
Benar-benar tidak dapat dipercaya selama tiga hari terakhir bagi Neu, meski ia merupakan salah satu yang terpintar di kalangan murid tahun pertama. Bisa dibilang, ia sangat sempurna dalam materi pelajaran.
Begitu pula dengan murid-murid lain. Tidak ada yang menyangka kalau ia amat kesulitan dalam pelatihan khusus murid pemilik familiar. Mereka menjadikannya sebagai bahan olok-olokan dalam urusan kekuatan familiar.
Pelatihan tersebut diadakan pada sore hari hingga kurang lebih menjelang matahari terbenam, setelah pelatihan berdasarkan job masing-masing. Mereka diajarkan cara merawat familiar, membantu mengembangkan kekuatan masing-masing, dan hal yang paling utama, berkomunikasi.
Sayang sekali, selama tiga hari terakhir, Cherie, familiar milik Neu, sama sekali tidak melakukan apapun kecuali tidur, hanya tidur. Tentu saja segala upaya bagi Neu untuk berkomunikasi dan mengeluarkan kekuatannya berujung nol besar, nol besar. Membangunkan familiar itu saja sudah sulit, apalagi berkomunikasi.
Melihat familiar milik murid lainnya dapat patuh dan memamerkan kekuatan masing-masing sungguh membuat Neu iri. Kekuatan seperti memancarkan cahaya pelangi menyilaukan, menembakkan duri dari tubuh, hingga berubah bentuk menjadi lebih berotot sungguh mengagumkan semuanya.
Memang, pelatihan familiar tidak masuk ke dalam nilai bootcamp, tetapi hal itu tidak menurunkan kerendahan diri Neu terhadap murid-murid lainnya. Sekali lagi, begitu iri dengan mereka yang menertawakan dan dapat memamerkan kemampuan familiar masing-masing.
Sangat lelah dalam tiga hari terakhir, ditambah lagi pelatihan khusus mage tipe attacker, Neu juga heran mengapa Cherie sama sekali tidak membantunya dalam bootcamp. Dalam batinnya, seandainya ia dapat familiar yang lebih berguna, ia tidak akan lebih mempermalukan diri.
Rasa malu itu berlanjut memasuki malam hari. Tepat setelah ia menaruh Cherie di meja kamarnya, ia mendapat sambutan tidak menyenangkan dari murid kelompok A lainnya. Berkat gosip dari mulut ke mulut entah cepat penyebarannya, olok-olokan hingga gelak tawa keras menggelegar.
Terpicu hingga naik darah, apalagi setelah tidak melihat Beatrice atau Sierra di lobi penginapan itu, ia mempercepat langkah, ingin segera keluar dari keadaan beracun itu.
“Cih!” Neu menggerutu menapakkan kaki menuju jalan pebble di kota Vaniar, meninggalkan penginapan tersebut.
Langit mulai memudarkan cahayanya, pertanda matahari akan terbenam. Ia tahu jam malam selama bootcamp akan mulai berlaku ketika malam mulai menyingsing. Ia hanya butuh udara sore demi menenangkan diri.
Melewati pusat kota, terutama pusat perdagangan, banyak penghuni kota yang mulai membalikkan tanda “buka” pada toko masing-masing, menghentikan segala aktivitas. Neu hanya menyaksikan hiruk-pikuk saat setiap penduduk mulai menyalakan orb bergelantungan di langit-langit kota.
Melihat gerbang utama kota di depan mata, ia merasa waktu yang tepat untuk menyendiri di sebuah alam bebas. Ia tahu, sangat kecil peluang untuk bertemu monster di sekitar gerbang timurVaniar.. Sama sekali tidak perlu khawatir saat ia bersantai.
Ia mengerem begitu ada dua sosok kurang lebih 50 meter dari gerbang timur, tengah melangkah kembali keluar dari hutan itu. Apalagi saat mendekati gerbang itu, salah satu sosok itu terlihat jelas, sangat jelas di depan mata, hanya berdiri melirik membelakangi.
“Sierra? Apa yang dia—” Hampir saja Neu melewati gerbang itu.
Ia langsung kembali melangkah pelan kala kedua sosok itu mulai berbalik. Neu bersembunyi di balik pagar batu kiri gerbang. Ia sedikit mengintip dan percakapan Sierra dengan sosok pemuda berkulit hitam pekat dan berambut kribo itu mulai terdengar.
