Lorelei Chronicles

Lorelei Chronicles
Episode 167



Ruang interogasi, meja dan kursi yang telah lapuk, dinding abu-abu jika hanya ditambah penerangan berupa obor. Tidak banyak warna yang terpancar dalam ruangan itu. Ditambah lagi, ruangan itu kurang lebih berukuran 2x2 meter, tidak seperti di kebanyakan kamar asrama, apalagi kantor pribadi profesor.


Sangat sesak mengingat ruangan ini hampir tidak ada ventilasi. Sesaknya seperti saat Sans dan Duke terdesak telah duduk di hadapan Alexandria dan dua orang royal guard. Mereka sudah berada di dalam situasi benar-benar tidak menguntungkan, apalagi sudah melebihi gawat.


“Sans, maafkan saya,” bisik Duke penuh penyesalan.


“Profesor Duke.” Sans tidak bisa berkata apapun untuk membalas. Hal yang ia pikirkan adalah ia juga dituduh sebagai tersangka mata-mata Royal Table. Bukan hanya itu, identitasnya sebagai seorang alchemist telah terbongkar.


Alexandria menepukkan tangan pada meja, mendekatkan kepala pada kedua tersangka.


“Saya benar-benar serius saat saya berkata kalian ditangkap karena telah melanggar peraturan di akademi ini, menjadi alchemist. Apa saya benar?”


Sans dan Duke tidak menjawab sama sekali. Penegasan dari profesor yang paling dibenci dan ditakuti di akademi itu membuat mereka tidak ingin menjawab karena ketakutan menggerogoti tenggorokan.


Salah satu dari royal guard menaruh setidaknya tiga buah barang, yaitu gelas labu berisi cairan ramuan dan dua buah kantong berisi bahan.


“Saya menemukan barang-barang ini saat menyelidiki Anda, Duke. Saya telah mencurigai Anda, awalnya hanya sebagai mata-mata Royal Table. Saya melihat Anda keluar dari kamar dan menuju perpustakaan setiap malam. Sungguh aneh jika Anda juga memiliki kunci akses masuk perpustakaan. Begitu saya mengikuti Anda, ternyata saya menemukan sebuah ruang rahasia di sebelah lorong terlarang.


“Lalu waktu libur akhir semester, terjadi ledakan di ruangan Anda. Anda sebenarnya tidak sedang berlatih sihir ledakan, bukan? Anda sedang melakukan praktik alchemist secara diam-diam? Apa saya benar?”


Duke kembali menundukkan kepala. Malu, sangat malu, ia tidak menyangka Alexandria akan mengaitkannya dengan kejadian pada masa lalu, hampir tertangkap basah.


“Sungguh. Memalukan sekali.” Alexandria menggeleng. “Anda profesor di Akademi Lorelei! Seharusnya Anda sudah tahu kalau menjadi alchemist itu dilarang oleh akademi! Itu sudah tertulis di peraturannya! Anda seharusnya lebih malu daripada ini. Masih untuk saat Anda berhalangan hadir untuk mengajar sejarah kerajaan Anagarde, saya menggantikan posisi Anda. Saya yang mengajari tentang alchemist, apalagi larangannya!”


Alexandria mendobrak kembali meja itu.


“Sangat tidak bisa dipercaya!” Ia kemudian melirik pada Sans. “Lalu kamu … ya, kamu … kamu telah gagal dalam aptitude test, ketiga-tiganya, dan mantelmu sama sekali tidak berubah saat disuruh pakai. Saya mengerti, kamu tertekan karena omongan murid lain karena murid bermantel putih biasanya tidak akan bertahan lama di akademi ini setelah setahun, katanya pasti akan gagal dalam ujian akhir semester, keduanya.


“Setelah saya mengajarkan mengenai sejarah alchemist di kerajaan Anagarde, saya sudah pernah bilang, jangan pernah berani-berani pelajari alchemist. Kamu kan sudah saya beritahu kalau alchemist itu job yang ilegal. Saya juga sudah bilang saya tidak segan-segan akan mengeluarkanmu dari akademi!


