
Mereka tidak salah dengar, setidaknya itu yang teman-teman Sans pikirkan. Kalimat pengumuman mendadak itu seakan jernih terngiang-ngiang di telinga.
Yudai seperti membeku mendengar keputusan Sans. Ia menghela napas sama sekali tidak terpikir teman sekamarnya akan bertindak sejauh itu.
“Sebentar.” Zerowolf mengangkat tangannya. “A-apa kamu bergurau?”
“Apa maksudmu? Kamu meninggalkan Akademi Lorelei?” tanya Neu.
Yudai pun bersuara, “Ke-kenapa … Sans? Kamu tidak bilang—”
“Yudai,” Sans memotongnya, “semuanya, aku sudah tidak pantas lagi untuk berada di sini.”
Seperti sebuah sayatan tajam, semuanya tertegun iba begitu Sans memaparkan kalimat tersebut. Terlebih, mengingat stereotipe yang sudah lekat bagi mantel tanpa job, mereka tidak ingin itu terjadi lagi.
Riri langsung tahu penyebabnya, maka ia menegaskan, “kata-kata Profesor Alexandria? Tidak. Itu tidak benar. Kamu tahu itu tidak benar. Kamu sudah bersusah payah sampai lulus ujian akhir semester. Setidaknya kamu tidak dikeluarkan!”
Beatrice menambah, “Benar! Kami akan bersedia membantumu, seperti sebelumnya. Kami bahkan rela membantu sampai kamu berhasil menggapai tujuanmu, Sans! Kamu tidak sendiri.”
Sans menatap langit-langit, menahan napas. “Kenapa kalian rela? Kenapa kalian rela sampai direpotkan.”
“Sans …,” gumam Neu.
“Aku hanya menjadi beban kalian,” Sans menjelaskan sambil mendesah berkali-kali, “kalian … dalam masalah … karena aku. Profesor Alexandria benar. Alchemist … tidak punya tempat di Akademi Lorelei, kerajaan Anagarde, dan bahkan dunia ini.”
“Tidak! Tidak!” Neu membantah menghampiri Sans. “Kamu tidak perlu perlu memasukkannya ke dalam hati, Sans. Kamu sendiri tahu, Profesor Alexandria salah. Kamu bisa menjadi alchemist di akademi ini. Kamu bisa membantu kami, kami membantumu, sesederhana itu. Kita semua teman!”
Teman. Sans menilai teman memang mengisi sebuah kekosongan. Jika ia mengandalkan teman-teman demi keuntungannya, ia merasa terus merepotkan semuanya.
“Be-begini. Bagaimana kalau begini!” Yudai berputus asa dalam meyakinkan Sans. “Kita ke gunung berapi. Kita ke sana bersama-sama. La-lalu … lalu … kita cari phoenix, dan ambil air matanya. Itu bahan pertama dari obat ibumu. Apa aku benar?”
Sans menggeleng. “Kalian sudah terlalu banyak ikut campur denganku. A-aku … ingin—"
“Tolong jangan pergi, Sans!” Mata Beatrice mulai berlinang. “Kamu dan Yudai sudah membantuku mengambil air mata phoenix liburan musim dingin lalu! Sekarang giliranku untuk membalas budi. Aku ingin membantumu ke gunung berapi, mendapatkan air mata phoenix.”
“Aku juga,” Neu menambah, “saat kita pertama kali ke gunung berapi, waktu itu, aku dan Tay mengacaukannya. Aku … tidak tahu kamu, Yudai, dan Tay juga mengincar air mata phoenix waktu itu. Aku ingin membantumu sebagai permintaan maaf waktu itu. Jadi … tolong tinggal. Tetaplah tinggal.”
Sans kembali membisu, terlebih menatap air mata bercucuran dari Beatrice, ekspresi memelas Yudai dan Neu, dan wajah masam Riri, Zerowolf, serta Katherine.
Katherine terbata-bata menambah, “Ja-jangan pergi. Ki-kita tidak bisa … kehilanganmu juga seperti Sierra.”
