
Hanya seorang diri di kantin saat tengah hari, Beatrice hanya menggoyangkan sendok pada semangkuk sup lengkap dengan roti kering. Baru saja ia selamat dari masalah pernikahan paksa dengan Earth, ia baru menghadapi masalah baru.
Ia memelamunkan saat Alexandria dan royal guard suruhannya menangkap Sans dan Duke karena diduga melakukan praktik alchemist dan menjadi mata-mata Royal Table. Sama seperti saat mendapati Sierra sebagai mata-mata Royal Table, ia masih menyangkal peristiwa itu.
Ia telah berpikir selama ini Sans memang sudah bekerja keras, sering sekali berlatih, sering sekali berjuang dalam misi. Ia tidak menyangka “kelas khusus” untuk Sans yang diadakan oleh Duke adalah kelas untuk mempelajari alchemist.
Fokusnya beralih pada semangkuk sup. Masih utuh, hanya tercemar oleh adukan sendok. Ia mengibaratkan gelembung akibat dari adukan sendok pada sup itu sebagai bekas perselisihan seluruh temannya waktu di lounge room. Terbayang kembali ketika Yudai, Tay, dan Zerowolf saling menjerit dan menjadi dominan dalam argumen. Ia masih tidak percaya dua buah masalah yang telah mereka alami bersama benar-benar memecah-belah semuanya.
Ia menoleh apalagi saat mendengar murid-murid lain berkeliaran di kantin. Sering sekali ia menyaksikan mereka mulai menunjuk-nunjuk dirinya sambil sekadar menggosip, mengingat dirinya dan Yudai merupakan teman terdekat Sans.
Ia yang seharusnya menjadi lebih terhormat tingkatannya karena menjadi song mage seperti tercemar kredibilitasnya. Berteman dengan seorang alchemist mungkin merupakan ide yang buruk.
Terlebih lagi, beberapa dari murid masih membicarakan dirinya sebagai korban penculikan keluarganya sendiri dan Earth. Kebanyakan murid laki-laki yang berpapasan membuang muka, bahkan ada yang berkata dia memang pantas diculik karena berteman dengan Sans.
Mendesah, hal yang hanya bisa lakukan sambil menatap semangkuk supnya yang mulai dingin. Pandangannya kini terfokus pada putaran sendoknya pada sup tersebut.
“Beatrice.”
Menoleh kembali ke depan, mengangkat kepala, seorang royal guard telah duduk di hadapannya. Ia tertegun hingga menepuk dadanya sebanyak tiga kali. Ia bernapas lega mendapati royal guard tersebut adalah Tatro.
“Kau mengagetkanku,” tanggap Beatrice sopan.
“Pertama, aku turut prihatin mendengar kabar Sans masuk penjara,” sapa Tatro merendahkan nadanya, “kulihat dia adalah temanmu yang berharga, begitu juga dengan teman-temanmu.”
Beatrice mengalihkan perhatiannya pada murid-murid yang meliriknya sinis, terutama murid perempuan. Iri dengki menatap dirinya duduk di hadapan seorang royal guard bertubuh tegap di balik zirah perak dan berambut cokelat muda tegak ke atas. Lagi-lagi ia menjadi pusat perhatian.
“Hei. Tidak apa-apa. Jangan hiraukan mereka.”
Beatrice kembali fokus pada Tatro dan kembali mendesah. “Profesor Alexandria menuduh Sans sebagai mata-mata Royal Table, beliau juga … menuduhnya sebagai seorang alchemist.”
“Sial. Profesor Alexandria.” Tatro tidak kaget mendengar nama itu. “Sudah kuduga Profesor Alexandria selalu mengincar murid yang menjadi alchemist, terutama murid bermantel putih.”
“A-aku—”
“Benar.” Tatro mengangguk. “Jujur saja, kulihat Sans bertarung dengan sungguh-sungguh saat melawan Irons waktu di kapal, waktu kita semua berselisih. Aku dan royal guard lainnya sampai tidak percaya, sangat tidak percaya. Stereotipe murid bermantel putih akan dikeluarkan setelah dua semester, entah karena performa buruk atau menjadi alchemist, masih saja kuat.
