
Akhirnya hari yang dinanti-nanti seluruh murid telah tiba.
Seluruh murid menyambut keceriaan pada hari pertama diadakannya Festival Melzronta. Seluruh kelas ditiadakan demi berlangsungnya acara selama lima hari berturut-turut, berarti, jika termasuk dua hari libur per pekan, mereka akan menjalankan libur selama satu pekan.
Seluruh murid telah mempersiapkan senjata masing-masing, entah hanya untuk berjaga-jaga atau tidak. Tentu saja, mereka mendapat perbekalan dari pihak akademi bahwa kemampuan bertarung akan terpakai dalam kompetisi itu, maka mayoritas terlebih dahulu ke kamar masing-masing untuk mengambil senjata kurang lebih tiga puluh menit sebelum pembukaan festival.
Tidak ada semacam acara pembukaan yang cukup spesial selain berkumpul di aula besar untuk mendengar sambutan dari Arsius, sang kepala akademi. Hanya pesan agar seluruh peserta dapat bersenang-senang dan bersaing secara sportif, sangat sederhana tanpa harus bertele-tele.
Kali ini, Arsius memberi perbekalan lagi pada seluruh murid yang menjadi peserta festival. Festival Melzronta sesuai tradisi terbagi menjadi lima stage, masing-masing akan diadakan setiap hari festival berlangsung. Ia menjelaskan secara singkat setiap stage. Stage pertama adalah balap lari mengitari hutan perbatasan antara kota dan akademi; stage kedua merupakan kejar-mengejar; stage ketiga menjadi permainan menemukan orang penting di bazaar akademi
Selesai mendengarkan pidato dari Arsius, seluruh murid akhirnya menuju kantin, lokasi hari pertama Festival Melzronta. Antusiasme tinggi mereka ikut mempercepat langkah saking tidak sabarnya.
Seluruh murid, sebagai peserta, telah menempati tempat duduk masing-masing untuk menunggu penjelasan tentang stage pertama yang akan diadakan pada hari itu. Sama sekali tidak ada petugas kantin, tidak ada baki yang biasanya penuh menu saat makan siang dan makan malam, hanya kekosongan datar.
Entah kebetulan atau tidak, Sans dan kelima teman dekatnya menempati meja yang persis sama dengan setidaknya enam orang kenalan, yaitu Riri, Zerowolf, Katherine, Lana, Sandee, dan Ruka.
Zerowolf melirik tajam pada Yudai, rivalnya, seakan sedang mengawasi gerak-gerik sebagai persiapan untuk bersaing. Kilatan dari tatapannya seakan menyambar dan memicu semangat.
Katherine mengetuk kaki pada lantai perlahan, gugup ketika menyaksikan Yudai berada tepat pada tatapannya. Ketika beralih tatapan pada yang lain, ketegangan di dalam dirinya menurun, apalagi menatap Riri, Sans, dan Beatrice.
Ketika menatap Ruka, ia mendapat balasan tatapan dingin. Terpicu kembali ketegangan di dalam dirinya. Memalingkan wajah dari Ruka menuju bagian meja di hadapannya, menunggu agar stage 1 Festival Melzronta segera dimulai.
Lana melirik pada Sans tanpa berbalas. Telapak tangan kirinya ia letakkan pada wajah, mengagumi bagaimana orang yang dianggap sebagai “kakak” itu menunggu. Senyumannya ia lebarkan saking kagumnya.
Beatrice menggoyangkan tubuhnya saking bersemangatnya. Kaki dan lengannya tidak bisa diam tidak sabaran ingin segera memulai stage 1 Festival Melzronta. Baginya, tantangan apapun ia ingin coba sebaik mungkin.
Tay dan Neu kembali duduk berdekatan, entah karena terpaksa atau tidak, kembali melakukan silent treatment. Tensi mereka meningkat meski hanya terdiam, ingin saling bersaing membuktikan diri masing-masing agar unggul. Wajar, mereka kembali bertengkar karena persaingan sebelum pidato pembukaan dari Arsius.
Sans menghela napas, cukup tegang akan mengikuti sebuah kompetisi, apalagi dirinya sebagai murid bermantel putih. Ia ingin melakukan sebaik mungkin, itu tekadnya.
Sierra dan Sandee hanya terdiam membuang muka, menganggap hampir seluruh teman dekat masing-masing tidak ada. Pura-pura tidak mengenal daripada terlibat ke dalam kehebohan terselubung.