“Aku tidak tahan melihat betapa bahagia teman-temanmu selama bootcamp, Black Jack’s Apprentice. Mereka benar-benar payah.”
“Sudah kubilang, tunggu sampai waktunya. Kita lakukan saja sesuai rencana. Dengan ini, bukan hanya mereka, tetapi juga masyarakat kota. Lagipula, sejauh ini rencana kita berjalan dengan baik. Kita sudah mendapat bukti saat semuanya sibuk berpesta dansa di pantai.”
“Tapi—”
“Kita juga tidak tahu bagaimana kedua teman kita, sesama apprentice—”
Sibuk berpesta dansa di pantai. Kalimat itu terngiang-ngiang di benak Neu. Ia sampai tercengang kala sebuah kilas balik mulai terputar dari ingatannya.
Salah satu dari penghuni akademi ini merupakan mata-mata dari organisasi itu. Bisa jadi seorang murid, profesor, atau staf. Atau bahkan salah satu dari kita.
Jika sekali lengah menghadapi organisasi itu, akademi ini bisa saja hancur.
Sebuah percakapan dari dua orang profesor sebelum ujian akhir semester dimulai. Sempat sekali ia mencuri dengar, ia mengingat kembali ucapan Sierra saat itu.
“Sierra? Di-dia—” Neu semakin tertegun. “—mata-mata itu?”
Semakin keras suara percakapan antara Sierra dan “rekan”-nya itu, Neu mulai bergeser menyentuh pagar di belakangnya, mempercepat langkahnya. Napasnya sedikit berat begitu meresapi detail apa yang ia dengar dan simpulkan.
Menghentikan langkah, ia menutup mata sejenak. Ia ingin tahu apakah benar temannya, Sierra, telah menjadi mata-mata sejak lama, sejak awal tahun ajaran berlangsung.
***
Hari kesebelas bootcamp telah tiba. Setiap murid tahun pertama telah menyelesaikan pelatihan khusus job masing-masing tanpa memandang kelompok. Kali ini, di pusat kota Silvarion, seluruh murid kembali berbaris berdasarkan kelompok menghadap kelima profesor dan asistennya masing-masing yang membelakangi air mancur.
Tidak terasa, hanya tinggal tiga hari sebelum bootcamp berakhir. Mayoritas dari murid, terutama kelompok C, mengharapkan mereka tidak perlu repot lagi dalam menghadapi satu lagi pelatihan. Segala keluh-kesah sudah terdengar nyaring dari mulut ke mulut, bahkan sebelum mereka berkumpul pada pagi buta. Udara lembut juga tidak mampu menenangkan hampir seluruh murid. Bahkan, belum ada keramaian di kota sama sekali waktu itu.
Baron memulai pengumuman itu setelah Speed menenangkan seluruh murid. “Kami punya satu tugas terakhir sebelum kita menyelesaikan bootcamp ini. Dan seperti Profesor Alexandria bilang, langsung saja pada intinya.
“Kalian punya 72 jam untuk menyelesaikan tugas ini, waktu yang cukup lama, bukan?”
72 jam. Bagi beberapa murid, durasi itu merupakan kesempatan emas untuk bersantai dalam menyelesaikan sebuah tugas, apalagi saat berada di luar akademi. Mereka tidak perlu merasakan tekanan lebih seperti saat berada di labirin Oslork.
Clancy menambah, “Sebenarnya tugasnya sangat sederhana. Kami ingin kalian mendapat sebuah barang. Sebuah barang penting dan berguna untuk job kalian masing-masing. Setelah kalian mendapat barang itu, tinggal tunjukkan pada profesor pengampu job kalian.”
Giliran Farrar untuk berbicara. “Ini adalah barang-barang yang harus kalian dapat.”
Kelima asisten profesor tersebut mulai mengeluarkan tangan dari punggung. Di tangan mereka, berbagai barang yang harus ditemukan seluruh murid tahun pertama berdasarkan job masing-masing ditunjukkan.
Dari setiap kata dan kalimat keluar dari mulut Farrar, apalagi melihat barang-barang itu, hampir setiap murid sampai membuka mulut lebar, sangat lebar menyadari sebuah hal sepele dapat menyelamatkan mereka dalam mengerjakan tugas itu. Seperti sebuah kilasan menusuk dari belakang tulang rusuk begitu dalam.