“Saya bisa saja mengeluarkanmu dari akademi sekarang juga!”


Alexandria lagi-lagi memukul meja di hadapan Sans. Sans sampai menelan ludah dan mulai merasakan gejolak emosi. Ingin sekali meluapkan amarah dan air mata, sayang sekali, ia tidak bisa karena Alexandria adalah salah satu orang yang paling dihormati.


“Tapi … sayang sekali, saya tidak punya wewenang untuk melakukannya saat ini. Kalian berdua juga merupakan tersangka mata-mata Royal Table, tentu ada kaitannya dengan alchemist. Kebanyakan profesor sama sekali tidak ingin menerima kecurigaan saya bahwa alchemist ada kaitannya dengan Royal Table.


“Sekali lagi, saya camkan, alchemist merupakan job yang ilegal, job yang bisa membahayakan kita semua! Kalian bisa membahayakan reputasi akademi ini! Sudah reputasi akademi jatuh gara-gara muncul Royal Table, kalian justru memperparah keadaan. Menjadi alchemist? Apa itu?


“Baiklah. Kalian akan mengikuti sidang dalam dua hari. Pikirkanlah bagaimana pembelaan kalian. Kalau beruntung, kalian mungkin tidak akan dikeluarkan dari akademi ini. Untuk sekarang, kalian akan masuk penjara.”


Alexandria berbalik dan mendekati pintu, membiarkan royal guard melaju dan menghampiri kedua tersangka tersebut.


“Jujur saja ….” Duke membuka suara. “Saya paling tidak suka dengan orang yang langsung asal menyimpulkan. Saya bahkan tidak suka dengan bab alchemist di buku Sejarah Kerajaan Anagarde dan Akademi Lorelei, semuanya hanya membicarakan hal-hal buruk tentang alchemist. Tidak ada satupun hal yang mengindahkan mengapa alchemist itu penting untuk sejarah kerajaan Anagarde. Karena insiden itu? Insiden yang mencemar nama baik alchemist?”


Alexandria menggerutu pelan. Napasnya ia buang cepat, terpicu oleh perkataan Duke.


“Bawa mereka pergi,” Alexandria memberi perintah pada kedua royal guard.


Saat Alexandria mengangkat kaki dari ruang interogasi yang sesak itu, kedua royal guard menarik kedua tangan Sans dan Duke dari kursi dan memaksa mereka agar berjalan mengikuti mereka, lebih tepatnya menuju penjara kerajaan.


***


Esok harinya, kelas berjalan seperti biasa seakan tidak ada yang terjadi. Bagi Beatrice, Yudai, dan Tay, kehilangan tiga teman dekat mereka memang membuat situasi menjadi cukup berbeda. Tidak banyak yang dapat dijadikan teman mengobrol dan berdiskusi selama kelas berlangsung.


Cukup melegakan, Alexandria sedang berhalangan hadir dalam kelas filsafat kali ini. Maka, Clancy lah yang menjadi profesor pengampu pengganti. Meski beberapa murid berkomentar mereka lebih senang pelajaran tersebut diampu oleh Clancy, berbagai topik tentang penangkapan Sans dan Duke menjadi pembicaraan utama bagi kalangan murid.


Canggung, Beatrice, Yudai, dan Tay juga menjadi bahan omongan bagi seluruh murid di kelasnya karena berteman dengan Sans dan tidak melakukan apapun untuk menghentikannya. Omongan itu memicu kejengkelan di benak Yudai. Ia yakin Sans pasti selamat dari sidang.


Clancy menghela napas melihat murid-murid di hadapannya. “Tampaknya suasana kelas ini sangat muram. Kalian memikirkan mata-mata dari Royal Table dan penangkapan salah satu teman kalian, bukan? Bagaimana kalau begini, saya bubarkan kelas sekarang, tapi kalian harus menulis sebuah esai tentang kegelisahan kalian saat ini.”


