Lorelei Chronicles

Lorelei Chronicles
Episode 83



Bangunan berupa rumah dan gedung penting bagi kota, terutama monumen berbentuk ular yang menjadi sambutan selamat datang, telah berada di depan mata. Terlebih, monumen selamat datang itu telah menunjukkan keretakan tipis tetapi dapat terlihat.


“Ki-kita di desa Salazar?” terka Beatrice.


“Ja-jadi ini keadaan desa Salazar saat ini? Setelah diserang oleh Basilisk?” tambah Yudai.


Meski tanah gersang masih terlihat utuh secara teknis, beberapa dari bangunan telah menunjukkan lubang dan keretakan hingga menimbulkan kerusakan. Ketika Yudai dan Beatrice kembali melangkah, Riri menepuk dan menarik bahu mereka berdua.


“Ki-kita seharusnya jangan berada di sini dulu!” pesan Riri. “Sesuai rencana, kita seharusnya mencari tempat pengungsian penduduk—”


“Karena sudah telanjur. Lebih baik, kita hadapi saja basilisk itu. Kita basmi saja basilisk itu!” Yudai mulai menggenggam salah satu panahnya sebagai amunisi seakan bersiap untuk menembak.


“Bodoh! Mereka bisa saja tidak ingin membiarkan kita membunuh Basilisk itu, bukan? Lagipula, hal itu dianggap suci—”


“Tapi di lembaran itu, hanya tertulis selamatkan kami. Lalu tidak ada larangan untuk membunuh Basilisk, kan?”


Riri berpikir dua kali. “Benar juga.”


Bulu kuduk Sans terangkat ketika sebuah sentuhan mendarat di bahunya. Ketika berbalik menatap sumber tersebut, dia mengenyak tanpa suara, kaget ketika seseorang selain dirinya dan keempat temannya berada tepat di belakang kanan. Dia bergeser dengan cepat mendekati Yudai dan Riri.


“Ma-maaf.” Dia adalah seorang laki-laki gundul berpakaian jas biru ungu. “Maaf telah mengagetkan kalian.”


Beatrice dan Katherine juga kewalahan dalam mengendalikan kepanikan atas munculnya seorang laki-laki itu tanpa harus berteriak. Mereka sampai kehabisan kata-kata untuk menyambutnya.


“A-anu … Anda siapa?” tanya Yudai.


“Ah. Anda pasti … salah satu penduduk desa Salazar?” tebak Sans.


“K-kau benar.” Lelaki itu menundukkan kepalanya. “Ka-kalian pasti … yang mengambil misi itu saat di … balai kota kerajaan Anagarde.”


“I-iya. Itu benar—” Riri menjawab.


Laki-laki itu berlutut hingga menyentuh tanah gersang di hadapan kelima murid akademi Lorelei itu. “To-tolong kami! Kami sudah tidak tahan lagi dengan serangan Basilisk itu! Setiap kali kami mencoba untuk kembali ke kota, mengambil barang-barang kami, terutama sandang, pangan, dan papan, kebanyakan dari kami mati hanya dengan melihat mata Basilisk secara langsung!


“Dan … yang paling menyeramkan ketika … orang-orang mati digigit dan terkena racun mematikan!” Laki-laki itu memegang kepalanya. “Ka-kami sudah tidak tahan lagi! Kami sudah tidak peduli lagi dengan mengagung-agungkan Basilisk! Kami sudah tahu yang sebenarnya terjadi!


“Begitu kami tidak berhasil mengusir Basilisk dari kota ini, pilihan terakhir, membunuhnya. Tapi semuanya sama saja. Kami sudah ketakutan dan tidak ingin bertarung lagi. Meski kami masih ada cadangan uang yang cukup banyak untuk pindah, kami tidak rela meninggalkan desa ini. Kami tidak mau meninggalkan warisan desa ini!


“Oleh karena itu, kalian yang mengambil misi ini! Selamatkan kami, meski hal ini terdengar mustahil! Sangat mustahil!”


