
Tiga hari berlalu...
Melody berdiri di balik jendela kamarnya setelah pulang dari café bersama Aramis. Waktu menunjukan pukul delapan malam. Selama sepuluh menit dia terus berdiri menatap ke kamar Lion. Selama tiga hari ini dia tidak bertemu Lion. Bahkan Lion tidak membuka tirai kamar seperti biasanya.
Hal itu membuat Melody mengkhawatirkan Lion. Setelah perkelahiannya dengan Felix, Lion menjalankan skorsing, selama lima hari dia tidak boleh datang ke sekolah.
Melody merasakan keanehan pada diri Lion ketika berpapasan dengan dirinya saat Lion keluar kelas. Lion bersikap seolah-olah tidak melihat Melody dan tidak menghiraukan panggilannya.
Melody memandang handphone miliknya. Dia berniat untuk menelepon Lion dan menanyakan kabarnya namun keraguan melandanya saat ini. Dia tidak tahu apa yang harus dikatakan pada Lion. Bagaimana kalau Lion marah padanya?
"Ato dimana jaket milik Lion yang kau bilang?" tiba-tiba terdengar suara Aramis, membuat Melody mendengarkannya. Aramis sedang menelepon Athos dan baru saja keluar dari kamarnya. "Aku akan ke rumah Lion sekarang.
"Ada di dalam lemari Melo. jawab Athos. Kau jangan bermain game terus dan kerjakan PR-mu!!"
"Cerewet!!" Aramis langsung mematikan teleponnya. "Percuma saja kau pintar kalau tidak bisa mengerjakan PR kembaranmu yang keren ini." gumam Aramis kesal. "Melo!!" panggil Aramis mengetuk pintu kamar Melody.
Melody membuka pintu kamarnya, "Ada apa?" tanyanya pura-pura tidak tahu.
"Cepat ambil jaket Lion yang kau pinjam!!" seru Aramis berjalan masuk ke dalam kamar Melody dan berbaring di tempat tidur. "Dasar Ato aneh, kenapa dia meletakan jaket itu di lemarimu?!"
Melody mengambil dua jaket yang dipinjamkan Lion padanya.
"Ini jaketnya kak." dia menyodorkan jaket tersebut pada Aramis.
Aramis bangun dari tidurnya dan menatap Melody.
"Jaket itu kau yang pinjam kan? Kalau begitu kau yang kembalikan!!" seru Aramis setelah itu berjalan keluar kamar.
Melody terdiam karena tidak mengerti maksud kakaknya.
"Cepat!! kakek lagi di kamar mandi, kalau dia tahu kau tidak akan di ijinkan keluar!!"
...***...
Melody hanya mengikuti Aramis dari belakang berjalan menuju kamar Lion setelah nenek Arumi menyuruh mereka langsung ke kamar cucunya tersebut. Tanpa basa-basi Aramis membuka pintu kamar Lion sehingga membuat Melody bingung harus bagaimana karena dia masih belum tahu apa yang harus di katakan pada pria itu.
Lion sedang duduk di lantai yang beralaskan karpet, sedang bermain video game. Karena seriusnya dia tidak memedulikan Aramis yang membuka pintu dan berjalan masuk ke kamarnya.
Melody masih tetap berdiri di depan pintu melihat punggung pria yang sudah di kenalnya sejak kecil itu.
"Bayar taruhanmu yang kalah kemarin!!" seru Aramis meloncat ke atas tempat tidur Lion. "Apa aku bilang sampai kapanpun Real Madrid tidak akan bisa mengalahkan Barcelona!!"
"Jangan berisik!! ayo kita lakukan ulang pertandingan El Clasico. Saat di dunia nyata memang Barcelona selalu menang tapi kalau dalam game selama aku yang memainkannya, seribu kali pun Real Madrid yang akan menang!!" seru Lion beranjak mengambil kaset yang akan di mainkan olehnya dan Aramis, lalu memasukannya ke pemutar video game.
"Baik kita taruhan lagi, tapi kali ini yang kalah harus menuruti perintah yang menang, bagaimana?" ujar Aramis beranjak turun dari ranjang dan duduk di samping Lion.
"Setuju." jawab Lion. "Tunggu dulu, sebaiknya aku harus memikirkan permintaan yang akan aku ajukan padamu dari sekarang."
"Melo, kenapa tidak masuk?" Aramis menoleh pada Melody yang belum beranjak selangkahpun dari depan pintu.
Melody terkejut mendengar panggilan kakaknya, begitu pula dengan Lion. Lion sama sekali tidak menyadari kalau sejak tadi Melody berdiri di belakangnya.
