
Pertandingan catur antara Lion dan Athos sudah dimulai, dan mereka sudah melakukan sembilan kali pertandingan. Sekarang memasuki pertandingan ke sepuluh.
Hanya ada mereka berdua di meja makan. Yang lain sudah pergi dengan kesibukan masing-masing. Aramis dan Anna pergi ke pameran, sedangkan Melody sedang kursus. Awalnya Prothos dan Tasya menonton hingga pertandingan ketiga namun setelahnya mereka berdua pun tidak kuat menemani kedua orang yang tampak serius itu.
Hampir tak ada suara ketika pertandingan berlangsung. Waktu sudah menunjukan jam dua siang. Bahkan mereka berdua melewatkan makan siang.
Pertandingan tersebut sebenarnya sesuai seperti yang diucapkan Aramis. Hasilnya tetap sama. Kesembilan pertandingan semuanya dimenangkan oleh Lion.
"Lion, apa aku boleh bertanya sesuatu?" tanya Athos dengan tatapan masih pada papan catur. "Kenapa kau tidak pernah bergerak rokade?"
"Ternyata kau menyadarinya, ya." senyum Lion.
"Kenapa?"
"Karena aku tidak suka bertahan." jawab Lion. "Kau tahu Ato, sebenarnya aku punya alasan lain kenapa aku selalu memilih bidak hitam?"
"Apa karena bidak putih yang harus jalan terlebih dahulu?" tanya Athos.
"Astaga, kau tepat sekali." tatap Lion. "Aku lebih suka menunggu pergerakan lawan lebih dulu agar aku bisa menyerang habis-habisan."
Lion menggeser bidak menteri menuju kotak H3 dimana kedua bidak gajah milik Lion berada di E3 dan F3, dan satu-satunya bidak raja milik Athos yang tersisa berada di H1.
"Skakmat." ucap Lion.
Athos memegang kepalanya menahan kesalnya. Kali ini pun dia kalah dari Lion.
"Tampaknya aku memang sudah dihajar habis-habisan."
"Aku punya saran untukmu, Ato." ujar Lion menatap Athos. "Kalau kau ingin menang kendalikan pergerakan lawanmu dengan cara membuat mereka terpojok. Lihat, kau mengambil langkah terakhir yang salah dengan memindah raja ke H1, kau jadi benar-benar terpojok."
Athos tertawa mendengar ucapan Lion. Perkataan Lion benar, namun siapapun tidak akan bisa berbuat apa-apa ketika raja hanya tersisa sendiri.
"Kau tenang saja, untuk bidak lainnya akan aku singkirkan. Kau incar saja rajanya dengan mengendalikannya dan membuatnya terpojok."
Athos mencerna perkataan Lion. Dia mengerti kalau yang diucapkan Lion bukanlah hal dalam permainan catur ini.
"Sejak awal aku tahu tujuanmu menantangku." ujar Lion.
"Aku percaya padamu, kau bebas melangkah seperti apapun untuk membuat mereka terpojok." jawab Athos menatap tajam Lion. "Lakukan rencana cadangan yang kau buat diam-diam."
Sejenak Lion agak terkejut mendengar ucapan Athos.
Athos bangkit berdiri dan hendak naik ke atas.
"Mau main sekali lagi?" tanya Lion pada Athos yang melangkah di tangga meninggalkannya.
Lion hanya bisa tertawa mendengar kalimat terakhir Athos. Dia tidak mengira kalau Athos tahu mengenai suatu rahasia yang dilakukannya.
...***...
Aramis yang bersama Anna sedang ada dalam sebuah pameran lukisan. Mereka menikmati waktu kebersamaan mereka ketika melihat-lihat karya lukisan yang dipamerkan disana.
"Aku rasa semua pelukis itu sombong." ucap Anna menoleh pada Aramis yang berdiri di belakangnya.
Aramis hanya menatapnya penuh tanya.
"Mereka suka memamerkan kemampuan mereka pada semua orang." ucap Anna agak berbisik. "Seperti sekarang ini."
Aramis tertawa mendengar perkataannya.
"Ars." panggil ayah menghampiri mereka berdua. "Aku pikir kalian sudah pulang."
"Sebentar lagi kami pulang, paman." jawab Anna.
"Sepertinya aku akan pulang malam." ucap ayah. "Kalian pulang duluan saja, jangan terlalu malam pulangnya. Besok kau ada tryout kan, Ars?"
Aramis mengambil kunci mobil di saku celananya dan memberikan pada ayahnya.
"Kami akan pulang naik bus." ujar Aramis.
"Baiklah." jawab ayah.
Aramis dan Anna segera berjalan keluar galeri untuk pulang. Namun ketika mereka berada di luar galeri, Anna melihat sebuah poster tertempel disana.
Anna berhenti dan melihat poster tersebut. Sebuah poster lomba melukis untuk anak SMA. Anna langsung menatap Aramis.
"Bagaimana kalau kau ikut lomba ini, Ars?"
Aramis memalingkan wajahnya dari tatapan Anna.
"Apa kau pernah ikut lomba sebelumnya?"
Aramis tak menjawab.
"Apa jangan-jangan kau diam-diam sudah sering ikut lomba?"
Aramis mengangguk tanpa melihat Anna.
"Benarkah?" tatap Anna terkejut. "Berapa kali kau ikut lomba? Apa kau pernah memenangkannya?"