Merasa iba ketika mendengar penjelasan dari laki-laki itu, Sans dan Beatrice mempertimbangkan memang misi kelas A cukup berat tingkat keberhasilannya. Menghadapi Basilisk yang berhasil membunuh banyak orang benar-benar sulit. Misi kelas A memang mematikan jika seseorang tidak menyelesaikannya dengan benar.


Sans menganggapi, “Memang benar kami sebenarnya belum siap untuk menyelesaikan misi sesulit ini, misi kelas A. Kami belum memiliki kemampuan dan kekuatan yang diharapkan untuk meyelesaikan misi seperti ini.”


Yudai menambah, “Tapi selama kita melakukan sesuatu untuk menyelesaikan misi ini, terutama melakukan persiapan sebelum menghadapinya, kita bisa melakukan yang terbaik.”


Riri menyetujui, “menyelesaikan misi seperti ini bukan hanya sekadar membasmi musuh. Aku sudah belajar saat menghadapi misi kelas B, tidak hanya sekadar kekuatan dan kemampuan, tetapi juga kesiapan untuk mengalahkan musuh agar kita tidak mati sia-sia!”


Beatrice kembali gemetar sambil mengulang, “Ma-mati. Be-berarti—”


“Ti-tidak!” Yudai berusaha menenangkan Beatrice. “Kita tidak akan mati. Kita pasti menyelesaikan misi ini dengan selamat, Beatrice. Yang penting, kita akan kembali ke akademi dengan utuh.”


Laki-laki itu bertanya sekali lagi pada Sans dan teman-teman, “Ba-bagaimana kalian akan mengalahkan Basilisk? Kalian tidak bisa menyerangnya begitu saja! Basilisk punya kekuatan membunuh jika kalian menatap matanya secara—”


Yudai percaya diri mengungkapkan, “tenanglah, kami sudah tahu kelemahan Basilisk. Serahkan pada kami.”


***


“Sebaiknya masing-masing dari kita memiliki ini.”


Sebelum meninggalkan Silvarion untuk melakukan perjalanan menuju Salazar, Riri menyerahkan dua buah bola berdiameter kecil, satu berwarna hitam, satu berwarna perak mengkilat seperti memancarkan bayangan.


“Wow. Bentuknya seperti ini.” Yudai berdecak kagum. “Bahkan keduanya bisa dipegang dalam satu genggaman.”


“Hati-hati!” Riri memperingatkan. “Jangan sampai terjatuh ke tanah dulu, kalau tidak keduanya akan meledak sebelum waktunya.”


Beatrice ikut menyaksikan kedua benda itu di genggamannya. “Ja-jadi ini yang menjadi kelemahan Basilisk?”


Sans menatap salah satu dari kedua benda itu jika dia goyangkan terdapat bunyi seperti gemeritik pasir. Dia berharap dengan dua benda itu mereka dapat mengalahkan Basilisk dan menyelesaikan misi.


“Benar, masing-masing dari kita simpan satu, baik di saku pakaian, atau tempat penyimpanan barang yang kalian bawa. Begitu kita mulai bertarung dengan Basilisk, kita gunakan benda ini lalu menyerangnya. Kita hanya beli lima, gunakan dengan bijak sesuai strategi,” pinta Riri, “soalnya Basilisk dapat menghampiri kita dengan mengandalkan pendengaran juga. Makanya dua kelemahan ini akan membuat distraksi bagi Basilisk.”


***


Sans dan keempat temannya mulai melangkah secara perlahan tapi pasti, demi menarik perhatian Basilisk dari tempat persembunyian sekitar kota. Sang laki-laki hanya bersembunyi dari kejauhan menyaksikan mereka beraksi.


Tatapan mereka hanya lurus tanpa melirik ke kiri, kanan, atau belakang, kecuali jika tengah berbelok. Setiap gedung yang mereka temui bervariasi tingkat kerusakannya, terlebih, mayoritas memiliki lubang besar hingga hancur berkeping-keping, penyebabnya tidak lain lagi adalah ketika Basilisk melintas mengejar mangsa.


