
Sans mencoba membuat ramuan middle grade sebagai tugas dengan cara seperti biasa, transmutasi. Ia terlebih dahulu menggambar lingkaran dan garis transmutasi serta meletakkan setiap bahan di sana. Ia mendekatkan telapak tangan kanan pada botol labu sebagai pusat transmutasi dan mulai berkonsentrasi memusatkan mana-nya.
Setiap kali melakukan transmutasi tersebut, ledakan justru ia dapatkan, berarti prosesnya telah mengalami kegagalan. Baru tiga kali ia mengalami kegagalan tersebut, ia pun terlelap di lantai, dengan kepala menghadap lingkaran transmutasi.
Sans pun terbangun hingga tercengang, mendapati tengah malam telah berlangsung. Maka, ia kembali melakukan proses transmutasi dari awal, menggambar lingkaran dan garis, menempatkan bahan-bahan dan botol labu, serta memusatkan mana selagi berkonsentrasi.
Ia pun kembali gagal selama empat kali berturut-turut, seluruh bahan telah terserap melalui mana dan menghancurkan setiap botol labu. Ia pun kembali terlelap tidak dapat menahan keletihannya.
Begitu ia kembali bangkit dari tidurnya, ia pun mengingat waktunya hanya tinggal dua setengah hari untuk menyelesaikan tugas dari Duke. Ia hanya memiliki delapan botol labu yang masih kosong dan utuh.
Benar-benar tertekan, ia telah mengacaukan hampir setengah dari seluruh kesempatannya dalam 12 jam. Ia telah membuang tenaga cukup banyak hanya untuk menyaksikan proses transmutasinya gagal. Padahal ia telah mengikuti panduan transmutasi seperti biasa, seluruh bahan untuk ramuannya benar-benar tepat, tetapi ia sangat heran mengapa hal ini bisa terjadi.
Tidak ingin membuang-buang waktu hanya untuk bingung, apalagi membuang bahan dan botol labu, ia memutuskan untuk membaca kembali Buku Dasar Alchemist.
Ia membuka daftar isi buku tersebut dan tercantum bab “Jenis-jenis Ramuan” di posisi paling belakang. Seingatnya, ia memang sudah pernah membaca bab tersebut sebelum selesai membaca, apalagi sesaat sebelum bootcamp dimulai.
Maka, ia memutarbalikkan halaman yang cukup banyak itu menuju bab terakhir. Ia terlebih dahulu membaca subbab pertama, tertulis bahwa hanya tercantum sampai ramuan jenis middle grade sebagai pengenalan. Kemudian, ia memindai setiap halaman menuju subbab ramuan jenis middle grade.
Dari situ, ia membaca penjelasan yang cukup panjang, sampai ia terlena untuk melewati sebagian besar dari teks tersebut. Akan tetapi, ia memutuskan untuk membaca dari awal agar tidak melewatkan segala detailnya, sesuatu yang ia mungkin lupakan ketika pertama kali membacanya.
Butuh sekitar satu jam untuk memindai subbab tersebut terus-menerus agar ia memahaminya. Setiap kata, frasa, dan kalimat cukup sukar untuk dimengerti, seperti saat ia membaca buku teori sebagai bagian dari tugas. Ia pun cukup ingat mengerjakan tugas pelajaran Filsafat dari Alexandria menyiksa tanpa ampun, apalagi saat membaca salah satu buku materinya di perpustakaan.
Begitu ia mendapat intisari pengenalan jenis ramuan middle grade tersebut menuju otaknya, ia beralih pada subbab bahan pembuatannya. “menyembuhkan luka dalam”, “menghilangkan ailment”, dan “memperkuat tubuh”, tiga-tiganya adalah fungsi utama dari mayoritas dari ramuan middle grade.
Kali ini ia melihat cara membuat setiap jenis ramuan. Akan tetapi, begitu ia membacanya selama dua jam, ia pun akhirnya menyadari sebuah kesalahan terbesar setelah tujuh kali kegagalan transmutasi itu. Selama ini, ia telah membuat ramuan yang hanya berfungsi menyembuhkan luka luar dengan cara penguatan struktur bentuk serta menggunakan mana yang cukup banyak. Tidak heran ia telah gagal mencobanya.