Penantian itu akhirnya berakhir ketika Dolce telah memasuki area kantin.
“Semuanya. Selamat datang di stage pertama Festival Melzronta,” sapa Dolce yang kini menjadi pusat perhatian, “hari ini, di kantin, tantangan pertama kalian akan segera dimulai. Sebelum itu, siapa yang lapar?”
Satu per satu petugas kantin telah tiba masing-masing membawa sebaki hidangan. Biasanya memang tidak banyak itu mereka berada di kantin untuk bertugas, tidak heran kebanyakan murid tahun pertama tercengang.
Mereka membagikan hidangan itu pada satu per satu murid. Mereka harus mondar-mandir memastikan semua murid sudah mendapat hidangan istimewa itu, khusus untuk stage pertama Festival Melzronta.
Begitu semuanya telah mendapat hidangan yang sama persis menu dan porsinya, mereka menggeretakkan gigi menatap presentasinya. Kuah merah kecokelatan bertoping potongan tahu kecil berjumlah banyak. Tentu mereka sudah tahu jika menilai dari penampilan, apalagi menghirup aromanya.
Dolce menjelaskan, “Pertama, kalian habiskan seporsi hidangan di hadapan masing-masing, spicy tofu. Lalu kalian serahkan sepiring kosong itu pada salah satu profesor sebelum keluar dari akademi. Pergilah ke koridor depan jalan persimpangan, ambil jalan kiri untuk mencari herb demi menahan rasa pedas.
“Lalu tes sebenarnya, seberangilah danau dengan cara apapun kecuali mengelilinginya. Dengan begitu, kalian akan tiba di garis finish, yaitu gerbang halaman belakang akademi. Oh ya, jangan khawatir, hutan yang kalian masuki sudah bebas dari binatang buas.”
“Spi-spicy tofu?” ucap semua orang heran.
“Ya-yang benar saja? Kita harus makan hidangan sepedas ini lalu berlari? Begitu?”
“Ah, aku takkan kuat berlari sambil menahan pedas.”
Neu kembali menatap semangkuk spicy tofu yang berada di hadapannya, kuah merah kecokelatan itu sudah seperti meluap-luap berkat elemen panas yang akan membakar lidah.
“Mau bagaimana lagi. Ini tantangannya.” Ia pasrah.
“Yudai!” sahut Zerowolf kembali menunjuk. “Kudengar kamu menikmati hidangan waktu kita field trip ke Silvarion, kan? Kalau kamu sampai tidak mampu menghabiskannya, kamu payah!”
Neu menghela napas kembali menyaksikan tingkah Zerowolf, menyimpulkan bahwa rival Yudai itu juga dapat menikmati hidangan khas Silvarion yang amat menjijikan. Menatap kembali semangkuk spicy tofu di hadapannya pun membuatnya merasa akan terulang lagi kejadian itu, bedanya hanya rasa pedas alih-alih jijik.
“Baik, semuanya silakan ambil sendok di sebelah kanan mangkuk masing-masing untuk bersiap. Siapapun yang mulai memakan terlebih dahulu sebelum aba-aba akan didiskualifikasi!” suruh Dolce.
Sans menelan ludah ketika menatap kembali semangkuk spicy tofu di hadapannya sambil menggenggam erat sendok. Kuah merah kecokelatan dari hidangan itu seakan meluap-luap seperti lava, siap untuk membakar tubuh.
“Baiklah, silakan kalian mulai! Selamat makan!” Dolce memberi aba-aba untuk mulai.
Seluruh murid hampir secara bersamaan mengambil sesendok pertama spicy tofu. Potongan tahu beserta kuah merah kecokelatan mereka perlahan masukkan ke dalam mulut, bersiap untuk menikmati ledakan pedas seperti bom.
Beberapa murid yang ragu seperti Katherine justru gemetar ketika tengah memasukkan sesuap pertama. Aroma pedas sudah telanjur menonjol menuju hidung, membuat mata langsung berair tidak dapat menahan elemen panas dari kuah yang pedas.
Ketika kuah spicy tofu telah mendarat di lidah, kuatnya pedas mulai secara dahsyat membakar bibir dan lidah, membuat kulit berkeringat, dan hidung mulai mengeluarkan ingus. Tingkat rasa pedas dari menu tersebut lebih membara daripada ekspektasi semua orang.