Katherine sampai gemetar ketika dirinya menjadi orang pertama yang akan melempar kedua benda kelemahan Basilisk itu. Sebagai seorang priest, dia tidak mengharapkan sebagai orang pertama yang akan memicu serangan ketiga rekannya, Sans, Yudai, dan Riri; terlebih dahulu.


Sebuah suara mendesis meluncur, membuat mereka terhenti. Detak jantung masing-masing telah meningkat seiring mengetahui bahwa mereka bisa saja menatap mata Basilisk secara langsung. 


Katherine menggeretakkan giginya, mulai ketakutan akan suara Basilisk. Tubuhnya tidak dapat berhenti gemetar ketika melangkah dan menahan diri dari melirik.


“Pa-pasti itu, kan?” tebak Beatrice.


Riri mengangkat tangan kanan seraya menyuruh keempat temannya untuk menghetikan langkah. “Pasti dia sudah dekat. Jangan lirik matanya, terutama ke sumber suara—”


Desisan Basilisk berubah menjadi jeritan, terdengar dari samping kanan. Yudai sempat ingin menoleh sejenak, tetapi berakhir membuang muka. Sekilas, dia menatap tubuh Basilisk tanpa harus menajam tepat pada mata. Basilisk tengah melewati lorong luas antara dua bangunan.


“B-Basilisk di sebelah kanan—” Yudai memperingatkan.


“Ah!” Katherine secara impulsif melempar dua bola yang menjadi kelemahan bagi Basilisk.


Basilisk seakan meluncurkan kepala seperti roket, mengincar salah satu dari mereka berlima, lebih tepatnya Sans yang berada di posisi paling tengah, sambil merayapkan tubuh pada lantai.


Lemparan kedua bola Katherine tepat mengenai bagian leher fleksibel Basilisk, mengeluarkan asap untuk menyilaukan kedua mata. Basilisk menggerakkan kepala tidak dapat melihat di balik asap untuk mencari mangsa.


Bukan hanya bola asap yang meledak, tetapi juga serbuk merica yang mengganggu indera penciuman bagi Basilisk. Ular raksasa itu meraung sambil menggelengkan kepala tidak tahan terhadap serbuk merica.


“Lari!” seru Riri.


Kelimanya melesat dan berpencar menuju dua arah untuk bersembunyi sementara waktu demi menunggu kesempatan untuk menyerang. Yudai dan Katherine berbalik, tetapi tidak sebelum Yudai mencoba untuk menembak tiga panah sekaligus, dengan harapan mengenai tepat pada mata.


Sans, Beatrice, dan Riri tetap lurus dalam berlari, melewati lubang pada salah satu reruntuhan bangunan. Mereka berlutut dan bersembunyi di balik dinding yang kini setinggi setengah tubuh.


Betapa tidak beruntung bagi Yudai, dua panah tembakannya hanya emngenai leher dan gigi. Satu lagi hampir mengenai kelopak mata ketika kepala Basilisk seakan menangkis sambil menggeleng di balik asap dan serbuk merica.


Begitu efek asap telah menghilang, Basilisk mengangkat kepalanya dan mulai bergerak mengincar Yudai dan Katherine yang masih belum mencari tempat persembunyian, melewati lorong dan lubang reruntuhan.


Riri mulai bangkit menyaksikan Yudai dan Katherine “memancing perhatian” Basilisk sambil mengambil dan menggenggam erat bola serbuk merica dan bola asap. Dia mengangguk dan memberi isyarat menggunakan ayunan tangan kiri pada Sans dan Beatrice.


“Sekarang kita harus apa?” pinta Katherine panik.


“Memancingnya kembali menggunakan ini. Lalu Yudai menembak matanya.” Riri kembali memimpin dalam berlari. “Ikuti aku!”


