Lorelei Chronicles

Lorelei Chronicles
Episode 69



Sans dan Yudai terenyak menyaksikan kilatan halilintar Hunt menyelimuti Beatrice dan Neu. Tidak hanya itu, irama nyanyian Danson dan alunan irama dari song sphere-nya berubah drastis, dari melankolis menjadi kasar dan gelap.


Di depan mata, Beatrice dan Neu roboh akibat kedua serangan tersebut, sama sekali tidak berkutik. Sans menghela napas menyaksikan kedua temannya itu tidak mampu menahan serangan tersebut.


“Ti-tidak mungkin,” ucap Yudai, “lagu macam apa itu? Entakkan iramanya benar-benar seperti menghancurkan, ditambah lagi serangan Profesor Hunt.”


“Beatrice, Neu.” Sans berharap keduanya masih memiliki kekuatan untuk kembali bangkit.


Tay berkomentar, “Si mata empat itu. Ternyata tidak bisa menahan kekuatan hebat kedua profesor itu. Sebaiknya mereka cepat bangkit atau tidak mereka tidak akan lulus. Kekuatan itu benar-benar hebat.”


Yudai menjerit sekeras-kerasnya, tidak peduli akan menimbulkan perhatian murid lain yang tengah menonton berbagai duel, “Beatrice! Neu! Berjuanglah! Bangkitlah!!”


“Yu-Yudai?” Sans melongo menyaksikannya meski beberapa murid melirik. Dia pun mengangguk dan menatap Beatrice dan Neu dan ikut menjerit. “Jangan menyerah! Kalian pasti bisa bangkit!”


Tay hanya menggelengkan kepala menatap tingkah kedua teman di dekatnya. “Dasar, kalian ini.”


Danson berbicara pada Hunt sambil memperhatikan Beatrice dan Neu sama sekali belum bangkit kembali, “Hunt, kita sudahi saja duel ini?”


“Ma-masih belum!”


Hunt dan Danson menoleh pada Neu, sama sekali tidak menyangka.


Neu mendorong tenaga pada tangan kanannya. Perlahan dia mengangkat tubuh dari lantai. Jari kakinya berjinjit berkat dorongan tenaga untuk kembali bangkit.


Hunt menyeringai, puas melihat Neu bangkit kembali.


“Ka-kami belum menyatakan menyerah sama se-sekali.”


Beatrice masih tetap menutup mata, rasa sakit pada tubuhnya mendominasi konsentrasi. Setiap kali ingin menggerakkan tangan dan kaki, terpicu hal seperti tusukan dalam tubuhnya.


“Bea-Beatrice.”


Neu mendorong tangan kirinya menghadap Beatrice. Dia juga membaca sebuah mantra dan mengambil tongkat sihir perlahan menggunakan tangan kanan.


“Akh ca apelle kah, pyro nhelv, fur eht obm.” Neu mendekatkan tongkatnya pada dada.


Tongkat sihirnya meluncurkan bara api berwarna putih, menyelimuti dirinya  Api putih tersebut juga menyebar melalui tangan kirinya menuju Beatrice.


Api putih itu bersinar hingga seperti meledak, membunuh beberapa titik cedera dan menghilangkan rasa sakit di antaranya. Rasa sakit pun sedikit memulih, membuat keduanya lebih leluasa untuk bergerak.


“I-itu … sihir support? Dia kan mage tipe attacker?” Danson heran menatap Neu menggunakan mantra untuk menyembuhkan itu.


Hunt melebarkan senyumannya. “Justru bagus, sangat jarang mage tipe attacker ingin belajar mantra tipe support atau defender, dibandingkan dengan tipe kebalikannya. Mage tipe support dan defender harus bersusah payah belajar sendiri mantra tipe attacker karena perbedaan tipe, meski begitu, jumlah mereka yang ingin belajar mantra tipe attacker cukup banyak.”


Beatrice perlahan bangkit meski rasa sakit masih menjalar, tetapi tidak secara signifikan menganggunya ketika mengambil kembali song sphere.


Neu mengedepankan tongkat sihirnya dan mengarahkan pada Hunt terlebih dahulu, mengambil posisi untuk menyerang.


“Danson, bernyanyilah Miracle Refrain. Anda sudah cukup menguji mereka saat berada dalam kesulitan dengan lagu entakkan kasarmu.”


