
Festival Melzronta telah mencapai puncak di kerajaan Anagarde setelah lima hari berturut-turut. Hari keenam, hari saat stage terakhir diadakan, klimaks dari tradisi Akademi Lorelei, diantisipasi oleh mayoritas murid.
Siang hari, sebuah kesempatan emas untuk mengajak taksiran masing-masing terbuka lebar. Jika ada murid perempuan yang menjadi idola karena kecantikan, murid laki-laki pun berlomba-lomba untuk mengajaknya terlebih dahulu dan begitu berharap.
Sans dan kelima teman dekatnya menjadi saksi salah satu kejadian tersebut, berbagai murid laki-laki berebut giliran untuk bertanya pada sang gadis. Suara nyaring pun meledak sebelum mereka melewati pintu keluar utama asrama.
“Ah, sial ternyata bukan sebuah kompetisi!” Yudai mengekspresikan ketidakpuasannya. “Padahal aku sudah bersemangat sekali!”
Tay mengomentari sikap Yudai, “Memang wajar semuanya sudah kelelahan.”
Beatrice mengutarakan keluhannya, “Aku pasti akan lebih kelelahan kalau lagi-lagi harus berlari. Setidaknya berdansa di pantai lebih baik.”.
Menoleh pada berbagai kelompok murid perempuan yang tengah berkumpul di sekitar taman halaman asrama, terutama saat menghampiri kelompok pertama di dekat aliran danau kecil, tatapan dingin dan membuang muka sambil menghentikan percakapan, itulah respon bagi keempat laki-laki dari kelompok enam sekawan itu.
Yudai memperhatikan Beatrice dan Sierra telah berdiri di antara mereka. Dua orang teman perempuan, sama sekali tidak terpikirkan sebelum mulai pencarian rekan dansa. Menatap Neu yang sama sekali melongo terhadap reaksi berbagai kelompok perempuan di sekitar taman juga memicu ingatannya.
Ia secara percaya diri mengungkapkan, “Neu, kamu takkan cocok dengan gadis manapun. Tapi kabar baiknya, kamu ini kan teman masa kecilnya Beatrice, jadi kalian akan cocok menjadi pasangan dansa malam ini.”
Beatrice dan Neu membeku sejenak, menghentikan langkah. Wajah keduanya pun memerah tidak dapat menahan malu ketika memikirkan dansa sebagai pasangan, apalagi jika menjadi kekasih.
Neu pun juga terpicu ingatan hampir menyatakan rasa sukanya saat kecil, terutama sebuah janji yang tak sempat berbalas. Ia sampai senyam-senyum sambil memalingkan wajah.
Tubuh Beatrice gemetaran ketika ia mulai serba salah. “A-anu … ti-tidak mungkin aku dan Neu menjadi pasangan. Ka-kami hanya sebatas teman.”
Neu menambah, “Be-benar sekali.”
“Menarik sekali.” Yudai mengangguk-angguk. “Kalau Beatrice dan Neu menjadi pasangan, berarti aku, Sans, dan Tay mungkin akan bersaing menjadi pasangan Sierra di pesta dansa nanti.”
Sans pun tercengang. “E-eh? Kenapa bawa-bawa aku juga?”
Sierra menyeringai kecil. “Fu fu, sebenarnya aku sudah diajak oleh orang lain.”
Sans, Beatrice, Yudai, dan Neu melongo sambil mundur satu langkah. Tay pun tidak begitu heran semenjak sering menyaksikan Sierra bergonta-ganti pakaian saat waktu jeda di akademi.
Wajar, Sierra sering sekali menonjolkan gaya berpakaian secara bebas jika tidak memakai seragam. Mayoritas murid tentu terpana menyaksikan kecantikan elegannya, mulai dari cara melangkah hingga berkomunikasi.
Bagi Sierra, ajakan seorang laki-laki juga dapat menjadi sebuah kedok agar menjauh dari kelima teman dekatnya untuk sementara waktu. Dengan begitu, tidak ada satu pun yang dapat tahu identitas sebenarnya dengan cepat.
“Oh ya. Kalian sudah memikirkan pakaian untuk nanti?”
“Pakaian?” Beatrice mengulang kata Sierra.
Yudai menjawab begitu semangat, “Aku pakai seragam saja, kemeja dan mantel tidak masalah kan?”
“Tidak bisa begitu. Kalian butuh pakaian formal untuk menghadirinya, dan setiap murid wajib menghadiri stage terakhir. Kalian, laki-laki, butuh membeli pakaian formal di sekitar kota. Beatrice … kamu bisa memakai salah satu gaunku.”
“Be-benarkah?” Mata Beatrice berbinar menonjolkan kesenangan.
Neu menghela napas. “Lagi-lagi kita harus boros untuk pesta dansa.”