Ia pun akhirnya membaca satu per satu jenis ramuan dan masing-masing bahan serta cara membuatnya. Kebanyakan dari cara membuat ramuan jenis middle grade adalah dengan cara transmutasi dan penguatan struktur bentuk. Duke memang tidak salah memberitahu Sans tentang materi tersebut tepat sebelum tugasnya dimulai. Cukup beruntung ketika ia belum mencapai proses infuse mana pada ramuan tersebut.
Butuh kurang lebih dari tiga jam ia selesai membaca seluruh subbab jenis ramuan middle grade. Ia pun telah memutuskan jenis ramuan mana yang akan ia buat, yakni ramuan sleeve herb.
Untuk membuat ramuan itu, ia hanya butuh rumput “argrass” dan air bening; pokoknya air apapun. Jenis ramuan middle grade itu merupakan ramuan yang paling sederhana ia bisa buat untuk menyelesaikan tugas dari Duke.
Akan tetapi, ada satu ramuan yang ia tertarik untuk membuatnya, yakni negative potion. Tepat sebelum ia memutarbalikkan halaman untuk menuju bab yang membahas bahan ramuan, pandangannya tertuju pada negative potion, terutama tentang fungsi untuk menegasi fungsi asli sebuah ramuan. Baginya, negative potion juga dapat berguna nantinya, tidak ada salahnya untuk juga belajar membuatnya.
Setelah memahami negative potion, ia memutarbalikkan halaman Buku Dasar Alchemist menuju bab jenis bahan ramuan. Ia mencari subbab yang membahas bahan inti untukk membuat ramuan sleeve herb, yakni rumput agrass.
Subbab tersebut membahas mulai dari fungsi agrass dalam pengobatan, lokasi paling sering …, dan anatominya. Sama seperti ramuan sleeve herb, menyembuhkan luka dalam merupakan fungsinya. Akan tetapi, ramuan sleeve herb meningkatkan keefektifannya dalam melaksanakan fungsinya.
Cukup beruntung, Sans langsung tertegun bahwa rumput agrass merupakan bahan yang lumayan mudah untuk ditemukan, mulai dari berbagai padang rumput di Riswein, salah satunya adalah jauh di utara Silvarion; hingga di sekitar rawa di Grindelr.
Ia pun tercengang ketika memutarbalikkan halaman buku itu, sebuah lipatan kertas terselip. Ia membuka lipatan tersebut yang mengungkapkan sebuah pesan. Tulisan dari Duke, Sans sudah kenal betul dari huruf yang hampir menyamping.
Jika kamu ingin ke rawa dekat sini, belok kanan menuju jalan keluar. Berhati-hatilah, akan ada beberapa monster yang siap menghadang. Siapkan belatimu untuk membasmi mereka yang menghalangi.
Sans pun bangkit, bersiap untuk berburu rumput agrass. Ia mengambil belati dan kantong yang telah kosong. Ia pun mempercepat langkah dan membuka pintu untuk keluar.
Ia tertegun, benar apa kata Duke. Arcanium terletak di reruntuhan gua Gorland. Mulai dari dinding, langit-langit, dan lantai, semuanya minim penerangan, gelap, cukup gelap.
Ia berbalik menatap gubuk yang telah ia tempati selama tugas berlangsung. Tumpukan jerami dan ranting kayu seakan membentuk sebuah kerangka pada gubuk tersebut dan dapat dihuni. Satu hal yang benar-benar ia tidak mengerti sama sekali, bagaimana bisa membangun sebuah gubuk di tengah-tengah sebuah gua.
Sans pun tidak ingin pusing dua kali lagi, ia berbelok kanan sesuai perintah Duke untuk keluar dari gua Gorland. Selama dalam perjalanan, dapat terlihat beberapa reruntuhan bangunan berupa tumpukan kayu, batu bata, dan kain. Semuanya hancur lebur.
Ia sama sekali tidak pernah membayangkan insiden pembunuhan massal alchemist akan berakhir seperti itu. Bukan hanya banyak menelan korban jiwa, banyak dari mereka adalah ber-job**alchemist, tetapi juga sampai hancurnya kota Arcanium.
Satu lagi pertanyaan juga tersimpan di benak Sans. Setelah kota Arcanium runtuh, mengapa harus dibangun sebuah gua seperti ini? Apa tujuannya? Dan siapa yang membangun gua ini?
Lagi-lagi, Sans tidak ingin berlama-lama memusingkan hal itu. Ia langsung teralihkan pada sebuah cahaya yang menuntunnya menuju jalan keluar. Langkah larinya ia percepa sampai keluar dari gua itu.
