Lorelei Chronicles

Lorelei Chronicles
Episode 132



Tepat setelah re-evaluasi kelompok selama bootcamp, tidak ada waktu untuk beristirahat bagi seluruh murid tahun pertama, baik di Silvarion dan Vaniar. Seluruh kelompok wajib berlatih di sana selama hari itu tanpa kecuali.


Mulai dari murid-murid ber-job tipe fisik di Silvarion. Pelatihan hari itu bertempat tepat di hadapan gerbang Labirin Oslork. Masih sama seperti sebelumnya, work out untuk mengembangkan fisik dasar, tanpa alat apapun ataupun berlari beberapa keliling.


Pelatihan tersebut dimulai dari kelompok A, yakni kelompok Yudai, Zerowolf, Riri, dan Tay. Regimenya masih sama, berlari di tempat selama lima menit, melompat tinggi-tinggi, memukul, menendang, hingga push-up berkali-kali. Regime tersebut dilakukan kurang lebih selama 30 menit.


Tay justru berkomentar selama ia sedang push-up bersama anggota kelompok A yang lain, terutama di dekat Yudai, Zerowolf, dan Riri, “Kenapa harus repot-repot berlatih begini lagi? Seharusnya kita sudah berlatih senjata masing-masing.”


Riri juga sampai terengah-engah dalam menjawab, “Ah … tidak kusangka. Mungkin untuk memotivasi, begitu?”


“Apanya motivasi? Tidak perlu begini segala? Pokoknya langsung saja.”


Yudai dan Zerowolf menghiraukan keluhan Tay dan berfokus pada push-up masing-masing. Tidak seperti kebanyakan murid, mereka mempercepat push-up demi kembali bersaing siapa yang paling banyak melakukannya. 


Aksi mereka turut mengundang keheranan beberapa murid lain. Beberapa dari mereka bahkan mengeluh dan bertanya-tanya.


“Memangnya mereka tidak lelah selama empat hari ini?”


“Pasti lelah sekali kalau push-up secepat itu.”


“Seperti biasa, Zerowolf ingin pamer.”


“Sudah cukup!” Baron menghentikan regime latihan tersebut, lebih tepatnya tiga menit telah berselang.


Yudai dan Zerowolf berbaring mendapati lengan, bahu, perut, dan kaki mulai terasa terhantam setelah melakukan push-up cepat berkali-kali. 


“A-aku lelah,” ucap Yudai.


Tay berkomentar, “Tentu saja kalian berdua ini sungguh kelewat batas.”


Riri ikut menegur, “Berapa kali harus kuingatkan tentang bersaing seperti tadi, Zerowolf?”


“Kamu bukan kakakku,” sindir Zerowolf.


“Selanjutnya, kelompok B!” sahut Baron.


Tay dan Riri membantu Yudai dan Zerowolf untuk bangkit dari posisi berbaring saat satu per satu murid kelompok A mulai menyingkir. Cukup lelah, tangan dan kaki kedua rival bebuyutan itu hampir sulit untuk digerakkan sendiri karena nyeri.


Lana dan Sandee, sebagai anggota kelompok B, berpapasan dengan mereka berempat. Sandee kembali membuang muka, menganggap muka tak bersalah Zerowolf masih dapat diserang. Memang, Zerowolf menyeringai dan hampir tertawa menatap penampilan Sandee yang kecut.


Lana membalas senyum pada keempat murid lelaki itu, terutama pada Yudai. Tanpa berbicara lagi, ia dan Sandee mulai berbaris sama seperti anggota kelompok B yang lain.


“Oh, menatap temannya Kakak, aku jadi ingin berbicara pada Kakak sekarang. Aku bahkan tidak sempat menanyakan keadaannya.”


Sandee membalas sinis, “Sans kan ada di Vaniar. Aku bahkan juga ragu dia akan lolos bootcamp sebagai murid bermantel pu—”


“Tidak mungkin! Aku tidak mungkin mau dia tidak lulus bootcamp! Apapun yang terjadi Kakak harus lulus bootcamp!” Mata Lana mulai berbinar.


Rengekan Lana bahkan memicu perhatian seluruh peserta bootcamp di Silvarion. Saking lancangnya hingga mencapai kelima profesor dan asistennya.


