Lorelei Chronicles

Lorelei Chronicles
Episode 118



Hari ketiga berada di dalam tambang kristal Munich. Akhirnya, Sans dan Duke telah berdiri di hadapan tiga pasang rune lagi. Momen yang menentukan setelah Duke meneliti rune itu lebih detail, berharap agar mereka berhasil menerobos, mengambil beberapa kristal Variant dan keluar dari tambang.


Sans telah membawa beberapa botol ramuan hasil buatannya di kantong belakangnya. Hasil jerih payahnya juga tidak akan sia-sia hanya untuk berjaga-jaga. Setidaknya, ramuan-ramuan itu akan mereka gunakan untuk menyembuhkan luka jika rune itu menyerang balik.


“Jadi … Anda sudah menemukan kelemahannya, Profesor? Ketiga rune itu?” ujar Sans.


Tiga pasang rune berbentuk huruf yang mirip dengan rune di golem waktu itu masing-masing berada di posisi lurus, menyerong kanan, dan menyerong kiri membentuk layaknya dinding. Ketiga rune itu menghalangi jalan mereka dalam mendekati kristal Variant asli.


“Ini akan memakan waktu yang lama.” Duke mengangkat kedua tangannya tinggi-tinggi, mengarah pada puncak dari pasangan pertama rune itu. “Exare eht ark!”


Cahaya berwarna merah kehitaman merembes keluar membentuk garis lurus dan lebar. Puncak dari sepasang rune menjadi target dari mantra Eraser dari Duke.


Sans menyaksikan titik rune itu masih belum berubah meski sudah terkena cahaya dari mantra Eraser Duke. Kurang lebih lima menit ia menunggu agar sesuatu dapat berubah.


Ia tahu ia harus melakukan sesuatu. Ia sudah membuat ramuan penyembuh luka sebanyak-banyaknya selama tiga hari hanya untuk berjaga-jaga. Kali ini, ia ingin sekali membantu Duke dalam menghadapi tiga pasang rune yang membelakangi kristal Variant murni.


Exare eht ark, itulah mantra untuk Eraser. Sans membayangkan frasa itu dalam kepala, maka dia pasti bisa mengucapkan mantra itu dan menerapkannya untuk membantu Duke.


Tanpa berkata lagi, Sans meniru postur tubuh Duke. Kaki kanan ia letakkan di posisi terdepan, tubuh sedikit membungkuk, dan meletakkan kedua telapak tangan terbuka menghadap titik puncak dari pasangan rune pertama.


“E-exare eht a—”


Sebuah suara seperti kaca pecah seakan meledak menuju telinganya, memotong pelafalan mantra saking tercengang. Kembali terfokus, sebuah lubang sudah terbentuk di puncak dari pasangan rune pertama.


“Cukup lama, ya?” Duke ingin memastikan. “Ya, sudah saya duga.”


Sans hanya mengangguk. “Bisakah cepat selesai? Saya ingin—”


“Kamu belum mempelajari mantra khusus alchemist, butuh lebih menyeimbangkan konsentrasi dan tenaga seperti transmutasi. Sepertinya kamu belum bisa melakukannya sebelum benar-benar belajar.”


“Ta-tapi—”


“Serahkan pada saya. Selanjutnya—” Target selanjutnya bagi Duke adalah titik kanan dari pasangan rune di hadapannya itu. “—Exare eht ark!”


Sans menghela napas dan kembali duduk menyaksikan Duke kembali menggunakan mantra Eraser. Ia menggerutu dalam hati mendapati cahaya merah kehitaman merambat lurus pada titik kanan pada pasangan rune itu. Butuh waktu lama untuk mendengar bunyi seperti kaca pecah yang berarti titik itu sudah terhantam.


“Profesor, jadi … berapa titik yang menjadi kelemahan pasangan rune?” Sans bertanya.


Tanpa memecah konsentrasi dan fokus dalam menggunakan mantra, Duke menuturkan, “Biar saya beritahu sekarang. Setiap pasangan rune yang berada di depan kita sebenarnya memiliki lima titik kelemahan. Seperti yang kamu lihat tadi, sudah ada dua titik kelemahan yang telah saya hancurkan menggunakan mantra Eraser. Bayangkanlah, jika kamu menghubungkan dua titik, setiap titiknya, akan membentuk bintang. Itulah mengapa pasangan rune memiliki titik kelemahan seperti bintang bentuknya.”