Danson sempat ingin melayangkan protes, “Ta-tapi—”


“Saya ingin melihat mereka bertarung dalam menit terakhir duel ini.”


“Ba-baik, kalau itu mau Anda.”


Neu berbicara pada Beatrice, “Kamu baik-baik saja?”


Beatrice hanya mengangguk dan menggenggam erat song sphere-nya.


Ketika berbalik sejenak, dapat terlihat wajah Beatrice memerah dan sedikit mengerut. Mulutnya juga datar dan giginya sedikit tergetak. Dari situlah Neu tahu bahwa temannya itu belum begitu baik kondisinya meski telah diberikan sihir white flame.


“Sebaiknya jangan paksakan dirimu, Beatrice. Kamu—”


“Aku tidak bisa berdiri menyaksikanmu bertarung seorang diri.” Beatrice menggenggam erat song sphere-nya. “Aku baik-baik saja.”


“Profesor Hunt dan Profesor Danson sangat kuat. Akan berbahaya jika Profesor Danson bernyanyi lagu berirama kasar sekali lagi, maksudku, kita berdua bisa terkena. Aku—”


“—akan membiarkanku menambah kekuatanku! Semampuku!”


“Eh?” Neu terenyak.


“Jangan khawatir tentang aku, Neu. Ingat, aku lulus dua bagian aptitude test, aku menjadi seperti sekarang. Secara teknis, aku lebih dapat dimanfaatkan untuk membantu kalian, teman-temanku.”


“Beatrice.”


Hunt mulai mengayunkan tongkatnya terlebih dahulu. “Kita lanjutkan sampai detik terakhir duel ini! Danson, nyanyikanlah lagu itu!”


“Mohon bantuannya.” Neu mengangguk pada Beatrice ketika meniru gerakan Hunt di hadapannya.


“Miracle Refrain,” ucap Beatrice dan Danson hampir secara bersamaan pada song sphere masing-masing.


Sans dan Yudai berdecak kagum menyaksikan Beatrice telah berhasil membuktikan bahwa dirinya tidak lemah atau sekadar sebagai pembantu. Kelegaan telah menimpa benak mereka menyaksikan duel kembali berlanjut.


Nyanyian kedua song mage itu telah dimulai, menambah kekuatan sihir pada masing-masing rekannya.


Kilatan halilintar langsung menyerbu Neu dan Beatrice. Menyadari bahwa kilatan tersebut mulai menyilau pandangan, mereka menyingkir. Akan tetapi, sedikit terlambat, lengan hingga bahu mereka justru menjadi korban sambaran.


Beatrice sempat terhenti dan sumbang nyamyiannya mendapati bahu kanan terkena sambaran sihir halilintar Hunt. Meski rasa menusuk tersebut bertambah pada tubuhnya, dia tetap mengerahkan semua tenaga dalam bernyanyi dan memberi kekuatan pada Neu.


Neu mengepalkan tangan kiri demi menyeimbangkan diri sehabis sedikit terkena halilintar. Terengah-engah menatap Hunt masih kuat menghadapi dirinya dan Beatrice, dia mengangkat tongkatnya.


“Transformate eht pyro combi shattorv inbladari!”


“WAKTU HABIS!” Dolce mengumumkan, menghentikan semua duel yang sedang berlangsung.


“E-eh?” ucap Neu dan Beatrice bersamaan, tidak terasa bahwa waktu duel mereka telah berakhir.


“Ki-kita berhasil bertahan?” ucap Neu.


“A-akhirnya.” Beatrice menutup mata, kehilangan kendali atas tubuhnya hingga terjatuh ke lantai ring.


Suara benturan antara Beatrice dan lantai ring memicu Neu menoleh, mendapati rekannya telah jatuh tidak sadarkan diri tepat setelah duel berakhir.


“Be-Beatrice!” jerit Neu langsung berbalik dan berlutut mendekati Beatrice.


“Beatrice!” jerit Sans dan Yudai bersamaan mendekati ring tersebut.


Menempatkan lutut hingga kakinya pada bagian lantai, Neu mengangkat perlahan kepala Beatrice. Danson dan Hunt juga bergegas menemui mereka.


