
Seluruh putaran duel pun akhirnya berakhir. Seluruh profesor telah berbaris di hadapan barisan murid tahun pertama yang tengah menunggu hasil ujian akhir semester, terutama bagian duel.
Hunt menyampaikan, “Terima kasih banyak telah menunjukkan kemampuan kalian sejauh ini. Kami melihat terdapat perkembangan dari sebagian dari kalian semenjak aptitude test berakhir. Tetapi, sebagian dari kalian tidak menunjukkannya. Kami, sebagai lawan dan penguji kalian, telah membuat keputusan siapa yang lulus atau tidak.
“Hasil ini akan mempengaruhi performa kalian selama berada di akademi. Saya ingin mengatakan bahwa siapapun yang gagal dalam ujian akhir semester, baik tertulis dan duel, sebaiknya kalian hati-hati. Kalian harus berjuang sebaik mungkin. Jika sampai akhir tahun kedua kalian terus gagal, kalian akan dikeluarkan.”
Seluruh murid pun mulai tertekan ketika mendengar pengumuman tersebut. Memang terdengar sebagai ancaman, apalagi bagi Sans, hal ini menjadi penyebab mayoritas dari murid bermantel putih dikeluarkan dari akademi.
Hunt melanjutkan, “Sebelumnya, Profesor Dolce sudah menyatakan bahwa Beatrice, Neu, Tay, Yudai, dan Sans telah lulus ujian duel. Profesor Baron juga telah menyatakan Zerowolf telah lulus.”
Mendengar pengumuman tersebut, beberapa dari murid lain merasa jengkel, mengetahui bahwa keenam murid telah mendapat pengumuman kelulusan lebih awal. Mereka juga masih tidak percaya bahwa Sans, murid bermantel putih, dapat lulus.
Keempat mantan teman Tay juga menggeretakkan gigi mendengar pengumuman tersebut. Mereka sama sekali tidak senang bahwa Tay lagi-lagi lulus bagian ujian akhir semester.
“Baik. Alexandria, silakan.”
Alexandria kini mengambil alih, “Saya akan mengumumkan murid-murid yang lulus ujian duel, selain keenam murid yang telah tadi disebutkan. Begitu saya memanggil nama kalian, kalian lulus. Saya akan memanggil secara acak, tidak memandang job masing-masing.”
Beatrice menghela napas lega. “Akhirnya. Kita tidak perlu menunggu nama kita dipanggil lagi.”
Alexandria mulai memanggil nama, “Pico, Bronson, Ringo, Sera, Jule—”
Satu per satu murid yang namanya dipanggil mulai lega dan bahagia. Ketegangan seakan terangkat dan tergantikan oleh kesenangan. Langkah pertama untuk tetap bertahan di akademi telah tertempuh setelah perjuangan selama satu semester.
Neu berkomentar, “Hanya tinggal Sierra dari kelompok kita yang menunggu kelulusan dari ujian ini.”
“Sierra.” Panggilan Alexandria sontak membuat Sierra tercengang.
Sierra bernapas lega mendengar bahwa dia telah lulus. Perjuangannya dalam menyembuhkan setiap murid yang terluka akhirnya membuahkan hasil.
“Riri.”
Riri mengepalkan tangan kanan dan mengayunkan ke udara merayakan keberhasilan. “Aku berhasil!”
“Lana.”
Lana tersenyum lebar mendengar namanya terpanggil.
Semakin tidak sabar para murid untuk mendengar nama dipanggil, semakin tegang pula perasaan mereka.
“Selesai.” Pengumuman Alexandria telah berakhir.
“A-apa?” tegas beberapa murid yang namanya belum terpanggil.
Penyesalan dan frustrasi. Seluruh murid yang tidak lulus mengutarakan perasaan tersebut. Usaha mereka akhirnya berujung penyesalan.
“Harap tenang!” ucap Dolce memecah kegaduhan itu. “Ujian duel ini memiliki presentase lebih tinggi dalam standar kelulusan ujian akhir semester kalian. Maka, besok kalian akan melihat kelulusan kalian lebih lengkap di papan dekat aula.