Sans menutup mata dan memiringkan kepala. “A-aku kurang mengerti apa maksud Anda, Profesor.”


“Baik, tinggal tiga titik.” Duke kembali melancarkan mantra dan mengarahkan tangan kanan pada titik ketiga, kanan bawah. “Exare eht ark!”


Sans hanya berdiri menyaksikan Duke seorang diri melakukan proses penghancuran sisa tiga titik lemah dari pasangan rune pertama. Butuh setidaknya lima belas menit sambil berpikir dan mendesah baginya untuk mendengar suara pecahnya titik terakhir dari pasangan rune pertama itu.


Begitu seluruh titik telah pecah, rune itu mulai muncul dan lenyap secara berurutan. Itu menjadi pertanda bahwa rune telah melemah.


“Ini saatnya,” ucap Duke, “gunakan ramuan yang telah kamu buat.”


“A-apa?”


“Lempar botol ramuan itu langsung pada rune itu.”


Sans menggeleng kepala. Ia berpikir bahwa perintah Duke tidak dapat ia terima secara nalar. Ia mengambil salah satu botol ramuan hasil transmutasinya dari kantung dan mulai menggenggam erat.


Saking erat genggaman pada leher botol untuk mempersiapkan tenaga dan fokus untuk melempar, ia menghela napas kembali. Ramuan penyembuh luka harus ia lempar pada rune yang telah pecah titik lemahnya?


“Kalau penjelasan dari buku yang saya baca tidak salah, seharusnya ramuan penyembuh luka menjadi pamungkasnya setelah seluruh titik lemah dihancurkan.”


“Ja-jadi … Anda yakin saya harus melempar botol ramuan ini?”


Duke mengangguk. “Silakan.”


Sans terlebih dahulu mengambil ancang-ancang dengan mengayunkan genggaman leher botol ramuan penyembuh luka ke belakang terlebih dahulu, mengumpulkan momentum dari bidikan menuju pasang rune pertama.


Ia berseru ketika mengayunkan botol ramuan ke depan dan melepaskannya. Botol ramuan itu meluncur ke udara sebelum mendarat tepat di titik puncak dari pasang rune.


Begitu botol itu pecah dan memuntahkan cairan merah berupa ramuan menyelimuti rune dan merembes ke lantai, tampak tidak ada perubahan.


“Profesor … i-ini tidak berhasil.”


“Begitu rupanya, terpaksa—"


Belum selesai Duke menyimpulkan, seluruh badan pasang rune lama kelamaan memecah diri hingga hancur berkeping-keping menuju lantai tambang. Pasang rune pertama telah lenyap. Kini, kekosongan itu terisi oleh kumpulan garis horizontal bercahaya seperti laser, tetap menghalangi jalan untuk mendekati kristal variant murni.


Napas Duke mulai terengah-engah ketika menyaksikan hancurnya rune pertama hingga ia membungkuk, ingin berutut.


“Profesor.” Sans sampai ternganga ketika Duke berlutut. “A-Anda baik-baik saja?”


“Tidak saya sangka … menggunakan Eraser lima kali berturut-turut menguras tenaga.”


“A-apa … Anda butuh istirahat dulu?”


“Ti-tidak usah. Rune membutuhkan satu malam untuk mengembalikan wujudnya seperti semula setelah dihancurkan. Jadi … kita harus menghancurkan seluruh titik lemah dari sisa dua pasang rune, dalam sehari.”


Dalam hati, Sans memaparkan dua kemungkinan mengapa Duke mengambil kesimpulan seperti itu. Pertama, berdasarkan penelitian langsung selama tiga hari sebelumnya; kedua, berdasarkan sebuah buku teori di perpustakaan. Yang jelas, ia seperti memutar saat mencari jawaban yang benar.


Duke pun mengeluarkan satu botol berisi ramuan cairan biru tua. Begitu Sans menatapnya, ia langsung menyimpulkan bahwa ramuan itu adalah ramuan penambah mana.