“Profesor Alexandria. Pantas saja dia selalu mengisi pelajaran sejarah saat membahas alchemist.”
“B-bagaimana Sans sekarang? A-apa dia akan dikeluarkan?” Meski ragu, Beatrice mengutarakan pertanyaan itu.
“Aku belum tahu. Besok dia akan disidang. Tapi mengingat mayoritas murid yang dituduh menjadi alchemist, kemungkinan besar … Sans akan dikeluarkan dari akademi ini.”
Beatrice sudah menduga jawaban dari Tatro tentang kemungkinan itu. Hatinya belum siap untuk kehilangan satu lagi teman dekatnya, terlebih lagi, ia belum tahu bagaimana kemungkinan Sans sebagai mata-mata Royal Table.
“Beatrice, maafkan aku jika aku bertanya tentang hal ini,” Tatro mengungkapkan, “Kamu harus bersaksi dalam sidang Earth.”
***
Yudai menutup pintu kamarnya, menghela napas sehabis mendengar omongan seluruh murid akademi baik di lounge room dan saat melewati tangga. Ia sudah muak dengan segala masalah yang telah menjadi besar. Tay dan Zerowolf menuduhnya sebagai seorang pembohong, pembohong besar. Padahal ia hanya menjaga rahasia.
Ia kembali mendesah sambil menghampiri meja belajar milik Sans, mengambil sebuah kantong di bawahnya. Ia membuka kantong tersebut dan mengambil Buku Dasar Alchemist dan sebuah botol labu berisi cairan hijau.
Memfokuskan pandangan pada dua barang di genggamannya itu, timbullah berbagai kilas balik. Kilas balik itu dimulai saat Sans mendapat Buku Dasar Alchemist dari Nacht. Waktu itu mereka belum tahu apa maksud dari Nacht memberikan buku itu beserta sisa ramuan.
Ia juga teringat pada saat Sans gagal dalam aptitude test. Ia merasa ia yang mendorong teman dekatnya untuk menjadi seorang alchemist, menganggapnya sebagai job alternatif. Lalu … mereka bertemu Duke, seorang profesor pengampu pelajaran sejarah yang juga seorang alchemist. Mereka bertiga telah berjanji akan menyimpan rahasia demi meminimalisasi risiko.
Semuanya sudah hancur, benar-benar hancur. Yudai merasa bersalah telah memicu masalah lebih rumit lagi. Ia telah mengungkapkan rahasia itu pada seluruh murid Akademi Lorelei, terdesak setelah Alexandria mengangkap Duke dan Sans, juga karena konfrontasi Tay.
Ia menaruh kedua barang itu di meja belajar tersebut. Masih saja merenungi apa yang terjadi selanjutnya. Seluruh teman satu timnya telah berbalik menjauhinya, terutama rival bebuyutannya sendiri, Zerowolf. Bahkan Beatrice, yang selama ini menjadi teman pertama mereka dan juga paling dekat, juga menjauhinya.
Hal yang dapat ia lakukan saat itu hanya berharap agar Sans dapat lolos dari hukuman dan kecurigaan sebagai mata-mata Royal Table. Ia sudah yakin Sans tidak mungkin menjadi seorang pengkhianat, Sans sama sekali tidak bersalah, tidak seperti Sierra. Ia ingin Sans tetap tinggal di Akademi Lorelei, tidak bernasib sama seperti murid-murid bermantel putih kebanyakan.
Menatap kembali sampul Buku Dasar Alchemist memicunya membayangkan lorong terlarang di perpustakaan. Tempat yang menjadi saksi terbentuk dan terbongkarnya rahasia mereka. Juga, ia selama ini belum menemukan materi apa yang ia cari, rahasia besar kerajaan Anagarde dan Akademi Lorelei. Rahasia itu telah menjadi incaran Royal Table semenjak ia mendengarnya menjelang hari terakhir bootcamp di Silvarion. Sayang sekali, ia tidak menemukan rahasia itu sama sekali.