“Me-menembak mata? Tapi kan kalau membidik mata secara langsung, maksudku—” Sans mengingatkan.


“Kita andalkan keberuntungan, dan juga kelemahan Basilisk ini!” Riri mengangkat kedua bola itu tinggi-tinggi sambil mengejar Basilisk yang tengah berbelok mengejar Yudai dan Katherine.


“Ka-kalau penuh asap, ba-bagaimana bisa Yudai menembak mata Basilisk!” jerit Beatrice panik.


Reruntuhan bangunan hanya menjadi pemandangan bagi Yudai dan Katherine selagi mereka berlari dari kejaran Basilisk. Tanpa memalingkan pandangan demi mencegah menatap langsung pada mata Basilisk.


“A-AAAAH!!” Katherine terpeleset ketika berlari dan tubuhnya terjatuh ke tanah gersang. Jeritannya sontak menghentikan langkah Yudai.


Yudai menoleh ke belakang, hanya menatap Katherine dan tanah gersang kota. “K-Katherine!”


Suara desisan Basilisk begitu nyaring menuju telinga, cukup kerang. Basilisk itutelah mendekat dan mengunci Yudai dan Katherine sebagai target.


Meski mengetahui Basilisk telah berada tepat di hadapan mereka, Yudai menarik tangan Katherine seraya membantu bangkit. Dia tahu mereka harus bergerak secepat mungkin.


“HAAA!!” Riri melempar bola asap dan bola serbuk merica secara bersamaan, tepat menuju kepala Basilisk dari belakang. 


Asap dan serbuk merica pun meledak. Basilisk pun kembali meraung, menggoyang-goyangkan kepala secara lambat seperti menggeleng, bukan hanya tidak dapat melihat mangsanya, tetapi juga penciuman benar-benar mendapat hambatan akibat merica.


Yudai mengambil tiga buah panah dan mendekatkan ekor masing-masing pada tali busur. Dia dapat melihat bayangan kepala di balik asap itu, sehingga memperkirakan letak salah satu mata.


Dia melepas tembakannya begitu tarikannya sudah cukup kuat sesuai akurasi. Akan tetapi, Basilisk itu sudah telanjur berbalik menghadapi Sans, Beatrice, dan Riri, mengenai punggung kepala.


“Ah! Tidak!” Beatrice secara impulsif melempar bola serbuk merica dan bola asap bersamaan.


Sekali lagi, asap dan serbuk merica meledak. Asap dari dua sisi mengepung pandangan Basilisk. Semakin banyak serbuk merica pula yang menguasai penciumannya.


“Kesempatan,” bisik Yudai menyiapkan tiga buah panah sambil bergerak menuju balik salah satu dinding reruntuhan yang masih cukup kokoh menjadi tempat persembunyian.


Katherine yang mengikutinya justru bertanya, “A-anu, k-kamu bisa mem-membidik matanya? Ta-tanpa melihat?”


Yudai melepas tarikan tali busur dan tiga panah sekaligus secara bersamaan. Tembakan itu meluncur memasuki asap tepat pada kepala Basilisk.


Sans, Beatrice, dan Riri kembali berlari terbirit-birit demi menghindari Basilisk. Mereka berbelok kembali, melewati salah satu reruntuhan bangunan. Di kelompok mereka, Sans menjadi satu-satunya yang masih menyimpan bola asap dan bola serbuk merica.


Raungan Basilisk semakin menjadi-jadi. Tidak dapat melihat di balik asap sejenak dan hawa panas dari merica mendominasi penciumannya. Begitu asap di sekitarnya menghilang, dia kembali menyaksikan kedua kelompok lawannya kembali berlari berpencar.


Dia kembali meraung sambil meluncurkan langkah kepala, merambat di lantai. Dia mengejar Sans, Beatrice, dan Riri terlebih dahulu di sebelah kiri.


Sans, Beatrice, dan Riri melewati berbagai lorong reruntuhan. Tanpa perlu berhenti hanya untuk menatap ke belakang, di mana Basilisk tengah mengunci target, mereka mempercepat langkah.


