Lorelei Chronicles

Lorelei Chronicles
Episode 159



Setelah Sans, Yudai, Riri, dan Tay menaiki tangga demi mengejar Beatrice yan digiring oleh sang ibu dan Earth, kedua belah pihak, murid Akademi Lorelei dan seluruh pelayan keluarga Beatrice, mulai beradu senjata. Ruang depan yang menjadi lokasi pesta pernikahan berubah menjadi seperti arena pertandingan gladiator berbahaya. Kursi-kursi mulai berjatuhan akibat hantaman punggung “peserta”-nya.


Katherine dan Sierra mengangkat tongkat mereka melafalkan mantra untuk menambah perlindungan defensif seluruh temannya dari jarak jauh. Jika perlu, mereka juga melafalkan mantra untuk menyembuhkan seperti Heal II.


Zerowolf yang sampai mundur mendekati kedua priest itu setiap kali menembak setelah membidik terus meleset, entah karena gerakan pelayan berpedang yang tidak terduga cukup cekatan dalam menghadapi lawan atau hanya terkena lantai. Frustrasinya karena masih tidak percaya dengan situasi seperti ini membuatnya sampai menggeleng kepala. Konsentrasinya sedikit buyar.


Ia menarik napas dan menutup mata sejenak, merenungkan kembali tujuan utamanya, bersaing melawan Yudai dalam menjadi murid archer terbaik. Ia mengambil panah dari quiver-nya sebelum membuka mata dan menempelkan ekornya pada tali busur.


“Ha!” salah satu pelayan di hadapan mereka telah menebas perut salah satu royal guard pendamping hingga tumbang. Tatapannya merujuk pada Katherine dan Sierra sebagai sasaran empuk selanjutnya, berpikir jika menumbangkan kedua murid priest itu, seluruh lawannya akan tumbang seketika.


Katherine terbelalak menyaksikan pelayan itu berlari dan mengambil ancang-ancang mengayunkan pedangnya ke belakang. Sierra yang berada di dekatnya justru masih berkonsentrasi memberikan mantra Protection pada seluruh temannya di depan. Sampai-sampai ia menoleh tepat di hadapannya.


“Astaga!” jerit Sierra begitu beralih pada pelayan yang mulai mengayunkan pedangnya mengarah pada Katherine.


Untungnya, panah tembakan Zerowolf mencapai tepat pada betis pelayan tersebut, memicu nyeri hebat yang menumbangkannya ke lantai. Katherine menyingkir sambil masih menjerit ke kanannya sampai tongkatnya ikut jatuh.


“Akhirnya, aku kasih kamu ampun.” Berbanding terbalik dengan ucapannya, Zerowolf justru kembali menembak punggung pelayan itu agar memastikan ia benar-benar tumbang.


“UWAAAA!!” jerit beberapa pelayan satu per satu sampai terlempar ke segala sudut ruangan. Salah satunya sampai menubruk piano dan salah satu pilar. Nyeri hebat di punggung tentu membuat tidak mampu berdiri kembali melanjutkan pertarungan.


Irons dan Sandee menjadi garda terdepan untuk mengalahkan setiap pelayan itu, meski melihat Tatro seorang diri melawan Oya di dekat tangga menuju lantai atas. Masih ada setidaknya lima pelayan berpedang tersisa.


Ruka dan Lana masih kesulitan meski mereka melawan hanya satu pelayan. Mereka tidak menyangka kemampuan berpedang lawannya itu hampir menyamai mereka. Setiap kali mereka mengayunkan pedang dan menubrukkannya, kecepatan lawan sedikit lebih cepat.


Mata pedang lawan sampai menembus tipis pipi kiri Lana hingga rambut sedikit terpotong. Ia sampai tersandung terpicu oleh serangan tersebut. Tangan kanannya terlebih dahulu menyentuh lantai, tubuhnya hampir terjatuh dan menyeimbangkan diri agar kembali bangkit perlahan.


Ruka kembali menyerang bertubi-tubi, tanpa menggeretakkan gigi dan menunjukkan ekspresi lelah, hanya membuang napas. Ia menubrukkan mata pedangnya dengan milik sang lawan. Ia juga melompat dan bergeser ke samping kanan untuk mencari celah, sayangnya ia mendapati reaksi lawannya cukup cekatan.


