MELODY 911 With The Three Musketeers

MELODY 911 With The Three Musketeers
Tujuan Tersembunyi



Widia membuka pintu setelah bel berbunyi. Dia langsung membuka pintunya tidak berapa lama.


"Selamat ulang tahun, Widi." seru Selly dan Rara yang datang bersama Wisnu.


"Selamat ulang tahun." senyum Wisnu yang membawa kue ulang tahun. "Tidak menyangka usiamu sudah 22 tahun, kau semakin tua."


Mereka duduk di kursi bulat dan memotong serta memakan kue ulang tahun yang dibawa.


"Maaf ya, hadiahku saat aku sudah gajian saja." ujar Wisnu.


"Jadi kau sudah bekerja?" tanya Widia.


"Aku bekerja paruh waktu di sebuah café, aku beruntung bekerja disana... Pemilik café itu sekolah di tempatmu bekerja."


"Benarkah?" tanya Widia dengan senyum. "Aku senang kau sudah bekerja."


"Mereka saudara kembar, mereka bertiga kembar." jawab Wisnu. "Mereka dipanggil The Three Musketeers."


Widia langsung tahu siapa mereka.


"Ya, bagus kalau begitu." ucap Widia mencoba memasang wajah biasa.


Selly dan Rara hanya menyimak.


"Oh iya, terakhir kali aku kesini saat di luar gedung apartemen, aku juga melihat salah satu dari mereka juga keluar dari sini." ujar Wisnu. "Saat aku tanya, katanya temannya juga tinggal disini. Dia anak yang sangat tampan, namanya Prothos."


Widia mengalihkan pandangannya dari Wisnu. Selly dan Rara mengerti namun mereka diam saja.


"Kau mengenalnya?" tanya Wisnu.


"Sudah, sekarang kita foto bersama saja." sela Selly langsung mengambil handphone Widia untuk menyelamatkan sahabatnya itu.


Mereka semua langsung berfoto dan Widia mengunggahnya di sosial media miliknya.


"Hah, kalian manis sekali merayakan ulang tahunku seperti ini." ujar Widia sambil melihat hasil-hasil fotonya. "Aku sayang kalian."


"Kau harus menceritakan pada kami, kenapa anak itu di apartemenmu lagi!!" seru Selly berbisik pada Widia saat Wisnu ke kamar mandi.


...***...


Prothos masuk ke kamar Anna yang sedang berbaring setelah berganti pakaian sehabis tercebur tadi.


"Ada apa kesini?" tanya Anna yang melihat Prothos membuka pintu kamar tanpa mengetuk.


Prothos berjalan menghampiri Anna.


"Katakan, kau bisa berenang kan?" tatap Prothos yang berdiri di samping tempat tidur. "Jangan bohong padaku!"


Anna tersenyum.


"Ketahuan ya?" ujar Anna.


"Berikan handphone-mu!!" seru Prothos menengadahkan tangan kanannya.


Anna memberikan tanpa perkataan apapun karena dia tahu kalau dia menolak, Prothos akan memberitahu kepada semuanya.


"Aku pinjam dulu handphone-mu. Nanti aku kembalikan." ucap Prothos.


"Pasti bu guru itu kan?" tanya Anna.


Prothos tersenyum dibuat-buat setelah itu berjalan keluar. Namun tiba-tiba muncul Lion di depan pintu menghadang Prothos.


"Ada apa?" tanya Prothos sedikit takut kalau Lion mendengar percakapan singkatnya dengan Anna.


"Ars mengajak kita bermain basket, ayo main!" ucap Lion dengan bola basket di tangannya. "Anna, kau ikut juga ya. Kita dua lawan dua."


"Baiklah." jawab Anna menghampiri Lion walau sebenarnya enggan.


"Ayo, Oto!"


"Nanti aku menyusul." jawab Prothos menjawab Lion.


Prothos tidak bisa membaca ekspresi Lion barusan apakah dia mendengarkan perkataannya dan Anna tadi atau tidak.


"Sepertinya aku harus semakin waspada." gumam Prothos sambil menutup pintu kamar.


Prothos membuka akun sosial media milik Anna, dan mencari nama Widia disana. Dia melihat beberapa foto yang baru saja diunggah oleh Widia.


"Bu guru ulang tahun hari ini?" tanya Prothos. "Sayang sekali aku tidak ada di sana."


Tanpa pikir panjang, dia menekan tombol pertemanan pada akun Widia, dan memberikan komen pada salah satu fotonya.


Bu guru, selamat ulang tahun.


...***...


Waktu menunjukan pukul tiga sore saat pertandingan basket dimulai. Lion dan Aramis satu tim dan Prothos satu tim dengan Anna.


Mereka bermain basket di lapangan samping kolam renang dan di tonton hanya oleh Jessica. Tasya sedang membantu Athos bersama Melody di dapur untuk membuat makan malam mereka.


Mereka mulai bertanding dengan sengit, walaupun Prothos dan Anna lebih unggul karena Aramis dan Lion tidak bisa menyaingi mereka. Malah Aramis lebih fokus untuk mengganggu Anna dan hanya Lion yang benar-benar bertanding.


"Aduuhh..." ucap Anna mengedipkan mata kirinya yang terkena debu.


"Kenapa?" tanya Prothos yang mendekat. "Kemasukan debu?"