Basilisk itu semakin dekat dan mulai membuka mulut sambil meluncurkan kepalanya, berusaha untuk menghantam salah satu dari mereka bertiga yang dengan cepat berbelok.


Mereka memasuki lubang pada salah satu bangunan yang belum roboh seutuhnya, lubang di antara dua dinding. Tepat saat mereka memasuki lubang tersebut, Basilisk menubrukkan kepalanya pada kedua dinding tersebut.


“AAAH!” jerit mereka bertiga terempas bersama dengan reruntuhan dinding.


Tubuh mereka mendarat pada tanah cukup keras. Punggung Sans lah yang yang terkena bongkahan besar dinding tersebut, menyebabkan rasa sakit tidak tertahankan.


“A-AAAH!” jerit Sans menjatuhkan belatinya.


Riri mulai menempatkan telapak tangan kanan dan mencoba untuk merangkak meloloskan diri, meski mengetahui Basilisk tepat berada di belakang. Sekuat tenaga dia menahan rasa sakit akibat hantaman kepala Basilisk dan bongkahan reruntuhan dinding.


Menyaksikan dan mendengar bahwa Riri membuat pergerakan terlebih dahulu, Basilisk mengambil ancang-ancang dengan memundurkan kepala sebelum meluncurkannya sambil membuka mulut bergerigi setinggi pisang itu.


Riri menutup mata dan menyentuh kepalanya sendiri, mengetahui dia akan mati terhantam oleh Basilisk, entah oleh sundulan kepala atau gigitan beracun tinggi.


Bola asap tepat menghentikannya pada bagian mata, membuatnya terhenti karena terbutakan. Dia kembali menggelengkan kepala ketika serangan pada Riri gagal.


“Hei!” jerit Yudai nyaring sambil berlari sedikit mendekati lokasi, setidaknya tidak lebih dari 15 kaki. “Di sini!”


“E-eh?” jerit Katherine yang tetap berada di dekatnya.


“Yu-Yudai?” Riri tercengang ketika mendengar Yudai telah melakukan hal bodoh seperti menjerit.


Yudai melempar bola serbuk merica begitu menyaksikan Basilisk membalikkan kepala, terlihat dari balik asap tersebut. Dia berbalik sigap dan menarik telapak tangan Katherine untuk segera lari.


Tepat saat Basilisk menampakkan kepalanya keluar dari asap dan melirik Yudai serta Katherine, bola serbuk merica meledak mengganggu penciumannya sekali lagi. Dia menggeleng mengamuk kesakitan.


Sudah setidaknya empat bola serbuk merica meledak di kepala Basilisk. Saking banyaknya serbuk merica membuat penciumannya memanas. Dia hanya bisa mengandalkan pendengaran untuk mengejar mangsanya.


Gerakan merambat Basilisk mulai melambat ketika mengejar Yudai dan Katherine. Monster ular raksasa itu tidak cepat menyerah untuk meluncurkan berusaha keras mengincar mangsanya.


“Di-dia mengincar kita sekarang! Ta-tapi bola asap dan serbuk merica kita habis!” ucap Katherine.


“Aku tahu. Setidaknya kita memancingnya kembali.” Yudai kembali berbelok dan menggiring Katherine, melewati salah satu reruntuhan batu. “Tampaknya keberuntungan tidak terlalu efektif. Meski sepertinya aku berhasil menembak matanya, tetap saja jangan menatap langsung kepala Basilisk.”


Riri yang menyaksikan Basilisk kembali mengejar Yudai dan Katherine, hampir jauh, sigap menoleh pada Sans. Dia menempatkan jari-jemarinya pada ujung bongkahan batu pada tubuh Sans.


“Sebaiknya kamu minggir dulu, Beatrice!” pinta Riri.