Beralih ke dua orang royal guard pendamping, mereka kini berperang melawan tiga pelayan berpedang. Mereka sampai kewalahan, melawan satu pelayan seperti mereka sudah merepotkan, apalagi tiga-tiganya.


Salah satu dari royal guard tersayat tepat pada dada dan tumbang. Melihat situasi tersebut, Zerowolf dan Katherine melaju, membiarkan Sierra tetap di belakang untuk menyembuhkan royal guard di dekatnya.


Zerowolf kembali membidik salah satu dari dua pelayan yang tengah menyerang satu royal guard itu. Cukup cepat ia mengambil panah, menempatkan kaki kiri di depannya, dan mulai menembak. Gerakan targetnya yang cukup cepat, membuat tembakannya justru meleset.


“Ah, sial!” umpat Zerowolf. “Aku juga jadi satu-satunya murid laki-laki di sini, pasti akan lebih cepat mengalahkan pelayan-pelayan sialan ini.”


“Aku dengar itu lho!” sahut Sandee masih menangkis serangan pedang menggunakan halberd-nya.


“AAA—” jerit salah satu pelayan yang telah terhantam pedang Irons di bawah tulang leher mendekati dada, memancarkan cipratan darah.


Irons beralih pandangan pada Tatro yang tengah menggunakan tombaknya untuk melawan Oya. Mengingat bagian tongkat kayu tombak Tatro sangat rapuh jika tersayat pedang, ia menggelengkan kepala. Kemudian, ia beralih kembali menyerang pelayan yang menjadi lawan Sandee dari samping kiri.


Dua pedang pun bertubrukan kembali, saling mendorong. Serangan Sandee mampu menembus pertahanan pelayan itu, hanya menembus lengan kiri secara tipis. Nampaknya tidak terlalu berpengaruh semenjak pelayan itu hanya menggenggam pedang menggunakan tangan kanan.


“Ah, aku benci mengatakannya, sebaiknya kamu bantu Tatro—” Irons memberi perintah pada Sandee.


“JANGAN KEMARI!!” bentak Tatro. “Ini pertarungan antara aku dan dia! Jangan ikut campur!”


Sandee membentak balik, begitu khawatir menatap pilihan senjata Tatro dalam menghadapi Oya, “Kamu gila!”


“Aku memang gila!” sahut Tatro. “Aku ingin memberinya pelajaran dan menangkapnya! Tidak bisa dimaafkan!”


“Heh. Aku tidak melakukan kesalahan apapun. Ini sudah wajar dalam tradisi,” sindir Oya, “aku harapkan lebih baik dari ini, royal guard.”


“Tradisi mulutmu!” sahut Tatro kembali mendorongkan tombaknya kembali memelesatkan serangannya.


Oya mengayunkan pedangnya dari bawah demi menangkis serangan itu. Kedua mata senjata itu saling berbentrokan saking sengitnya pertarungan itu. Keduanya saling dorong-mendorong sampai maju-mundur, bahkan bergeser.


“Apa urusanmu untuk membantu mereka, si murid akademi yang tidak berguna itu? Mereka tidak pantas menjadi teman Beatrice! Derajat mereka lebih rendah. Earth pantas bersamanya! Kamu dan teman-teman royal guard-mu hanya manusia rendahan, setara dengan rakyat jelata.”


“Memangnya kenapa!” Tatro kembali mendorong tombaknya, sifat determinasinya memicu ledakan tenaga. Dorongan tombaknya lebih intens, maka Oya juga menangkisnya cukup cekatan.


“Aku berharap yang lebih baik darimu, royal guard. Tapi ternyata, kamu hanya rendahan. Dari kemampuan bertarungmu, bisa dibilang kamu tidak pantas menyandang gelar itu.”


Kamu lebih tidak pantas menjadi seorang royal guard. Pikiran itu terpicu oleh ucapan Oya bagi Tatro. Ia menggeretakkan gigi menahan emosi, ingin tetap tenang dalam bertarung.


