MELODY 911 With The Three Musketeers

MELODY 911 With The Three Musketeers
Taman Hiburan



Tepat pukul sepuluh, Melody sudah tidak sabar menunggu kabar dari Lion. Sejak satu jam yang lalu dia sudah siap dengan mengenakan baju terusan putih yang membuatnya semakin tampak mungil.


Dengan ragu dia berjalan keluar untuk menunggu di luar rumah. Ketika dia keluar dari pintu tiba-tiba handphone miliknya berbunyi. Sambil terus berjalan dia menjawab telepon tersebut.


"Halo..."


Tepat ketika dia keluar dari pagar rumah, Lion sudah berada di depannya.


"Kau telat, sudah jam sepuluh lewat lima menit." seru Lion mematikan teleponnya. "Jika tidak dengan Megan, kita akan naik apa?" tanya Lion.


Melody tidak menjawab dan langsung berjalan meninggalkan Lion, mau tidak mau Lion mengikutinya dari belakang. Saat ini Melody merasa tidak tahu harus bersikap bagaimana pada Lion. Dia benar-benar merasa gugup hingga tidak berani menatapnya.


"Melon, kita naik apa?" tanya Lion tetapi Melody tidak menjawab.


Tiba-tiba Lion menarik lengannya.


"Ayo kita naik motor saja!!" tatap Lion.


Melody membuang wajahnya dari tatapan Lion.


"Tidak! Kita naik kereta saja!!" ucapnya.


"Baiklah." jawab Lion melepaskan tangan Melody.


...***...


Pagi itu kereta dipenuhi penumpang, sehingga Lion dan Melody tidak kebagian tempat duduk dan harus berdiri bersama-sama dengan penumpang lainnya.


Keadaan di dalam kereta begitu sesak, semua penumpang saling dorong ketika kereta harus berhenti di setiap stasiun. Melody yang bertubuh mungil membuatnya sulit untuk menahan, hal itu membuatnya sedikit menyesal karena ingin pergi menggunakan kereta.


Lion menyadari bagaimana Melody tampak kesusahan karena terdorong oleh arus manusia yang penuh sesak di dalam kereta. Dia segera menarik Melody yang berjarak dua meter darinya untuk mendekatinya. Melody terkejut dengan apa yang di lakukan Lion. Lion langsung mencari celah untuk membawa Melody ke pojok gerbong kereta agar Melody bersandar ke pembatas di sebelah pintu penghubung gerbong.


Lion tidak memedulikan beberapa orang yang berkata sinis padanya karena menyelinap melewati mereka dan membuat mereka terdorong.


Melody bersandar tanpa perlu merasakan dorongan dari penumpang lainnya lagi karena Lion yang berdiri di hadapannya melindungi Melody agar tidak terdorong. Lion menahan tiap dorongan penumpang dengan tubuhnya. Dia menahan dorongan-dorongan tersebut agar tidak mengenai Melody.


Melihat yang di lakukan Lion demi melindunginya membuat Melody semakin menyesal. Namun dia tidak dapat berkata apapun dan hanya menundukan kepala karena Lion saat ini berada sangat dekat dengan dirinya hingga dia dapat mencium aroma parfum pria yang melindunginya tersebut.


Kereta berhenti di stasiun tempat tujuan Lion dan Melody. Penderitaan Lion sudah berakhir dengan turun dari kereta. Melody merasa bersalah pada Lion dan merasa kalau saat ini Lion pasti marah padanya, karena itu dia tetap menundukan kepala hingga keluar dari kereta, dia tidak berani menatap langsung Lion.


"Aku rasa badanku akan remuk." ujar Lion sambil menggeliatkan tubuhnya setelah turun dari kereta. "Padahal ini hari sabtu tapi kenapa kereta penuh sekali?" lanjut Lion.


Lion menoleh pada Melody karena tak ada suara darinya.


"Melon, kenapa diam saja? Kau tidak sedang sakit perut kan?" tatap Lion memperhatikan Melody.


Melody tetap tidak berkata apapun dan menundukan kepalanya.


"Sudahlah, sebaiknya kita cepat pasti saat ini taman hiburan sudah sangat ramai." kata Lion, berjalan.


"Seharusnya kita tidak naik kereta..." ucap Melody membuat langkah Lion terhenti dan menoleh lagi. "Kau pasti marah padaku kan? Aku benar-benar minta maaf."


Lion menatap Melody yang belum juga mengangkat kepalanya.


"Aneh, kenapa aku merasa kau berubah? Apa kau benar es melon?"


Melody mengangkat kepalanya menatap Lion karena terkejut mendengar ucapannya.


"Kau tidak sedang menyukaiku 'kan?"


Melody semakin terkejut. Dia menoleh ke samping untuk menghindari tatapan Lion yang berdiri di jarak dua meter darinya. Kebingungan melanda dirinya saat ini.


"Tidak mungkin, pasti saat ini kau sedang berpura-pura menyesal karena melihat penderitaanku tadi. Sebenarnya kau sedang tertawa bahagia dalam hati kan?!" ujar Lion. "Asal kau tahu saja ya, aku baik-baik saja dan tidak merasa menderita, malah sepertinya naik kereta lebih menyenangkan, dan lagi saat ini Megan pasti senang karena tidak perlu di tumpangi olehmu yang berat." lanjut Lion.


