MELODY 911 With The Three Musketeers

MELODY 911 With The Three Musketeers
Terbongkar (Revisi)



Melody membantu Athos mencuci piring setelah makan malam bersama. Ayah juga membantu mereka dengan merapikan meja makan. Sedangkan Prothos, Aramis, Paman Ron, dan Lion bermain video game di ruang keluarga dan kakek hanya menonton saja.


Mereka tampak senang sekali dengan candaan yang terlontar dari mulut mereka masing-masing. Mereka saling ejek saat mereka kalah bermain game sepak bola. Setiap yang kalah harus berganti dengan yang lain. Lion lebih mahir bermain, karena itu dia selalu menang dan terus bermain. Aramis yang kesal, terus mengganggu Lion dengan berbagai cara agar mengganggu konsentrasinya. Tapi tetap saja Lion terus melakukan gerakan mengejek dengan keahlian dance-nya saat dia menang. Sedangkan Paman Ron, dan Prothos terus tertawa melihat tingkah Aramis dan Lion.


"Melo, ayo ikut main dengan kami..." seru Prothos yang melihat Melody berjalan keluar dapur setelah merapikan piring-piring.


"Memang dia bisa? Sudah main berbie saja sana!!" ejek Aramis seperti biasanya.


Tanpa kata Melody tidak menghiraukan perkataannya dan berjalan mengarungi tangga untuk menuju kamarnya di lantai dua.


Waktu sudah menunjukan jam sembilan lewat sepuluh. Tetapi hujan belum juga berhenti, dan semakin deras. Melody berpikir kalau saat seperti ini sangat bagus untuk mengarang sebuah lagu. Tapi dia baru ingat kalau Gita, gitar miliknya tidak ada. Saat ini gitarnya ada bersama Felix.


"Bagaimana sekarang?" Melody membuang napas dan berbaring di tempat tidur.


Dia teringat kalau handphone miliknya di matikan. Dengan segera dia mengambilnya dari kantong celana dan langsung menghidupkannya. Ada lima pesan singkat yang masuk. Pesan pertama dari Lion yang berbunyi "Jangan lupa traktirannyaaaa!!"


"Dasar orang aneh." gumam Melody setelah membaca pesan dari Lion. Pesan singkat selanjutnya dari operator yang memberitahukan ada dua pesan suara untuknya. Sedangkan kedua lainnya dari Felix yang berbunyi "Kenapa handphone-nya mati?? Segera telepon aku ya." dan "Telepon aku kalau sudah baca pesan ini!!" Sebelum Melody sempat meneleponnya, Felix lebih dulu menelepon.


"Kenapa dimatikan Handphone-nya?" tanya Felix.


"Maaf." Jawab Melody singkat. Tapi sepertinya itu bukanlah jawaban yang tepat dari pertanyaan yang di ajukan Felix.


"Melody Tidak apa-apa kan?"


"Iya." Jawab Melody dengan singkat pula.


"Ya ampun... aku bisa gila kalau Melody hanya menjawab singkat begitu." ujar Felix dan membuat Melody bingung harus jawab apa. "Kau sudah makan?"


"Sudah." Jawab Melody lagi. Melody mulai mencari topik pembicaraan. "Bagaimana gita? Ma... maksudku gitarku." Melody mulai bertanya. Melody sadar kalau pertanyaannya terdengar sangat di paksa.


"Gita? Ohh jadi namanya Gita ya?? Sepertinya dia betah tidur di kamarku. "Tapi kenapa malah tanya Gita?"


"Memang seharusnya?" tanya Melody bingung. Dia yakin sekali kalau wajahnya memerah saat ini.


"Seharusnya Melody tanya kabarku. Seperti ini..." Felix mendehem untuk membersihkan tenggorokannya sebelum melanjutkan perkataannya. "Kak Felix tidak apa-apa kan sayang? Melody sangat merindukan kak Felix." Lanjut Felix. Mendengarnya Melody merasa jijik karena itu bukan seperti dirinya. "Kau dengar kan?"


"I...iya. Aku dengar."


"Jangan-jangan, Melody tidak merindukan aku ya??"


"Iya. Ma...maksud aku tidak." seru Melody meralat perkataannya.


"Tidak apa?" tanya Felix membuat Melody semakin bingung. "Ayo bilang..."


"Bilang apa?" Melody balik bertanya dan berpura-pura tidak mengerti.


"Jangan pura-pura!!" ujar Felix. "Hanya bilang begitu saja sepertinya sulit sekali."


Tiba-tiba seseorang membuka pintu kamar. Karena terkejut Melody mematikan teleponnya, dan langsung bangkit berdiri dari posisi duduknya. Ternyata orang yang membuka pintu kamar adalah Prothos.


Apa kak Oto mendengarnya? Ya ampun bagaimana mungkin aku sampai lupa mengunci pintu, ucap Melody dalam hati.


"Telepon dengan siapa?" tanya Prothos.


"Bisa kita bicara sebentar?" tanya Prothos dan Melody mengangguk menjawabnya. Prothos duduk di kursi meja belajar sedangkan Melody duduk disisi tempat tidur. "Apa kau tahu Felix itu orangnya seperti apa?" Melody mengangguk lagi untuk menjawabnya. "Ceritakan bagaimana dia di matamu."


"Dia baik kak." ucap Melody menatap Prothos.


"Hanya itu? Dia memang baik kelihatannya, tapi kalau kau tahu bagaimana sifat aslinya pasti kau juga akan menjauhinya seperti kami bertiga." jelas Prothos dengan serius.


