
Melody termenung memikirkan semua yang terjadi hari ini. Situasi saat ini sangat tak dimengerti olehnya. Dirinya sangat bingung, di satu sisi dia merasa kalau apa yang dilakukan olehnya pada Niko adalah benar namun disisi lain dia masih merasa tersiksa oleh sosok Lion yang menurutnya hari ini bersikap dingin padanya.
Melody merasa masih mencintai Lion serta merindukannya. Tapi mendengar perkataan Lion di rekaman itu membuatnya semakin bersedih. Tak sedikitpun Lion merasakan hal yang sama padanya.
"Apakah aku harus benar-benar melupakanmu?" Melody meletakkan kepalanya di atas meja belajar, mencoba mencari ketenangan dengan posisinya itu. "Aku rasa ini sangat sulit. Aku bahkan masih merindukanmu walau setiap hari melihatmu." Semua hal itu terus berkecamuk di benaknya, hingga tanpa sadar air mata gadis itu mengalir keluar tanpa diminta.
Melody membuka handphone-nya karena mengingat pada rekaman yang diberikan Lion. Dia mencoba mendengarkannya lagi dibagian saat Lion dan Niko mengatakan sesuatu dalam bahasa Rusia. Namun baginya bahasa itu sangatlah sulit. Dia sama sekali tidak bisa mendengar apa yang mereka ucapkan. Apakah dia harus menanyakannya pada kakaknya Athos atau tidak? Namun dia berpikir kalau hal itu sangat memalukan jika bertanya padanya.
"Apa itu sesuatu yang aku tidak boleh tahu, makanya dia menggunakan bahasa itu?" Gumam Melody.
Melody menoleh ke arah kamar Lion yang lampunya masih tidak menyala padahal saat ini sudah lewat pukul sepuluh malam.
"Kenapa mereka berdua sangat suka begadang?" Ucap Melody.
...***...
Lion memasuki sebuah bar rooftop, dan berjalan ke meja bar dimana Dion sudah menunggunya. Tanpa basa basi Lion duduk di sebelah kanan pria itu.
"Lion, kau mau minum apa?" Tanya Dion saat Lion duduk.
"Tidak perlu, aku tidak akan lama." Jawab Lion. "Ada apa kau memanggilku?"
"Sebenarnya bagaimana hubunganmu dengan mereka? Aku dengar kau sahabat salah satu dari mereka. Apa itu artinya kau mengkhianatiku?" Tanya Dion tanpa basa basi, dia sudah sedikit mabuk karena meminum minuman alkohol.
"Kau tidak tahu tentangku, Dion. Kalau kau tahu kau tidak akan berkata seperti itu." Ucap Lion. "Aramis adalah sahabatku. Aku juga tidak tertarik dengan masalahmu dengan kembaran sahabatku. Aku hanya berada di tengah-tengah kalian, mencoba bersenang-senang dengan menikmati apa yang terjadi."
Dion terlihat kesal, dia langsung menarik baju Lion. Namun dengan santai Lion menepisnya dengan tatapan tajam.
"Jangan bertindak bodoh hanya karena mendengar satu atau dua kalimat dari lawan bicaramu, sebagai teman aku sarankan itu padamu." Ujar Lion. "Dia bukan lawanmu, sejujurnya aku pun lebih mendukungnya karena dari segi apapun dia jauh lebih unggul darimu yang hanya suka bersenang-senang seperti anak kecil."
"Anak kecil sepertimu memberi nasehat padaku?" Dion terlihat menyepelekan perkataan Lion dengan tertawa. "Apa yang bisa dia lakukan untukmu sampai kau berpihak padanya?"
"Semua yang tidak bisa kau lakukan untukku. Sebaiknya kau menyerah saja, jangan sampai tindakan bodohmu sendiri yang menghancurkan dirimu. Dan... aku tidak memihak padanya, aku hanya membantu jika temanku meminta bantuan, aku juga melakukan hal yang sama padamu."
"Ini sangat membingungkan, bocah sepertimu sangat rumit."
"Bahkan sampai di sini saja kau belum paham padaku. Aku bersikap netral pada kalian, tetapi saat kalian meminta bantuanku, aku akan membantunya sesuai dengan apa yang kalian minta. Dalam kata lain, kau dan dia bisa memanfaatkan aku dengan membuat strategi kalian masing-masing. Dalam hal ini akan terlihat siapa yang lebih baik dari kalian."
"Lalu apa yang harus aku lakukan untuk menghentikannya? Dia terlihat sangat yakin bisa menghentikan pernikahan itu."