“La-lalu—”


Duke bertutur tepat setelah meminum ramuan pemulih mana itu dalam satu teguk, “Ramuan yang kamu buat itu, simpan saja untuk berjaga-jaga. Kalau ada sesuatu yang mendesak. Lagipula, saya hanya membawa dua botol ramuan pemulih mana.”


“Kalau begitu mengapa Anda tidak menyuruh dan mengajariku untuk membuat ramuan seperti itu?” gumam Sans.


“Baik. Saya mulai lagi.” Duke kembali mengangkat tangan kanan menghadap titik lemah di puncak pasang rune paling kiri. “Exare eht ark!”


Keluarlah kembali cahaya merah kehitaman dari telapak tangan kanan Duke bagai laser menuju puncak pasang rune kiri. Sangat lama untuk mendengar suara seperti kaca pecah pada setiap titik lemah pasang rune.


Begitu kelima titik lemah pasang rune kiri itu telah pecah, Sans kembali melempar sebotol ramuan penyembuh luka pada badan pasang rune. Tak lama setelah itu, pasang rune kedua terpecah menjadi kepingan ke lantai, memicu luasnya pagar bersumber dari pasang rune terakhir melebar.


Kali ini, pasang rune terakhir. Pertama, Duke kembali merapalkan mantra Eraser menuju setiap titik lemahnya. Akan tetapi, selesai menghancurkan titik lemah ketiga, di sudut kanan, napasnya terengah-engah hingga ia harus kembali berlutut, menempatkan lengan kanan pada lutut dan telapak tangan kiri pada lantai.


“D-Duke!” Sans sampai menghela napas karena begitu cemas.


“Ma-masih belum.”


Duke perlahan bangkit dari posisi berlutut dan mengarahkan telapak tangan kanan pada salah satu dari sisa dua titik lemah, sudut kiri dan tengah kiri. Ia kembali merapalkan mantra Eraser, kali ini volumenya ia keraskan sampai menjerit.


Kurang lebih tujuh menit ia berhasil memicu pecahnya titik lemah keempat dari pasang rune terakhir. Tangan kanannya bergetar mengarah pada titik lemah terakhir, yaitu di tengah kiri.


Begitu merapalkan mantra kembali, tubuhnya mulai berguncang, terengah-engah mencari udara, dan itu mejadi pertanda tenaga dan mana dari dalam dirinya semakin menipis. Ramuan penambah mana-nya sudah habis, maka ia seorang diri tanpa bantuan alat apapun.


Ia menggeretakkan gigi sambil mengisap udara untuk menahan lelah. Baginya, titik lemah terakhir harus ia hancurkan tidak peduli apapun yang terjadi. Demi sebuah tujuan, untuk mendapat kristal Variant.


Badan Duke pun ambruk dengan lutut mendarat di lantai. Pada saat bersamaan, suara pecahan titik lemah terakhir rune telah terdengar Rune terakhir itu mulai muncul dan lenyap secara berurutan secara berurutan.


Sans tentu sudah tahu tanpa perlu aba-aba lagi. Ia menggenggam botol ramuan penyembuh luka cukup erat hingga ia ayunkan ke belakang. Ia membidik sambil mengumpulkan momentum, matanya menyipit untuk memfokuskan.


Ketika tenaga dan momentum telah terkumpul di genggaman leher botol ramuan, ia mengayunkan dan meluncurkannya menuju target. Ketika botol itu menghantam badan rune, suara pecahan kaca bersamaan dengan tumpahnya ramuan memicu rune terpecah belah menuju lantai.


Pembatas seperti pagar garis-garis horizontal itu pun juga ikut seperti pecah sebelum menghilang seketika, menunjukkan jalan menuju lokasi kristal Variant.


Duke perlahan menempatkan tangan kanan pada lantai sebagai tumpuan untuk berdiri. “Akhirnya. Kristal Variant. Selesai mengambilnya, kita bisa membuat gauntlet.”


“Ya.” Sans mengangguk. “A-aku ingin segera kembali ke akademi ….”


Duke mendahului Sans ketika melewati jalan untuk mendekati kumpulan kristal Variant murni, tepat 100 meter di hadapan mereka.


Saat mendekati kristal Variant murni pertama, muncul pancaran cahaya ungu dengan bercak biru remang-remang, bagai lampu menyala otomatis menyelimuti ruangan. Seperti dugaan mereka, setiap dinding di jalan telah tertancap oleh kumpulan kristal Variant murni, termasuk yang berada di pusat berbentuk lingkaran.


