Lorelei Chronicles

Lorelei Chronicles
Episode 188



“Sans? Yudai? Dan … Beatrice?”


Duke tercengang menatap Beatrice juga ikut bersama Sans dan Yudai menuju kantor pribadinya. Ia menghela napas, baru saja ia sampai di akademi karena sebuah tugas yang dibicarakan Hunt waktu itu, ikut penyelidikan Royal Table.


“Astaga. Masuklah.”


Tanpa perlu bertele-tele lagi, begitu menutup pintu, ia langsung tahu apa yang akan mereka bertiga katakan, bahkan sebelum terlontar melalui bibir Sans.


“Penyelidikan Royal Table kan?”


Sans bertanya, “Da-darimana Anda tahu itu, Profesor?”


Yudai dan Beatrice juga meniupkan napas, sama tercengangnya bahwa Duke ikut penyelidikan Royal Table bersama para royal guard.


“Saya yakin salah satu profesor memberitahumu. Dan juga kalian berdua.”


Beatrice membantah, “Tidak. Kami tidak tahu.”


Giliran Yudai yang bertanya, “Sierra. Bagaimana dengan Sierra?”


Duke berbalik menghadap meja ruang depan kantor pribadinya, ingin sekali ia duduk di sofa, ingin sekali menyuruh ketiga murid itu duduk di hadapannya. Sayang sekali, ia berubah pikiran dengan kembali berbalik.


“Sierra … seperti yang kalian tahu, dia sudah dikeluarkan karena tidak mengikuti ujian akhir—”


“Bukan,” Yudai memotong dan meminta penjelasan lain, “Maksud kami, Sierra adalah mata-mata Royal Table. Bagaimana—”


“Dengar.” Duke mengangkat kedua tangan, wajahnya termalingkan dari wajah ketiga muridnya. “Saya rasa kalian harus keluar dari sini.”


“Ke-kenapa?” ucap Beatrice. “Padahal kita—”


Sans tahu mengapa. Ia merentangkan tangan kirinya pada Beatrice. “Kita tahu terlalu banyak soal Royal Table? Ya. Pihak akademi dan kerajaan tidak ingin melibatkan murid-muridnya terlalu jauh. Apa saya benar?”


Duke melipat kedua tangan dan mendekatkannya pada dada. Ia terdiam terus melirik pintu keluar ruang pribadinya. Diam berarti benar, Sans menyimpulkannya.


***


“Ayo kita ke pantai kota ini!!”


Itulah sahutan Zerowolf saat seluruh teman dekat sesama lelaki berkumpul di lounge room. Masih mengerang sehabis berada di tempat tidur di kamar masing-masing lebih lama. Yudai dan Tay sampai menatap langit-langit gedung asrama sambil menghela napas. Riri dan Neu juga menepuk jidat, dapat terlihat mereka membuka mulut dan mendekatkan kepalan tangan seraya menahan menguap.


Tapi … yang menarik perhatian mereka adalah, Zerowolf sudah bertelanjang dada, hanya memakai celana ketat hijau, berbentuk segitiga. Riri dan Neu sampai memalingkan wajah sejenak saking seperti silaunya celana itu.


“Tidak bisakah kamu pakai celana renang yang lain saja?” sahut Neu.


“Kenapa harus pakainya di sini?” tambah Riri.


“Tidak seru dong kalau pamer pakaian renang hanya di pantai. Lebih baik, kalian ganti di sini juga!” sahut Zerowolf.


“Pantai? Kita akan ke pantai!!” sahut Yudai bangkit dari duduknya.


“Dari tadi kamu tidak mendengarkan!” tanggap Neu dan Riri bersamaan.


“Oke!!” sahut Yudai melepas mantel dan kemejanya sampai bertelanjang dada. Tidak berhenti sampai di situ, kedua tangannya mencapai bagian atas celana dan ia ingin mendorongnya ke bawah.


“YUDAI!!” sahut Sans dan Riri buru-buru menghentikan aksi Yudai, mengetahui ia belum memakai celana renang.


***


Tidak seperti hari-hari biasa, apalagi saat itu adalah hari pertama musim panas. Sedikit sekali kapal yang berdatangan di dermaga atau singgah di tepi pantai. Justru, pantai di selatan ibu kota menjadi ramai dengan penduduk. Tidak hanya itu, tetapi juga beberapa wajah familier seperti murid Akademi Lorelei juga terlihat.