Clancy mengambil berlembar-lembar kertas dari mejanya dan menyerahkannya pada satu per satu murid secara berurutan, dari baris depan ke belakang.


Saat kembali ke meja, ia mengumumkan, “Setelah kalian selesai, tinggalkan saja di meja dan kalian boleh pergi.”


Masing-masing murid mulai girang saat kelas itu berakhir lebih cepat dari seharusnya. Mereka buru-buru mengambil pena bulu dan mencelupkannya ke tinta.


“Sebelum kalian mulai—” Clancy lagi-lagi menginterupsi, “—saya punya pengumuman penting. Karena dalam dua minggu ke depan kalian akan mengikuti ujian akhir semester dan sudah cukup lama semenjak Festival Melzronta berakhir, mulai besok saya akan ampu kelas khusus untuk 15 kelompok yang berhasil mendapat 1000 vial waktu stage keempat. Pokoknya, semua tingkat disatukan.”


“Akhirnya,” gumam Yudai yang telah menantikan kelas tersebut. Akan tetapi, ia tidak bisa merasakan euforia itu sepenuhnya semenjak Sans telah ditangkap oleh Alexandria. Kegelisahan lebih mendominasi dirinya.


Ia bisa mengikuti kelas spesial itu bersama Beatrice, Zerowolf, Sandee, Katherine, Riri, Ruka, dan Lana sebagai anggota dari 15 kelompok tersebut. Akan terasa kurang baginya kalau tidak ada Sans.


Clancy mempersilakan semuanya untuk mulai menulis. Ditariknya pena bulu dari botol tinta, mereka mulai menggerakkannya pada kertas, membentuk huruf pertama hingga menjadi sebuah kalimat.


Tay lah yang pertama selesai menuliskan sebuah esai, hanya sepanjang empat baris. Dari melihatnya berdiri, semuanya sampai tertegun dan bertanya-tanya.


“Cepat sekali?”


“Paling hanya singkat.”


Tay menyerahkan lembar esainya pada Clancy dan berbalik begitu saja tanpa pamit. Ia pun mengangkat kaki dari kelas, memicu seluruh murid melirik.


Yudai dan Beatrice juga heran dengan Tay. Semenjak Neu menghilang, terungkapnya Sierra sebagai mata-mata Royal Table, dan Sans tertangkap, mereka tidak dapat menebak ekspresi wajahnya.


***


Begitu menuruni tangga dari gerbang masuk asrama, Beatrice dan Yudai tertegun menatap teman-teman mereka telah menunggu di lounge room, terutama dengan perapian masih menyala. Di antara teman-teman mereka, Tay sudah berdiri dari tempat duduk di hadapan perapian, menatap mereka berdua.


Zerowolf menyambut, kali ini muram, “Kalian datang juga.”


“Kita harus bicara tentang semua masalah ini,” lanjut Riri. “Maksudku ada empat masalah yang menumpuk.”


Beatrice dan Yudai pun menginjakkan kaki pada karpet merah di lounge room, menghampiri seluruh teman-temannya. Dapat mereka pandang mayoritas dari mereka menurunkan kepala, hanya menatap lantai berkarpet.


“Ini tentang Sans, kan?” Yudai memalingkan wajah. “Juga Sierra dan Neu?”


Ruka sedikit meludah. “Kalau sudah tahu, kenapa harus bertanya?”


Lana menganggapi, “Sungguh, Neu menghilang, Sierra berkhianat, lalu Sans, maksudku Kakak, ditangkap karena menjadi alchemist. Sungguh, ini terlalu banyak.”


Katherine sampai memasang wajah masam dan tidak mampu membendung air mata lagi. Seluruh masalah di antara teman-temannya sudah mencapai puncak sampai harus menangis sekeras-kerasnya.


“Katherine!” Sandee memperhatikan sebagian murid mulai berdatangan entah dari tangga dekat gerbang keluar gedung atau menuju kamar. “Jangan menangis. Semuanya justru melihat kita.”


