MELODY 911 With The Three Musketeers

MELODY 911 With The Three Musketeers
Bersemi dan Berguguran



Prothos sudah menunggu ketika Widia keluar dari gedung apartemen. Prothos tersenyum dari kejauhan melihat Widia berjalan keluar.


Widia keluar menggunakan hoodie dengan memakai penutup kepalanya. Dia menoleh ke kiri dan ke kanan memastikan keadaan sekitar.


"Apa pekerjaanmu sudan selesai?" tatap Prothos yang mendekati Widia.


"Hhmm." jawab Widia.


Prothos membukakan pintu mobil untuk Widia dengan senyum yang terus merona di wajah tampannya. Membuat Widia terus salah tingkah. Widia masuk ke mobil dengan canggung.


"Kau belum makan 'kan?" tanya Prothos menjalankan mobilnya.


"Sudah makan mie instan setengah jam yang lalu." jawab Widia terus memfokuskan pandangannya ke depan.


"Kau mau makan lagi?" tanya Prothos.


"Aku rasa tidak." jawab Widia.


"Kalau begitu, temani aku makan saja ya. Aku belum makan malam."


"Apa? Sebaiknya kita tidak keluar." ujar Widia menoleh. "Aku takut akan ada yang melihat kita."


"Kau jangan terlalu mencemaskannya." jawab Prothos tersenyum.


Widia tersipu melihat senyum Prothos. Tiba-tiba Prothos menengadahkan tangan kirinya.


"Ada apa?" tanya Widia.


Prothos langsung mengambil tangan kanan Widia untuk digenggamnya. Jantung Widia berdetak keras hingga rasanya dirinya bisa mendengarnya saat ini.


"Kau tahu, hari sabtu adalah ulang tahunku. Kami akan merayakannya sekalian dengan merayakan pembukaan cabang baru café kami. Aku akan sangat senang kalau kau juga datang." ucap Prothos masih menggenggam telapak tangan Widia.


"Apa?" tanya Widia terkejut mendengar permintaan Prothos.


"Aku tahu kau akan menolak datang." ujar Prothos. "Tapi aku ingin kalau kau tahu aku sangat ingin merayakan ulang tahunku bersama denganmu."


Widia melihat ekspresi Prothos dan merasa kalau sebaiknya dia tidak langsung menolak permintaannya itu.


"Kau datang saat acara café sudah selesai juga tidak masalah. Yang penting kau ada disana bersamaku saat aku meniup lilin ulang tahunku."


"Baiklah, akan aku usahakan." jawab Widia.


"Aku senang kau tidak langsung menolaknya." senyum Prothos dengan pandangan ke jalan depan.


Setelah itu Prothos mencium telapak tangan Widia, dan itu membuat Widia semakin berdebar-debar. Rasanya darah mengalir ke kepalanya saat ini dan membuatnya ingin berteriak sekeras-kerasnya karena merasa sangat senang.


"Ada apa?" tanya Prothos melihat wajah Widia yang memerah. "Kau makin menggemaskan kalau tersipu malu begitu."


Widia menarik tangannya dari Prothos dan membuang mukanya melihat ke jendela karena semakin merasa malu.


Mereka sampai di sebuah restoran steak dan langsung berjalan masuk. Prothos menggeser kursi untuk Widia duduki dan dia pun duduk di kursi sebelah Widia.


Widia merasa aneh karena duduk bersebelahan di restoran. Dengan cepat dia segera pindah tempat duduk ke hadapan Prothos. Prothos tersenyum melihat tingkahnya.


"Sebaiknya kau makan lagi ya, Widia." ujar Prothos saat pramusaji datang memberikan buku menu. "Kau ingin apa?"


Widia sempat bingung menjawabnya karena sejujurnya dia tidak terlalu lapar. Namun dia tidak ingin menyela ucapan Prothos.


"Sama denganmu saja." jawab Widia.


"Tenderloin dua, dan jus alpukat juga dua." ucap Prothos pada pramusaji yang seorang wanita.


"Untuk tingkat kematangannya?"


"Satu rare." senyum Prothos pada pramusaji itu.


Widia memperhatikannya, pramusaji itu juga membalas senyuman Prothos. Entah kenapa dia menjadi merasa tidak suka pada Prothos yang selalu tersenyum.


"Ada apa?" tanya Prothos.


"Tidak ada apa-apa." jawab Widia.


