Lorelei Chronicles

Lorelei Chronicles
Episode 35



Sebagai satu-satunya perempuan di kalangan lingkaran pertemanannya, Beatrice kecil selalu menjadi periang jika pergi bermain bersama di luar rumah, terutama di sekitar pegunungan, hutan, atau sungai.


Beatrice kecil selalu memberanikan diri untuk mengikuti hal yang sering dilakukan oleh anak laki-laki, seperti mendaki gunung, berenang di sungai, dan berburu buah liar di hutan. Kemampuannya pun tidak kalah dibandingkan teman laki-laki sebayanya.


Satu anak laki-laki yang paling dekat dengan Beatrice kecil adalah Neu. Neu kecil selalu membela Beatrice kecil jika ada seseorang merundung hanya karena perbedaan jenis kelamin, terutama dalam meremehkan kemampuan hal yang umumnya bisa dilakukan oleh anak laki-laki.


Meski terdapat rintangan sebagai satu-satunya anak perempuan, wajah Beatrice kecil berseri-seri ketika berkumpul dengan lingkaran pertemanannya. Kebahagiaan untuk bermain bersama dengan laki-laki yang tidak setingkat sesuai kekayaan dan keadaan dirinya tergambar dari senyumannya.


Suatu ketika, kebanyakan teman sebayanya tidak bisa hadir entah karena kesibukan atau sedang sakit. Hanya Beatrice kecil dan Neu kecil yang dapat hadir waktu itu di sekitar padang rumput.


Neu kecil mengangkat senyuman ketika menatap Beatrice kecil berada di sampingnya, menatap kota dari ketinggian padang rumput. Berbagai bangunan dari tingkat tertentu seperti bangsawan dan rakyat jelata terlihat jelas perbedaannya, luas dan penampilan menjadi standar pembeda.


Neu kecil menarik napas dalam-dalam. Ketika dia membuka mulut, kata-kata mulai terlontar, “Namaku Neu! Aku dari benua Riswein! Cita-citaku adalah menjadi penyihir untuk menegakkan keadilan!  Aku juga ingin berkeliling dunia untuk mencari hal baru! Terutama tentang hal terkait sihir!”


Beatrice kecil tertegun ketika menatap Neu menjerit tanpa ragu menghadap pemandangan kota. Dia menoleh ke setiap sudut padang rumput di tebing tinggi tersebut, tidak ada siapapun selain mereka.


Neu kecil menantang, “Ayo teriak juga! Giliranmu!”


“Eh?” Beatrice kecil tertegun.


“Apa kamu takut?”


“Enak saja.” Beatrice kecil menghela napas sebelum menjerit sekeras mungkin, suaranya tidak kalah dengan Neu kecil. “Namaku Beatrice! Aku juga dari benua Riswein! Cita-citaku adalah menjadi petualang untuk berkeliling dunia!”


Beatrice kecil terengah-engah setelah menjerit, tenggorokannya pun menjadi kering akibat keluarnya udara demi mengeraskan suara. Meski begitu, dia menutup mata dan kembali menarik napas dalam-dalam.


Beatrice kecil mulai melantunkan sebuah kata-kata dalam bentuk nyanyian. Sebaik mungkin dia ekspresikan perasaan terpendam sebagai penghayatan akan lirik lagu tersebut. Penghayatan pun mengalir seperti air melalui kata-kata menuju udara.


Ketika nyanyian Beatrice kecil mencapai nada tinggi pada klimaks refrain, suaranya cukup sumbang dan datar. Neu kecil sampai menutup mata dan tidak dapat menahan cekikikan sampai suara terdengar cukup jelas.


Beatrice kecil menghentikan nyanyiannya ketika menoleh pada Neu kecil yang mulai menertawakannya. “Dasar! Kamu kenapa tertawa begitu? Apa nyanyianku payah?”


“Ma-maaf, aku geli mendengar suaramu. Habisnya kamu cukup sumbang.”


Beatrice kecil menampar ringan bahu Neu kecil, kesal karena nyanyiannya sampai ditertawakan.


Neu mengalihkan topik pembicaraan, “Kamu tahu, cita-cita kita sama, kita ingin melihat bagaimana dunia luar.”


“Kalau boleh jujur, kuharap kita, maksudku kita semua, semua teman-teman, dapat pergi bersama, keluar dari kota ini, keluar dari benua Riswein. Bertemu dengan orang baru, belajar sesuatu yang baru, dan melihat budaya berbeda. Dunia memang luas.”