“Tidak masalah,” bantah Tay, “justru bagus, semuanya bisa melihat bagaimana kita akan berdebat begini. Kita juga menjadi perbincangan utama murid-murid lain gara-gara Sans.”


“Tay!” tegur Beatrice. “Sans tidak bisa disalahkan!”


Riri menggeretakkan gigi sambil memalingkan wajah, tidak dapat membantah perkataan Tay. Baginya, kali ini Tay mengatakan hal yang sebenarnya dan sesuai kenyataan.


Zerowolf bangkit dari duduk dan memukul meja kayu di hadapannya. “Kita sudah kehilangan Neu! Kita juga sudah dikhianati Sierra! Sekarang kita juga harus kehilangan Sans karena dia memilih jalan terlarang yang seharusnya ia sudah tahu!”


Yudai ingin sekali membalas perkataan Tay dan Zerowolf. Kata-katanya seakan mengganjal di tenggorokannya, siap untuk keluar. Ia sama sekali tidak bisa, hanya diam tanpa kata.


“Pada akhirnya memang salahnya dia sudah mengambil jalan—” ujar Tay lagi.


“Cukup!” Yudai membentak, memicu lebih banyak perhatian lagi, apalagi Tay dan Zerowolf yang menoleh.


Semuanya terdiam melirik Yudai. Seluruh temannya juga tertegun menatap dirinya yang biasanya selalu girang dan penuh semangat kini bisa merasa jengkel. Katherine bahkan sampai lebih terhenti menyaksikannya.


Yudai sama sekali tidak peduli dengan seluruh perhatian yang ia dapat. Ia tahu ia harus membela Sans sebagai teman dekatnya, sebagai teman sekamarnya, dan juga sebagai rekannya dalam sebuah rahasia.


“Sans memang sudah bekerja sangat keras setelah gagal dalam aptitude test,” lanjutnya.


“Sepadan?” tantang Tay berdiri menghadapinya. “Bekerja sangat keras katamu? Bullshit!”


Beatrice langsung menengahi antara Yudai dan Tay, tidak ingin kembali terjadi perselisihan. Baru saja ia kembali ke akademi, ia sudah menjadi saksi berbagai masalah. Pertama, terungkapnya Sierra menjadi mata-mata dan pengkhianat. Kedua, Sans tertangkap. Ia tidak ingin masalah Sans menjadi pemicu perselisihan di antara temannya.


Yudai menggelengkan kepala. “Bullshit katamu? Kamu sendiri lihat bagaimana Sans bisa terus berjuang bersama kita semua—"


“Apa kamu tahu Sans belajar menjadi alchemist selama ini?” Tay mengutarakan pertanyaannya pada Yudai, tanpa menatapnya.


“Tay!” Sandee menegur.


Yudai terdiam sejenak, mundur satu langkah. Ini dia, satu pertanyaan yang tidak ingin ia dengar sama sekali. Tubuhnya seperti membeku, seakan otaknya mulai pecah berkeping-keping.


“Yu-Yudai?” Zerowolf ikut ternganga mendengar pertanyaan terlontar dari mulut Tay.


“Ya.” Yudai mengangkat kepalanya.


Beatrice sampai mundur, hampir mendekati perapian. Kenyataan yang selama ini ia bayangkan telah seperti kepingan kaca. Ia menggelengkan kepalanya, tidak percaya apakah Yudai berkata hal seperti itu.


Zerowolf “Kamu tahu? Selama ini kamu tahu teman sekamarmu sendiri telah melanggar peraturan? Lalu kamu tidak melakukan apapun untuk menghentikannya?”


Tay menyeringai. “Orang macam apa kamu, Alis Melengkung. Kamu cerdik, sangat cerdik. Kamu dan Sans telah lama sekali menyembunyikan hal ini dari ktia semua. Bahkan, si Topi Putih saja tidak tahu. Aku yakin Mata Empat juga tidak tahu!”


“Ya.” Yudai mengangguk. “Kamu benar. Aku dan Sans sudah menyembunyikan ini kalian lama, lama sekali.”


