MELODY 911 With The Three Musketeers

MELODY 911 With The Three Musketeers
Firasat Buruk



Athos berjalan memasuki tempat bowling dimana beberapa bulan lalu dia datang untuk menghajar Dion atas perbuatannya pada Tasya. Tempat itu sedang ramai dengan banyak pengunjung.


Langkah santainya membuat Dion dan beberapa temannya menertawakan kehadiran Athos yang seorang diri. Beberapa dari mereka adalah wanita. Di dekat mereka juga ada dua bodyguard yang sama dengan yang dibawa Dion sewaktu ke lapangan golf. Lion pun berada di sana sedang duduk di salah satu kursi di kumpulan Dion.


Dion langsung berjalan mendekati Athos dengan berani, bibirnya menyunggingkan sebuah senyuman mengejek. Athos hanya menatap Dion yang saat ini berada di hadapannya tidak kurang dari tiga meter.


"Aku pikir kau akan datang dengan kedua kembaranmu untuk jaga-jaga." ucap Dion.


"Aku tidak perlu mengajak mereka untuk menghajar lalat pengganggu." jawab Athos dengan tatapan angkuhnya. "Kenapa kau memanggilku? Apa kau merasa malu setelah video itu tersebar? Lihatlah, bagaimana wajahmu ketika itu, sangat memalukan."


"Kurang ajar sekali kau!!" seru Dion marah. "Kau masih saja sombong dengan kondisimu sekarang? Bisa saja aku melaporkanmu dengan bukti video itu."


"Aku rasa jika kau ingin melaporkan aku sejak setelah aku menghajarmu kau akan melakukannya. Kau itu pecundang yang bodoh, kau tidak berani untuk melakukan apapun, selain menyakiti wanita." ujar Athos. "Ah, aku rasa itu alasannya kenapa kau suka memukuli wanita, karena kau tidak punya nyali untuk menghadapi seorang pria."


"Tutup mulutmu!!"


"Aku akan hadapi kau jika memang kau ingin melaporkan aku. Kita lihat siapa yang akhirnya akan menyerah." ucap Athos. "Jadi apa yang akan kau lakukan sekarang?"


Dion tidak menjawab. Dion adalah pria manja yang selalu tidak berani melakukan apapun, atau kata lainnya pecundang seperti yang dikatakan Athos. Dia selalu bergantung pada orang tuanya, dan selalu bersembunyi di belakang kekayaan mereka. Dia tidak pernah mengambil keputusan sendiri dalam hidupnya karena sifatnya yang selalu ketergantungan dengan ibunya.


"Ibuku akan melaporkanmu besok." ucapnya.


Athos tertawa mendengarnya, tawanya sangat keras karena dugaannya benar.


"Berani sekali kau tertawa di situasi genting seperti ini?!"


Athos menahan tawanya dan menoleh pada Dion.


"Situasi genting seperti apa yang kau bilang?" tanya Athos dingin. "Kau hanya sendiri disini."


Dion tidak mengerti dengan perkataan Athos. Dia melihat ke sekelilingnya karena saat ini dia bersama teman-temannya dan dua orang bodyguard.


"Aku rasa teman-temanmu yang juga pecundang itu akan meninggalkanmu segera." ucap Athos penuh percaya diri. "Aku akan menyeret siapapun yang ikut campur masalah ini."


Athos menatap ke teman-teman Dion yang berdiri di belakang Dion. Satu persatu mereka pergi setelah mendengar perkataan Athos yang penuh rasa percaya diri. Sama dengan Dion, mereka semua hanya kumpulan anak mami yang berkumpul untuk memamerkan seberapa kaya keluarga mereka, bukan definisi teman yang sesungguhnya. Sehingga mereka tidak akan mau direpotkan untuk masalah orang lain.


Tinggalah Dion bersama dua bodyguard-nya dan Lion yang masih duduk di kursi.


Dion menoleh pada Lion, dan merasa sedikit lega karena dia yakin Lion tidak akan meninggalkannya. Dia sudah mendengar bagaimana Lion selalu membantu teman-temannya. Dia pun yakin kalau Lion akan membantunya.


"Lion, kemarilah." panggil Dion.


"Aku punya saran untukmu, Dion." ucap Lion setelah itu berjalan mendekati Dion. "Bagaimana kalau kau menghentikan saja semuanya? Dia berbicara dengan penuh percaya diri, aku yakin sekali kalau dia punya sesuatu untuk menghentikan tindakanmu."


"Apa?" wajah Dion terlihat sangat bingung. "Aku memanggilnya kesini agar dia berlutut mohon ampun padaku, kenapa aku harus melepaskannya?"


"Firasatku buruk untuk masalahmu." bisik Lion.