“Jika kalian masih tidak lulus. Saya harap kalian renungkan baik-baik. Kalian harus bekerja lebih keras agar tetap bertahan di akademi.
“Selain itu, saya yakin kalian benar-benar lelah. Semua kalian telah jalani selama satu semester. Kami sudah melihat perjalan kalian masing-masing untuk mengembangkan diri. Setelah ini, kalian bisa pulang ke rumah masing-masing untuk beristirahat.”
Beberapa murid pun menyatakan kelegaan ketika mendapat waktu istirahat dari akademi. Kegembiraan pun meledak.
“Tapi—” Dolce kembali memecah kegembiraan. “—sebelum kalian pergi kami punya sebuah pengumuman lagi. Kalian memiliki tugas selama liburan akhir semester ini berlangsung.”
“A-apa?” jerit beberapa dari murid tahun pertama.
“Ti-tidak mungkin!”
“Tunggu, kenapa jadi begini! Kenapa harus ada tugas saat kita ingin beristirahat dengan tenang!” Yudai juga ikut berkomentar sambil menyentuh kepalanya.
Dolce akhirnya mengumumkan tugas tersebut, “Pada awal semester berikutnya, kita akan mengadakan field trip lagi. Lokasi field trip kalian selanjutnya adalah … Pulau Familiar Izaria.”
Beberapa dari murid tahun pertama menjerit girang ketika mendengar kata Familiar, entah mereka kenal atau tidak. Setidaknya, mereka dapat kembali bertamasya dan bersenang-senang.
Hunt akhirnya melanjutkan pengumuman itu, “Lokasi field trip berikutnya telah diumumkan. Sekarang giliran tugasnya untuk diungkapkan. Tugas selama kalian berlibur. Kalian harus mencari referensi tentang Pulau Familiar Izaria. Bukan hanya itu, tetapi juga cara menangkap makhluk yang berkategori Familiar di sana.”
Alexandria menambah, “Carilah referensi sebanyak mungkin, baik itu di perpustakaan di sekitar rumah kalian atau informasi dari orang terdekat. Kalian juga boleh mencarinya di perpustakaan akademi ini. Lalu buatlah lembaran ilmiah berisi hal-hal itu. Kami ingin tugas itu dikumpulkan begitu kalian kembali masuk ke akademi saat semester baru tiba.
“Jika kalian tidak mengumpulkannya, kalian tidak boleh ikut field trip.”
Seperti biasa ancaman Alexandria benar-benar mengintimidasi. Cukup ngeri ketika mendengar konsekuensi jika tidak mengerjakan tugas, apalagi terlontar dari mulut profesor paling dibenci di akademi itu.
Dolce pun mengakhiri pengumuman tersebut, “Bagi murid yang tidak lulus ujian semester, ini kesempatan kalian untuk menambah nilai. Yakinkan kami dengan tulisan kritis kalian. Besok, pengumuman ujian akan dipampang. Semoga berhasil untuk kalian semua. Kalian boleh pergi.”
Seluruh murid tahun pertama berbaris mulai meninggalkan arena ujian tersebut, yaitu ruang pertarungan fisik yang juga terpakai sebagai kelas swordsman. Topik percakapan di kalangan murid sudah pasti, keluh-kesah tentang tugas selama libur akhir semester, apalagi hasil ujian duel.
“Familiar?” ulang Neu. “Sepertinya aku pernah membaca.”
“Eh? A-apa itu?” Beatrice bertanya.
Neu menolak menjawab, “Sebaiknya kalian cari tahu sendiri. Aku belum begitu mengerti kalau berbicara soal Familiar.”
Tay menyindir, “Cih. Kamu malah tidak tahu hal itu, meski kamu berlagak sok pintar, mata empat.”
Sindiran itu memicu Neu. “Be-beraninya kamu berkata begitu? Jangan hanya andalkan kepintaranku. Buktinya kamu menjadi malas saat mempersiapkan untuk ujian tertulis, kan?”
“Bilang saja kamu tidak tahu soal Familiar, mata empat.”
“Su-sudah, sudah,” Beatrice mencoba melerai ketika mereka telah melewati pintu keluar dari lokasi ujian duel.