Melihat kakak keduanya menatap seperti itu, Melody tahu kalau saat ini Prothos sangat serius bicara mengenai hal ini. "Kak Oto tahu apa tentang Felix?" Melody balik bertanya untuk mencari tahu kenapa kakak-kakaknya tidak suka pada Felix.


"Jauhi saja dia." ucap Prothos. "Ato belum tahu tentang ini, jadi jangan sampai dia tahu, kau tahu kan bagaimana kalau Ato marah? Karena itu jangan dekati lagi orang itu." Prothos bangkit dari duduknya. Ngomong-ngomong, bagaimana rasanya naik Lamborghini Reventon miliknya? Prothos menatap Melody, tatapannya kembali tampak tidak serius seperti Prothos biasanya.


Melody terus berkutat dengan pikirannya. Dia merasa bingung harus bagaimana selanjutnya. Selama ini Felix bersikap baik padanya jadi dia tidak dapat mengerti kenapa ketiga kakaknya tidak suka pada Felix. Di pikir berkali-kali pun dia tidak mengerti dan bingung harus berbuat apa. Aramis dan Prothos sudah tahu, dan Melody tidak ingin jika Athos tahu karena jika Athos, kakak tertuanya yang bicara dirinya tidak akan bisa membantah lagi.


"Aku harus bagaimana sekarang?" tanya Melody pada dirinya sendiri.


...***...


Hujan masih terus turun hingga pagi menjelang. Langit terus di tutupi dengan awan hitam yang terlihat seperti asap kotor yang keluar dari cerobong asap. Benar-benar menakutkan. Melody berjalan keluar setelah mendengar suara petir yang sangat kencang hingga rumah terasa bergetar. Sejak dulu dia sangat takut dengan suara petir karena suaranya sangat memekakan telinga.


Melody membuka pintu kamar ayah tetapi ayah tidak ada di dalam kamar. Begitu juga dengan ketiga kakaknya, kakek bahkan paman. Dia sangat ketakutan mencari sosok mereka. Bagaimana kalau mereka meninggalkan aku sendirian? Tanya Melody dengan kepanikan mulai melanda dirinya. Secepatnya dia menyusuri tangga untuk pergi ke lantai satu. Hatinya merasa lega saat melihat semua anggota keluarganya tertidur di ruang keluarga bersama. Bahkan Lion juga tidur disana. Sejak dulu Lion memang sudah biasa menginap di rumahnya.


Mereka hanya tidur beralaskan karpet dan tidak memakai bantal maupun selimut. Di sekeliling mereka tidur terdapat kaleng-kaleng minuman soda yang sudah kosong berserakan serta kulit kacang yang berhamburan di lantai.


Waktu menunjukan pukul tiga subuh. Tetapi mereka masih tertidur pulas dan tidak menghiraukan kilatan petir yang bersuara nyaring. Melody mengambil selimut dan bantal untuk mereka semua yang terlelap. Dia menyelimuti mereka satu-satu, sambil berpikir kenapa mereka bisa tertidur pulas seperti ini tanpa bantal ataupun selimut.


"Dingin sekali..." tiba-tiba Lion menarik tangan Melody ketika dia sedang menyelimuti Aramis yang tidur di samping kiri Lion. Lion mengusap-usap tangan kiri Melody dengan kedua tangannya.


Tangannya memang begitu dingin, batin Melody.


"Hangat..." ucap Lion tanpa membuka mata. Melody membiarkan Lion menggenggam tangannya karena merasa kasihan melihat Lion kedinginan.


"Singkirkan tanganmu!!" seru Aramis yang tiba-tiba terbangun dan menarik tangan Lion sehingga melepaskan genggaman tangannya pada Melody.


Lion yang belum juga membuka matanya menarik Aramis dan menjadikannya guling walau Aramis berteriak dan berusaha menjauhi Lion, namun Lion belum juga bangun bahkan matanya tidak sedikitpun terbuka. Melody menahan tawa melihatnya sedangkan yang lain hanya memberikan isyarat agar tidak berisik dan ada juga yang hanya mengganti posisi tidurnya.


...***...


Di kelas Prothos menerima sebuah pesan dari seseorang yang tidak dikenalnya. Dia membukanya dan melihat foto kekasihnya duduk di pangkuan seorang pria di klub malam.


Prothos membuang napasnya dengan sangat berat. Dia merasakan sebuah rasa sakit di hatinya saat ini.


"Sepertinya aku harus mengganti pacarku lagi di awal bulan ini." gumamnya sambil mengetik pesan ke pacarnya tersebut dengan kata-kata yang dia ucapkan itu.


Prothos berjalan keluar kelas hendak menuju ruang klub basket untuk tidur siang ketika jam istirahat. Dia merasakan kesedihan di hatinya setelah memutuskan hubungan dengan kekasih yang meski baru berhubungan dengannya sebulan ini.


Dug!


Tidak sengaja seorang guru menabrak Prothos ketika pemuda itu melewati ruang guru. Prothos menatap guru yang masih muda itu dan tahu kalau dia adalah wali kelas dari adiknya, Melody.


"Maafkan aku, bu guru." ucap Prothos dengan nada datar setelah itu melanjutkan jalannya.


"Kenapa wajahnya terlihat menyedihkan? Apa ada yang sakit karena aku menabraknya?" tatap guru yang ditabrak Prothos melihat punggung Prothos yang menjauh.