“Astaga!!” jerit Riri bereaksi. “Mulutku panas sekali!”
Tay dan Neu menarik napas dalam-dalam dari mulut demi melawan rasa pedas itu. Pada saat yang sama, mereka berdua juga saling menatap demi memperketat persaingan, baik menahan pedas dan menghabiskan menu itu terlebih dahulu.
“Pedas sekali ….” Beatrice menundukkan kepala sejenak.
Sans menambah sambil menghela napas. “Ba-baru saja sesuap sudah pedas sekali.”
“Ini lebih buruk daripada misi kelas A atau kelas B,” ucap Riri lagi.
Lana perlahan memasukkan suapan kedua spicy tofu-nya. “Ah! I-ini sangat pedas.” Kini ia menyemangati Sans dan yang lain. “Ayo, semuanya! Jangan mau kalah dengan rasa pedas ini!”
Riri mengangkat tangan. “Profesor Dolce, apa kami boleh minta air?”
“Maaf, kantin belum menyediakan air,” jawab Dolce sederhana.
Riri kembali mengisap udara melalui mulut. “Ah ….”
“Harus bisa!” ucap Neu mendesis memasukkan suapan ketiga spicy tofu-nya. “Apa kamu mau menyerah?”
“Kamu … lebih baik … menyerah … saja, Mata … Empat!” sindir Tay sebelum kembali makan meski rasa pedas semakin membakar mulut.
“Kita bisa melakukannya,” Lana kembali menyorakkan semangat, meski dirinya mulai menderita hawa panas dari rasa pedas.
Riri mulai melihat sekeliling begitu kembali menikmati spicy tofu-nya perlahan. “Mudah untuk bilang … begitu, Lana. Soalnya …. Astaga!!”
Riri tercengang ketika mengalihkan perhatian pada Yudai dan Zerowolf. Kedua rival bebuyutan itu seakan sama sekali tidak peduli dengan rasa pedas yang mulai membakar mulut.
Gerakan tangan untuk mengambil sesuap menuju mulut amat cepat dibanding dugaan semua orang. Yudai dan Zerowolf tetap melahap setiap suap spicy tofu dari mangkuk masing-masing, tidak membiarkan rasa pedas mendominasi pikiran.
Semuanya menghela napas ketika menatap kedua rival bebuyutan itu secara ajaib mampu menahan pedas tingkat tinggi dari spicy tofu. Seluruh rekan di dekat mereka juga ikut melongo bagaimana bisa keduanya masih dengan serius berlomba menghabiskan hidangan itu.
“Akhirnya!” jerit Yudai dan Zerowolf bersamaan telah menghabiskan mangkuk spicy tofu masing-masing tanpa sisa.
Tanpa perlu jeda lagi, keduanya mengangkat mangkuk kosong masing-masing dan beralih dari meja. Dua posisi pertama dalam terlebih dahulu menghabiskan spicy tofu telah mereka ambil.
“Ba-bagaimana bisa mereka!” komentar murid lain mulai bertebaran.
“Apa mereka memang manusia? Kenapa mereka bisa menahan pedas seperti itu?”
“Mereka curang? Tidak mungkin!”
Yudai dan Zerowolf langsung melesat meninggalkan kantin setelah menyerahkan mangkuk kosong masing-masing pada deretan profesor. Persaingan mereka telah dimulai!
Zerowolf menjerit begitu meninggalkan area kantin, “Aku yang akan jadi nomor satu, Yudai!!”
Cukup lama melongo menatapi Yudai dan Zerowolf keluar dari kantin, Sans dan yang lainnya kembali menatap mangkuk spicy tofu masing-masing. Masih lebih banyak sisa, lebih banyak potongan tahu yang terapung di dalam kuah merah kecokelatan itu.
“Uh ….” Sierra menjatuhkan sendoknya ke lantai dan menubrukkan kepala pada meja, dekat mangkuk spicy tofu-nya. Rasa pedas yang terlalu kuat terpaksa membuatnya menyerah.
“Oh. Lebih baik kita nikmati seperti mereka saja.” Beatrice berpura-pura antusias.
“Aku tidak akan kalah!” jerit Neu menguatkan diri untuk mempercepat gerakan mengambil suapan spicy tofu-nya.
“Ini belum seberapa!” Tay kembali memakan beberapa suap mengikuti Beatrice dan Neu.