Sebuah lembah menanjak telah menantinya, ia langsung mempercepat langkah dalam mendaki, tidak ingin membuang lebih banyak waktu lagi.
Selesai mendaki jalan tersebut, ia tidak punya waktu untuk beristirahat. Lebih buruk lagi, berbagai monster telah menanti di dataran agak landai. Sans langsung mengambil belatinya dan mulai mempraktikkan hasil latihannya. Melawan berbagai monster liar ia anggap sebagai bagian dari tugas, mengingat ia akan sering menemui mereka dalam perjalanan bolak-balik.
Mular dari burung merah kecil berparuh seperti jarum lancip nan tajam, slime, serigala berbulu jingga, goo kuning kecokelatan pekat, dan ular bersisik hijau tua. Setiap kali menemui monster yang menghadang, ia tebas menggunakan belati.
Memang tidak selalu berjalan mulus dalam bertarung, misalnya melawan seekor serigala saja ia kena cakar sampai menjatuhkan belatinya, atau ia hampir terikat oleh ular. Untungnya, ia mampu mengambil kembali belatinya dengan cekatan dan membasmi keduanya, meski harus mendapat luka. Setidaknya, luka dari kedua jenis monster itu dapat terobati oleh ramuan penyembuh luka yang ia bawa.
Ketika rawa yang menjadi lokasi keberadaan rumput agrass telah dekat, ditandai oleh lumut tipis merambat, slime dan goo kuning kecokelatan menjadi dua jenis monster yang harus sering ia hadapi di sana. Tebasan belatinya mampu membasmi dua jenis monster itu dalam satu atau dua serangan.
Sans pun kembali merenungi, ia sudah semakin cekatan dalam memegang belatinya untuk menyerang. Semua berkat latihan bersama, termasuk dalam menjalankan misi.
Ia pun akhirnya tiba di sebuah rawa berwarna hijau kecokelatan setelah berbelok. Di depan rawa itu, seperti dugaannya, kumpulan helai rumput berwarna violet bercampur hijau terang telah terlihat. Itu adalah rumput agrass.
Satu-satunya untuk mencapai padang rumput kecil itu adalah mengarungi rawa itu. Hanya tinggal berenang dan mengambil helai rumput agrass.
***
Sans kembali tiba di gua Gorland ketika langit telah berganti dari jingga menuju hitam kerlap-kerlip. Ia telah membawa setidaknya sepuluh helai rumput argrass di kantongnya. Ia memang cukup letih setelah perjalanan mengambil rumput agrass, tetapi waktu terus bergulir. Ia hanya memiliki sehari untuk menyelesaikan tugas dari Duke.
Hanya ada satu kesempatan bagi Sans untuk menyelesaikannya semenjak ia telah membuang waktu sebanyak dua hari berturut-turut untuk percobaan yang gagal dan juga pergi menuju sebuah rawa terdekat dari gua Gorland.
Begitu tiba kembali di sebuah gubuk, ia tergesa-gesa menutup pintu dan kembali duduk di hadapan lantai bekas lingkaran transmutasi. Kali ini, ia akan membuat ramuan sleeve herb dengan cara yang benar.
Setelah ia selesai menggambar lingkaran dan garis transmutasi, terlebih dahulu ia meletakkan seluruh helai rumput agrass yang telah ia dapatkan. Hanya ada satu kesempatan baginya, keputusan cukup nekad dan berani. Jika proses transmutasi gagal, tugasnya akan gagal total.
Ia mendekatkan telapak tangan kanannya pada seluruh helai rambut agrass yang terletak di antara lingkaran transmutasi. Ia memusatkan tenaga dan mana untuk memulai proses transmutasi.
Perlahan tapi pasti, Sans mengerahkan seluruh tenaga dan mana-nya sambil berkonsentrasi demi melakukan proses itu. Semua helai daun agrass itu satu per satu seakan mulai terpotong kecil-kecil, menandakan proses dekonstruksi telah dimulai. Bagian demi bagian, molekul demi molekul, dan titik demi titik telah terbagi, hasilnya adalah bubuk.
Mana Sans juga terserap pada hasil dekonstruksi tersebut, memicu pembentukan dari bubuk rumput agrass menjadi bentuk gel pekat berwarna violet kehijauan. Gel tersebut lama-kelamaan melayang memasuki mulut botol labu.
Cahaya putih pun berubah menjadi aura kuning keemasan, menandakan bagian pertama dari proses transmutasi dan penguatan struktur bentuk telah berhasil.