Berbagai ukuran dan bentuk, terutama prisma berujung lancip seperti pedang, telah memanjakan pandangan akan sebuah keajaiban. Sans sampai melirik-lirik tidak sanggup menahan kekaguman akan cahaya bersumber dari kristal Variant murni.


“Wow, bahkan ini lebih terang daripada kristal yang waktu itu, di dekat pintu masuk tambang,” ujar Sans, “dan … ini luas sekali., benar-benar luas.”


“Sudah cukup terpananya. Petik salah satu kristal, lallu kita keluar dari—”


Sebuah guncangan tanah turut memotong perintah dari Duke, memicu bunyi kristal hingga berdekatan. Sans sampai tersandung dan mendaratkan kedua tangan pada lantai.


Keduanya melirik pada kumpulan kristal berbentuk lingkaran di pusat mulai terangkat, lama-kelamaan meninggi hingga mengungkapkan diri bukan sebagai benda mati, melainkan sebuah mahkluk hidup.


“Oh tidak,” gumam Duke.


Makhluk itu meraung nyaring mengangkat kepala ke atas. Tubuh seperti ular, leher dapat dikatakan cukup elastis hingga dapat menggerakkan kepala secara fleksibel, kepala naga, sepasang sayap bermembran seperti kelelawar, dan kedua kaki mirip kaki burung namun dengan campuan sisik. Tubuhnya dipenuhi oleh kristal pada bagian alis mata, sayap, dan ujung ekor. Tingginya bahkan dua kali lipat dibanding tinggi manusia.


“Muncul juga. Makhluk peninggalan zaman kuno, Wyvern Crystal.” Duke mundur satu langkah mengawasi gerak-gerik makhluk itu.


“Wy-Wyvern Crystal? Ja-jadi—”


“Tidak ada waktu untuk menjelaskan!” Duke mengangkat tinggi-tinggi tangannya. “Cepat petik kristal itu! Lalu kita keluar dari sini!”


“Be-berapa banyak kristal yang kita—”


“Ambil semampumu saja! Akan saya alihkan perhatiannya!”


Sans mengangguk dan bergegas mendekati salah satu kristal yang tertancap antara di lantai dan dinding. Ia menempatkan tangan kanan pada ujung lancip salah satu kristal dan mulai menekan ke dalam.


Akan tetapi, Sans menggeretakan gigi ketika kristal itu sama sekali tidak bergerak mengikuti tarikannya. Sangat berat untuk membelah kristal itu tepat pada akar di lantai.


Duke mundur satu langkah dan mengangkat tangan kanannya. “Mantra Eraser tampaknya takkan efektif. Berarti …” Ia merapalkan mantra lain. “Pyro, ecm morf ah kopn!”


Jentikan jarinya memancarkan percikan api tepat menuju kedua mata sang wyvern crystal hingga mengangkat kepala dan meraung kesakitan. Mulutnya terbuka lebar menimbulkan jeritan cukup nyaring dan berembusan udara kencang.


Duke mengedepankan kedua tangan dan menyilangkannya demi menyeimbangkan tubuhnya dari tiupan udara sang wyvern crystal. Tidak ia sangka bahwa tiupan itu cukup kencang.


Sans juga menutup mata dan memperkuat momentum pada tapakan lantai di hadapan kumpulan kristal lancip. Bahkan, ia baru saja ingin mencoba memotong satu kristal menggunakan belati yang ia genggam.


Wyvern crystal mengayunkan ekor ke depan sambil terus meraung, memanfaatkan Duke yang lengah.


Duke tercengang ketika dirinya terlambat menyadari cepatnya ayunan ekor wyvern crystal. Ia terlempar dengan dada menghantam kristal pada ekor. Tubuhnya pun menghantam kumpulan kristal tepat di dekat Sans, memicu terbelahnya beberapa kristal menuju lantai.


“AAAAH!” jerit Duke ketika bahu kirinya tertancap oleh salah satu ujung kristal.


“Pr-Profesor!!” Sans sangat terenyak menyaksikan Duke kesakitan tanpa memedulikan kristal yang terbelah dan berjatuhan di lantai.