Ruka, lagi-lagi tanpa ekspresi, mengutarakan pertanyaannya, “Kenapa kamu sungguh terlalu sampai menyembunyikan semuanya?”


Yudai kembali melangkah satu kali sebelum menjawab. “Sebelum kami tiba di ibu kota, sebelum kami mendaftarkan diri di Akademi Lorelei, kami berangkat bersama dari benua Grindelr. Lalu, seorang mantan royal guard bernama Nacht memberinya Buku Dasar Alchemist. Saat Sans tidak lulus aptitude test, dia membaca Buku Dasar Alchemist. Lalu Profesor Duke memberitahunya dia memang punya potensi menjadi alchemist.”


Sandee merespons sambil berkacak pinggang. “Pantas saja Profesor Duke juga tertangkap.”


Zerowolf meragukan cerita Yudai. “Ada satu hal yang tidak kumengerti. Kenapa seorang mantan royal guard memberinya buku untuk belajar alchemist? Kalau dia royal guard, dia pasti sudah tahu alchemist adalah job terlarang.”


“Zerowolf.” Yudai menoleh. “Profesor Duke bilang pada Sans, menjadi alchemist adalah satu-satunya cara untuk menggapai tujuannya. Sans ingin sekali menggapai tujuannya. Ibunya sedang sakit parah. Satu-satunya obat untuk menyembuhkan ibunya hanya bisa didapat dengan menjadi alchemist.”


Semuanya kembali terdiam, menundukkan kepala, merenungi berapa kali Sans mengatakan tujuan sebenarnya untuk belajar di Akademi Lorelei. Mereka masih tidak dapat percaya, sangat tidak percaya.


Riri kembali menggeretakkan gigi, mendengus pelan.


Tay kembali membuka suara, “Menurutku, kalian telah berbohong pada kami semua. Sama seperti Sierra waktu itu. Kamu dan Sans sama bangsatnya seperti Sierra dan Royal Table.”


“Tay!” tegas Riri dan Lana bersamaan.


“Apa hanya aku yang menyembunyikan sebuah rahasia!” tegas Yudai, sampai melirik pada seluruh murid yang menyaksikan di sekitar lounge room atau tangga menuju kamar. “Ayo, semuanya pasti punya sebuah bullshit yang disembunyikan! Ayo katakan saja! Katakan saja!”


Seluruh murid di lounge room langsung meratapi diri masing-masing. Memang benar sebagian dari mereka memiliki sebuah rahasia. Sebagian mereka juga harus berbohong demi melindungi diri, demi melindungi reputasi masing-masing tanpa memikirkan konsekuensinya. Pasti ada sebuah kebohongan di balik masing-masing dari mereka.


“Tampaknya kamu dan Sans ingin selalu dapat yang kalian inginkan.” Tay mendengus meninggalkan lounge room menuju tangga.


Zerowolf juga mengikuti dan menyetujui. “Ya. Kalian berdua bisa dibilang pengkhianat, bukan hanya pengkhianat Akademi Lorelei, tetapi juga kerajaan Anagarde.”


“Memangnya apa kaitannya dengan kerajaan Anagarde!” bentak Yudai.


“Cukup!” tegas Riri.


Riri menganggukkan kepala kepada seluruh temannya agar meninggalkan lounge room. Katherine, Lana, Ruka, dan Sandee terlebih dahulu menuju tangga tanpa ragu membuang muka pada Yudai.


Riri menatap Yudai sejenak. Yudai dapat melihat kekecewaan tergambar dari air mukanya. Masam, bibir cenderung ke bawah, pipinya sedikit mengerut. Itu yang ia lihat dari wajah Riri.


Riri pun mengangkat kaki dari lounge room menuju tangga untuk kembali ke kamarnya.


Beatrice mendekati Yudai. Sungkan, sangat sungkan sampai memalingkan wajah sejenak. Melihat situasi Yudai mulai dijauhi seluruh temannya, Beatrice juga mengangkat kaki dari ruangan itu. Alih-alih ke tangga menuju kamar, ia memilih tangga menuju selasar akademi, keluar dari gedung asrama.