“Sayangnya, setiap ada pertemuan ada perpisahan. Mungkin tidak semua teman kita akan bisa ikut keluar dari benua Riswein.”


Beatrice menundukkan kepala. “Kamu benar. Beberapa mungkin akan sibuk, meluangkan waktu untuk mengurus keluarga dan meraih mimpi masing-masing.”


“Sisi baiknya, kita akan keluar dari kota ini bersama-sama, suatu saat nanti jika kita menjadi dewasa. Katanya menjadi dewasa, kita akan bebas melakukan apa yang kita mau, termasuk meraih mimpi. Kebebasan, tanpa perlu bergantung pada orangtua.”


“Iya. Kebebasan, dari keluarga yang selalu melekat dari kecil.”


“Beatrice, suatu saat nanti, katanya kalau kita jadi dewasa, kita harus melakukan apapun sendiri, mulai dari mencari makan hingga berkeliling dunia. Kita … seperti menjadi orang baru, orang yang berbeda daripada sekarang ini. Bisa kamu bayangkan kita berkeliling dunia bersama suatu saat nanti?”


Beatrice kecil mengangguk sambil mengangkat kepalanya. “Bisa kubayangkan, meski kita hanya berdua yang bisa melakukannya di antara teman-teman kita.”


Neu kecil mengungkapkan, “Aku ingin kamu selalu bersamaku.”


“Eh?” Wajah Beatrice mulai memerah ketika mendengar lontaran Neu.


“Uh, maksudku, aku akan melindungimu kalau ada bahaya, apapun yang terjadi. Selama kita masih berada di sini dan mulai bertualang bersama. Selalu. Aku akan melindungimu.” Neu mengklarifikasi perkataannya.


Senyuman Beatrice kecil melebar setelah mendengar klarifikasi Neu kecil. Jantungnya berdegup terpicu oleh rasa malu-malu kucing.


***


Membutuhkan waktu cukup lama untuk menuruni tebing secara hati-hati, beruntung bagi mereka yang masih berusia 11 tahun, tanjakan yang mereka lewati minim rintangan membahayakan, masih relatif aman untuk anak-anak.


Ketika langit telah berubah menjadi oranye, mereka tiba kembali di kota tersebut, menyusuri berbagai gedung, dimulai dari tempat tinggal masyarakat kelas pekerja di setiap perbatasan antara hutan dan kota. Masyarakat kelas bangsawan kebanyakan tinggal di pusat kota.


Sebuah mansion berdinding batu bata hitam pekat di hadapan mereka merupakan rumah keluarga Beatrice. Ketika gerbang pagar depan telah terbuka, Oya, sang ketua pelayan melewatinya dan menyapa.


“Beatrice, itu siapa?”


Neu kecil tertegun menatap sapaan Oya. Terlebih, ini adalah kali pertama dia mengantar Beatrice kecil pulang ke rumah seorang diri. Tidak seperti ketika bersama teman-teman yang lain.


“Dia temanku. Namanya Neu.”


Oya langsung menginterupsi, “Beatrice, masuklah. Ayah dan ibumu ingin berbicara di ruang makan.”


Neu kecil langsung pamit saking tertegunnya. “Kalau begitu, aku duluan ya, Beatrice.”


“Neu.” Beatrice kecil kembali menoleh pada Neu kecil, sama tercengangnya.


“Maaf.” Neu kecil menundukkan kepala seraya memberi hormat pada Oya sebelum pamit.


Ketika Neu kecil meninggalkan halaman rumah, Beatrice kecil terdiam menatap temannya itu mulai berjalan cepat hingga hilang dari pandangan. Tanpa kata-kata untuk diberitahu, Beatrice mematuhi Oya untuk segera masuk ke dalam rumah melewati teras berupa kebun bunga dengan air mancur dan menemui kedua orangtua.


***


Beatrice kecil menoleh dari hidangan berupa sepiring potongan kalkun panggang pada sang ibu di hadapannya. Garpu dan pisau dia letakkan di antara piring di meja bertaplak meja putih itu.


Tipikal ruang makan keluarga bangsawan memiliki chandelier berlilin di langit-langit. Lantai keramik perak bercampur perunggu, berbagai lukisan terpampang di dinding, dan patung keramik di sudut juga merepresentasikan sebuah keeleganan dan kemewahan.


Seluruh pelayan hanya berdiri mengawasi keluarga beranggotakan tiga orang itu, yaitu Beatrice kecil dan kedua orangtuanya, menikmati makan malam berselera.