Hal yang tidak diketahui mereka berenam adalah Katherine secara perlahan mengintai dari belakang. Pandangannya tertuju pada Yudai.
Ia berandai-andai dapat lancar berbicara dan penuh percaya diri seperti Yudai, ia pasti akan lebih berani untuk mengajak ke pesta dansa. Akan tetapi, ia bersitegang dengan dirinya sendiri, menyebabkannya ragu untuk kembali mengikuti langkah, takut akan ketahuan.
“Memata-matai ya?”
Katherine langsung menjerit dan menggetarkan tubuhnya. Respon kaget ketika sebuah suara meluncur tepat dari belakangnya. Bulu kuduknya menegang apalagi ketika mengetahui seseorang telah mengikuti Yudai dari belakang.
Katherine menoleh pada sumber suara itu dan menghela napas.
“Ah, aku belum sempat bertanya pada Sans, tapi melihatmu juga memata-matainya, kita jadi saingan,” Lana menyambut.
“A-a-anu … bu-bukan begitu,” Katherine ingin membela dirinya sendiri.
Ingin sekali Katherine merahasiakan bahwa ia menaksir Yudai agar tidak satupun tahu, apalagi Riri dan Lana. Menilai kepribadian masing-masing, ia dapat menyimpulkan bahwa ia dapat menjadi pasangan kurang cocok.
Kekagumannya terhadap sikap Yudai yang selalu optimis, ceria, bersemangat, dan dapat berkomunikasi tanpa keraguan memicu rasa berbunga-bunga. Sementara dirinya menilai sebagai gagap, pemalu, dan kurang berani.
“Kamu suka dengan Yudai kan?”
Katherine dan Lana menoleh ke kiri, sumber suara lain. Sandee menghampiri keduanya cukup tenang tanpa ekspresi.
“Ah, benar! Kebetulan aku bertemu Sandee di ruang utama,” Lana menjelaskan, “tentu dia—”
Kepala Katherine seakan seperti bom yang telah meledak. Wajahnya penuh merah tidak dapat menahan malu.
“Itu terlihat jelas dari reaksimu terhadap Yudai saat stage keempat kemarin.”
Jawaban Sandee menjadi pengingat bagi Katherine sebagai anggota kelompok Zerowolf saat sibuk melayani pembeli.
Katherine pun menoleh pada Yudai yang begitu gigih bekerja keras membuat adonan vyness caviar. Ia pun kagum dengan sikap pantang menyerah Yudai, meski sebagai kelompok pesaing tepat di hadapannya.
“I-itu—” Katherine tidak dapat berkata-kata lagi.
***
Gaun turquoise (toska atau biru pirus) menjadi pilihan Sierra untuk mendandani Beatrice. Lengan pendek dan rok mencapai lantai membuatnya seakan seperti seorang putri, terlebih lagi aksesories pita hijau di bagian pinggang menambah keeleganan penampilannya.
Beatrice memegang bagian atas rok dan mengayunkannya sambil memutar pinggang. Sama sekali tak terbayangkan baginya untuk memakai gaun seperti itu.
Mendadak, ingatan masa lalu pun terkilas. Selama hidupnya di kampung halaman, tidak pernah ia memakai gaun untuk sebuah pesta. Sering sekali ia melihat sang ibu berpenampilan elegan ketika akan pergi dari pesta, memakai gaun mahal terbuat dari bahan berkualitas tinggi dan juga berbagai aksesories.
Beatrice hanya berlatih untuk menjadi “penerus” keluarga bangsawan, mulai dari tata krama hingga melakukan pekerjaan perempuan dalam kelasnya secara ekonomi. Bahkan dansa pun bukan salah satu keahliannya semenjak ia kurang becus dalam belajar.
“Kamu cantik sekali.” Suara Sierra sontak membuyarkan lamunannya.
“Te-terima kasih telah meminjamkanku gaun seperti ini.” Beatrice masih tidak percaya ia berada di kamar Sierra hanya untuk meminjam gaun.
“Tidak, aku hanya tidak suka dengan gaun itu. Salah satu pemberian orangtuaku. Simpan saja, lebih cocok kalau kamu pakai.”
“Oh ya, Sandee mana?”
“Katanya mau sedang menunggu Katherine dan Lana. Kita juga tunggu Sans dan lainnya yuk di lounge room.”
***
Memang ini pertama kali bagi Sans dan Yudai mengenakan pakaian pesta, yaitu tuksedo, dan pita di bagian bawah leher atau dasi segitiga. Keduanya tercengang ketika menatap diri mereka masing-masing dan satu sama lain.
Sans mengenakan tuksedo dan celana abu-abu, dasi kuning, dan kemeja putih. Yudai mengenakan tuksedo merah, pita biru, kemeja putih dan celana hitam.
“Wow.”
Yudai menyeringai ketika menatap Sans, “Ya, sayang juga kita tidak berhasil mengajak gadis. Habisnya mereka langsung mengabaikan kita.”