Sans mendesah kembali, semakin banyak ia harus pertimbangkan. Mendengar permintaan temannya sungguh berat untuk ia tolak, baik secara halus atau kasar. Pada saat yang sama, ia merasa dirinya tidak lagi berhak melanjutkan belajarnya di Akademi Lorelei. Perkataan Alexandria terus terngiang-ngiang, memicu kembali retakan di hatinya.
Memang benar, tidak seperti murid tahun pertama tanpa job lainnya, ia masih memiliki teman-temannya. Selalu bersama, baik dalam suka dan duka, bercengkerama, menjalankan misi, berlatih bersama, dan menghadiri kelas. Hampir kompak, mereka bersama-sama menanggung kesalahan.
Ia tidak akan bertahan lama jika tanpa bantuan mereka, terutama Beatrice dan Yudai. Ia menghela napas, cukup berat untuk mengungkapkan keputusannya.
“A-a-aku akan … tinggal.”
Kelegaan mendarat di benak teman-teman Sans, sampai membuang napas. Badai di dalam otak meredup memunculkan keriaan. Wajah pun kembali berseri-seri mendapatinya berubah pikiran.
“Bagus,” ucap Riri, “kamu masih punya masa depan di sini, Sans. Percayalah. Kamu tidak usah hiraukan kata-kata orang. Fokus pada dirimu saja.”
Zerowolf menambah, “Ya, dia benar. Saat aku disebut cari perhatian, gagal berkali-kali melawan Yudai—” Ia menekankan kata-katanya menoleh pada Yudai. “—ya, aku masih ingin menang melawanmu, Yudai; teman sekelasku ber-job archer, mengolok-olokku. Tapi aku sendiri hanya fokus pada diriku, mengembangkan diri tanpa mendengar omongan orang lain.”
Yudai menyeringai polos. “Itu sih, aku akan menang lagi.”
“Lihat saja nanti, Yudai.”
Yang lainnya sedikit memecahkan gelak tawa, reaksi terhadap persaingan Yudai dan Zerowolf tidak berubah. Sans hanya tertawa sedikit, meredam suaranya.
Sans tahu, di balik tawanya, terdapat banyak kekosongan. Kegembiraan seperti teredam di telinganya. Sejenak ia menatap ke atas dan ke bawah sebelum kembali bergabung dalam kegembiraan itu.
***
Ditatapnya Yudai yang terbaring mendengkur cukup keras menghadap ke dinding di sebelah kirinya, Sans merasa iba. Ia duduk di tempat tidurnya menghadap Yudai, lagi-lagi berlinang air mata dan meringis pelan.
Lagi-lagi perkataan Alexandria muncul secara berulang-ulang. Itu pun memicu dirinya menutup wajahnya membendung air mata. Ingin sekali membantah, ingin sekali mengelak, ia tidak bisa.
Tidak terbantahkan ia adalah seorang alchemist, job ilegal di Akademi Lorelei. Ia terpikir, jika job itu benar-benar ilegal di kerajaan Anagarde, ia seharusnya dihukum, termasuk eksekusi mati seperti yang terjadi pada alchemist lainnya. Ia mengingat seluruh alchemist setelah insiden mematikan itu mendapat eksekusi mati.
Kata-kata Dolce waktu ia terpuruk setelah mendapat provokasi Conti sebelum ujian akhir semester ikut menguatkan. Ia tahu keputusannya akan membimbing menuju masa depannya. Tetapi, ia tahu, sudah terlalu banyak penderitaan yang dialami Sans setelah terekspos.
Kata-kata Alexandria menjadi senjata pamungkas untuk meruntuhkan hatinya. Tidak peduli ia memotivasi dirinya sendiri, tidak peduli teman-temannya terus membela dan memintanya untuk tetap tinggal, tekadnya sudah bulat semenjak ia bangkit dari tempat tidur.
“Maafkan aku, Yudai.”
Sans beralih menghampiri meja dan menarik secarik kertas kosong dari halaman belakang Buku Dasar Alchemist miliknya. Disiapkannya pula pena bulu dan botol tinta di meja.