***


Dinding dan lantai batu-bata berwarna hitam seperti memancarkan perunggu merupakan ruang di balik jeruji besi. Hanya ada satu tempat tidur menghadap jeruji besi beserta kain tipis di lantai. Sebuah ember juga berada di sudut kiri dekat jeruji besi. Karena minimnya udara segar dari luar, rasa sesak dan panas memicu keringat keluar dari peluh.


Sans meratapi nasibnya saat ia tengah duduk di tempat tidur yang seperti batu. Ia mendesah merenungi masa lalunya. Ia telah membuat kesalahan besar, kesalahan yang telah menjadi sebuah nasib dan sesuai tujuan utamanya.


Duke yang hanya duduk di atas kain dan tengah bertelanjang dada mengangkat kepala pada Sans. “Maafkan saya, Sans. Saya benar-benar minta maaf.”


Sans menggeleng. “Mengapa? Mengapa Anda terus meminta maaf, Profesor?”


“Saya tidak pernah berpikir kita berdua akan tertangkap menjadi alchemist. Saya tahu masa depan saya dipertaruhkan begitu saya menjadi profesor di akademi ini. Sungguh, saya juga tahu masa depan kamu akan terancam seperti ini. Tapi semuanya karena kecerobohan saya. Saya … benar-benar ceroboh.”


“Profesor Alexandria.” Sans kembali mendesah. “Saya memang seharusnya mendengarkan beliau. Saya seharusnya … tidak memilih jalan ini. Saya tahu saya akan dikeluarkan pada akhir semester ini jika mendengar Profesor Alexandria. Saya … tidak tahu jalan mana yang benar.”


“Sans.” Duke membujuknya dari kejauhan. “Kamu telah melakukan hal yang benar. Tujuanmu untuk menyembuhkan ibumu yang sakit parah, penyakit lumpuh dan sampai tidak bisa mengingat dirimu. Hanya menjadi alchemist satu-satunya cara untuk membuat obat itu.”


Air mata mulai menetes menuju pipi Sans. “Teman-teman sudah tahu semuanya. Semuanya, seluruh murid Akademi Lorelei, seluruh profesor Akademi Lorelei, mereka sudah tahu kalau kita telah mempelajari alchemist. Sungguh, mereka pasti membenci saya. Mereka pasti membenci saya telah membohongi mereka. Anda dan Yudai … menjadi satu-satunya yang tahu aku belajar alchemist dari Anda.


“Jujur, aku tidak ingin dikeluarkan dari akademi ini. Aku juga tidak ingin kehilangan teman-temanku. Tanpa mereka … aku … aku tidak akan menjadi lebih kuat. Tanpa mereka aku tidak akan menjadi seperti sekarang. Tanpa mereka aku juga tidak akan lulus ujian akhir semester pertama. I-ini terlalu … terlalu—”


Sans akhirnya meledakkan tangisannya. Ia mendekatkan kepala pada lutut, seperti menyembunyikan muka sedihnya dari Duke. Ia tahu berkali-kali, menunjukkan emosi merupakan hal terlemah yang mungkin ia lakukan.


“Sans. Apapun yang terjadi, saya akan berada di sampingmu. Kamu masih bisa saya dampingi. Belajar alchemist sampai kamu bisa membuat obat untuk ibumu. Saya berjanji padamu, mau kamu dikeluarkan atau tidak, saya akan berada di sampingmu.”


Sans hanya bisa menghadapi sidang pada esok hari. Ia harus memberi pembelaan di hadapan beberapa staf akademi dan juga pihak kerajaan. Mengetahui Alexandria menjadi salah satu yang akan menentukan nasibnya, ia sudah takut terlebih dahulu memikirkan bagaimana pembelaannya.


Ia tertekan, sangat tertekan. Nasibnya akan ditentukan. Dua dari akibat dari sidang itu, baik ia dikeluarkan atau tidak, tidak akan berakhir baik sama sekali.