“Yang penting kita bersenang-senang saja.”
“Kalau saja stage terakhir ini kompetisi, pasti akan lebih menyenangkan daripada berdansa.”
“Apa boleh buat kan? Ayo.”
Sans dan Yudai pun keluar dari kamar mereka begitu telah siap. Melewati lorong mengikuti mayoritas murid laki-laki lain sebelum menuruni tangga menuju lounge room.
Terlihat mayoritas murid telah menemui pasangan mereka di lounge room sebelum keluar dari gedung asrama. Hiruk-pikuk dan canda tawa mereka memenuhi suasana. Sans dan Yudai tentu sangat tegang meratapi mereka akan berangkat ke pantai tanpa pasangan masing-masing.
Mereka mendapati Katherine, Lana, dan Sandee tengah bercengkerama di dekat tangga menuju pintu keluar gedung asrama, seakan tidak memedulikan hiruk-pikuk murid lain yang telah berpakaian rapi.
Sandee pun mengangguk pada Katherine dan Lana ketika menatap Sans dan Yudai telah menuruni tangga dan memasuki lounge room.
“Kakak!” Lana berbalik dan mempercepat langkah menghampiri Sans.
Sans dan Yudai menghentikan langkah, cukup tertegun melihat Lana telah berpakaian gaun tulle merah jambu dari bahu hingga paha.
Lana menggoyangkan bahunya, menonjolkan bagian lengan gaun seakan seperti sayap peri.
“Wow.” Yudai sampai tidak bisa berkata-kata.
“Kamu siap kan untuk berdansa denganku, Kak?”
“Hah?” Sans terheran.
“Tentu saja, aku bertanya padamu, Kakak. Sekarang kamu tahu.”
Wajah Sans berpaling sejenak, tidak menyangka bahwa sang “adik” telah menjadi perempuan yang mengajaknya berdansa. Ingin sekali membuka mulut sudah tahu akan sebuah keputusan, Yudai menyenggol pinggangnya.
“Kesempatanmu.”
“Uh—” Berkat Yudai, Sans akhirnya menerima, “—ya, kita berdansa bersama nanti.”
“Bagus!” Lana pun tersenyum dan menggenggam tangan kiri Sans dan mulai menariknya ketika mulai melangkah cepat melewati tangga. “Ayo!”
“La-Lana, tunggu!” Sans pun panik mengikuti kecepatan Lana.
Menatap Yudai seorang diri menyaksikan Sans telah pergi bersama Lana, Sandee mengangguk pada Katherine.
Jantung Katherine berdegup kencang. Menyaksikan Yudai, ia memikirkan kata-kata untuk mengajak. Sayang sekali, ia berubah pikiran saat terakhir ketika menatap sekali lagi.
“Oh!” Yudai pun menoleh dan menyapa, “Sandee, Katherine, halo!”
“A-a-a—” Pipi Katherine kembali memerah saat Yudai menghampirinya.
“Eh?”
“—anu … ma-ma-maukah … ka-ka-kamu be-berdansa denganku?”
Yudai mengerti ajakan Katherine, memanfaatkan kesempatan ini, ia menjawab, “Tentu saja. Kebetulan aku tidak punya pasangan dansa.”
“E-e-eeeeh!” sahut Katherine perlahan saat pikirannya kembali meledak, memicu memerahnya pipi.
“Lagipula, hari ini kamu cantik,” Yudai memuji gaun kuning panjang Katherine.
“Te-terima kasih.”
Yudai mulai memasukkan tangan kanan pada lipatan tangan kiri Katherine pada pinggang. “Kalau begitu ayo.”
“Hei, lihat mereka!” Salah satu murid di lounge room memicu semuanya untuk menoleh pada tangga bagian kamar perempuan.
Beatrice dan Sierra telah menuruni anak tangga secara perlahan. Seluruh tatapan murid tertuju pada mereka, terutama Sierra yang telah menjadi populer karena selera fashion-nya.
Katherine berkomentar, “Si-Sierra cantik sekali. Be-Beatrice juga.”
Yudai mengangguk. “Benar sekali. Tapi kamu juga anggun.”
Tepat sekali, Neu dan Tay juga telah menuruni tangga dan menemui Sierra dan Beatrice.
Terlebih dahulu, Neu menghampiri Beatrice dan mulai berlutut padanya. Tay dan Sierra pun mulai heran, sangat heran, apalagi mengingat pernyataan tidak mungkin sebagai teman masa kecil dapat menjadi pasangan dansa.
Earth, yang berada di kerumunan dekat sofa, mengepalkan kedua tangan, apalagi ketika Beatrice sedikit terkikik menatapnya.
“Apa yang bisa laki-laki dekil itu lakukan demi masa depanmu?” gumam Earth.