Tentu saja, sesuai dugaan semuanya, Alexandria menjadi orang pertama yang menginterupsi. “Siapa suruh kalian berdua berbicara sendiri!”


Sandee sampai membuang muka, pipinya memerah, malu, sangat malu. Ia sangat tidak menyangka bahwa dirinya dan Lana menjadi korban bentakan Alexandria, saat bootcamp berlangsung pula.


Riri menepuk jidatnya menyaksikan kedua teman perempuannya membuat ulah bahkan sebelum pelatihan kelompok B hari itu dimulai. Sudah dua kali ia merasa malu, pertama, ketika Zerowolf menantang Yudai untuk beradu ketika pelatihan kelompok A berlangsung.


“Untung bukan aku yang jadi korbannya kali ini,” ungkap Tay.


“Profesor Alexandria memang kejam kalau mengurus soal aturan,” tambah Riri.


***


Meditasi, itulah kegiatan pelatihan untuk murid ber-job tipe sihir di sebuah padang rumput dekat gerbang timur Vaniar. Tidak seperti pelatihan seluruh murid ber-job tipe fisik pada hari itu, seluruh kelompok berbaris bersama dan berdekatan. Kelompok C berada di beberapa baris terdepan, seterusnya hingga kelompok A di baris terbelakang. Sebenarnya, meditasi juga menjadi cara mengumpulkan chakra bagi job monk, itu yang baru diketahui oleh kebanyakan murid tahun pertama.


Bahkan Neu juga mengira bahwa meditasi hanya bisa dilakukan oleh job monk. Sama sekali tidak menyangka bahwa perkataannya sebelumnya pada Yudai telah menjadi bumerang. Ia tidak mengira meditasi juga menjadi cara untuk mengumpulkan mana. Bedanya, monk mengumpulkan chakra lebih cepat dalam proses tersebut daripada saat job tipe sihir mengumpulkan mana.


Duduk bersila dan kedua telapak tangan di lutut, pose yang harus mereka lakukan selama setidaknya 45 menit. Konsentrasi hingga mana keluar dengan sendirinya dari tubuh, seakan menjadi penerangan. Hanya terfokus pada gerakan angin, suara gerakan dedaunan dan kicauan burung nan jernih, dan embusan napas.


Dalam proses meditasi, mana dari dalam tubuh lama-kelamaan menumpuk dan mulai memicu cahaya pada kulit. Hal tersebut menandakan bahwa proses meditasi mulai berhasil mengumpulkan mana melimpah, juga kekuatan pun bertambah secara penyerangan dan pertahanan.


Cukup banyak murid yang telah kehilangan konsentrasi mulai lima menit pertama. Ada yang sampai melirik murid-murid lain, ada yang sampai mengantuk, menguap, dan bahkan tertidur, ada pula yang tercengang akan pikiran dadakan menginterupsi. Tidak perlu heran, mayoritas murid kelompok B dan kelompok C menjadi korbannya.


Beberapa murid kelompok A juga ikut buyar ketika membuka mata, sampai tercengang ketika menatap cahaya bersumber dari mana. Begitu kaget hingga harus mengulang dari awal lagi.


Neu sangat berkonsentrasi hingga cahaya mana bersinar mulai dari telapak tangan hingga lengan. Lama-kelamaan, memasuki 25 menit pertama, kedua kakinya mulai terangkat seakan oleh angin. 


Cukup kaget bagi beberapa murid di dekatnya yang menyaksikan hal tersebut. Tubuh Neu terangkat setinggi 30 centimeter. Ia masih menutup mata dan penuh konsentrasi. Hal itu juga menjadi pembeda meditasi yang dilakukan monk dan job tipe sihir.


Sementara Beatrice …. Kebalikannya, ia justru terlelap dalam meditasi. Kepalanya juga mengarah ke kiri. Begitu lelah saat meditasi membuatnya mengantuk.


Katherine, setelah berlama-lama merenungi penyebab dirinya harus berada di kelompok C, ia membulatkan tekad pada batinnya. Ia menekankan tekadnya itu pada konsentrasi setelah merenungi perintah kelima profesor pengampu. Sungguh serius hingga ia tidak membiarkan apapun, terutama jeritan dan gerakan, menganggu konsentrasinya.