Jerih payah dari tenaga dan mana tidak hanya menghasilkan lebih banyak keringat dan keletihan sampai terbata-bata dalam bernapas, tetapi juga sebuah keberhasilan dalam langkah pertama.
Satu langkah lagi, ia membuka tutup gabus pada lima botol labu berisi air yang telah ia ambil saat berburu bahan di luar, tampaknya cukup untuk ekstrak yang terbuat dari sepuluh helai rambut agrass.
Ekstrak rumput agrass ia tuangkan pada air tersebut. Ia menutup kembali botol labu tersebut dan mulai mengocoknya untuk mencampur kedua bahan tersebut.
Ia hanya tinggal mendiamkan campuran tersebut selama satu hari, satu hari, waktu yang cukup lama, setara dengan sisa waktu untuk menyelesaikan tugas. Hasil akhir dari ramuan tersebut akan terlihat dari aura, entah putih berarti kegagalan atau kuning keemasan berarti keberhasilan.
Ia pun mulai beralih menuju tempat tidur dan berbaring, tidak sabar ingin melepas penat akibat lelah dari kegiatan pada hari kedua mengerjakan tugas.
Akan tetapi, alih-alih dapat terlelap dalam kegelapan menuju mimpi, ia tetap terjaga. Tidak peduli berapa lama ia memejamkan mata, tidak peduli betapa lelah dirinya sampai seluruh tubuh seperti terinjak-injak, kekhawatirannya tentang keberhasilan membuat ramuan sleeve herb justru membuatnya tetap tersadar.
Lima jam ia tidak bisa tidur, ia memutuskan untuk melanjutkan tugasnya. Alih-alih hanya berdiam diri menunggu ramuan sleeve herb benar-benar jadi, ia ingin membuat negative potion, sesuatu yang seharusnya ia lakukan setelah bangun tidur untuk menyisihkan waktu.
Ia menyiapkan seluruh bahan untuk membuat negative potion dan meletakkannya pada lingkaran serta garis transmutasi. Ia pun melirik menuju sisa botol labu, hanya tersisa tiga.
Satu botol labu pun ia raih dan letakkan pada pusat dari lingkaran transmutasi.
Cara untuk membuat negative potion kurang lebih sama dengan cara membuat ramuan sleeve herb. Bedanya, tidak perlu mendiamkan campuran ekstrak dan air selama sehari. Setelah proses transmutasi, akan muncul aura, karena melalui proses penguatan struktur bentuk.
Ia mendekatkan tangan kanannya pada pusat garis transmutasi tersebut dan mulai berkonsentrasi. Ia juga membayangkan dari proses dekonstruksi setiap bahan menuju hasil akhir ramuan tersebut.
Tidak mudah bagi Sans untuk mempertahankan konsentrasi dan melancarkan tenaga serta mana, apalagi saat dirinya dilanda kelelahan. Terlebih, perutnya juga berbunyi, menandakan keroncongan. Sama sekali belum memakan apapun semenjak berada di Arcanium, kecuali bambu manis setelah ia sadarkan diri.
Konsentrasinya pun buyar hingga memicu aura putih, kegagalan. Upaya pertamanya untuk membuat negative potion berujung kegagalan.
Sans pun menguap dan memutuskan untuk berbaring sejenak di lantai, menghadap lingkaran transmutasi. Ia membiarkan dirinya untuk terlelap sejenak, membiarkan kelelahan menguasai dirinya.
Ia tahu, ia ingin berhasil membuat negative potion juga, tidak peduli betapa kelelahan dan kelaparan dirinya. Ia juga ingin melihat apakah proses pencampuran ekstrak rumput agrass benar-benar berhasil semenjak hanya memiliki satu kesempatan, setidaknya ia membuat sebanyak lima ramuan sleeve herb.
Kekhawatiran itu memicunya untuk terbangun setelah dua jam. Ia sama sekali tidak memedulikan apapun kecuali untuk membuat negative potion. Upaya kedua kini ia mulai.
Upaya keduanya juga berujung munculnya aura putih, lagi-lagi gagal. Hanya tinggal satu kesempatan untuk membuat negative potion semenjak ia hanya memiliki sisa satu botol labu.