"Benar, melihat penderitaanmu tadi, dalam hati aku tertawa bahagia!!" ucap Melody ketika melewati Lion.


...***...


Taman hiburan benar-benar sangat ramai hari ini. Banyak sekali pengunjung memenuhi tempat hiburan yang ada di alam terbuka tersebut.


"Ramai sekali." ucap Lion memperhatikan sekitar yang tiap sudut di penuhi manusia yang tampak bahagia. "Kalau begini wahana mana yang akan kita naiki? Antriannya sangat panjang." lanjut Lion. "Tapi sepertinya wahana itu tidak terlalu banyak yang mengantri."


Lion menunjukan sebuah wahana yang bernama Halilintar.


"Ayo kita naik itu saja!!"


Lion bergegas jalan namun Melody masih terpaku.


"Ada apa?" tanya Lion melihat Melody. "Jangan bilang kau tidak berani naik itu ya? Hah, jika tahu begitu seharusnya aku tidak mengajakmu kesini."


"Ti... tidak!! Siapa bilang aku takut?!" ujar Melody tidak mau kalah.


Di kejauhan, tiga orang pria berdiri memperhatikan pasangan tersebut dengan harap harap cemas dan bersembunyi agar mereka berdua tidak menyadari keberadaan mereka.


Mereka bertiga menyembunyikan sosok mereka dengan menggunakan topi, kacamata ataupun jaket yang di lengkapi dengan penutup kepala. Mereka berada sejauh mungkin dari Lion dan Melody.


"Apa tidak apa-apa kita mengikuti mereka seperti ini?" tanya Athos cemas.


"Bukankah kau yang ingin mengikuti mereka seperti ini?" ujar Prothos. "Hari ini benar-benar panas, kulitku pasti iritasi."


Prothos membenarkan kacamata hitam yang di pakainya.


"Tidak! Sepertinya mereka ingin naik Halilintar, ini gawat." ujar Aramis.


"Kenapa? Jangan bilang kau takut?!" kata Prothos.


"Siapa bilang?!" Aramis mengelak. "Sebaiknya cepat, kita harus naik bersama-sama mereka!!" ujar Aramis berjalan sambil menutupi kepalanya.


"Aku takut kalau Melo tahu dia akan marah pada kita." ucap Athos mengikuti Aramis dan Prothos dari belakang. "Kalau itu terjadi, citraku sebagai kakak baik hati pasti hancur." gumam Athos sambil menurunkan topinya.


"Cerewet!!" jawab Aramis.


Perbincangan mereka bertiga memancing orang-orang menatap pada mereka. Tidak sedikit para wanita mulai membicarakan penampilan mereka bertiga yang terlihat keren dan menonjol dari pengunjung lainnya.


Melody menutup mata ketika wahana tersebut berjalan. Dia menahan rasa takutnya hingga tidak mampu berteriak dan berpegangan kencang pada pengaman. Jantungnya terasa meloncat keluar ketika permainan tersebut turun ke bawah sedangkan Lion dia berteriak dan sangat menikmatinya. Baginya permainan seperti itu biasa saja karena hobinya adalah meluncur di papan peluncur dengan skateboard ataupun meluncur menuruni tangga, jadi dia sudah sangat terbiasa.


Dengan kaki gemetar Melody turun ketika permainan itu berakhir.


"Hah, kenapa aku merasa permainan itu biasa saja..." keluh Lion. "Ayo kita naik sekali lagi?" Lion menoleh pada Melody yang terlihat sangat gemetar. "Tapi perutku lapar, sebaiknya kita makan dulu." lanjutnya setelah menyadari kalau permainan itu membuat Melody merasa takut.


Tiga kakak Melody yang menguntit mereka juga turun dari wahana setelah selesai. Athos merasa mual hingga tidak mampu menahan muntahnya. Sedangkan Aramis yang sebenarnya mengalami kondisi yang sama dengan Melody berpura-pura baik-baik saja. Kalau Prothos, dia sudah terbiasa karena sudah sering naik wahana tersebut.


"Ini pertama kalinya kan kau pergi ke taman hiburan ini, Ato?" tanya Prothos pada Athos yang sedang muntah di semak-semak.


Prothos menepuk-nepuk punggung Athos.


"Bagaimana denganmu, Ars? Kau tampak gemetar?" lirik Prothos pada Aramis.


"Tidak! Aku tidak lemah seperti dia!! Permainan tadi itu biasa saja!!" seru Aramis berbohong. "Aku tidak mengerti kenapa banyak sekali orang yang datang ke tempat aneh ini, hanya mengambur-hamburkan uang saja dengan permainan-permainan bodoh itu!!"


Tanpa mereka sadari mereka kehilangan keberadaan adik mereka yang sudah pergi lebih dulu bersama Lion meninggalkan area wahana tersebut.


"Dimana Melo?" tanya Prothos bingung.