“Untuk swordsman, kalian harus mendapatkan sebuah sepatu. Sepatu yang dibuat khusus untuk swordsman. Modelnya seperti ini, setidaknya untuk tingkat seperti kalian sekarang.”
Sang asisten murid job swordsman menunjukkan sepatu hitam terbuat dari kain hitam. Bagian atas kaki mencapai paha, cukup tipis, dan memiliki cincin perunggu di badannya. Bagian bawah sepatu itu terbuat dari karet sangat tebal hingga mencapai sol.
Farrar melanjutkan, “Untuk archer, glove khusus seperti ini.”
Asisten murid job archer mengangkat glove itu tinggi-tinggi agar seluruh murid di barisan job archer dapat melihatnya. Terbuat dari campuran kain dan karet tebal, berwarna cokelat, dan menutupi dari telapak tangan hingga sikut.
Baron menambah, “Seperti yang kalian alami akhir-akhir ini, luka lecet sering kalian alami saat menembakkan panah. Glove ini bisa membantu kalian mengurangi luka lecet itu.”
“Selanjutnya, untuk job yang saya bimbing sendiri, monk. Kalian harus mendapat tas seperti ini.”
“Knight, kalian harus mendapatkan sebuah emblem. Emblem ini akan kalian pasang di bahu kiri. Bagi yang mengenakan emblem sebagai knight, kalian akan mendapat keuntungan lebih begitu lulus dari akademi.”
Emblem itu berukuran kurang lebih satu kepalan tangan. Bentuknya sebuah perisai berwarna perak. Di dalamnya, terdapat gambar dua buah pedang saling bersilangan dari dua arah. Simbol tersebut merepresentasikan job knight sebagai pelindung.
Alexandria mengambil alih penjelasan dari Farrar, “Untuk royal guard, biarkan saya yang menjelaskan, Farrar. Terima kasih.”
Seperti dugaan, beberapa suara bising dari kalangan murid tahun pertama terhenti. Kebanyakan percakapan berupa diskusi atau keluhan, baik secara nyaring atau hanya sekadar bisik-bisik.
Hal yang paling utama adalah sebuah penyesalan besar, sungguh besar. Mayoritas murid telah mengunjungi toko senjata untuk membeli senjata baru. Tidak ada satupun yang memikirkan untuk membeli salah satu barang untuk tugas itu. Sangat menyesal telah menghabiskan uang demi membeli senjata untuk memperkuat diri.
Kala Alexandria mengambil alih, mereka tidak ingin sekalipun sampai menganggu penjelasannya. Rasa takut mereka sungguh meningkat tajam dibandingkan saat mendengar penjelasan Baron dan Farrar.
“Murid-murid royal guard, kalian tidak perlu mendapatkan barang seperti job-job lain.”
Sorak-sorai dari murid ber-job royal guard membabi-buta, begitu pula reaksi dari murid ber-job lain.
“Ya! Akhirnya! Bebas!”
“Tidak adil!”
“Huh! Enak sekali jadi royal guard!”
“Siapa suruh kalian bicara!” bentak Alexandria menghentikan sahutan murid-murid. “Saya belum selesai. Kalian masih ada tugas yang harus kalian kerjakan agar semuanya adil. Para royal guard dari kerajaan Anagarde, harap kemari.”
Satu per satu royal guard, yakni kumpulan penjaga berhelm dan ber-armor baja warna perak porselen, mulai berdatangan dari jalan di belakang barisan para murid. Mereka pun mulai berbaris di belakang kelima profesor dan asisten.
“Kalian akan berlatih kembali, kali ini bersama mereka dan saya sendiri.”
Seluruh murid royal guard justru mengeluh, kebalikan dari sikap mereka sebelumnya. Lagi-lagi, mereka harus menghadapi profesor yang paling dibenci itu selama tiga hari menjelang berakhirnya bootcamp.
“Diam!” Alexandria sekali lagi membungkam seluruh murid royal guard. “Pada hari ketiga, saya harap kalian mendapat sebuah skill yang wajib dimiliki oleh seorang royal guard. Skill ini merupakan hal sakral ketika kalian mulai mengabdi pada kerajaan, melindungi raja, dan menjaga keamanan seluruh Anagarde. Saya yakin, tidak ada yang sia-sia dan semuanya diatur adil. Begitu saja.”