Sang ibu mengungkapkan keresahannya, “Ibu sebenarnya khawatir sama kamu. Kamu akhir-akhir ini sering sekali bermain dengan anak laki-laki di luar. Padahal, seharusnya kamu bermain dengan anak perempuan yang sama sepertimu.


“Ibu khawatir kalau sifat laki-laki akan tampak menonjol padamu, Nak. Apalagi, akhir-akhir ini kamu lebih sering melakukan hal yang seharusnya semua anak laki-laki lakukan. Kamu ini adalah perempuan bangsawan, Beatrice, tidak seharusnya kamu sering bermain dengan anak laki-laki seperti mereka, mereka itu hanya kelas pekerja.”


Sang ayah menghela napas. “Ibumu ada benarnya juga, sayang. Kami juga khawatir bagaimana keadaanmu jika kamu bermain bersama mereka.”


Beatrice kecil membela, “Aku sudah punya teman seperti mereka, Bu, Yah. Beatrice tidak ingin di rumah sendirian. Aku butuh teman sebaya seperti mereka untuk bermain bersama, bukan dengan orang dewasa seperti pelayan.”


Sang ibu membalas, “Tapi itu bukan cara perempuan bangsawan sepertimu untuk menjadi dewasa. Tampaknya pengaruh teman-temanmu sudah sangat menonjol. Pengaruh anak laki-laki sudah mencemari sifat perempuan bangsawan sepertimu.”


“Bu—”


Sang ibu memotong perkataan Beatrice, “Mulai sekarang, kamu tidak usah pergi keluar bersama teman sebayamu, yang kebanyakan anak laki-laki. Setiap kamu ingin pergi atau berada di rumah, para pelayan akan mengawasimu demi keamanan.”


“Ibu! Tapi kan mereka teman—”


“Ibu belum selesai!” Sang ibu mendepak meja menggunakan kedua tangan. “Nak, Ibu melakukan ini karena Ibu tahu bagaimana yang terbaik untuk anak perempuan bangsawan seperti kamu. Ibu tidak ingin kamu terpengaruh oleh anak laki-laki kelas lebih bawah daripada kita. Ibu sendiri tahu bagaimana rasanya waktu kecil dipaksa untuk melakukan apapun yang berkaitan dengan perempuan bangsawan.


“Nak, ini demi kebaikanmu. Ini demi kebaikan keluarga kita juga. Ibu tahu kamu tidak akan senang, tapi kamu harus ikhlas menerimanya. Laki-laki memang seharusnya melakukan kegiatan yang biasanya mereka lakukan, begitu juga dengan perempuan, terutama kelas bangsawan seperti kita.”


Sang ayah kembali menghela napas. “Beatrice, lakukanlah, demi keluarga kita. Demi masa depanmu sendiri.”


Beatrice kecil bangkit dari tempat duduknya, menatap sepiring potongan kalkun bakar masih bersisa. “Aku sudah kenyang.”


Beatrice berlalu begitu saja meninggalkan ruang makan, sama sekali tidak ada satupun pelayan yang menghentikannya. Mendengar larangan dari kedua orangtuanya membuat dirinya harus mengubur hidup-hidup sebuah impian dan harapan.


Terpicu kembali pernyataan cita-cita bersama Neu kecil ketika memasuki kamar. Impiannya untuk berkeliling dunia bersama telah menjadi kaca yang terpecah belah hingga berkeping-keping.


Tempat tidur langsung menjadi hantaman bagi Beatrice kecil.  Air matanya tumpah seketika menuju sprei krem tempat tidur tersebut. Begitu berbaring, kedua lengan langsung menutupi kedua mata, melampiaskan segala keretakan impian hingga menyayat hati.


Semakin teringat impiannya untuk berkeliling dunia bersama Neu saat besar nanti, semakin tersayat hatinya hingga banyak air mata berjatuhan di kedua lengan dan sprei krem tempat tidurnya.


***


Beatrice kecil selalu harus dalam pengawasan pelayan keluarganya dalam melakukan segala sesuatu, baik di rumah atau di luar. Sang ibu memastikan tidak terjadi hal yang tidak diinginkan begitu menggunakan cara tersebut.


Bahkan, perlakuan ini juga terjadi setiap kali keluarganya keluar rumah untuk bertamasya. Beatrice kecil merasa malu, sangat malu, jika dirinya terlihat terlalu diawasi oleh kedua orangtua dan pelayan. Tidak heran anak-anak seusianya menawarkan reaksi beragam mulai dari menertawakan dan melampiaskan iri dengki.


