MELODY 911 With The Three Musketeers

MELODY 911 With The Three Musketeers
Meminta Pendapat



Tasya bersama Anna menunggu di depan tempat khursus Melody. Hari ini mereka yang menjemput Melody karena berencana untuk berbelanja kebutuhan untuk liburan besok.


"Melo..." panggil Anna yang duduk di kursi setir.


Melody menghampiri dan segera masuk ke dalam mobil.


"Selamat siang, Melody." sapa Tasya.


"Kenapa kalian yang menjemputku?" tanya Melody.


"Kita akan berbelanja kebutuhan berlibur besok."


"Tapi aku tidak ikut." jawab Melody menjawab Tasya.


"Tidak ada yang akan menjagamu besok, jadi kata paman Melody ikut berlibur." jawab Tasya.


Melody menbuang napas mendengarnya karena dia merasa sangat enggan ikut pergi berlibur dan lebih baik di rumah saja.


"Kita akan bersenang-senang, Melo." ujar Anna menjalankan mobilnya.


"Ayo kita shopping!!" seru Tasya senang.


...***...


Aramis yang pergi dengan Jessica mengunjungi bioskop untuk menonton film horror, namun Aramis sama sekali tidak fokus. Jessica yang ketakutan terus memeluk lengan kanannya sehingga dia bisa melihat belahan dada wanita itu.


Dengan segera Aramis melepas kemeja lapisan luar kaosnya yang dipakainya dan menutupi Jessica.


"Kau pasti kedinginan di sini." ujar Aramis.


Jessica tersenyum meresponnya.


...***...


Tasya membeli banyak sekali pakaian dan aksesoris tanpa memedulikan harganya. Anna dan Melody hanya mengikutinya karena memang semula hanya Tasya yang berencana belanja.


"Anna, kau pasti bagus kalau pakai dress ini." ujar Tasya memperlihatkan dress hitam panjang tanpa lengan. "Kakimu sangat panjang, kau pasti seperti seorang model."


"Tidak tidak, ini bukan gayaku." jawab Anna menolak. "Dress ini juga tipis sekali, aku akan masuk angin nanti. Bukan begitu Melo?"


"Sesekali kak Anna berpakaian wanita bagaimana?" ujar Melody. "Kakak pasti sangat cantik. Kak Ars pasti tidak akan mengiranya."


"Kenapa kau menyebut kakakmu yang bodoh itu?" gumam Anna kesal.


Melody dan Tasya tertawa.


"Aku akan membelinya." ucap Tasya.


...***...


Prothos yang berada di kamarnya memikirkan kejadian kemarin. Dia benar-benar bingung karena Widia sangat marah padanya. Dia sangat menyesal sudah mencium gurunya itu. Semua terjadi begitu saja tanpa dia bisa kendalikan dirinya.


Tiba-tiba Prothos mengingat sesuatu saat dirinya masih SMP dulu.


"Jessica?"


...***...


Aramis mencoba membuka pintu rumah Anna ketika waktu sudah jam sepuluh malam. Namun kode kuncinya salah dan tidak terbuka sehingga dia memencet bel dengan kesal.


"Kenapa dia mengganti kodenya?" gumam Aramis kesal.


Anna membuka pintu rumahnya dan melihat Aramis yang menatapnya kesal.


"Ada apa?" tanya Anna bersandar di ambang pintu.


"Kenapa kau ganti kode kuncinya?" tatap Aramis.


"Agar kau tidak bisa masuk rumahku." jawab Anna.


"Kenapa aku tidak boleh masuk?" ujar Aramis semakin kesal sambil menerobos masuk rumah Anna.


"Ada apa, Ars?" tanya Tasya yang duduk di sofa.


"Kau kenapa disini?" tanya Aramis.


"Dia menginap malam ini disini." jawab Anna. "Cepat keluar!!" seru Anna dingin.


Tasya hanya melambaikan tangannya pada Aramis saat Anna mendorong Aramis keluar rumah. Aramis menarik Anna menjauh dari pintu masuk.


"Kenapa kau seperti marah padaku?" tanya Aramis kesal melihat Anna.


Anna diam saja.


"Aku kan sudah minta maaf karena menciummu." ucap Aramis.


Anna tertawa skeptis.


"Hey, ayolah, maafkan aku." ucap Aramis.


"Pergilah, aku lelah karena menemani Tasya belanja seharian. Aku mau istirahat." jawab Anna membalikan badannya hendak masuk.


Namun Aramis menariknya dan membuat Anna emosi. Dia berbalik dan meninju wajah Aramis.


"Sudah aku bilang, aku lelah." ucap Anna.


"Padahal aku ingin meminta pendapatmu." ucap Aramis. "Baiklah kalau begitu."


Setelah itu Aramis undur diri namun bukannya kembali ke rumahnya, dia malah ke rumah Lion.