Selagi Alexandria menjelaskan, Zerowolf berbisik pada Yudai dari belakang, sama sekali tidak memedulikan tugas bagi job lain kecuali sesama archer, “Kudengar dari Riri, kamu berhasil menyelesaikan misi kelas A.”
“Ya, tapi—”
Zerowolf memukul dengkulnya sendiri, “Kenapa? Kenapa kamu selalu satu langkah di depanku! Kenapa Riri juga sempat-sempatnya mengajakmu menyelesaikan misi kelas A! Padahal harusnya itu aku! Aku yang seharusnya lebih depan darimu kalau itu terjadi!”
“Sebenarnya—”
Zerowolf mengacungkan telunjuk tepat pada dahi Yudai. “Aku akan mengambil misi kelas A! Seorang diri!”
“Ba-baik.” Yudai mengepalkan tangan kanannya. “Kalau itu tantanganmu, aku juga akan melakukannya.”
Entah mengapa, kelegaan bercampur kecemasan melanda bagi Yudai. Zerowolf belum tahu kalau ia sebenarnya tidak menerima upah dari misi kelas A karena keputusan Riri. Secara teknis, dirinya, Sans, Beatrice, Riri, dan Katherine, belum begitu mampu menjalankan misi tingkat sulit itu.
“Kita akan bersaing siapa yang akan mendapat banyak uang demi membeli glove khusus itu!”
“Satu hal lagi,” Baron mengumumkan, “kalian tidak diperbolehkan untuk mengambil misi kelas A.”
“HAH?!” jerit Yudai dan Zerowolf bersamaan, cukup nyaring hingga lagi-lagi memicu seluruh murid tahun pertama menoleh.
“Demi keselamatan kalian, sebagai murid tahun pertama, kalian sebenarnya belum siap untuk mengambil misi kelas A seorang diri. Kami bahkan tidak ingin satupun murid akademi celaka selama bootcamp berlangsung, apalagi terjadi hal yang tidak diinginkan.”
Pernyataan dari Baron justru bertolak belakang bagi murid-murid kelompok C. Mereka tidak lupa perlakuan Alexandria selama beberapa hari pertama bootcamp, sungguh menyiksa fisik dan batin. Beberapa dari mereka bahkan sampai kesakitan setelah mengikuti regime dari profesor yang paling dibenci itu.
“Mereka ini ….” Riri sampai menepuk keningnya merespon perilaku Yudai dan Zerowolf.
Yudai pun tidak kehabisan akal. “Begini saja. Kita masing-masing ambil misi kelas B, lalu kita bersaing.”
“Itu ide yang bagus.” Zerowolf menyeringai setuju, agak cekikikan.
“Kalau kalian ingin menyelesaikan misi kelas B demi cepat menyelesaikan tugas, kalian harus berkelompok sebanyak enam orang. Juga, kalian harus merekrut salah satu dari kami berempat sebagai pengawas.” Lagi-lagi Baron menambah aturan dari tugas itu.
Sekali lagi, Yudai dan Zerowolf kembali memanas, sangat panas otak mereka sebagai persiapan hingga seperti gosong mengeluarkan asap abu.
“A-apa katamu!” jerit Zerowolf tidak sopan.
“Tentu saja, semenjak misi kelas A dilarang, misi kelas B jadi godaan, bukan? Sebagai profesor kalian, kami belum berani membiarkan menjalankan misi kelas B sendirian. Apalagi, tidak seru kalau hanya kalian sendiri yang dapat menyelesaikan tugas ini dengan mudahnya.”
“AAAAAAH!!” Zerowolf sampai menghantam pipinya sendiri.
“Jangan khawatir, kalian masih boleh menjalankan misi kelas C, D, E sendirian. Kami yakin mayoritas dari kalian sudah pernah mengambil misi kelas C, maka tidak perlu ada pengawasan. Atau kalau mau, kalian masih boleh mengerjakannya secara berkelompok.”
Alexandria mempertegas sambil mengakhiri pertemuan itu, “Kalau tidak ada lagi protes. Tidak perlu membuang-buang waktu lagi. Tunjukkan kalian telah memakai barang yang harus kalian dapatkan pada hari terakhir bootcamp, pagi, Setelah itu, kita akan pulang saat senja.
“Murid-murid royal guard, silakan ikut saya dan royal guard kerajaan. Murid-murid yang lain, bubar!”