“Semuanya … maafkan aku.”
Air matanya semakin menetes begitu ia menjatuhkan pena bulu di meja. Ia menyandarkan kepalanya di meja, terlarut dalam kepedihan.
Ia sudah kehilangan motivasi untuk tetap tinggal. Ia sudah tidak bisa lagi menyemangati dirinya sendiri.
***
Yudai mengangkat kedua tangan ketika ia tersadar dari mimpi. Cukup cepat ia bangkit dari tempat tidur. Lalu ia memperhatikan di kamarnya, terutama di tempat tidur sebelahnya, Sans tidak hadir.
Melirik ke meja dekat jendela, ia terenyak menatap selembar kertas sudah diletakkan di atasnya. Rambut di tepi luar kulit tangannya mulai merinding. Sungguh, jantungnya sampai berdebar kencang meraih kertas itu.
Baru saja membaca dua paragraf pertama cukup cepat, ia tersentak. Segala bayangan di otaknya seperti pecah berantakan, mematahkan sifatnya yang biasanya selalu semangat sampai menjatuhkan kertas itu.
“Yudai! Ini gawat!!” Neu mengetuk pintu nyaring sambil menjerit panik.
Tanpa memedulikan panggilan itu, ia melesat dan mendobrak pintu keras-keras.
“Holy ****! Tunggu dulu!” seru Neu baru saja bereaksi menyaksikan Yudai menuruni tangga menuju lounge room dan meninggalkan mereka begitu saja. “Yudai!!”
Yudai sama sekali tidak memedulikan sekitarnya. Ia berlari sekencang-kencangnya melewati tangga menuju pintu keluar asrama. Ia berbelok mengiringi selasar menuju ruang depan.
Masih belum ada murid-murid yang berkeliaran di sekitar selasar, apalagi ruang depan kastel. Setelah mendobrak gerbang utama kastel itu, ia berlari kencang, sangat kencang. Terpicu pula potongan memori terkilas sambil ia berlari menuju jembatan pembatas antara halaman kastel dan ibu kota.
Ayah, Ibu! Jangan pergi! Ayah! Ibu!
Kilasan saat menyaksikan kedua orangtua meninggalkan kampung halaman tanpa membawa dirinya semakin memicu air mata menetes. Ia tidak ingin Sans sama seperti kedua orangtuanya, meninggalkannya begitu saja.
Sans bukan hanya menjadi teman pertamanya sejak awal, sejak mereka bertemu di sebuah dermaga di benua Grindelr untuk berangkat menuju ibu kota, ia sudah menjadi rekan setianya semenjak menjadi murid Akademi Lorelei. Ia sudah berperan membantu Sans untuk menjadi seorang alchemist, dalam perkembangannya pula. Sans juga sudah sering mendukungnya untuk menjadi archer seperti sekarang.
Begitu ia menginjakkan kaki di pasir putih, rintikan hujan mulai turun. Ia sudah tiba di pantai, tempat di mana ia dan Sans pertama kali menapakkan kaki di benua Aiswalt, sekaligus tempat perpisahan mereka berdua dari Nacht, mantan royal guard kerajaan.
Ia berlari berkeliling, melirik-lirik, berharap Sans ada di antara kesibukan di dermaga pada pagi buta. Ia hanya melihat penumpang dari kapal berlarian di bawah hujan sebelum memasuki ibu kota. Beberapa nelayan juga berlarian menggiring kotak barang.
Tidak ada! Sans sama sekali tidak terlihat.
Yudai berlari ke sebuah jembatan, yakni pusat dermaga, memicu keheranan nahkoda dan kru kapal yang baru saja turun dari kapal atau tengah mempersiapkan untuk berangkat. Kapal yang baru saja meninggalkan dermaga tersebut memicunya untuk memanggil.
“Sans! Sans!!”
Terulang lagi! Kapal besar yang baru saja meninggalkan dermaga itu seperti sebuah kereta kencana orangtuanya waktu kecil, apalagi sedang hujan deras. Ia berlutut dan memandang langit-langit, ia gagal menemukan Sans. Kapal yang ia incar seakan memasuki kabut di hadapannya.