***
Hasil ujian akhir semester bagi murid tahun pertama telah terpampang di sebuah papan samping pintu aula. Semuanya berbondong-bondong melihat hasil secara keseluruhan dengan mencari nama untuk mengetahui peringkat dan nilai.
Seperti perkataan Dolce, nilai ujian duel memiliki presentase lebih tinggi daripada ujian tertulis. Tidak heran beberapa murid yang merasa aman dengan nilai ujian tertulis harus rela menyaksikan nilai jeblok karena nilai duel di bawah standar.
Pembahasan tentang nilai pun menjadi pokok utama. Beberapa mengutarakan kepuasan telah lulus ujian akhir semester secara keseluruhan sambil berdiskusi.
“Berhasil! Aku lulus”
“Untung saja aku lulus ujian duel.”
“Si-sial! Kenapa aku tidak lulus?”
Komentar dari setiap murid berdatangan ketika mengetahui hasil masing-masing.
Neu menyaksikan namanya berada di peringkat ketiga dalam hasil ujian akhir semester. Memang sudah tertebak, berkat perjuangannya dalam duel dan nilai sempurna dalam ujian tertulis, dia menjadi salah satu murid tahun pertama dengan nilai tertinggi.
Beatrice memuji Neu, “Kamu memang pintar seperti biasanya. Untung kita lulus ujian duel.”
“Itu karena kita berjuang dengan keras. Beatrice, kamu berada di peringkat 10 lho.”
“Eh! Benarkah?” Beatrice pun melihat peringkat sebelas, tercengang bahwa dirinya berada di sepuluh besar. “Terima kasih, Neu! Kamu memang rekan pertarungan yang baik!”
Yudai melirik setiap peringkat atas sambil mendekatkan telunjuk pada dagunya, gaya seorang detektif. “Semoga aku setidaknya dapat peringkat yang bagus.”
“Sans! Sans! Ada namamu! Yudai juga!” Beatrice kegirangan menunjuk nama mereka.
“Eh?” Sans melirik namanya dalam peringkat ujian tersebut.
Peringkat 26, terdapat nama Sans di sebelah kanannya. Sementara nama Yudai terdapat di sebelah nomor 29. Keduanya tertegun mendapati hasil tersebut cukup memuaskan, sama sekali tidak menyangka.
“Oh ya, Yudai!” Zerowolf menghampiri Yudai dari samping kanannya. “Seperti yang diharapkan. Aku dapat peringkat 35! Sekarang peringkatmu—”
Yudai mengungkapkan sebelum Zerowolf mulai memindai, “—29.”
“Hah!” jerit Zerowolf tertegun. “Si-sial! Aku kalah lagi!”
Tay mengomentari peringkatnya, “47, tidak buruk. Setidaknya aku selamat dalam ujian akhir semester ini.”
“Lalu Sierra … di peringkat keenam?” tunjuk Neu. “He-hebat. Sierra juga benar-benar hebat dalam menyembuhkan orang yang terluka. Setidaknya kita semua lulus untuk sekarang. Kurasa peringkat saat semester berikutnya bisa berubah.”
Zerowolf pun menunjuk Yudai, “Selanjutnya aku tidak akan kalah darimu, Yudai! Pertama, akan kutantang kamu dalam mock battle lagi! Begitu kita tiba kembali di akademi, bersiaplah! Sampai jumpa saat awal semester!”
Kehebohan Zerowolf mengundang perhatian sebagian besar murid tahun pertama di barisan terdepan, cukup melongo.
“I-iya,” balas Yudai menyaksikan Zerowolf meninggalkan barisan tersebut.
Sans berkomentar, “Ki-kita benar-benar beruntung. Bisa mengetahui kelulusan kita saat ujian duel. Dolce mengungkapkannya.” Dia menatap telapak tangan kanannya sendiri. “Dolce benar, aku sudah berkembang dibandingkan aptitude test waktu itu. Tapi aku masih saja menjadi murid bermantel putih, tanpa job seperti kalian.”
Yudai menepuk bagian belakang kepala Sans. “Kamu bicara apa, Sans? Setidaknya kamu berhasil! Kamu tetap punya masa depan cerah di akademi ini untuk sekarang! Menurutku, kita semua sudah berkembang sejauh ini. Semester depan, kita akan lebih berkembang, akan banyak tantangan baru yang akan kita hadapi, terutama saat field trip ke Pulau Familiar Izaria!”