Kali ini, Sans tidak membiarkan dirinya terkuasai oleh kelelahan dan kelaparan. Ia tetap memulai upaya ketiga dan terakhirnya. Proses transmutasi yang ia lakukan pun lebih lama, cukup lama dari perkiraannya. Ia tetap bersusah payah mempertahankan konsentrasinya dalam melancarkan mana dari tubuhnya dan membayangkan hasil akhir.
Aura kuning keemasan pun akhirnya muncul setelah cukup lama, keberhasilan telah ia capai dalam membuat negative potion. Isi botol labu di hadapannya berupa ramuan berbentuk abu-abu bercampur putih. Ia dapat bernapas lega.
Tepat setelah keberhasilan tersebut, sebuah aura kuning keemasan juga keluar dari salah satu botol labu berisi campuran ekstrak rumput agrass dan air. Campuran cairan tersebut menjadi berwarna violet pekat, ramuan sleeve herb.
Setidaknya ia telah berhasil menyelesaikan tugas dari Duke.
Akan tetapi, pandangannya memudar hingga tubuhnya goyah. Pandangannya pun kembali menghitam, hampir sama seperti saat ia terakhir kali berada di Vaniar.
***
“Astaga, Sans!”
Duke mendapati Sans telah terbaring dengan tubuh menghadap lantai.
Duke tergesa-gesa menghampiri Sans, berlutut dan mengenggam pergelangan tangan kanannya. Seakan ringan saat terangkat, lemas, itu yang disimpulkan Duke.
Sans telah kehabisan tenaga dan mana setelah bersusah payah menyelesaikan tugas bootcamp, membuat ramuan sleeve herb. Duke juga tertegun menatap muridnya itu juga telah berhasil membuat negative potion.
Tanpa menunggu lebih lama lagi, ia membalikkan tubuh Sans dan mulai menggendongnya. Ia pun bergegas meninggalkan gubuk dengan berlari. Melewati reruntuhan kota, ia berbelok kiri untuk menemukan jalan keluar.
Sebenarnya gua Gorland memiliki tiga jalan keluar. Jalan keluar yang telah dilewati Sans adalah gerbang selatan. Sedangkan Duke berlari menuju gerbang timur laut, setelah melewati jalan berliku-liku di antara reruntuhan bangunan dan dinding yang mulai menyempit.
Melewati gerbang timur laut, Duke pun berbelok menuju tanjakan. Malam pun telah menyingsing, angin dingin seperti menembus kulit. Ia secepat mungkin mendaki tanjakan tersebut sambil mempertahankan dalam membawa Sans dalam gendongannya.
Satu jam telah berselang, ia mendapati sebuah tebing mencekam seakan menghalangi jalannya. Tidak ada lagi pilihan selain memanjat. Ia pun menempatkan jari jemari pada tumpuan tanah tebing dan mulai memanjat.
Tidak mudah untuk menempatkan jari jemari pada setiap tumpuan sambil mengeratkan gendongan Sans menggunakan paha dan lengan. Keringat Duke yang bercucuran bahkan mengalahkan embusan angin lembut pada malam hari. Setidaknya ia tidak kehabisan tenaga ketika mencapai puncak tebing itu.
Selanjutnya, ia mendapati jalan menurun dengan sebuah kuil di ujungnya, tepat di depan mata. Begitu mulai menapakkan kaki pada jalan itu, ia secara perlahan melangkah dengan menodorng tenaganya seraya menahan dirinya dari terjatuh, apalagi ia masih menggendong Sans.
Lantai berwarna krem dari paduan batu, marmer, dan tanah telah ia tapaki setelah melewati jalan menurun. Delapan pilar setinggi satu setengah meter yang terbuat dari berbagai reruntuhan kayu dan batu turut menyambut. Semakin ia melangkah, berbagai stupa yang telah berlumut dan retak di bagian atas juga mengelilingi jalan.
Ia akhirnya telah tiba di ujung kuil itu, terdiri dari sebuah genangan air berwarna aquamarine (campuran biru muda dan hijau muda), terlihat seperti kolam koi berkat adanya lumut di sekitarnya.
“Ini dia, kolam berisikan inti mana,” ujar Duke, “kamu akan segera pulih kalau kamu beristirahat di sini.”
Ia berbalik dan mulai berlutut. Perlahan, ia melepas kedua tangan dan kaki Sans dengan menyingkirkan tangan dan bahunya. Dengan begitu, Sans dapat perlahan berbaring di genangan air yang berisikan inti mana itu.
“Kamu sudah berhasil mengerjakan tugas bootcamp-mu, Sans.”