Ramai, sangat ramai. Cukup banyak yang bersantai di pasir putih, mulai dari berjemur, hanya duduk, hingga bermain-main. Segala kalangan usia, semuanya hadir.


Sans dan teman-temannya tercengang ketika tiba di pantai, tepat setelah melewati tangga pembatas antara pantai dan kota. Mereka sudah memakai celana renang masing-masing dan bertelanjang dada. Setidaknya, tidak seperti Zerowolf, Sans dan Yudai memakai celana pendek mencapai lutut, sementara Neu tetap memakai celana panjang cokelat. Tay dan Riri memakai celana boxer.


Riri mengomentari keramaian pantai itu, “Te-ternyata … pantainya ramai dengan pengunjung. Aku tidak percaya ini!”


“Ini kan hari pertama musim panas. Sudah menjadi hal wajar kalau semua orang di kota ini, termasuk murid Akademi Lorelei sekalipun, ingin pergi ke pantai ini,” Zerowolf mengungkapkan, “tapi itu lho yang paling penting.”


Zerowolf menunjuk beberapa gadis berpakaian renang, mulai dari memakai pakaian terbuka yang ketat dan menonjolkan lekuk tubuh, hingga senyuman halus dari mereka. Keduanya sudah cukup untuk memicu mimisan.


“Apa yang kamu pikirkan, Zerowolf!” sahut Riri sudah menebak.


“Ah! Benar juga!” Yudai memukulkan kepalan tangan kanan pada telapak tangan kiri. “Ini kesempatan kita untuk menaklukkan para gadis! Dengan pakaian renang ini!” Mata Yudai berbinar cahaya begitu melihat dirinya kembali, apalagi dengan hanya memakai celana pendek kuning bergaris hijau.


“Benar, Yudai! Hari ini kita bersaing siapa yang akan menarik perhatian perempuan duluan!”


“Terdengar aneh … tapi menarik!”


“Nah! Siapa yang berhasil memberi kesan terbanyak pada perempuan—”


Riri menepuk jidatnya lagi melihat tingkah laku Yudai dan Zerowolf, hanya ingin menarik perhatian perempuan berpakaian renang.


“Mereka ini ….”


Sans berkomentar, “Setidaknya ini hari pertama musim panas. Jadi sudah seharusnya mereka bersenang-senang, setelah ujian akhir semester sih.”


“Oiii!!” Sahutan Beatrice terdengar dari kiri mereka, meski pantai sudah cukup ramai. “Kalian sudah di sini rupanya!”


Panggilan Beatrice memicu Zerowolf langsung melirik padanya. Langsung terbayang Beatrice, Katherine, dan Ruka, hingga bahkan Lana dan Sandee sudah berpakaian renang. Pipinya memerah dan liurnya menetes, tidak sabar ingin menyaksikan mereka berpakaian terbuka.


“Halo! Maaf terlambat,” sapa Beatrice lagi.


Hanya Beatrice, Katherine, dan Ruka. Zerowolf langsung tersandung mendapati ketiganya masih berpakaian seperti biasa. Beatrice memakai kemeja putih berlengan pendek berpita kuning dan rok panjang biru muda terang, persis sama seperti saat Sans dan Yudai pertama kali bertemu dengannya, kecuali ia tidak mengenakan sun hat.


Tay langsung menyindir, “Kenapa kalian tidak mengenakan pakaian renang seperti yang lain. Panas sekali lho.”


Ruka memalingkan wajah. Ia mengenakan baju tanpa lengan hitam beserta celana pendek hijau. “Tidak perlu. Memakainya saja sudah bisa kubayangkan para lelaki hidung belang.”


Katherine, yang memakai baju hijau berlapis kemeja putih dengan motif gaun di bawah dan rok pendek hitam, ikut memalingkan wajah. Tidak seperti Ruka yang sinis, wajah Katherine memerah seperti biasa begitu melihat Yudai hanya bercelana renang.


Beatrice langsung terpana melihat tubuh Riri sudah seperti terpahat. Dada bidang, mulai perut sedikit berbentuk kotak-kotak, dan lengan cukup besar. Setidaknya masih kurang kalau dibandingkan dengan tubuh Farrar. Sans, Yudai, Zerowolf, Tay, dan Neu belum mampu menyaingi Riri berbicara tentang tubuh bagian atas mereka.


“Omong-omong kita ke sini buat apa ya?” Saking terpananya, Beatrice jadi lupa tujuan untuk ke pantai.


“Bahkan kalian lupa tujuan kalian!”  sahut Riri.