Cukup cepat tanpa membiarkan jeda antar suapan, rasa pedas secara progresif menghantarkan panas pada dalam mulut Beatrice. Bukan hanya bagian dinding mulut, lidah, dan tenggorokan yang terasa kepanasan, tetapi juga bibir. Pedas tingkat tinggi sudah terlalu mendominasi otaknya memicu keluarnya ingus dan air mata.
Sakit, sangat sakit harus menahan pedas lebih lama, apalagi menambahnya dengan menikmati setiap suap spicy tofu dengan cepat. Kepalanya kini tengah mendidih tidak mampu menoleransi pedas lebih banyak lagi.
“AAAAAAAAAAH!!” jerit Beatrice mengangkat kedua tangan melampiaskan tidak kuat pedas. Ia membuang napas dan suara seakan sedang menyemburkan api.
Tay dan Neu juga perlahan mempercepat jarak antara jeda dan memakan satu suap spicy tofu, tidak peduli rasa pedas perlahan menguasai tubuh. Menatap mereka berdua, Riri juga tidak ingin kalah dalam menggerakkan sendok untuk memakan spicy tofu.
Mayoritas murid lain telah angkat tangan dari tantangan memakan spicy tofu, pedasnya yang keterlaluan hingga menyiksa mulut sudah melampaui batas kemampuan. Memang, ini lebih buruk daripada hidangan khas Silvarion yang menjijikan saat field trip.
Sebagian kecil dari murid laiinya satu per satu telah menghabiskan semangkuk spicy tofu masing-masing. Tentu saja mereka perlahan memasukkan setiap suap hingga habis tidak bersisa sambil menahan pedas. Tetapi tidak semuanya yang langsung pergi menyusul Yudai dan Zerowolf, melainkan beberapa menjerit tidak dapat menahan pedas.
“Tenanglah. Kakak, jangan ikut-ikutan mereka juga. Pelan saja,” Lana membujuk Sans.
Tay dan Neu akhirnya selesai melahap spicy tofu tanpa sisa. Setelah meletakkan sendok pada mangkuk kosong masing-masing, tubuh mereka seakan ingin meledak. Keringat bercucuran begitu banyak sebagai salah satu reaksi dari rasa pedas tingkat tinggi. Kedua mata pun juga berair seakan mendidih.
Baru beberapa detik menahan pedas setelah menghabiskan spicy tofu, Tay dan Neu menjerit panik dan bangkit dari tempat duduk masing-masing. Alih-alih menempatkan kedua kaki pada lantai, meja langsung menjadi pijakan dan tempat berlari.
“AAAAAAAAH!! Pedas! Pedas!”
Tingkah mereka sungguh menghebohkan hampir setiap orang, menganggu proses menyelesaikan spicy tofu. Beberapa dari mereka langsung gugur hanya karena kehebohan itu.
Riri memukul meja berkali-kali setelah menghabiskan spicy tofu miliknya. Ia menggelengkan kepala menahan sedak di tenggorokan yang menyiksa, wajar, salah satu potongan tahu salah masuk area di kerongkongan hingga terbatuk-batuk pada saat terakhir.
Ruka menatapi kehebohan itu, menempatkan tangan kiri pada pipi. “Benar-benar berisik. Spicy tofu yang benar-benar pedas ini sudah membuat dahsyat seluruh kantin.”
“Ah ….” Beatrice menghela napas ketika ia berhasil menghabiskan spicy tofu-nya. “A-akhirnya selesai juga.”
“Aku juga.” Sans ikut meletakkan sendok pada mangkuk yang telah ia kosongkan juga.
“A-ayo! Uhuk!” ucap Riri masih tersedak bangkit dari tempat duduk dan mengangkat mangkuknya untuk beralih pada para profesor.
“Ri-Riri, kamu tidak apa-apa, kan?” Sans sungguh khawatir begitu dirinya dan Beatrice mulai meninggalkan meja sambil membawa mangkuk kosong masing-masing.
“A-aku sudah cukup. I-ini terlalu pedas.” Katherine menaruk sendok pada mangkuknya, memutuskan untuk tidak menghabiskan spicy tofu-nya.
“A-a-air! Bu-butuh air!” Riri perlahan bangkit sambil menahan sedakan pada tenggorokannya. Diambilnya pula mangkuk kosongnya sebagai tanda selesai tantangan pertama sambil mengikuti Sans.