"Ayo masuk!! Bukankah kau ingin mengembalikan jaketnya?" lanjut Aramis sambil memakan snack dan mulai mengutak-atik stick game-nya.
"Aku pikir kau tidak ada." seru Lion menoleh pada Melody. "Kau tidak ingin masuk, Melon?!" lanjut Lion menatap Melody.
Melody terkejut melihat sikap Lion. Sepertinya dia tidak marah padaku, batinnya.
"Cepat masuk, dan tutup pintunya karena nyamuk akan masuk nanti!!" ucap Lion.
Melody mulai melangkah masuk. Ini jaketmu aku kembalikan. kata Melody mencoba bersikap seperti biasanya.
"Masukan saja ke lemari." jawab Lion dengan pandangan ke layar karena permainannya sudah di mulai.
Melody membuka lemari Lion dan memasukan kedua jaket itu ke dalamnya.
"Lain kali aku akan berlakukan tarif untuk jaket-jaket yang kau pinjam." ujar Lion membuat Melody menatapnya dari belakang. "Ars, karena aku sudah meminjamkan dua jaketku pada Melon selama berhari-hari, anggap saja semua impas dan aku tidak perlu membayar taruhanku yang kalah itu."
"Apa yang kau katakan?!" ujar Aramis. "Kau cari mati ya!!" Aramis tersenyum mengejek sambil terus bermain. "Melo cepat duduk, dan lihat bagaimana kakakmu yang keren ini mengalahkan anak laki-laki lemah ini!!" Aramis menepuk sisi tempat tidur agar Melody duduk disana, di belakangnya.
Mendengar perintah kakaknya, Melody langsung duduk di sisi tempat tidur di belakang Aramis.
"Kau bilang aku lemah? Yang benar saja, selama ini kau tidak pernah sekali pun mengalahkan aku dalam permainan ini." balas Lion.
"Jika aku yang melakukannya, aku sudah pasti mematahkan kedua tangan dan kaki anak menyebalkan itu." seru Aramis. "Lihat wajahmu, bahkan orang selemah Felix bisa membuat wajahmu lebam begitu. Orang yang berhasil dibuat lebam oleh orang yang paling lemah apa bukan orang lemah juga?!"
Tiba-tiba Lion menghentikan permainannya, dan menatap Aramis dengan wajah kesal. Terlihat dari wajahnya Lion sangat marah.
Melody hanya bisa diam karena tidak ingin terlibat dengan percakapan itu yang membahas tentang perkelahian antara Felix dan Lion yang di sebabkan olehnya.
"Jangan menatapku seperti itu!!" ujar Aramis tanpa memalingkan tatapannya dari layar. "Kau tidak akan bisa mengalahkan aku dalam hal berkelahi. Cepat lanjutkan permainannya!!"
Lion tertawa muak, "Bisa saja aku mematahkan kedua tangan dan kakinya kalau..."
"Kalau apa?" tanya Aramis ketika Lion berhenti berbicara.
"Kalau Athos dan guru tidak datang memisahkan kami." lanjut Lion dengan kesal menatap Aramis lagi.
"Apa benar seperti itu, Melo?" tanya Aramis tanpa berhenti bermain. "Aku dengar sebelum Athos dan guru-guru datang, kau membuat Felix tidak berdaya lalu kenapa kau berhenti dan membiarkannya memukulmu juga?"
"I...itu karena... karena aku tidak ingin dikeluarkan dari sekolah!!" seru Lion kesal.
"Apa benar karena tidak ingin di keluarkan?"
Melody mengingat kembali kejadian itu. Lion berhenti memukuli Felix karena dirinya yang menahan Lion agar menghentikan perbuatannya pada Felix.
"Kau ingin bermain atau bicara sih?!" Lion melempar stick game dengan kesal setelah babak pertama dalam game sepak bola yang di mainkannya usai. "Kau mengganggu konsentrasiku tahu!!" tatap Lion kesal pada Aramis.
Tiba-tiba Aramis tertawa dan menoleh pada Lion, "Kali ini kau akan kalah." Aramis tersenyum sangat lebar pada Lion karena kedudukan saat ini sudah 3-0, dan dia unggul. "Bahkan aku berhasil mencetak Hattrick." lanjut Aramis.
"Dasar curang!!" protes Lion. "Aku akan balik kedudukan di babak kedua!!"
"Tunggu dulu, aku ingin ke toilet." Aramis bangkit berdiri dan berjalan keluar.
Tinggallah Melody dan Lion dalam kesunyian.