"Entah kenapa aku merasa jadi sedikit canggung kalau kau duduk disitu, Widi." ucap Prothos menatap Widia dengan maksud agar dia pindah. "Dan lagi, ada dua orang wanita yang duduk tepat di belakangmu terus saja menatap padaku."


Dengan reflek Widia menoleh ke belakang dan benar apa kata Prothos. Ada dua wanita berseragam terus melihat Prothos. Prothos tertawa ringan melihat reaksi Widia.


"Baiklah, aku saja yang pindah." ucap Prothos setelah itu duduk di sebelah Widia dan memunggungi para gadis yang terus saja melihat dirinya.


Tiba-tiba Prothos merangkul pinggang Widia. Sekali lagi jantungnya seperti akan loncat keluar karena terkejut.


"Hari ini aku benar-benar senang karena bersama denganmu." bisik Prothos sangat dekat ke telinga Widia dan setelah itu mengecup kening kekasihnya itu.


Dia merasa kalau hal tersebut pernah terjadi. Dan memang benar, Prothos melakukannya sama seperti sewaktu dia berpura-pura menjadi kekasih Widia saat hadir ke pesta pernikahan mantan kekasihnya.


Bedanya, sekarang Prothos tidak berpura-pura melainkan sekarang dia adalah kekasih sesungguhnya. Dan Widia senang akan hal itu.


...***...


Widia tersenyum di atas tempat tidurnya setelah kembali dari makan malamnya bersama Prothos. Dia membenamkan wajahnya ke bantal ketika mengingat semua yang dilakukan dan dikatakan Prothos padanya.


"Dia manis sekali. Itu membuat dirinya semakin tampan." ucap Widia tersenyum dan terus saja mesem-mesem.


...***...


Aramis dan Anna sampai di depan rumah mereka sekitar pukul sepuluh malam. Mereka benar-benar berbelanja banyak barang untuk dekorasi cabang café yang akan segera buka empat hari lagi. Tak terasa sudah semalam itu mereka sampai di rumah.


Anna keluar dari mobil setelah Aramis menghentikan mobil di depan rumah mereka. Anna segera masuk ke rumahnya sendiri sedangkan Aramis masih harus memasukan mobil ke garasi dan mengeluarkan semua barang yang dibelinya.


Dengan pandangan yang agak kabur Anna berjalan memasuki rumahnya dan segera ke kamar mandi. Dia memuntahkan semua makan malamnya. Sejak dalam perjalanan pulang dia terus menahannya dan hanya berpura-pura tidur. Kepalanya juga semakin lama semakin sakit ketika dia merasa sangat lelah.


"Sakit sekali." ringis Anna merasakan kepalanya yang berat.


Aramis membuka kunci pintu rumah Anna, dengan segera Anna membersihkan mulutnya dan membasuh wajahnya dengan air lalu keluar dari kamar mandi.


"Kenapa kau kesini?" tanya Anna sambil mengambil botol air minum dari kulkas dan menenggaknya langsung. "Ini sudah malam, aku mau langsung tidur."


"Aku bertanya pada paman tentang hasilnya." ucap Aramis yang berdiri memandang Anna dari pintu masuk, sedangkan Anna berada di depan dapur.


Anna kembali menenggak minumannya.


"Kau baik-baik saja, itu katanya."


"Aku sudah tahu." jawab Anna. "Sudah ku bilang, kau tidak perlu khawatir. Semua baik-baik saja."


"Ya, sepertinya aku memang terlalu berlebihan dalam mencemaskanmu." ujar Aramis tertawa lega. "Istirahatlah, kau pasti sangat lelah setelah rapat OSIS harus menemaniku."


Aramis langsung keluar rumah Anna.


"Ya, sudah aku bilang, aku lebih kuat darinya. Kenapa dia terlalu mencemaskan aku?" gumam Anna sambil menaiki tangga dengan perlahan dan masuk ke kamarnya. "Si bodoh itu mencoba terlihat keren di depanku."


Anna duduk di sisi tempat tidurnya dan mengambil handphone-nya. Dia membuka foto Aramis yang sama dengan yang kemarin dia posting di sosial medianya. Sekali lagi dia memposting foto tersebut dengan caption yang sama pula 'bodoh 🐶'.


Anna memandangi foto tersebut untuk beberapa detik, lalu menjatuhkan dirinya ke tempat tidur.