
Siapa sangka kalau ternyata di luar hujan, jadi rencana untuk barbeque di taman setelah makan malam gagal. Mereka semua hanya berkumpul di dalam villa.
"Kalau begini aku akan tidur lebih awal." ujar Prothos yang duduk di ruang tv bersama Anna dan Lion duduk di sofa.
"Liburan tidur lebih awal mana asyik." jawab Lion.
Aramis duduk di karpet bawah dan Athos sedang mencuci piring. Tasya, dan Jessica masih berada di meja makan. Melody sedang memainkan Piano yang ada di dekat ruang tamu.
Saat makan malam tadi Tasya diam saja pada Athos, dan Athos tahu kalau kekasihnya itu sedang marah padanya. Sedangkan Jessica terlihat biasa saja tanpa ada perasaan canggung dan masih mengobrol dengan Tasya.
"Tasya, aku perhatikan semua yang kau kenakan barang-barang branded. Apa semuanya asli?" tanya Jessica. "Kalau tidak beritahu aku dimana aku bisa membelinya dengan harga murah."
"Apa?" tanya Tasya bingung. "Aku hanya membeli di tokonya langsung, tidak tahu itu asli atau apa."
"Benarkah?" tatap Jessica yang duduk di hadapannya.
Lion menghampiri Melody yang sedang bermain piano.
"Anna, kau bisa bermain piano?" tanya Lion.
"Jangan mulai!! Aku tidak akan meladeni!!" ucap Anna. "Memang kau bisa?"
"Dulu Melon pernah mengajariku, benar kan?" tatap Lion pada Melody yang berhenti bermain.
"Hanya lagu Twinkle twinkle little star." jawab Melody.
"Jangan remehkan aku ya..." ucap Lion menyunggingkan bibirnya.
"Lion, mainkan Piano Sonata No. 18 dalam D Mayor dari Mozard." seru Prothos sambil menonton TV, sebenarnya dia hanya asal bicara karena itu salah satu musik klasik kesukaannya.
"Kerjaannya hanya bersenang-senang mana dia bisa." ledek Aramis. "Kalau kau bisa, aku akan berlutut padamu!!"
Lion tersenyum mendengarnya.
"Baiklah, tantangan diterima." jawab Lion mengacungkan jempolnya pada Aramis yang langsung berdiri. "Melo, kau jurinya."
Lion langsung duduk di kursi piano dan mulai menekan tuts piano. Tak ada satupun yang mengira kalau Lion bisa memainkannya tanpa kesalahan. Semua jadi berkumpul menonton Lion bermain piano.
Bahkan Melody tampak terkejut, dari mana Lion belajar bermain piano. Dia memang tahu kalau Lion pun bisa bermain piano, tapi partitur untuk lagu itu cukup sulit.
"Hhuuhhh... kau keren sekali Lion." rangkul Anna pada Lion yang baru selesai menekan tuts terakhir di piano. "Kau sungguh mengagumkan."
"Bagaimana Melon? Aku keren kan?" tanya Lion melihat Melody. "Akhir-akhir ini aku jadi sering berlatih piano juga. Tapi jujur saja sebenarnya aku hanya bisa lagu itu, untung sana Oto menantangku dengan lagu itu."
"Benarkah?" tanya Anna. "Jadi sekarang cepat Ars, kau berlutut padanya!!"
Lion menggeleng.
"Aku akan menagihnya suatu hari nanti." ucap Lion tersenyum bangga sambil berdiri. "Aku memang keren kan?" tatap Lion pada Melody.
Melody terlihat kesal dan langsung duduk di meja makan.
"Apa susahnya mengakui kalau aku keren?" gumam Lion kesal melihat Melody.
Ketiga Three Musketeers benar-benar terkejut dengan Lion, dalam hari ini Lion sudah mengalahkan mereka bertiga.
"Ayo kita mainkan satu permainan?!" seru Lion.
"Permainan apa?" tanya Anna.
"Hide and seek." jawab Lion. "Bagaimana?"
"Sepertinya menarik." jawab Aramis.
"Aku juga ikut. Ato kau ikut kan?" tanya Prothos.
"Tidak masalah." jawab Athos tersenyum.
"Icha dan Tasya, kalian harus ikut!!" seru Aramis. "Melo kau ikut?"
"Tidak." jawab Melody singkat.
"Baiklah, biar aku saja yang mencari kalian." ujar Prothos. "Aku akan memberikan waktu lima menit untuk kalian pakai bersembunyi, tidak lebih tepatnya melakukan semua hal yang kalian suka."
Permainan dimulai. Semua orang mencari tempat untuk bersembunyi di mana pun. Prothos menutup matanya dan berhitung sampai sepuluh.
Lion memasuki salah satu kamar di lantai dua. Dia mencari tempat persembunyian yang aman untuknya.
"Dimana sebaiknya aku bersembunyi ya?" ucapnya berpikir.