Ketika 45 menit telah berlalu, Hunt menyampaikan seluruh murid harus berhenti bermeditasi dan menuju kegiatan berikutnya. Beatrice yang baru saja terbangun cukup tercengang dengan perintah lantangnya.


Selanjutnya, sama seperti tiga hari pertama saat pelatihan kelompok, praktik mantra sihir dasar. Kali ini, kelompok C yang terlebih dahulu melakukannya. Kelompok A dan B pun menyingkir menuju tepi sungai untuk menyaksikan aksi tersebut.


Cukup banyak anggota kelompok A dan B yang menertawakan dan membicarakan keadaan kelompok C, terutama murid pindahan kelompok. Malu, sungguh malu, mendengar ejekan, cemoohan, dan makian seperti menusuk dari belakang.


Neu sampai berkomentar, “Tega sekali.”


Beatrice menambah, “Apa Sans akan baik-baik saja?”.


“Berapa kali harus kuberitahu, Sans tidak ada. Sekarang kita tidak tahu ke mana Sans. Kalau begini terus, dia bisa gagal dalam bootcamp. Atau—”


“Apa?”


“Jangan-jangan Sans ingin mengundurkan diri semenjak bootcamp ini berat baginya. Masuk kelompok C saja sudah sama seperti menandatangani surat pengunduran diri bagi murid bermantel putih sepertinya.”


Sierra, yang duduk di sebelah kiri Beatrice, menghela napas mendengar omongan sesama anggota kelompok A terhadap kelompok C. Sangat tidak sopan, itu pikirnya.


Melihat Katherine gemetaran dari kejauhan, membuatnya ia terfokus. Merasa iba, ia tidak ingin Katherine terpengaruh oleh omongan sama seperti yang lain.


Katherine menyaksikan hanya sedikit orang yang berhasil membuat tongkat mereka bersinar terang dan memunculkan cahaya berbentuk lingkaran cukup besar. Cukup banyak pula yang tidak berhasil melancarkan mana dan tenaga pada tongkat.


Ia berpaling pada barisan kelompok B di tepi sungai. Tatapan kilat dan menyipit, sungguh sinis, membuatnya semakin kosong, sangat kosong dalam pikiran. Apalagi setelah melihat salah satu dari mereka menunjuknya menggunakan telunjuk sambil tertawa terbahak-bahak.


Napasnya seperti tidak ingin mengerem. Air matanya mengalir cukup banyak. Panik, serangan panik telah menusuk tubuhnya. Semangatnya ikut pecah berkeping-keping. Apalagi setelah menyaksikan kelima profesor pengampu, terutama Woodyatt, profesor pengampu job priest; mengabaikan reaksi kelompok A dan kelompok B, hanya mengawasi kelompok C.


Ia mengangguk-anggukan kepala sambil berusaha mengambil alih kembali dirinya. Tidak ingin gagal, tidak ingin dikeluarkan dari akademi. Terpicu perasaan batin akibat dari tekanan sesama murid.


“Ayo, Katherine.”


Sahutan Sierra memotong serangan paniknya, entah mendadak atau berangsur-angsur. Ia menegakkan kepalanya dan melirik kembali tongkat di genggaman.


Napas ia buang cukup banyak sebelum kembali menariknya. Ia anggap omongan merendahkan dari kelompok A dan kelompok B sebagai angin menumpang lewat. Ia tidak ingin takut, tidak ingin sama sekali. Ia tidak ingin sihirnya berakhir menjadi senjata salah tembak.


Ia menutup mata dan memfokuskan pada aliran mana dan tenaga dari tubuhnya. Konsentrasi dan bersabar, dua hal itu menjadi hal utama baginya dapat bisa menyelesaikan latihan tersebut.


Butuh kurang lebih lima menit. Ia sampai kaget ketika sebuah cahaya mulai keluar dari ujung tongkatnya. Tetapi, ia menggeleng, tidak ingin kehilangan fokusnya. Ia membiarkan aliran mana berjalan dari tubuh menuju tongkat. Lama kelamaan, cahaya mana di tongkatnya telah membentuk sebuah bola berdiameter tiga kali lipat dari lebar tongkat itu. Ia berhasil.


Sierra ikut menjulurkan senyuman.


“UH!”


Sebuah sihir menghantam punggung Katherine hingga roboh, kehilangan fokusnya pada aliran mana. Ia kembali menjadi target salah tembak oleh seorang murid tepat di belakangnya, memicu gelak tawa bagi kebanyakan anggota kelompok A dan B.


