisa bertahan. Lalu gadis itu menyerangnya lagi, meninju wajahnya berkali-kali.


Aramis hanya mendorong Anna untuk menghalaunya. Anna tidak menyerah sekali lagi dia menendang Aramis tapi kali ini dia mengincar leher kiri Aramis sehingga Aramis kesakitan.


Aramis maju mencoba menyerang namun serangan Aramis berakhir dengan Anna membantingnya ke lantai.


Aramis tersenyum berbaring di lantai.


Dengan kaki kanannya, Anna menginjak perut Aramis.


"Kau hebat juga ya." seru Aramis.


Tanpa di duga Aramis bangkit berdiri dan mengangkat Anna hendak membantingnya, namun dugaan Anna salah. Aramis malah memojokannya ke tembok dengan lengan yang mengunci leher gadis itu.


Aramis menatap Anna dari balik kegelapan. Entah kenapa kali ini Anna merasa tidak seperti biasanya. Tatapan Aramis yang berbeda membuatnya takut.


"Baiklah, kau yang menang." ucap Anna yang terpojok dan berharap Aramis melepaskannya.


Namun Aramis masih menatapnya tajam.


"Kau menang, beritahu aku apa yang kau ingin kan?"


"Sebuah ciuman." ucap Aramis.


Sebelum Anna mengatakan apapun untuk menolaknya, Aramis lebih dulu mencium bibirnya.


Dengan sekuat tenaga yang tersisa Anna mendorong Aramis dengan kesal. Tatapannya sangat kesal pada sahabatnya itu.


"Heh, itu hanya hadiah buatku!!" ujar Aramis tersenyum.


"HADIAH APANYA? ITU CIUMAN PERTAMAKU, BODOH!!" teriak Anna.


Aramis membalikan badannya dan menjauh.


"Maaf, aku terbawa suasana." jawab Aramis menggaruk kepalanya.


"ARRGGHH..." teriak Anna kesal memberantaki rambut pendeknya. "Aku tidak ingin melihatmu lagi!!"


Anna berjalan meninggalkan Aramis, namun Aramis menyusulnya dan merangkul Anna.


"Singkirkan tanganmu!!"


"Maafkan aku, anjing kecilku yang lucu."


Anna berhenti dan menoleh pada Aramis dengan tatapan marah. Aramis menyingkirkan tangannya dari sahabatnya itu.


Gadis itu kembali berjalan meninggalkan Aramis.


...----------------...


ARAMIS



Visual Model :


Ahn Hyo-seop