“Sebelum itu, Yudai. Kita bersaing siapa yang duluan menarik gadis-gadis!!” Zerowolf langsung berbalik mencuri start.


“Hei! Curang!!” Yudai pun mengejar Zerowolf seraya mengikuti langkahnya dalam bersaing.


“Oke. Kita juga ikut bersenang-senang?” Riri ingin memastikan.


“Ayo!!” sahut Beatrice mengikuti sikap Yudai, mengangkat tangannya ke atas.


Saat mereka semua mulai bergabung dengan keramaian di pantai, semangat mulai terpancar pada wajah berseri-seri. Meski panas menyengat memicu keringat mengalir, segala aktivitas memicu euforia masuk ke dalam otak.


Yudai dan Zerowolf frustrasi karena tidak dapat memberi kesan pada beberapa gadis berpakaian renang. Persaingan pun berakhir seri, maka mereka memutuskan untuk bergabung dengan Sans, Tay, Neu, dan Riri untuk bersenang-senang di tepi laut, terutama bermain air. Panah dan peluh seakan tersapu oleh air laut, terutama sapuan ombak.


Berbagai aktivitas mereka lakukan di tepi pantai, mulai dari bermain cipratan air dan menyelam untuk laki-laki. Bagi Beatrice, Ruka, dan Katherine, semenjak mereka tidak memakai pakaian renang, membangun istana pasir menjadi satu-satunya pilihan, apalagi sambil melihat keenam teman laki-laki mereka di laut.


Sayang sekali, istana pasir mereka tertendang oleh sebuah bola. Bukan hanya runtuh, tetapi hancur total menjadi gunungan butiran pasir. Beatrice dan Katherine menjadi murung, lupa dengan fakta bahwa pantai ibu kota sangat ramai hari itu.


Kurang lebih satu setengah jam berselang, Neu memutuskan untuk duduk di pasir putih menyaksikan kelima teman laki-laki lainnya masih berada di air, terutama Yudai dan Zerowolf yang mengambil ancang-ancang untuk balapan renang.


Beatrice pun mendekatinya dan duduk di samping kanan. Ia meliriknya sedikit melotot.


“Kamu tidak ikut?” Beatrice bertanya.


“Aku ingin bersantai dulu. Yudai dan Zerowolf, mereka seperti biasa ingin bersaing lagi. Lelah aku menyaksikan tingkah mereka.”


Dilihatnya Yudai dan Zerowolf mulai masuk ke dalam air dan mengepakkan lengan serta menendangkan kedua kaki, memulai balapan renang. Dilihatnya juga Sans bersorak pada mereka berdua.


Beatrice mematahkan konsentrasi Neu. “Oh ya, Cherie tidak ikut?”


“A-apa?”


“Cherie. Familiar yang biasanya di bahumu?”


“Oh. Cherie, benar.” Neu hampir lupa saking keasyikan berada di pantai. “Aku sudah mengajaknya. Tapi akhirnya dia tidur terus. Sudah kubangunkan dia berkali-kali setelah memakai pakaian renang, dia terus tidur di meja.”


“Jadi begitu. Padahal aku penasaran lho sama kekuatannya Cherie.”


Neu berandai-andai sendiri. Jika saja Baron tidak menghentikan mock battle-nya melawan Tay, pada saat Cherie berancang-ancang menggunakan kekuatannya, tentu saja seluruh temannya tidak akan menganggap familiarnya itu sebagai lelucon. Ia pasti akan sumringah mendapati seluruh temannya terpana dengan kekuatan Cherie.


Sayang sekali, selama ini ia belum sempat memamerkan kekuatan Cherie, bahkan saat ujian akhir semester sekalipun. Ia tahu, selama ini seluruh murid Akademi Lorelei sudah mengecap Cherie sebagai familiar tidak berguna. Itu yang ia dengar semenjak bootcamp di Vaniar.


“Ja-ja-jangan! Jangan tunjukkan itu! Berhenti!!”


Jeritan Katherine menghentikan perenungannya. Wajahnya terangkat menyaksikan Katherine berlari terbirit-birit melewati hadapan mereka.


“Tidak apa-apa ini lucu kok.” Ruka mengejar Katherine sambil membawa setidaknya dua ekor kerang berbadan lendir.


“A-apa yang Ruka lakukan?” Neu sampai tidak bisa berkata-kata lagi melihat tingkah lakunya.


“Kalau saja—” Beatrice menganggukkan kepalanya. “—pantai bisa seramai ini kapan saja. Aku pasti akan senang.”