Jessica menarik Aramis yang berjalan di lantai dua dan bersembunyi di balik lemari tinggi, namun ternyata Anna yang bersembunyi di dalam lemari lebih dulu, dapat melihat mereka berdua dari tempatnya bersembunyi.
Tasya masuk ke dalam kamarnya, dan membuka lemari besar namun tanpa dia ketahui Athos sudah ada di sana.
Athos menarik Tasya masuk ke lemari juga dan menutup pintunya.
"Baiklah, aku akan menunggu lima menit sebelum mencari kalian." seru Prothos agak berteriak. "Melo, mereka dimana semua?" bisik Prothos yang duduk di hadapan Melody di meja makan.
Melody tidak menjawab dan hanya melirik ke lantai atas. Prothos langsung tahu walau sebenarnya Melody tidak berniat memberitahunya.
"Ars, tubuhmu hangat sekali." ucap Jessica yang bersembunyi di balik lemari besar.
Jessica sangat menempel pada Aramis sehingga Aramis yang tidak mengancingkan kemejanya langsung bersentuhan kulit dengan Jessica yang pakaiannya sangat minim.
Aramis bingung bersikap bagaimana, sehingga dia hanya bisa diam saja.
"Aku menyukaimu, Ars." peluk Jessica dan kepalanya ditidurkan ke pundak Aramis. "Aku ingin kita pacaran."
Aramis terkejut mendengarnya. Dia semakin bingung harus jawab apa.
"Sepertinya aku..."
Tiba-tiba Jessica mencium Aramis, dan menarik lengan Aramis agar memeluknya. Aramis mengikuti keinginan gadis itu. Dia meraba punggung Jessica dan tangan kiri Aramis mendarat di dada Jessica.
Anna yang melihatnya langsung menundukan kepalanya tidak ingin melihat lebih jauh lagi.
Di lemari lainnya, dimana Athos bersama dengan Tasya bersembunyi disana. Tasya duduk di dalam lemari membelakangi Athos. Dia masih merasa marah kalau mengingat Jessica memeluk kekasihnya tersebut.
"Maafkan aku." ucap Athos dengan suara pelan. "Aku tahu kau marah."
"Kau tidak tahu kan kalau dia sengaja melakukannya?" ujar Tasya tak mau menoleh pada kekasihnya yang duduk sangat dekat di belakangnya. "Kau malah memeganginya."
Tiba-tiba Athos mencium pipi Tasya, Tasya merubah posisi dengan kesal menjadi saling berhadapan dengan Athos, dan menatap kekasihnya dari kegelapan.
"Hanya seperti itu?" tatap Tasya kesal.
"Apa? Maksudnya apa?"
"Aku akan menghukummu, Ato!!" seru Tasya.
Tasya langsung naik ke pangkuan Athos dan langsung mencium kekasihnya tersebut sambil melingkarkan lengannya ke leher Athos, memeluknya.
"Tasya, hentikan!!"
Tasya tak mendengar dan lanjut mencium kekasihnya tersebut. Namun Athos memegang wajah Tasya agar berhenti.
"Aku bisa kehilangan kendali." tatap Athos.
"Itu yang aku tunggu." jawab Tasya langsung menciumi Athos lagi dengan penuh gairah.
Melody beranjak turun dari kursi yang di dudukinya. Dan berniat masuk ke kamar karena waktu sudah jam sembilan malam.
"Kau mau tidur, Melo?" tanya Prothos.
"Iya, aku sudah mengantuk." jawab Melody menaiki tangga.
Prothos melihat jam tangannya dan lima menit sudah berlalu.
"Baiklah, aku pasti akan segera menemukan kalian." seru Prothos.
Melody membuka pintu kamarnya dan tidak menghidupkan lampu karena berniat langsung tidur. Dia naik ke tempat tidur segera setelah meletakan handphone di meja samping tempat tidur. Lalu masuk ke dalam selimut.
Namun tiba-tiba....
AAAAAAAAAAA...
Melody berteriak melihat sesosok putih muncul dari balik selimut yang ada ditempat tidur.
Prothos segera bergegas menaiki tangga menuju kamar Melody. Begitu juga dengan Athos dan Aramis yang sedang sibuk dengan kesibukan mereka, langsung berlari menghampiri adik perempuannya yang berteriak tanpa memedulikan pasangan mereka.
"Ada apa Melo?" tanya Prothos yang lebih dulu sampai dan disusul Athos serta Aramis di belakang.
Prothos menghidupkan lampu.
Lion berada di atas tempat tidur bersama adik perempuan mereka. Mereka berdua berada di balik selimut putih. Ketiga kakak laki-laki Melody langsung naik darah melihat adik mereka berada di tempat tidur bersama seorang pria.
"Apa yang kau lakukan?" geram Aramis menarik Lion dari tempat tidur.
"Berani sekali kau, Lion!!" tatap Prothos dengan emosi memuncak.
"JANGAN SENTUH MELO!!" teriak Athos penuh amarah.
Mereka bertiga mengerubungi Lion dengan penuh kemarahan.