Hunt berkomentar, “Dia telah bertarung dengan sekuat tenaga.”


Satu per satu priest mulai mempercepat langkah menuju setiap ring begitu semua duel telah berakhir. Dengan pengawasan profesor pengampu mereka, mereka memastikan dapat menemui setiap murid atau profesor yang terluka dan menyembuhkan tepat waktu.


Sierra pun beruntung ketika ring Neu dan Beatrice belum dikunjungi oleh sesama murid priest. Dia menapaki lantai ring tersebut segera berlutut mendekati Beatrice.


Sans dan Yudai secara refleks juga ikut menaiki ring tersebut untuk melihat lebih dekat kondisi Beatrice.


“Beatrice!” ucap Sans dan Yudai secara bersamaan.


Sierra menyentuh perut Beatrice sambil membacakan mantra. “Refra eht bruzzar, hela morf eht weib siqlo!”


Kedua tangan Sierra mengeluarkan cahaya putih. Jangkauan cahaya putih tersebut terpancar menuju seluruh badan Beatrice. Goresan dari serangan ketika duel pun mulai tersamarkan berkat cahaya pada tangannya.


Sierra mengangkat tangan ketika tidak ada lagi luka dan goresan yang tampak pada kulit Beatrice. “Dia masih belum sadar, tapi sekarang dia sudah baik-baik saja. Biarkan dia beristirahat terlebih dahulu.”


Alexandria mengumumkan, “Seluruh peserta duel putaran pertama, harap keluar dari ring. Putaran kedua akan segera dimulai!”


Hunt berlutut menyentuh punggung Beatrice sebelum mengangkatnya, “Biar saya yang membawanya ke rumah sakit. Dia bisa istirahat dulu di sana.”


“Ba-baik,” ucap Neu.


Danson membuka suara, “Neu.”


“Eh?”


“Kalian benar-benar hebat dalam bertindak saat bertarung. Neu, saya tidak menyangka kamu akan belajar sihir tipe support selama semester pertama. Biasanya bagi tipe attacker, sihir tipe itu dengan tipe defender merupakan hal yang cukup sulit. Tapi kamu mampu melampaui semua ekpektasi kami, tidak heran Hunt sering membicarakanmu.”


“Profesor Danson.” Neu bangkit. “Terima kasih banyak. Tadi itu pertarungan yang hebat.”


“Saya permisi dulu.” Danson menunduk hormat begitu Hunt mulai membawa Beatrice keluar dari ruang ujian.


“Aku juga harus kembali,” ucap Sierra turut meninggalkan ring setelah Danson.


“Hebat,” ucap Sans.


“Hah?” Yudai melongo.


“Profesor Hunt dan Profesor Danson, mereka benar-benar hebat, petarung yang hebat.”


Yudai menyeringai dan menggesekkan jari pada hidung. “Profesor Dolce lebih hebat lagi, dia itu profesor yang paling ditakuti ketika menjadi lawan murid. Aku ingin melawannya, meski harus dalam ujian duel ini.”


“E-eh? Ta-tapi kamu akan gagal nanti!”


“Ayo, sebaiknya kita keluar dari ring sebelum kena omelan Profesor Alexandria lagi.” Neu memimpin untuk keluar dari ring.


Mereka bertiga kembali menemui Tay yang hanya terdiam dan melipat kedua tangannya.


Tay menggeleng. “Sungguh, mata empat? Meski kamu mampu mengatasi masalah seperti tadi. Kamu tetap saja benar-benar ceroboh. Terkena sedikit sihir halilintar.”


Neu membalas, “Diamlah. Seperti kamu tidak pernah bertarung melawan profesormu sendiri saja. Aku takkan terkejut kalau kamu sampai kalah.”


“Kamu yang diam, mata empat.”


“E-eh? Su-sudah, hentikan,” ucap Yudai.


Setiap instruktur yang akan bertarung dalam duel putaran kedua mulai memanggil satu per satu nama sesuai dengan job masing-masing sebagai lawan. Satu per satu murid yang dipanggil instruktur untuk mengikutinya memasuki ring masing-masing.


Yudai dan Neu sama sekali belum dipanggil untuk bertarung. Mereka juga mendapati Dolce belum termasuk profesor yang akan menantang dalam duel putaran kedua.