"Maafkan aku, aku tidak akan memberimu saran untuk apa yang akan kau lakukan." Jawab Lion. "Aku hanya bisa mengatakan kalau dia akan sungguh-sungguh melakukannya untuk menghentikan pernikahan itu, bahkan merebut tunanganmu."
"Apa itu artinya kau tahu apa yang akan dia lakukan?" Tatap Dion.
"Sepertinya aku bisa menebaknya. Dia memintaku untuk melakukan beberapa hal kecil, tapi dia tidak mengatakan semuanya. Tapi maaf saja, aku tidak akan mengatakan apapun padamu. Kau pun bisa memintaku untuk melakukan sesuatu, dan aku juga tidak akan mengatakannya padanya."
"Apa kau bisa memastikan dia agar tidak datang ke pernikahan itu?"
"Karena dia bilang sendiri padaku kalau dia akan berada disana."
"Karena itu aku bilang padamu jangan bertindak bodoh hanya karena mendengar satu atau dua kalimat dari lawan bicaramu. Bahkan kau sudah ketakutan saat ini." Lion tertawa mengejek dan membuat Dion kesal dan menariknya langsung. "Bahkan sekarang kau bertindak bodoh karena mendengar apa yang aku katakan." Tatap Lion tajam.
Dion melepaskan Lion dengan kesal mendengar perkataannya.
"Aku akan membunuhnya, itu pasti."
"Ya kau bisa melakukannya, tapi jangan lakukan itu!!" Seru Lion. "Bahkan mendekatinyapun kau tidak akan berani. Sudah aku bilang dia bukan lawanmu, kau kalah jauh darinya. Satu-satunya kelebihanmu hanya uang orang tuamu. Kau tahu, dia hanya menganggapmu lalat pengganggu, dan aku rasa sebutan itu masih terlalu bagus untukmu."
Lion beranjak turun dari kursinya dan menarik baju Dion menatapnya.
"Kau bisa meminta bantuanku kapanpun." Ucap Lion setelahnya melepaskan Dion. "Tanpa uang orang tuamu kau bukan siapa-siapa, sedangkan dia memiliki segalanya yang tidak bisa kau dapatkan dengan tanganmu sendiri."
Dengan sambil tertawa Lion berjalan meninggalkan Dion, dan keluar dari bar itu. Di dalam taksi, Lion menelepon Athos.
"Apa yang kau minta sudah aku lakukan. Aku sudah memprovokasinya, aku yakin sekali kalau dia akan bertindak seperti yang kau mau." Ujar Lion di telepon. "Si pecundang itu sangat bodoh, bahkan dia tidak tahu harus berbuat apa."
"Aku tidak heran." Jawab Athos yang berada di kamarnya. "Lion, aku membutuhkanmu untuk sesuatu."
"Apa itu mengenai undangan? Tapi maaf Ato, aku tidak bisa melakukannya." Ujar Lion. "Aku kira kau tidak membutuhkannya."
"Aku tahu si pecundang itu akan memintamu untuk memastikan aku tidak berada di sana kan? Tapi tenang saja, bukan hal itu yang akan aku minta darimu." Jawab Athosl. "Aku ingin kau memastikan satu hal saat pernikahan itu belum mulai."
"Baiklah, sepertinya aku tahu apa yang kau inginkan." Seru Lion. "Tapi apa kau serius akan melakukannya? Jika salah sedikit akibatnya akan fatal."
"Kau tenang saja, semua sudah aku pikirkan."
"Kau benar-benar gila, Ato."
"Tidak, aku hanya melakukannya dengan bersungguh-sungguh. Ini bukan sesuatu hal yang gila." Ujar Athos. "Semua hal boleh dilakukan demi cinta, dan itu sepadan."
Lion menutup teleponnya setelah percakapannya dengan Athos usai. Dia memikirkan kalimat terakhir yang diucapkan Athos, entah kenapa perasaannya menjadi tidak enak saat ini.
Pandangannya kosong melihat ke luar jendela taksi yang dia naiki. Dia merasa sangat kagum pada Athos yang mati-matian melakukan semua itu demi cintanya. Lalu kenapa dirinya tidak bisa melakukannya juga? Dengan berat Lion membuang napasnya dan menutup mata.
"Semua hal boleh dilakukan demi cinta, dan itu sepadan." Gumam Lion mengulangi perkataan Athos.
Tiba-tiba taksi mengerem mendadak dan membuat Lion yang duduk dibelakang dengan mata tertutup terdorong ke depan hingga kepalanya membentur jok depan.
"Ada apa, pak?" Tanya Lion bingung sambil menahan sakit di kepalanya.
"Maaf, tadi bukannya minta berhenti?" Supir taksi malah balik bertanya padanya.
...@cacing_al.aska...