“HAAAAAAA!!” jerit Tatro saat kembali mengayunkan tombaknya dari atas, memanfaatkan lambatnya Oya bereaksi mengayunkan pedang. Dari samping, tombaknya menggores bagian atas bahu kiri jas hitam Oya hingga robek.


Oya menoleh pada goresan itu yang mulai menunjukkan sedikit dari kulit bahunya. Untungnya, serangan itu tidak menembus bagian luar kulit, hanya mencapai bagian kemeja putihnya.


“Ka-kamu merusak bajuku,” ucap Oya.


Oya kembali meradang. Ia mendorong pedangnya ke arah depan demi kesempatan menusuk Tatro. Sungguh terpicu sampai ia mengandalkan sedikit amarah sebagai tenaga.


Tatro dengan cepat bertahan menggunakan mata tombak sebagai pertahanan. Ia kembali mundur tanpa menoleh ke belakang, sudah tahu ia sudah menginjak anak tangga terakhir menuju pertigaan tangga, yakni lantai datar berkarpet merah.


Oya akhirnya menggunakan kaki untuk mengecoh Tatro, seakan sedang menendang ke depan. Tatro pun tercengang sampai mendorong bagian batang tombaknya ke depan, menjadikannya sasaran empuk.


“Ah!” jerit Tatro menyadari mata pedang Oya mencapai tombaknya.


Pedang Oya pun membelah tombak Tatro menjadi dua, mengagetkannya. Ia juga mendapati kulit lengan kanannya sedikit teriris, meneteskan sedikit darah.


“TATRO!!” jerit Sandee.


“Cih,” gumam Zerowolf yang mulai membidik Oya, mempercepat dalam menarik tali busur dan panah secara bersamaan. Ia menggerakkan busur agar memastikan ia telah fokus.


“Heh!” jerit Oya saat bagian belakang tombak Tatro sudah terjatuh terbelah. “Bahkan usahamu sia-sia saja, royal guard kelas tiga.”


“Kata siapa!”


Tatro langsung mengayunkan bagian mata tombaknya seperti menggunakan pedang. Karena Oya terlambat mundur dan bergeser, bagian pisau tombak Tatro mengiris kulit dagu.


“AAAH!” jerit Oya menyentuh luka kecil pada dagu selagi Tatro mendahului dan berbalik menatapnya kembali.


“Jangan pernah meremehkan seseorang yang senjatanya telah terbagi menjadi dua.”


“Meski begitu—" Oya kembali mengangkat pedangnya. “—pedangku masih utuh! Mati!”


Tiba-tiba, panah milik Zerowolf melayang saat ia menembakkannya, mencapai pergelangan tangan kanan Oya. Pedang tersebut jatuh dari tangannya, sampai meluncur melewati tangga.


“A-apa?”


Zerowolf menjerit dari bawah tangga. “Terima itu.”


“Sudah kubilang, aku tidak butuh bantuan,” ucap Tatro.


“Ayolah, tombakmu sudah terbagi menjadi dua, jadi dirimu patut kubantu.”


“Si-sial!” Oya mengumpat.


“Kalau begitu, terima kasih banyak!” jerit Tatro mendorongkan tombaknya kembali, melihat Oya telah membelakangi tepat di dekat tangga menuju ruang depan.


“A-ah!” jerit Oya tercengang terlambat bereaksi.


Tatro melancarkan serangan dan melompat, mendorongkan tombaknya selagi di udara ke bawah, tepat menuju dada Oya.


“AAAAAH!!” jerit Oya saat ia terkena serangan itu dan kehilangan kendali. Kaki kirinya terlebih dahulu tersandung melewati anak tangga


Tubuh Oya berguling melewati tangga menuju lantai bawah hingga tubuhnya terasa remuk, sukar untuk kembali bangkit, bahkan setelah menempatkan kedua tangan ke lantai sebagai tumpuan.


“Uh!” jerit salah satu pelayan yang masih beradu pedang melawan Irons. “Ke-Ketua Oya!”


“Si-sial ….” Oya sudah tidak dapat lagi bertarung, menatap Tatro di puncak anak tangga di hadapannya.


“Jangan pernah meremehkan royal guard tingkat bawah seperti kami, terutama diriku!” jerit Tatro.