
Ketika jam istirahat, seperti biasanya Prothos masuk ke gudang sekolah. Dia mencari posisi untuk tidur siang seperti biasa di tempat itu. Kali ini dia duduk bersandar ke tembok di atas lantai dengan meja yang menutupi dirinya dari arah pintu masuk.
Dia memasang earphones dan menghidupkan musik klasik favoritnya seperti biasa. Tidak berapa lama dia mulai terlelap.
Namun tiba-tiba dia mendengar seperti suara tangisan seorang wanita.
Prothos agak terkejut mendengar suara tangisan tersebut. Bulu romanya seketika berdiri. Dia segera melepas earphones dari telinganya. Baru terdengar suara wanita yang berbicara sambil terisak. Prothos menggeser kepalanya dari meja yang menutupinya untuk melihat murid perempuan yang ada di dekat pintu masuk sedang menelepon. Ternyata dia lupa mengunci pintunya tadi.
"Jangan seperti itu, aku akan tetap memaafkanmu." ucap gadis yang terisak sedang menelepon. "Tidak apa-apa kalau kau selingkuh, asal kau kembali padaku. Aku tidak ingin kita berpisah."
Prothos langsung merasa tidak setuju dengan perkataan gadis itu. Dia langsung keluar dari balik meja dan gadis yang sedang menelepon tersebut menoleh padanya. Siapa sangka kalau gadis itu adalah Wilda, teman sekelas Melody yang berkacamata dan yang mengetahui tentang rahasia Prothos dan Widia.
"Bukannya kau yang datang ke café?" tatap Prothos terkejut saat melihat Wilda dan menyadari hal itu.
Wilda terkejut, dia langsung mematikan teleponnya.
"Maaf, aku kira tak ada siapapun disini." ucap Wilda dengan wajah yang basah karena air mata.
Dengan cepat gadis itu keluar gudang hingga tak menyadari kalau sebuah buku catatan kecil yang dibawanya terjatuh.
"Bukumu jatuh!" seru Prothos memanggil namun Wilda sudah pergi.
Prothos mengambil buku tersebut. Dia memperhatikan buku catatan kecil itu namun tidak membukanya.
"Rasanya ada yang aneh." gumam Prothos setelah melihat Wilda.
...***...
Lion kembali memasuki coffee shop yang kemarin juga dia datangi. Tempat dimana Mona bekerja. Setelah pulang sekolah dia langsung ke tempat itu karena tidak ada lagi tujuannya yang lain.
"Astaga, kenapa kau ke sini lagi?" gumam Mona kesal melihat kehadiran Lion.
Lion berjalan mendekatinya dengan jari di telunjuk tangan kiri menumpuk tiga donat dan tangan kanannya membawa kotak donat.
"Kau mau?" Lion menyodorkan kotak donat yang dibawanya, namun Mona menatapnya kesal. "Baguslah kalau tidak mau."
Lion langsung duduk di meja yang sama dengan yang kemarin dia tempati.
"Disini tidak boleh membawa makanan dari luar." seru Mona.
"Bukannya disini hanya menjual minuman?" ujar Lion dengan mulut dipenuhi donat. "Mona, aku pesan susu yang kemarin. Aku baru tahu kalau ada menu itu disini, aku pikir hanya kopi saja."
Tidak berapa lama Mona mengantarkan pesanan Lion ke mejanya.
"Kau seperti Melody saja, saat dia kesini waktu itu, dia juga aku buatkan susu saja seperti ini, karena katanya dia dilarang keluarganya minum kopi." ucap Mona.
Lion terkejut mendengar nama Melody diucapkan oleh Mona. Namun dia hanya bisa diam saja.
"Sebenarnya tidak ada menu ini. Aku tetap menulis dengan menu yang ada tapi menyajikannya tidak dengan kopi, namun harganya tetap tidak berubah." ujar Mona menjelaskan.
"Kenapa tidak berubah? Seharusnya setengah harga." protes Lion.
"Karena komposisinya tetap aku berikan penuh, makanya tidak berubah." jawab Mona kesal.
"Khusus buatku setengah harga saja, ya?" pinta Lion. "Aku tidak punya uang."
"Tidak!" seru Mona. "Kau selalu bilang seperti itu tapi Mario cerita sebenarnya kau banyak uang! Kenapa kau selalu berlagak tidak punya uang?"
"Astaga, aku hanya anak baik yang sebatang kara, aku hidup sendirian bersama nenekku. Darimana aku punya banyak uang?" keluh Lion kesal sambil mengeluarkan beberapa lembar uang dari dompetnya. "Uangku kurang, aku pinjam uangmu dulu ya."
Setelah itu Lion bergegas pergi dengan cepat sambil membawa kotak donat dan susu yang dipesannya.