"Sepertinya pasir. Oto, tolong tiupkan."


Prothos lebih mendekat dan meniup mata kiri Anna.


"Masih belum."


Sekali lagi Prothos meniup mata Anna, tiba-tiba bola basket melayang dan mengenai pundak Anna.


"Apa yang kalian lakukan?" tanya Aramis kesal. "Oto, menjauh darinya!!"


Lion hanya tertawa melihat pada sahabatnya itu.


"BODOH!! SAKIT TAHU!!" teriak Anna yang sangat kesal pada Aramis yang melempar bola padanya. "Sudahlah, aku tidak mau bermain lagi." ujar Anna sambil berjalan masuk ke dalam.


Prothos menatap kembarannya sambil geleng-geleng tak habis pikir dengan tindakannya.


Anna berjalan ke dapur hendak mengambil minuman kaleng di kulkas, namun fokusnya terhentikan ketika melihat Jessica sedang muntah di kamar mandi dengan pintu terbuka.


"Kau baik-baik saja? Apa kau sakit?" tanya Anna melihat dari luar kamar mandi.


Jessica membersihkan mulutnya dan berjalan ke pintu.


"Sepertinya begitu." jawab Jessica tersenyum setelah itu menutup pintu kamar mandi.


"Mau ku pinjamkan jaketku? Disini dingin kau pasti kedinginan makanya sakit." ujar Anna sambil mengambil minuman kaleng di kulkas dan meminumnya.


Jessica keluar dari kamar mandi dan melihat Anna.


"Tidak perlu, aku sudah terbiasa." jawab Jessica.


...***...


Jessica melihat Lion ketika Lion bersantai agak berbaring tanpa baju di pinggir kolam renang dengan kacamata hitam dipakainya. Dia sedang berjemur matahari sore. Udara tidak begitu dingin karena matahari sore begitu terik.


"Nanti kulitmu akan menggelap loh." ucap Jessica duduk di samping Lion.


Lion hanya menoleh sekali dan melanjutkan kegiatannya.


"Lion, kenapa kau tidak berpacaran dengan Melody? Apa kau tidak menyukainya?"


Lion tertawa skeptis mendengarnya.


"Apa jangan-jangan kau sudah punya pacar?" tatap Jessica. "Kau juga tampan seperti mereka bertiga, pasti sudah punya kan?"


Lion mengubah posisinya dan duduk tegak, lalu menoleh pada Jessica.


"Aku bukan tipe pria yang gampang menyukai wanita hanya karena tampilan fisik saja. Kau mengerti?" tatap Lion tajam.


"Ya, sepertinya begitu." jawab Jessica setelah itu pergi.


Prothos yang melihat dari dalam menghampiri Lion setelah Jessica naik ke lantai dua dan masuk kamar. Dia duduk di samping Lion.


Lion membuka kacamata hitamnya dan menoleh ke Prothos.


"Kenapa si bodoh itu mengajak wanita itu ke liburan kita? Mengacaukan saja!!" gumam Lion kesal.


Prothos tertawa mendengarnya.


"Jadi dia mendekatimu juga?"


"Kau juga?" tatap Lion. "Astaga, tidak bisa dipercaya. Apa maunya dia?"


"Si bodoh itu sampai kapan akan sadar?" tambah Prothos.


"Hanya orang sebodoh Ars yang tidak bisa melihat semua itu." tambah Lion bangkit berdiri.


"Lion..." panggil Prothos.


"Kenapa?"


"Ayo kita bertanding Basket. Peraturannya sama dengan seperti waktu aku bertanding dengan Anna." tantang Prothos. "Kalau kau menang, aku akan mengabulkan apapun permintaanmu." senyum Prothos.


Lion yang berdiri juga tersenyum.


"Tapi kita hanya menggunakan salah satu tangan saja. Bagaimana kalau tangan kanan saja?"


"Sudah aku duga." jawab Prothos tersenyum sambil berdiri.


Mereka berdua langsung menuju lapangan basket lagi. Dengan mudah Lion langsung mengalahkan Prothos.


"Yosh, dengan ini kau dan Ato kalah dariku." senyum Lion. "Ah, kenapa Melon tidak melihatnya. Pasti dia akan kesal kalau melihat aku menang dari kakaknya lagi."


Prothos tertawa dan melirik ke beranda atas di mana Melody berasa disana memperhatikan mereka, tanpa sepengetahuan Lion. Prothos bisa melihat kalau Melody tersenyum untuk kemenangan Lion.


"Jadi setelah kau bisa menghukum Ato dan bisa meminta apapun dariku... apa yang akan kau ajukan?" tanya Prothos menatap Lion yang langsung terdiam mendengar ucapannya.


"Belum terpikirkan olehku." jawab Lion sambil mencoba berpikir dan berjalan.


"Lion, apa kau mendengar saat aku dan Anna berbicara di kamar?"


"Apa?" tanya Lion berbalik. "Memang apa yang kalian bicarakan?"


Prothos sempat terdiam mencoba membaca mimik wajah Lion. Namun usahanya pun gagal. Karena Lion termasuk orang yang sulit ditebak olehnya.


"Tidak ada." senyum Prothos.


"Lalu kenapa bertanya?" ujar Lion memasang wajah kesal.


Setelah itu Lion berjalan masuk.


"Anak itu benar-benar luar biasa." gumam Prothos.