
Lion di rawat di rumah karena hanya demam biasa. Dia diminta beristirahat total agar tubuhnya kembali prima.
Sejak kembali dengan tubuh lemah, Lion mendapat banyak sekali kunjungan dari teman-temannya. Bahkan hingga keesokannya dan hari sudah sore pun teman-temannya terus berdatangan menjenguknya.
Sepulang sekolah Melody berniat melihat kondisi Lion, namun Lion tidak pernah sendirian dan teman-temannya keluar masuk, datang dan pergi silih berganti.
Melody hanya bisa melihat Lion dari jendela kamarnya saja. Melody sangat khawatir sejak kemarin ketika dia melihat Lion berlari keluar kamar dan pergi dengan motornya tanpa memakai jas hujan, padahal kondisi tubuhnya sebelumnya sudah buruk.
Di tambah semalam ketika kakaknya Prothos membawa Lion pulang ke rumahnya dengan kondisi Lion setengah tersadar. Itu semua membuat Melody sangat mencemaskannya.
Namun mau bagaimana lagi, Melody berniat menjenguk Lion saat yang datang menjenguk Lion sudah habis. Dia tidak ingin bertemu dengan teman-teman Lion yang semuanya ada pria. Itu membuatnya risih dan tidak nyaman.
...***...
Prothos masuk ke kamar Lion, dan meminta teman-temannya Lion untuk keluar sebentar. Setelah semalam Lion menolong kekasihnya serta membuktikan kecurigaannya salah pada Lion banyak hal yang ingin dia sampaikan pada pemuda itu.
"Ada apa?" tatap Lion yang masih berbaring di tempat tidur.
"Terimakasih karena kau datang menolong pacarku di saat kondisi tubuhmu tidak sehat." ucap Prothos.
"Sudahlah yang terpenting wali kelasku baik-baik saja." senyum Lion. "Bagaimana dengan pria itu?"
"Semalam tersebar kabar kalau guru biadab itu menerima suap dari salah satu orang tua di klub Karate. Dia menerima suap agar anggota klub Karate itu menjadi wakil sekolah untuk kompetisi tingkat nasional." jawab Prothos. "Dan ternyata dia juga sudah sering mendapat suap, jadi sekolah langsung mengeluarkannya."
"Benarkah?" tanya Lion. "Itu kabar bagus."
"Itu semua ulahmu kan, Lion?" tanya Anna masuk. "Kau yang melakukan semua itu. David bilang padaku, kau yang mendapatkan foto-foto yang menjadi bukti tindakan suap itu. Kau menepati janjimu pada David dengan memberikan apa yang tidak bisa dia dapatkan. Akhirnya dia yang mewakili sekolah kita di kompetisi karate tingkat Nasional."
"Astaga, tidak aku sangka David sangat cerewet." gumam Lion. "Aku hanya bersenang-senang, tidak ada maksud untuk melakukan semua itu."
"Lion, maafkan aku." ucap Prothos dengan tatapan serius. "Aku sempat meragukanmu dan bahkan mencurigaimu."
"Sudahlah, aku tidak suka ada drama." ujar Lion. "Aku juga salah, awalnya aku sungguh-sungguh tidak ingin ikut campur urusan siapapun jika mereka tidak meminta bantuanku. Tapi akhirnya aku tidak bisa diam saja saat melihat orang-orang disekitarku butuh ditolong. Ya, awalnya aku hanya ingin bersenang-senang dan menikmati semuanya tapi pada akhirnya beginilah. Aku terbaring disini."
Anna tertawa mendengarnya.
"Oto, maafkan aku juga karena tidak berbicara jujur saat kau bertanya di villa padaku. Aku juga melihat saat kau berbicara dengan wali kelasku saat di ruang guru, dan kalian tidak sadar kalau pria yang tidur disana sebenarnya memperhatikan kalian. Lalu, aku juga mendengar perbincangan Anna dan wali kelasku saat di rumah sakit. Percayalah itu semua kebetulan." ujar Lion menatap Prothos. "Aku juga tidak mengerti kenapa aku selalu berada di tempat yang salah."
Prothos terkejut mendengar pengakuan Lion. Di tempat yang salah kata Lion malah sebaliknya bagi Prothos. Dia benar-benar bersyukur Lion berada di tempat-tempat itu dan mendengar semua, kalau tidak entah bagaimana nasib Widia dan hubungan dia dengan kekasihnya itu.
"Lion, duduklah!!" seru Prothos.
"Apa?" tanya Lion bingung. "Kenapa harus duduk?"
Lion yang berbaring langsung beranjak duduk segera. Dia tidak menyangka kalau Prothos langsung memeluknya, sebagai bentuk rasa terimakasih pada Lion yang sudah menolongnya.
"Astaga, aku tidak butuh pelukan." ujar Lion. "Aku ini anak baik, bilang saja aku keren, aku akan lebih senang."
"Aku akan membunuhmu langsung kalau kau menyakiti Melo!!" seru Prothos memukul-mukul punggung Lion saat memeluknya.
"Apa hubungannya dengan Melon?" tanya Lion dengan tampang bodohnya menatap Prothos saat dia melepas pelukannya.
Prothos hanya tertawa melihat reaksi Lion sekarang dan mengingat apa yang dikatakannya saat setengah tak sadarkan diri semalam.
...***...
Ketika jam istirahat dan menunggu bel masuk, Melody duduk sendirian di mejanya karena Lion masih belum masuk. Melody juga masih belum menjenguknya.