"Kenapa Mona?" tanya temannya yang seorang pria. "Uangnya kurang? Sudahlah, dia teman adikmu kan?"
"Dia itu anak yang aneh." gumam Mona sambil berjalan ke meja kasir. "Keluarganya kaya tapi selalu berlagak susah."
"Benarkah?"
"Walaupun belum diketahui apa pekerjaan orang tuanya di luar negeri, tapi semua orang tahu dia anak orang kaya. Dia juga anak satu-satunya. Tapi ucapannya selalu irit, dan tidak punya uang. Itu sangat aneh 'kan? Padahal semua temannya sudah tahu itu, tapi tetap saja dia berlagak seperti itu."
"Kira-kira apa pekerjaan orang tuanya?"
"Ada yang bilang pebisnis, duta besar, bahkan ada yang mengira mafia, tapi entahlah mana yang benar." jawab Mona.
Lion duduk di pinggir jalan menghabiskan donat dan susu yang dibawanya. Duduk di sebuah pembatas tanaman yang bisa diduduki. Dengan santai dia melahap donatnya dengan cara biasanya dia memakannya.
"Lion." panggil seseorang yang menghentikan mobilnya tepat di hadapan Lion. "Kau sedang apa? Mau ikut?"
"Aku ada urusan." jawab Lion dengan mulut penuh donat.
"Baiklah, hubungi aku ya kalau butuh sesuatu."
Lion mengacungkan jempolnya dan temannya tersebut pergi.
"Lion, kau bisa datang kapan, perusahaan ayahku sebentar lagi akan mengeluarkan game terbaru. Kami membutuhkan review-mu."
"Benarkah? Genre-nya apa?" tanya Lion.
"RPG." jawab temannya.
"PC atau konsol game?"
"Konsol game."
"Besok aku ke sana." jawab Lion terlihat senang. "Sediakan aku makanan yang banyak ya."
Lion melanjutkan melahap donatnya dengan santai sambil sesekali menyeruput minumannya.
"Lion? Sedang apa kau disini?"
Lion menoleh dan melihat Kevin bersama empat orang teman pria Melody yang lain di tempat kursus berdiri di dekatnya.
"Sudah lama kita tidak bertemu." jawab Lion tersenyum. "Kalian datang telat, donatku sudah habis." Lion memperlihatkan kotak donat yang sudah tak ada isinya sambil menyeruput habis minumannya. "Minumanku juga sudah habis."
Mereka semua hanya tertawa melihat tingkah konyol Lion.
"Kalian mau ke tempat karaoke lagi? Apa aku boleh ikut?"
"Tidak. Kami sedang ingin membicarakan rencana kami." jawab Kevin.
"Rencana apa?"
Lion bersama Kevin dan teman-temannya yang lain duduk di sebuah restoran cepat saji 24 jam.
"Kenapa kau duduk di pinggir jalan? Kau habis mengantar Melody?" tanya Kevin karena jarak tempat kursus mereka tidak jauh dari sana. "Tapi masih ada tiga puluh menit sebelum waktu kursus, itu terlalu cepat."
"Tidak, aku hanya sedang bersantai saja." jawab Lion. "Apa yang kalian mau bahas?"
"Kami berencana mendaki gunung bersama." jawab Kevin yang duduk di hadapan Lion.
"Mendaki gunung?" tanya Lion memastikan.
"Iya. Kau mau ikut?" ajak Kevin.
"Apa aku boleh ikut?" tatap Lion antusias. "Beberapa bulan yang lalu aku juga pernah sekali mendaki gunung. Itu sangat menyenangkan. Aku jadi ingin lagi melakukannya."
"Ikut saja, kita akan bersenang-senang disana." seru teman Kevin yang lain.
"Benar Lion, kau ikut saja. Mau tidak?" tanya Kevin.
"Kapan?"
"Hari sabtu ini." ucap Kevin.
"Sabtu ini?"
Kevin mengangguk.
Sabtu ini ya, di hari ulang tahun ku. ucap Lion dalam hati.
"Bagaimana?" tanya Kevin.
"Baiklah." jawab Lion tersenyum senang. "Aku sudah tidak sabar melakukannya. Berikan aku list apa saja yang harus aku bawa?!"
"Kita akan membahasnya sekarang."
"Aku tidak punya banyak uang, kalau bisa aku hanya membawa pakaian saja." keluh Lion.
"Tidak masalah. Sabtu besok, jam 9 pagi kita bertemu disini." ujar Kevin.
"Siap." jawab Lion tersenyum lebar.
...----------------...
Lionel Fleecysmith
Visual Model :
Kim Tae-Hyung A.k.a V (BTS)