Beatrice pun akhirnya beralih dalam posisi duduk menoleh pada Riri, bergeser ke sebelah kanannya. Disaksikannya Riri membanting bongkahan batu tersebut cukup mudah, seperti memutarbalikkan koin di meja.


Beatrice menutup mata dan memalingkan kepala begitu bongkahan batu itu terpecah-belah di sampng kirinya.


“A-ah,” Sans meraung kesakitan.


“Sans!” sahut Beatrice menyentuh kedua lengan Sans.


Riri mengambil dua bola dari kantung Sans. “Jaga Sans baik-baik, Beatrice.”


Belum sempat menggerakkan mulut, Beatrice tercengang menyaksikan Riri kembali mengejar Basilisk. Sampai tidak dapat berkata apapun lagi untuk menghentikan monk itu, dia mengepalkan kedua tangan berharap yang terbaik.


Yudai dan Katherine menghentikan langkah ketika tiba di hadapan perbatasan kota, yakni pilar hitam bermotif ular. Mereka tidak boleh menggiring Basilisk ke luar kota, terutama tempat pengungsian penduduk.


“Ga-gawat! Kalau kita terus maju, kita—”


Jika mereka berbalik, peluang untuk menatap mata Basilisk sangat tinggi, meski hanya melihat ke arah tanah. Basilisk pasti akan menyundur dan membuka mulut mengincar mereka sebagai mangsa.


“Yu-Yudai!” Katherine memperingatkan ketika raungan Basilisk cukup nyaring menuju telinga.


Yudai mendorong dirinya dan Katherine menuju dekat pilar sebelah kanan demi menghindari sundulan kepala Basilisk, apalagi gigitan beracun itu.


Sundulan kepala Basilisk menubruk pilar sebelah kiri hingga terbelah menuju tanah. Dia melirik kembali pada Yudai dan Katherine yang sempat merangkak menyerong tepat di hadapan pilar sebelah kanan.


Memanfaatkan langkah lambat keduanya, Basilisk meluncurkan kepalanya dan membuka mulut bersiap untuk melahap mangsanya itu. Akan tetapi, sebuah hantaman dari sebelah kanan tepat pada leher sontak menghentikan serangan dan membuatnya meraung kesakitan hingga menggelengkan kepala.


Gelengan kepalanya pun menubruk pilar dari sebelah kanan, menghancurkan menjadi bongkahan. Bongkahan terbesar pun menghantam punggung kepala Yudai hingga tidak sadarkan diri.


Katherine panik menyaksikan Yudai menutup mata tidak sadarkan diri sehabis terkena bongkahan pilar yang terpecah berkeping-keping. “Yu-Yudai!”


Riri melesat sambil seakan memukul udara, mengunci target Basilisk tanpa menatap langsung pada mata. 


“Lawanmu adalah aku!”


Riri menoleh ke bawah sejenak ketika menyaksikan Basilisk yang berada di hadapannya setidaknya 5 kaki. Dia melempar bola asap dan serbuk merica itu secara bersamaan kembali. Dia sudah memperkirakan letak kepala Basilisk.


Begitu menoleh dan kembali mengincar Riri, Basilisk kembali mengamuk sehabis terkena kembali bola asap dan serbuk merica secara bersamaan. Serbuk merica pada penciumannya sudah mencapai batas, panas, panas, dan panas, benar-benar menyiksa. Pandangannya juga mulai kacau bukan hanya asap, tetapi juga efek dari merica.


Riri mengepalkan kedua tangan, menyiapkan chakra sebagai kekuatannya secara penuh, memanfaatkan situasi seperti itu untuk menyerang.


“Far Rapid Fist!” jerit Riri.


Riri melancarkan pukulannya berkali-kali, menggunakan chakra agar dapat melampiaskan kekuatannya jarak jauh menuju target. 


Basilisk sudah begitu lemah akibat dominasi merica hingga tidak mampu menahan lagi hantaman pukulan itu. Dia meraung sangat keras di balik kepungan asap itu.