“Ma-maaf,” ucap murid itu.


***


“Jadi kita mau beli senjata lagi? Apa itu benar-benar perlu?”


Selesai melakukan kegiatan pelatihan kelompok, kebanyakan murid ber-job tipe fisik memutuskan untuk mampir ke hadapan bangunan yang hanya lima puluh langkah dari pusat kota Silvarion. Cukup banyak murid yang hanya numpang mampir tanpa membeli apapun.


Zerowolf menganggapi Tay, “Setiap kali kita sudah melewati sebuah tahap pelatihan, lebih baik kita beli senjata baru yang lebih bagus. Tantangan akan semakin sulit, jadi ini saatnya!”


“Sebenarnya, aku pernah berkunjung saat field trip waktu itu, harganya cukup mahal,” Riri memperingatkan. “Pantas saja senjata di sini cukup lengkap.”


“Kalau begitu, kita lihat-lihat dulu. Aku ingin beli busur baru!” sahut Zerowolf.


Tepat sebelum mereka kembali mengambil langkah menuju hadapan pintu toko tersebut, Yudai melirik ke kanan, tercengang akan dua sosok yang mengenakan topeng penutup wajah, hitam dan putih.


“Oh, maaf.” Lana melepas topengnya. “Apa kami menakuti kalian?”


“Ah, Lana, dan … Sandee?” sapa Yudai.


Zerowolf menyindir, “Bahkan tanpa topeng, kamu sudah jauh lebih menyeramkan.”


Sandee pun geram saat melepas topengnya. “Kamu ini masih tidak punya sopan santun, ya!”


Riri melirik sinis, “Bukannya aku ingin menyinggung, tapi topeng ini berapa harganya?”


“Hanya 500 vial. Katanya topeng ini terbuat dari bahan yang mewah dan berkualitas tinggi Sebenarnya ini adalah oleh-oleh untuk—”


“Sans, bukan?” Riri sudah tahu tujuan Lana. “Lebih baik beli senjata saja daripada—” Ia melirik ke sebelah kirinya.


“Uh!” jerit Riri, Yudai, Zerowolf, Lana, dan Sandee bersamaan ketika melihat sosok perempuan berambut menutupi mata.


“Ah, Ruka,” tebak Tay.


Ruka menyapa dengan sinis tanpa mengangkat kepala, “Syukurlah aku bisa bertemu kalian.”


Riri, Yudai, Zerowolf, Lana, dan Sandee bernapas lega ketika menyadari perempuan itu adalah Ruka.


“Ka-kamu baik-baik saja?” Lana kembali panik sampai menepuk kedua bahu Ruka.


Sandee melipat kedua tangan di dada, sudah tahu jawaban dari Ruka. “Tentu saja, kelompok C mendapat makian dari Profesor Alexandria saat giliran pelatihan.”


“Sebenarnya lebih menyeramkan dirimu lho,” goda Zerowolf.


“Sini kamu!” Sandee menarik bagian bahu dari baju Zerowolf.


Zerowolf menyingkir dengan refleks cepat, maka ia berbalik dan berlari menuju pintu toko senjata terlebih dahulu, menghindari tangkapan Sandee.


“Sini kamu! Jangan kabur!”


Riri menghela napas. “Begini lagi.”


“Mereka sungguh akur ya.” Lana menepatkan tangan pada dagu sambil mengulum senyuman.


“Mau beli senjata atau tidak!” jerit Tay tidak sabaran.


Jeritan Tay justru memicu Yudai, Riri, Lana, dan Ruka kembali berjalan menuju tujuan utama saat itu. Toko senjata yang cukup mahal menurut mereka dan lengkap.


“Tidak perlu teriak juga kita akan beli senjata,” tanggap Ruka sinis.


“Maaf.” Sebuah suara dari sebelah kanan menghentikan langkah Yudai. Sosok itu telah berlari menemuinya dan terengah-engah.


Tanpa memperhatikan Tay, Riri, Lana, dan Ruka terlebih dahulu melewati pintu, Yudai berpaling pada seorang laki-laki paruh baya berambut cokelat muda dengan sedikit motif putih dan berkumis tipis.


“A-apakah kamu … kamu putra Sanada?”