Ia menyentuh kepala begitu tangisannya meledak, sama seperti awan kelabu yang tengah menghujani pantai dan seluruh ibu kota, sampai seluruh pakaiannya benar-benar basah. Jeritannya mengundang keheranan seluruh orang di /sekitar sampai menghampirinya.
“Sans!! SANS!!”
***
Kepada seluruh teman-temanku.
Maafkan aku telah meninggalkan kalian. Maafkan aku telah berubah pikiran. Jika kalian sedang membaca surat ini, aku sudah pergi dari ibu kota dan kembali ke Grindelr.
Semakin memikirkan perkataan Profesor Alexandria, semakin turun motivasiku untuk meneruskan studi di Akademi Lorelei. Apalagi aku sudah mengambil jalan yang salah menurut beliau, aku seorang alchemist. Aku juga telah menyebabkan Profesor Duke mati.
Kalian sudah mendukungku, menyemangatiku, dan juga membantuku untuk berkembang seperti sekarang. Terima kasih banyak sudah membantuku bertahan di Akademi Lorelei selama dua semester penuh.
Kalian harus meneruskan impian kalian belajar di Akademi Lorelei. Aku yakin, kalian pasti akan lulus dan mencapai tujuan masing-masing.
Selamat tinggal, semuanya.
Membaca kembali surat itu di lounge room hingga kalimat terakhir, Beatrice roboh berlutut meluruskan kaki. Surat yang ia genggam ikut terjatuh ke lantai. Air matanya kembali pecah, terpicu karena Sans telah mengingkari janji saat kemarin.
“Beatrice!” Neu berlutut menyentuh pundaknya membantu bangkit kembali dan memeluknya.
Beatrice menjerit histeris sampai memicu Riri dan Zerowolf mempercepat langkah menuruni tangga, menghampiri keduanya. Katherine, begitu menginjakkan kaki di lantai lounge room, ikut menghampiri.
“TIDAAAK! SANS!! jerit Beatice mengangkat kedua tangan seakan ingin menampar wajahnya sendiri.
“Beatrice, sudah, sudah,” Neu mencoba menenangkan Beatrice, meski dirinya masih merasakan tubuhnya sendiri bergetar sebagai reaksi kepergian Sans.
Zerowolf meratapi kepergian Sans, menatap langit-langit. “Oh Dewa … Setelah Sierra, kini Sans juga.”
THE END
OF
PART ONE
Dua orang lelaki menapakkan kaki mereka di pesisir pasir putih. Angin sepoi-sepoi lembut memandu harmoni keadaan pantai yang tengah menerima terik sinar matahari, burung camar berterbangan di langit biru cerah, nyaris tanpa awan.
“Akhirnya kembali juga ke sini,” ucap lelaki berkulit sawo matang, berambut panjang, dan bermantel cokelat muda bertudung itu.
“Benar,” tanggap lelaki berkulit putih berambut pendek dengan poni menutupi seluruh kening dan berpakaian kemeja putih kancing terbuka, menonjolkan badan kotak-kotaknya,“ kita ambil air mata phoenix itu dulu, lalu kita terapkan apa yang sudah kita latih sudah lama sekali, Sans.”
Sans menegakkan kepalanya, menatap gerbang. Kastel akademi juga terlihat dari kejauhan, memicu segala kenangan terkilas. Akan tetapi, ia menggelengkan kepala, ingin sekali fokus pada saat itu.
“Dua tahun aku tidak kemari. Ini saatnya untuk fokus.”
Benar, sudah dua tahun semenjak Sans meninggalkan ibu kota. Tetapi keadaan pantai ibu kota sama sekali tidak berubah, sibuk dan ramai. Ia secara angkuh melangkah tanpa memedulikan sekitar, terutama masyarakat ibu kota yang menoleh pada dirinya dan temannya itu.
Meski begitu, ia sudah berubah total, benar-benar berubah. Ia ingin fokus pada tujuannya kembali, membuat obat untuk sang ibu.
Perjuangannya berlanjut kembali ….