Katherine menatap kepala Basilisk mulai bergerak tidak beraturan dari belakang. Dia hanya menggerakkan tangan menuju dagu, sama sekali tidak menyangka menyaksikan hal itu.


Pukulan jarak jauh Riri seperti tembakan tidak terlihat bagi Basilisk. Meski sisiknya cukup keras dibandingkan dengan spesies ular lain, serbuk merica telah melemahkan pertahanannya. Bahkan salah satu pukulan tersebut mencapai mata.


Deretan pukulan tidak terlihat itu berhenti ketika Basilisk akhirnya kehilangan kendali untuk bergerak. Kepalanya akhirnya roboh terbalik pada tanah di dekat salah satu bekas reruntuhan bangunan, menutup mata.


Beatrice dan Sans berpaling dari kejauhan menyaksikan Basilisk itu telah berhasil mereka kalahkan. Berkat gabungan serangan bola asap dan serbuk merica serta kemampuan pukulan jarak jauh Riri sekuat tenaga, mereka sama sekali tidak menyangka bahwa misi kelas A itu telah terselesaikan.


Riri menghela napas lega menyaksikan Basilisk telah mati di tangannya. Dia berpikir misi kelas A bukan main-main, bahkan lebih keras daripada misi kelas B.


Dia menoleh pada dua keadaan dari jarak jauh. Yudai tergeletak tidak sadarkan diri akibat tubrukan Basilisk terhadap pilar. Sans sungguh berjuang keras melawan rasa sakit akibat tertimpa bongkahan besar reruntuhan.


Dia terlebih dahulu berlari lurus dan menjerit untuk memastikan, “Katherine. Yu-Yudai baik-baik saja, kah?”


Katherine membalas, “Yu-Yudai pingsan! A-aku coba gunakan Heal II!” 


Cukup panik menyaksikan Yudai masih tidak sadarkan diri, Katherine meletakkan kedua tangan pada kepala Yudai.


“Refra eht bruzzar, hela morf eht weib siqlo!”


Riri berbalik dan mulai melesat sekuat tenaga. Tenaganya, lebih tepatnya chakra, telah terkuras setelah mengalahkan Basilisk, maka tidak heran gerakan dalam melangkah mulai melambat. Seluruh tubuhnya, terutama bagian lengan, menjadi kaku dan menerima rasa sakit.


Setelah berusaha sekuat sisa tenaga untuk menemui Sans dan Beatrice, kedua kakinya seakan roboh saat berlutut. Napasnya terengah-engah untuk mengumpulkan kembali tenaga.


“Sa-sakit sekali,” ucap Sans.


“Sans!” Beatrice semakin panik. “A-aku belum tahu lagu untuk menyembuhkan sama sekali! A-aku sama sekali—”


“Biar aku saja,” ujar Riri menempatkan kedua tangan pada punggung Sans.


“Ri-Riri? Ta-tapi kamu—”


Riri menganggapi perkataan Beatrice, “Kupakai sisa chakraku!”


“E-eh?”


“Ke-kenapa? Monk juga … dapat menggunakan chakra untuk menyembuhkan.”


Riri menutup mata dan mulai berkonsentrasi penuh. Chakra dari tubuhnya dia salurkan melalui tangan menuju tubuh Sans. Konsentrasinya cukup stabil meski kelelahan.


“A-ah.” Sans dapat merasakan kelegaan di balik rasa sakit hebat berkat sumbangan chakra oleh Riri.


Riri membuka mata, menatap raut wajah Sans mulai berkurang kerutnya. “Ka-kamu akan segera pulih, Sans. Kamu a-akan baik-baik sa—”


Pandangan Riri lama-kelamaan memudar seiring kehilangan tenaga untuk bertahan. Tubuhnya akhirnya roboh ke tanah, ikut kehilangan kesadaran.


“Ri-Riri!” jerit Beatrice panik.


“I-indah sekali. La-langit malam di Riswein benar-benar indah.” Itulah kata-kata terakhir Sans sebelum pandangannya ikut menghitam.