"Kalau kau masih melanjutkannya, maka sepertinya aku akan membeberkan tindakanmu pada Tasya selama ini. Aku memiliki catatan medis Tasya untuk semua luka yang kau perbuat padanya. Walaupun kau akan lolos dari jeratan hukum, tapi aku rasa reputasi keluargamu akan buruk di mata masyarakat. Dan kau tahu apa akibat selanjutnya kan?" seru Athos dengan senyuman percaya diri.


"Yang dikatakannya benar. Coba kau pikirkan. Dengan video itu siapa yang diuntungkan? Kau! Karena itu sebaiknya lupakan masalah ini." ujar Lion.


"Baiklah." jawab Dion ragu. "Tapi jangan berpikir kalau aku akan diam saja!! Aku pasti akan melakukan sesuatu padamu!!"


"Akan aku tunggu itu." senyum angkuh Athos.


...***...


Athos dan Lion bertemu di suatu tempat setelah mereka meninggalkan tempat bowling. Lion masuk ke dalam mobil Athos.


"Kau mengacaukan segalanya Ato." ujar Lion ketika masuk ke dalam mobil. "Tadinya aku sangat ingin memojokannya hingga dia bersama bodyguard-nya menyerangmu. Aku rasa itu lebih mudah untuk masalah ini."


Athos tertawa mendengarnya.


"Aku masih punya satu scene dramatis yang akan segera tayang." jawab Lion. "Aku berniat memojokkan Dion hingga dia mengambil langkah yang salah."


"Baiklah, aku serahkan padamu."


"Ato, sepertinya kau memerlukan handphone baru untuk membedakan urusan pribadi dan bisnismu. Ya, jangan mencampur aduk semuanya."


Athos menyunggingkan senyumnya mengerti maksud Lion.


"Dan sepertinya kau juga harus bersiap-siap. Dia mungkin akan kehilangan kendali dan menyakitimu."


"Kau tenang saja." jawab Athos. "Saat aku memutuskan untuk bersama Tasya, aku tidak peduli dengan apa yang akan terjadi padamu."


...***...


Tasya masuk ke dalam mobil Athos ketika pemuda itu menghubunginya setelah berhenti di depan rumah Tasya.


Tasya langsung memeluk Athos saat di dalam mobil. Seharian ini dia sangat mengkhawatirkan kekasihnya tersebut setelah video itu tersebar. Tasya menangis karena takut sesuatu yang buruk akan terjadi pada Athos.


"Bagaimana kalau Dion melaporkanmu? Aku sangat takut kau di penjara, Ato." ucap Tasya menangis di pelukan Athos. "Kedua orang tuanya juga sangat marah padaku. Mereka langsung menghubungi papa dan mama. Mereka membahas sesuatu yang tidak aku ketahui."


Athos melepas pelukannya dan menatap Tasya. Dia berpikir apa yang kedua keluarga itu bahas. Namun dia tidak ingin kekasihnya itu lebih khawatir lagi.


"Kau tidak perlu khawatir, aku tidak akan di penjara. Si pecundang itu tidak bisa memenjarakan aku." jawab Athos memegang wajah Tasya dengan kedua tangannya.


"Seharian ini aku mencemaskanmu. Aku ingin segera menemuimu tapi kenapa kau melarangku datang ke rumah? Tadi kau juga tidak menjawab teleponku berkali-kali."


"Tenanglah, sayang. Aku sudah disini menemuimu." ucap Athos setelah itu mencium Tasya.


...***...


Athos kembali ke rumah. Langkahnya berat saat menaiki tangga untuk menuju kamarnya. Waktu sudah menunjukan pukul sepuluh malam saat ini. Pikirannya dan tubuhnya sangat lelah sekarang.


"Ato, lihatlah ini." seru Prothos yang keluar kamarnya bersama Aramis ketika Athos membuka pintu kamarnya sendiri.


Athos masuk ke dalam kamar Prothos. Prothos memutar sebuah video. Video ketika Athos dihajar oleh lima orang bodyguard berpakaian rapi suruhan ibu Dion.


"Jadi karena itu wajahmu babak belur waktu itu?" tanya Aramis menatap Athos.


"Siapa yang menyuruh mereka Ato?" tanya Prothos.


"Ibu dari tunangan Tasya." jawab Athos. "Bagaimana dengan komentar yang melihat video itu?"


"Mereka semua mendukungmu." jawab Prothos sambil membaca beberapa komentar di sosial media yang mengunggah video tersebut.


"Ternyata yang dimaksud Lion adalah video itu." ucap Athos tertawa. "Dia sangat menganggap ini semua permainan game untuknya."


"Apa dengan video ini kau aman, Ato?" tanya Aramis.


"Sepertinya untuk sekarang iya." jawab Athos. "Tapi apa kalian mau membantuku? Firasatku tidak enak, kalau terjadi sesuatu padaku, tolong hentikan pernikahan Tasya dengan Dion."


...----------------...



Visual Model :


Athos : Kim Young-Dae


Prothos : Cha Eun-Woo


Aramis : Ahn Hyo-Seop