"Si bodoh itu membuat kepalaku sakit." gumam Anna masuk ke rumahnya.


"Ada apa?" tanya Anna bingung yang melihat Tasya menatapnya.


"Kau baik-baik saja?"


"Aku baik-baik saja, walau kepalaku jadi sakit." jawab Anna duduk di sofa.


"Tentang Jessica. Kau baik-baik saja, Anna?" tatap Tasya.


"Kenapa Jessica? Apa hubungannya dengan Jessica?"


"Kalau Ars pacaran dengannya." ucap Tasya masih menatap lekat Anna.


"Itu bukan urusanku."


"Aku tidak bilang mengenai urusanmu atau bukan. Aku bertanya kau baik-baik saja kalau mereka berpacaran?"


"Ya, tidak masalah... aku baik-baik saja." jawab Anna tidak menatap Tasya.


...***...


Di rumah Lion, Lion yang sedang bermain game diganggu oleh Aramis yang datang menemuinya.


"Kenapa dia malah memukulku? Aku kan hanya mau tanya pendapatnya." ujar Aramis kesal duduk di belakang Lion di atas karpet.


"Anna memukulmu?" tanya Lion. "Ya, kau pantas dipukul, bodoh!!"


"Kenapa kau bilang begitu? Kau dan Anna sama saja."


"Tidak, aku tidak memukulmu seperti Anna. Walau sejujurnya aku juga ingin memukulmu." jawab Lion tanpa memalingkan pandangannya dari layar. "Jujur saja, aku tidak suka dengan cara berpakaian temanmu itu. Jelas sekali dia memamerkannya."


"Selama dua tahun dia tinggal di luar negeri, pasti dia sudah biasa berpakaian seperti itu." bela Aramis. "Tapi kau tahu tidak, saat nonton di bioskop tadi... dia selalu memeluk lenganku dan menempelkan tanganku ke dadanya. Arrghh... aku jadi tidak fokus nonton. Dia benar-benar menggodaku."


"Kalau begitu pacari saja dia, aku yakin dia juga sudah biasa melakukannya dengan banyak pria."


"Kau ini bicara apa? Aku akan dibunuh paman kalau melakukannya. Aku juga tidak mau kalau Melo sampai disentuh oleh pria manapun. Ingat ya, aku akan membunuhmu kalau kau macam-macam dengan Melo!!"


Lion berhenti bermain dan menoleh pada Aramis kesal.


"Kenapa melihatku seperti itu?" tanya Aramis.


"Apa kata Anna?" Lion balik bertanya mengalihkan topik. "Dia pernah berkata sesuatu tentang wanita itu?"


"Dia tidak mau ikut campur dan terserah padaku." ucap Aramis. "Arrghh... kenapa kalian berdua sama saja?"


"Dasar bodoh!! Dia bilang begitu bukan berarti dia setuju 'kan?" seru Lion makin kesal. "Kenapa aku punya teman sebodoh kau?!"


"Kau ini bicara apa?"


"Kalau aku melarangmu agar tidak memacari Jessica apa kau akan menurut?"


"Siapa kau melarangku?"


"Kalau Anna yang melarangmu, bagaimana?" tanya Lion lagi.


Aramis terdiam dan bingung menjawabnya.


"Tidak tahu." jawab Aramis. "Maka dari itu aku mau tahu pendapatnya."


"Keluar sana!! Kau membuatku sakit kepala!!" ujar Lion menahan kekesalannya.


Aramis bangkit berdiri dan hendak keluar.


"Sebaiknya kau tanyakan juga pendapat kedua kembaranmu." ucap Lion.


...***...


Pagi-pagi sekali Tasya berdiri di tengah antara rumah Athos dan rumah Anna. Dia menunggu seseorang keluar dari rumah Athos. Sudah sejak setengah jam yang lalu dia berdiri disana, dan sekarang waktu sudah menunjukan pukul setengah lima pagi.


Akhirnya seseorang membuka pintu rumah Athos, sehingga Tasya tersenyum senang. Orang tersebut adalah Prothos.


"Oto..." panggil Tasya.


"Tasya? Kenapa pagi-pagi sekali kau disini?" tanya Prothos menghampiri Tasya yang berdiri di luar pagar.


"Kau ingin lari pagi?"


Prothos mengangguk.


"Aku menelepon Ars berkali-kali tapi tidak diangkat." ujar Tasya. "Kenapa kau tidak punya handphone, Oto? Aku jadi susah menghubungimu."


"Ada apa memangnya?" tatap Prothos penasaran.


"Apa aku boleh minta bantuan?"


"Katakan saja apa yang perlu aku bantu?"


Tasya tersenyum mendengar jawaban Prothos.


...----------------...


TASYA



Visual Model :


Kim Hyun-soo