Beatrice kecil merasa seperti terkurung sebagai seorang budak, bukan sebagai anak perempuan keluarganya sendiri. Hal ini membuatnya dirinya kesepian tanpa ada teman yang pantas untuk diajak bergaul.


Bahkan, sang ibu juga meminta guru pribadi perempuan untuk mengajari Beatrice kecil secara langsung di rumah, demi mendapat pendidikan setara anak-anak lain di kota dan mencegah hal terkait laki-laki mencemarinya.


Beatrice kecil sungguh tidak puas dengan keadaan dalam pengawasan. Dia butuh teman sebaya seperti Neu, bukan pelayan yang sama sekali tidak memahami dirinya.


Beruntung bagi Beatrice, dia memiliki satu-satunya pelayan yang bisa mengerti keadaan dirinya. Pelayan itu merupakan seorang perempuan, tidak seperti kebanyakan pelayan keluarganya, namanya Teruna.


Teruna memahami Beatrice kecil benar-benar hancur, tetapi hanya menawarkan nasihat dan saran, bukan bantuan untuk keluar dari rumah yang sudah bagaikan penjara. Teruna juga pernah berjanji pada saat yang tepat akan membantu Beatrice keluar dari rumah.


Perlakuan seperti ini terus terjadi bahkan ketika Beatrice telah mencapai 17 tahun. Meski Beatrice sudah menganggap dirinya sebagai perempuan dewasa, sang Ibu masih belum percaya.


Suatu ketika, seorang keluarga dari sesama kelas bangsawan mengunjungi rumah keluarga Beatrice. Ketika kedua keluarga tersebut bertatap muka secara langsung di ruang tamu, masing-masing beranggotakan tiga orang, kedua orangtua dan seorang anak berusia 17 tahun.


Tempat duduk bermotif emas dan meja persegi panjang cukup lebar menjadi tempat untuk berbincang di ruang tamu rumah. Kedua keluarga itu mulai menempati posisi saling berhadapan.


Beatrice memperhatikan wajah sang laki-laki sebaya di hadapannya selagi orangtua dari kedua belah pihak memperkenalkan diri. Rambut hitam kecokelatan panjang disisir ke sebelah kiri, alis miring, dan tingginya bahkan melebihi kedua orangtuanya.


“Perkenalkan, anak kami namanya Earth,” ayah dari keluarga laki-laki itu memperkenalkan.


Sang ibu dari keluarga Earth melanjutkan, “Dia sedang sekolah di Akademi Lorelei di kerajaan Anagarde untuk menjadi knight. Kebetulan hari ini dia sedang libur semester pertama, jadi alangkah baiknya kami mengajak dia untuk kemari.”


Earth menjulurkan senyuman dan mengangkat mata dua kali menatap wajah Beatrice. Hatinya seperti tertusuk panah asmara, jatuh cinta pada pandangan pertama. Senyumannya tidak dapat tertahankan.


Beatrice hanya terdiam menatap Earth. Tidak ada perasaan khusus baginya untuk lelaki sebaya tersebut. Kesan pertama, hanya lelaki biasa, tidak ada yang spesial. Dia menjadi teringat pada Neu, teman masa kecilnya.


Ayah Beatrice memuji, “Hebat, saya dengar Akademi Lorelei benar-benar bergengsi, bahkan katanya bisa langsung melayani kerajaan.”


Earth mengoreksi, “Sebenarnya itu khusus job royal guard. Job lain seperti knight tidak mendapatkan hak istimewa seperti itu. Paling tidak saya ingin mencari perempuan yang bisa menjadi pendamping untuk bertualang bersama, berkeliling dunia.”


Berkeliling dunia. Itu harapan Beatrice jika dia masih diizinkan untuk pergi bersama Neu.


Ibu Beatrice menambah, “Lumayan juga. Setidaknya bisa dikatakan kamu pasti memiliki kemampuan berpedang di atas rata-rata.”


Ayah Earth membenarkan, “Dia mendapat nilai tertinggi di kelasnya, terutama kelas khusus job knight. Lain kali, kalian sebaiknya melihat cara anak kami menggunakan pedang.”


Ibu Earth mengantar pada inti utama pertemuan tersebut, “Oh ya, Earth, Beatrice, kami sudah berdiskusi dalam jangka panjang hingga akhirnya membuat sebuah keputusan. Dalam satu tahun, kalian akan menikah dan menjadi suami istri.”


Beatrice langsung seperti tersambar petir ketika mendengar keputusan tersebut. Menikah? Dengan orang yang sama sekali tidak dikenal? Tanpa persetujuan sang anak terlebih dahulu?