“Um, sebenarnya pantai ini banyak aktivitas nelayan lho. Mungkin sesekali saat musim panas, akan sering seperti ini. Lagipula—”


“AAAAA!!” Lagi-lagi kata Neu terpotong, kali ini jeritan Zerowolf di laut, mendapati Yudai lagi-lagi berhasil kembali ke garis awal balapan lomba. “Sialan! Kalah lagi!” Ia memukul permukaan laut.


“YESS!!” sahut Yudai.


“Mereka juga.” Neu mengamati perilaku mereka berdua juga.


Beatrice bangkit dari duduknya. Ia menempatkan kedua tangan dekat mulutnya dan mengambil ancang-ancang dengan menarik napas.


“Semuanya!!” Beatrice menyahut. “Kita istirahat dulu yuk! Di tavern itu!”


“Eh? Tavern yang mana?” sahut Neu.


Beatrice menunjuk sebuah bangunan terpencil di tepi pantai. Sebuah bangunan berbentuk seperti log cabin biasa diserubungi oleh pohon bakau. Terdapat pula pengunjung yang keluar masuk dari sana.


“Aku, Ruka, dan Katherine melihat tavern ini sebelum menemui kalian lho!”


***


Sebuah log cabin terbuat dari tumpukan kayu, berdua tingkat, seperti sebuah penginapan saja. Halaman depan berlantai  kayu pula, sangat sederhana. Mereka menilai tavern itu terdapat lalu lalang pengunjung, terbukti dari pintu depannya yang terbuka lebar.


“Permisi!” sapa Beatrice dan Yudai masuk duluan secara bersamaan.


“E-eh?” Riri tercengang mendapati keduanya masuk duluan.


Sebuah meja bar di sebelah kanan lengkap dengan kursi-kursi bundar dan lemari minuman beralkohol, beberapa meja bundar penuh tamu yang menegak secangkir atau setenggak minuman sambil bercengkerama, dan di sudut kiri ruangan, terdapat sebuah tangga dan jam besar lantai warna cokelat muda ber-pendulum.


Cat cokelat kekuningan di bagian bawah dinding seakan memudar menjadi kebiruan di bagian atasnya, menggambarkan suasana pantai, lantai cokelat bercampur putih terbuat dari marmer. Sans dan teman-temannya sampai membuka mulut, tidak menyangka tempat terpencil dari pantai dan ibu kota dapat seindah ini.


“Selamat datang,” sapa seorang bartender berkepala plontos dan berjenggot tipis memenuhi dagu dan pipi.


Mendapati setidaknya enam kursi di hadapan meja bar masih kosong melompong, mereka mendekatinya. Sans kemudian melirik ke belakang, terdapat beberapa pelayan yang juga mengantarkan makanan menuju meja. Jadi, ia menyimpulkan tavern itu ibarat sebuah bar atau kedai.


Bartender itu memberikan selembaran menu begitu Beatrice dan Katherine menempati dua dari enam kursi kosong di depan meja bar itu. Beatrice terlebih dahulu melihat-lihat setiap tulisan dari menu itu.


Ale, bir, anggur, sider, teh, susu segar, dan air segar dari pegunungan, itulah menu minuman yang tertulis. Sedangkan menu makanan tersedia salad, stuffed eggs (telur isi), daging panggang, dan sup kambing dan kubis. Berbeda dibandingkan kedai yang biasanya mereka kunjungi, terutama toko roti di dekat pusat ibu kota.


“Aku mau coba bir saja,” ungkap Ruka.


“Aku setuju. Aku juga ingin bir,” tambah Tay.


“He-hei!” sahut Neu memperingatkan bahwa bir adalah minuman beralkohol dan memabukkan.


“Aku segelas susu saja,” ucap Beatrice.


“Sans?” Yudai memperhatikan Sans terdistraksi oleh ramainya tavern sampai wajahnya seperti kosong, seakan sedang memelamunkan sesuatu.


Seorang gadis berambut cokelat tua pendek dengan sisi kiri dicukur gundul berpapasan dengan mereka. Begitu menatap tepat pada Yudai, ia menghentikan langkah, terdiam sejenak, menatap tepat pada mata.


Yudai tertegun mengenali sosok gadis itu. Ia mengingat kembali ciri khas yang familier, melihat wajahnya, langsung terpicu sebuah kilas balik.


“Yu-Yudai?” sapa gadis itu ingin memastikan.