"Seberapa banyak dia punya teman?" gumam Melody sedikit kesal karena hal tersebut membuatnya tidak bisa menjenguk Lion dari kemarin.
Drrttt drrttt drrttt
Telepon masuk dari Lion. Melody sempat kaget kenapa Lion menghubunginya.
"Kau parah sekali Melon, semua kakakmu dan ketiga calon kakak iparmu sudah menjengukku. Kenapa kau tidak datang menjengukku?" seru Lion di ujung telepon. "Aku kira kita ini sahabat."
"Sejak kapan aku bersahabat denganmu?" tanya Melody ketus. "Teman-temanmu tak ada hentinya terus berdatangan. Bagaimana aku bisa datang menjengukmu?"
"Kau kan bisa datang bersama salah satu kakakmu di saat mereka menjengukku."
"Aku tidak mau!!"
"Aku akan menjengukmu saat tak ada siapapun disana."
"Baiklah, aku akan mengusir mereka semua nanti saat kau pulang dari sekolah." ujar Lion. "Kau harus kesini!!"
Setelah itu Lion menutup teleponnya.
...***...
Sepulang sekolah Melody berganti pakaian dan setelah itu berdiri di depan jendelanya melihat ke kamar Lion. Lion melambai pada Melody dan menyuruh Melody ke sana dengan gerakan tangannya.
Melody membawakan sekotak donat kesukaan Lion masuk ke kamar pemuda yang sudah menunggunya. Lion tersenyum lebar menyambut gadis itu.
"Kau memang sahabatku, Melon." ucap Lion sambil mengambil donat yang dibawa Melody. "Duduklah."
Lion mengisyaratkan Melody agar duduk di kursi samping tempat tidur, dekat dengannya. Lion membuka kotak donatnya dan melihat isinya. Lalu tersenyum pada Melody.
"Kau memang yang terbaik, bahkan kau tahu donat mana yang aku suka. Donat kalau tidak ada lubang di tengahnya bukanlah donat." senyum Lion sambil menumpuk tiga donat sekaligus di jari telunjuk tangan kirinya, lalu memakannya.
"Dasar aneh." komentar Melody melihat cara makan Lion yang unik setiap kali memakan donat.
"Kau tahu kemarin itu aku pikir aku akan mati sungguhan." ujar Lion dengan mulut dipenuhi donat. "Argh, untung saja aku masih hidup. Ternyata sakit itu menyenangkan juga. Banyak yang datang mengunjungiku dan membawakan banyak makanan."
"Jangan berkata mati semudah itu!!" seru Melody kesal. "Kau sudah sehat seharusnya tadi kau masuk sekolah hari ini!!"
Lion menggeleng tidak setuju.
"Aku masih sakit, sepertinya aku akan tetap sakit sebelum menularkan penyakit ini pada seseorang."
"Apa maksudmu?"
"Kau pernah dengar mitos, kalau penyakit flu akan sembuh ketika kita menularkannya pada orang lain?" ujar Lion. "Kau ingin aku sembuh 'kan?"
Tiba-tiba Lion mendekatkan wajahnya ke Melody. Gadis itu hanya diam saja tidak menghindar dengan jantung yang berdebar saat Lion menatapnya dekat. Namun siapa sangka, ternyata Lion bersin di depan wajahnya.
"Kau ini jorok sekali!!" seru Melody langsung bangkit berdiri dan mengambil tisu untuk membersihkan wajahnya dengan kesal.
"Aku mohon Melon, ambil penyakitku ya." ucap Lion tersenyum. "Walau sakit menyenangkan tapi aku sudah tidak betah berada di kamar terus."
Melody yang bangkit berdiri menatap Lion sangat kesal.
"Jadi kau menyuruhku kesini karena berniat menulariku?" Melody benar-benar kesal saat ini. Dia tidak mengira tujuan Lion sebenarnya memintanya datang hanya untuk menularinya. "Kau sangat keterlaluan, bodoh!!"
Lion hanya tersenyum menahan tawanya.
Melody berjalan ke pintu hendak pulang karena sangat marah. Namun tiba-tiba pintu kamar Lion terbuka. Muncul seseorang dari balik pintu.
"Halo Melody, ternyata kau sedang menjenguk Lion juga." senyum Niko yang membuka pintu kamar Lion. Seperti biasa tangan kirinya dimasukan ke dalam saku mantel panjang yang dikenakannya dan tangan kanannya melambai pada Melody.
Melody sangat terkejut, begitupun dengan Lion yang langsung menoleh ke arah pintu masuk.
"Nakonets-to my snova vstretimsya (akhirnya kita bertemu lagi)."
Melody tidak memedulikan kehadiran Niko, gadis itu langsung bergegas keluar kamar Lion.
"Kenapa kau jauh-jauh kesini, Niko?" tanya Lion.
"Untuk menjengukmu." jawab Niko duduk di kursi yang tadi diduduki Melody. "Kita sudah seperti saudara, tidak mungkin aku tidak menjengukmu disaat semua orang dari manapun menjengukmu."
Lion hanya tertawa kecil.
...***...
Sesampainya di kamar, Melody masih sangat kesal dengan Lion. Ditambah kehadiran temannya itu. Kekesalan Melody menjadi dua kali lipat.
Tiba-tiba Melody bersin. Kekesalannya pun bertambah lagi.
"Arrgghh, si bodoh itu benar-benar menulariku." kesal Melody duduk di atas tempat tidur.