Aramis tidak menjawab dan masih memalingkan wajahnya dari Anna.
"Heh, ayo jawab!!" seru Anna menyenggol kaki Aramis dengan kakinya.
Anna terkejut, Aramis sudah sering memenangkan berbagai macam lomba melukis. Dia memperlihatkan foto puluhan piagam yang sudah dia menangkan sejak SMP.
"Astaga, sebanyak ini?" tatap Anna.
Kali ini Aramis mengangguk dengan menatapnya.
"Baru kali ini aku mengakui kau sangat keren, Ars." seru Anna merangkul punggung Aramis dengan senang.
...***...
Lion duduk di sebuah ruangan dengan tiga meja billiard ada di sana. Ada beberapa temannya di ruangan tersebut, namun Lion hanya bersama Ivan di salah satu meja billiard yang berada di pojok ruangan.
Lion membuka handphone-nya sambil bersandar ke meja billiard, di tangan kirinya memegang stik billiard, dan di mulutnya ada permen lolipop, sedangkan Ivan sedang membidik bola sebelum memukulnya.
"Aku rasa kali ini aku harus melakukan sesuatu lagi." Lion masih sibuk dengan handphone-nya.
Ivan memukul bola effect namun meleset dan bola hitam yang diincarnya tidak masuk. Itu membuatnya menggeram kesal.
Lion menoleh dan tertawa melihatnya.
"Kau masih saja payah." ejek Lion.
Lion gantian membidik bola, tanpa butuh waktu lama, bola hitam tersebut masuk.
"Aku heran padaku, Lion. Kenapa kau selalu membantu mereka?" tanya Ivan. "Terutama si sombong Ato, astaga, berurusan dengan orang pintar itu sangat memuakan."
"Kau hanya tidak mengenalnya. Percayalah, Ato itu sangat menarik, sepertinya dia mempunyai indera keenam. Sangat mengerikan." jawab Lion setelah itu memukul bola dan masuk.
"Tapi masalah ini akan sangat serius, keluarga Dion merupakan salah satu grup besar di dunia bisnis. Kau yakin bisa membantunya?" tatap Ivan pada Lion yang masih mencari posisi memukul bola selanjutnya.
"Semakin sulit level tersebut maka akan semakin membuatku tertantang. Itu menariknya sebuah games." jawab Lion melirik Ivan sebelum memukul bola kembali.
"Kau selalu membantu mereka bukan karena adik mereka kan?"
Lion tertawa mendengarnya, dan menggelengkan kepalanya.
"Bukannya kemarin kau pergi bersamanya ke taman hiburan? Apa kalian mulai berkencan?"
Lion yang semula mencondongkan badannya hendak memukul bola, berdiri tegak dan mengeluarkan permen lolipop yang sejak tadi ada di mulutnya lalu menatap Ivan.
"Dia itu sangat merepotkan." ucap Lion.
"Benarkah?" tatap Ivan tertawa mendengar jawaban Lion. "Ya, aku tidak heran. Mendengar kata-katanya saat di bandara itu benar-benar tajam seperti pisau."
Lion memukul bola sekali lagi dan dua bola masuk bersamaan.
"Ngomong-ngomong, apa kau tahu kabar Niko?"
"Ada apa dengannya?" tanya Lion membidik bola. "Terakhir kali dia menjengukku saat sakit."
"Aku dengar dia tidak terlihat lagi di kotanya." jawab Ivan duduk di sofa karena sejak tadi Lion selalu memasukan bola. "Apa dia kembali ke Rusia?"
Lion memukul bola dengan memikirkan perkataan Ivan mengenai Niko.
Kali ini tidak ada yang masuk.
...***...
Dalam perjalanan pulang, Aramis berjalan kaki bersama Anna dari luar komplek perumahan mereka. Mereka berjalan di pinggir jalan yang mana jalanan tidak terlalu ramai karena jalanan komplek.
"Sepertinya aku akan ikut lomba itu lagi." ucap Aramis menoleh pada Anna yang berjalan di sebelah kanannya.
"Itu bagus, Ars. Aku akan mendukungmu." senyum Anna menyenggol lengan Aramis dengan lengannya. "Kau pasti akan menang lagi."
Tiba-tiba hujan turun rintik-rintik.
"Hujan? Ayo cepat kita harus sampai sebelum makin deras." seru Anna.
Anna hendak menyeberang karena posisi rumah mereka harus masuk lagi ke dalam kawasan. Dia tidak melihat dan langsung melangkah ke tengah jalan. Tak sadar dari belakang ada sebuah motor melaju cepat.
Untungnya dengan cepat Aramis menarik Anna ke pinggir sebelum motor tersebut menabrak Anna.
"Kau tidak apa-apa?" tanya Aramis cemas.
Anna membuka matanya karena terkejut semua terjadi begitu cepat. Dia menatap Aramis dengan tatapan bingung.
"Kau siapa?"
Aramis terkejut mendengar pertanyaan Anna yang menanyakan siapa dirinya.
"Anna, ini bukan waktunya bercanda!!" tatap Aramis serius.
Anna mengedipkan matanya beberapa kali dan menarik tatapannya dari Aramis sambil memegang kepalanya.
"Kau jangan bercanda!!"
Tiba-tiba Anna tertawa, membuat Aramis lega.
"Kena kau, Ars!!" ucap Anna tersenyum.