Ia terus bertanya-tanya dalam hati bagaimana bisa Sierra mendapat rahasia itu. Insiden alchemist, ia menyimpulkan ada kaitannya, juga sebuah pembunuhan alchemist di tanah yang saat ini menjadi sebuah penginapan mewah.
Ia membuka Buku Dasar Alchemist, berharap bisa mendapat jawaban sebenarnya meski peluangnya kecil.
***
Ruang sidang kerajaan itu seperti sebuah panggung di bagian tengah dan dikelilingi oleh deretan kursi juri dan tamu istimewa dari kerajaan. Di antara deretan kursi juri dan kursi tamu, terdapat meja hakim yang tinggi.
Beatrice telah duduk di sebuah kursi merah emas di hadapan sang hakim, dengan Tatro berada di sampingnya sebagai penjagaan. Ia seperti sedang diinterogasi di hadapan seluruh hadirin sidang, dan juga Earth yang tengah duduk menunggu di tempat duduk bagian belakangnya, kosong melompong. Hanya dua orang royal guard yang berdiri di antara murid knight itu.
“Beatrice,” Sang hakim mulai bertanya, “Saat Anda berada di Silvatrion, apakah keluargamu tiba-tiba menemukanmu secara kebetulan?”
Beatrice hanya membisu mendengar pertanyaan itu, apalagi saat melirik pada Earth. Keraguannya sampai mencapai ubun-ubun untuk bersaksi. Perintah Tatro untuk bersaksi untuk menentukan nasib Earth membuatnya kewalahan, terlebih lagi ia harus mengatakannya pada publik.
Pihak juri dan kerajaan mulai berdiskusi dalam bentuk bisikan. Tatro memperhatikan hal ini dan juga melirik Beatrice. Ia menelan ludah menyaksikan Beatrice masih menutup mulut.
Sang hakim mengajukan pertanyaan sekali lagi, “Apa benar Anda sampai disandera oleh keluargamu sendiri? Apa benar Anda sampai dipaksa menikah dengan Earth?”
Masih saja bungkam. Tatro sampai berbisik, “Apa yang kamu lakukan, Beatrice. Kalau begini terus, Earth bisa bebas.”
“Um. Apa benar—”
Beatrice membuka suara, “Yang Mulia Hakim, hadirin juri dan pihak kerajaan. Saya ingin bercerita dari awal bagaimana mimpi saya hampir hancur.”
Tatro akhirnya meniupkan napas, lega karena Beatrice sudah ingin bersaksi.
“Sejak saya kecil, saya memiliki mimpi. Saya ingin pergi melihat dunia luar. Tapi orangtua saya sudah membunuh mimpi saya sebelum saya menjadi dewasa. Saya dipaksa menjadi seperti wanita bangsawan kebanyakan, saya dipaksa melakukan ini-itu, sesuatu yang saya tidak menikmatinya.
“Lalu … saya dipertemukan dengan Earth. Saya dijodohkan. Saya seperti dipaksa untuk menikahinya kelak. Bisa dibilang bukan seperti, tapi benar-benar. Kemudian … ayah saya memutuskan untuk membiarkan saya keluar dari dunia bangsawan. Saya sangat senang. Saya masuk Akademi Lorelei, bertemu teman-teman, tanpa memedulikan status, tanpa memedulikan kelas, tanpa memedulikan kekayaan. Saya benar-benar lebih nyaman berada di akademi daripada di rumah.
“Lalu, menjelang hari terakhir bootcamp. Ibuku datang. Beliau … menghampiri saya dan berkata ayahku sudah sadar. Saya putuskan untuk kembali ke Beltopia untuk menjenguk Ayah. Tapi … saya malah ditarik paksa oleh pelayan keluarga saya sendiri untuk masuk ke kereta kencana.
“Setelah itu, saya … dikurung di kamar saya sendiri. Saya yakin … saya pernah mencuri dengar percakapan ibu saya dan Earth. Earth … bilang … dia berterima kasih pada ibu saya. Dia bilang dia ingin menikahi saya secepatnya.”
Earth langsung berdiri geram. Tidak ingin tinggal diam membantah. Akan tetapi, kedua royal guard di sampingnya justru menahannya.
“Saya mendengar dengan telinga saya sendiri. Dia bilang dia melakukannya karena mencintai saya, tapi … saya tidak percaya dengan cinta yang seperti itu. Saya tidak ingin menikah dengannya. Saya masih ingin menggapai impian saya, menyelesaikan studi di akademi dan melanjutkan melihat dunia luar.”
Sang hakim mendesah selesai mendengar cerita dari Beatrice. Ia mengamati gerak-gerik Beatrice sangat minim, mata juga sayu. Ia melirik pada juri dan tamu dari kerajaan.
“Siapapun yang mengatakan terdakwa bersalah, angkat tangan.”
Satu per satu mayoritas dari juri dan tamu mulai mengangkat tangan. Melihat hal tersebut, Tatro juga ikut mengangkat tangan semenjak ia menganggap dirinya sebagai seorang saksi.
“Dengan ini, Earth, kamu divonis dikeluarkan dari Akademi Lorelei dan juga akan menetap di penjara selama 10 tahun.”
Dua orang royal guard mulai menggiring Earth dari tempat duduknya. Mereka pun berpapasan dengan Beatrice dan Tatro.
Earth menghentikan langkahnya, memicu kedua royal guard di sampingnya juga berhenti. Ia melirik pada Beatrice, murka, geretakkan giginya juga jadi runyam.
“Sepertinya kamu juga bersalah,” sindir Earth.
“A-apa?”
“INI SEMUA SALAHMU, *****!!” Earth menjerit sampai-sampai memicu kedua royal guard di antara dirinya menarik lengan bagian atas. “Ini salahmu sudah menolak kehidupan idamanmu sendiri! Aku bisa saja membantumu meraihnya!”
“Ti-tidak.” Beatrice memalingkan wajahnya.
“Aku mencintaimu!! Aku mencintaimu!!” Earth meronta-ronta selagi kedua royal guard itu menggiringnya keluar dari ruang sidang. “Kita bisa meneruskan tradisi!” Suaranya sampai menggema saat mengangkat kaki.
Beatrice kembali membuang napas. Meski lega semuanya sudah berakhir, rasa bersalah menusuk dari belakang karena ia sudah memicu hukuman Earth. Earth tidak akan menganggunya lagi, tapi ia juga terpikir bagaimana teman-teman dan penggemar Earth bereaksi atas tindakan dirinya. Ia pasti akan mendapat perundungan, pengucilan, dan ujaran kebencian.
Tatro menepuk pundaknya. “Kamu telah melakukan hal yang benar.”
Beatrice mengalihkan rasa bersalahnya dengan melirik pada Tatro.
“Dia sudah terlibat menculikmu, dia juga yang memaksa untuk menjadi suamimu kelak. Tindakan memang lebih lantang daripada hanya ucapan belaka. Mendengar pengakuanmu, kamu berhasil membuat juri dan kerajaan percaya padamu.”
“Tatro …,” gumam Beatrice, “te-terima kasih.”
Selesai menghadapi masalah dirinya dengan Earth, hanya tinggal masalah lain. Royal Table, keberadaan Neu, dan juga Sans menjadi tersangka. Ia dapat membayangkan Sans juga akan berada di ruangan yang sama, diadili karena telah menjadi alchemist dan juga mata-mata Royal Table.
Ia sudah tidak tahu lagi menghadapi masalah itu, terlebih, seluruh temannya sudah seperti terpecah belah karena masalah itu, dari Sierra terungkap sebagai mata-mata.
“Sierra. Sans.”