“Kamu benar,” Sans setuju, “bagian awal dari mimpi kita telah tercapai.”
“Benar, benar!” Beatrice mengangguk.
Neu menghadap keempat teman dekatnya, yang tidak hadir hanyalah Sierra. “Jadi, selama libur semester ini, kita akan pulang ke kampung halaman masing-masing, sambil mencari informasi tentang Pulau Familiar Izaria tentunya.”
Sans menundukkan kepalanya. “A-aku akan tetap di sini. Di akademi ini, selama libur akhir semester.”
“Eh? Kenapa?” ucap Neu tertegun.
“Aku juga,” jawab Beatrice, “aku sudah tidak punya tempat lagi untuk kembali. Akademi ini sudah menjadi rumah bagiku. Aku akan lebih aman di sini daripada kembali ke keluargaku. Aku tidak ingin kembali dipaksa oleh ibuku, untuk menjadi gadis yang sama sekali tidak kuinginkan, sesuai standar keluarga bangsawan.”
Yudai juga mengungkapkan, “Aku juga akan tetap di sini.”
“Yu-Yudai,” gumam Neu.
“Aku ingin melatih diriku untuk menjadi lebih kuat di sini. Bagiku, ini juga rumah. Akademi Lorelei menjadi tempat berlatih untuk menjadi lebih kuat dan mengasah kekuatanku. Aku sudah menulis surat untuk kakek dan nenekku tadi pagi agar mereka tidak khawatir.”
“Ka-kalian.”
Tay membalas, “Terserah kalian jika ingin tetap di akademi. Aku akan kembali ke rumahku. Tentu aja aku ingin cepat mencari informasi untuk tugas itu.”
Neu mengepalkan tangannya tidak tahan. “Da-dasar, paling tidak kamu hanya menganggur.”
“Dasar mata empat.” Tay mengangkat alisnya. “Aku … benar-benar serius ingin mengalahkanmu! Selanjutnya, aku tidak akan kalah!”
“Bagaimana kalau kita ke kedai roti untuk merayakan keberhasilan kita semua! Meski tidak ada Sierra?” usul Beatrice girang.
“Ayo! Aku ingin makan roti didampingi dengan secangkir teh!” Yudai mulai bersemangat melangkah menuju pintu keluar.
“Tu-tunggu, Yudai! Dasar kamu pencuri start!” Neu segera menyusul.
“Terserah mereka.” Tay menggeleng.
“Oh ya, Sans.” Beatrice meliriknya begitu meninggalkan papan pengumuman nilai. “Akhirnya kamu berhasil, melampaui ekspektasi kebanyakan murid. Kamu bukan sekadar murid bermantel putih yang tidak punya job.”
“Ah. I-iya. Aku benar-benar tidak menyangka.”
“Selanjutnya, kita berjuang bersama lagi ya! Dimulai dari saat libur akhir semester berlangsung!” Beatrice semakin melebarkan senyuman.
“I-iya!”
***
“Bagaimana proses misimu, Black Jack’s apprentice?”
Seorang lelaki berambut kribo dan berkulit hitam pekat menjadi lawan bicara Sierra ketika mereka tengah berdiri di tengah-tengah hutan lebat, ketika matahari mulai bersembunyi di balik awan putih bagai kapas.
Sierra mengungkapkan hasilnya, “Memang benar, mereka telah menghancurkan segalanya yang berkaitan dengan rahasia itu. Rahasia tergelap dari akademi. Tetapi, dokumen tetap bisa dibuat kembali, direkonstruksi menjadi suatu hal yang baru. Atau—”
“Atau apa?”
“Aku akan menggunakan pikiran mereka untuk membuat sebuah dokumen untuk mengekspos rahasia tergelap akademi ini. Mereka dapat menutup mulut untuk menyembunyikan sebuah kebenaran, berbohong adalah jawabannya. Tetapi, sebuah kebohongan akan terungkap pada akhirnya.
“Jika ada kesempatan bagus, aku akan menggunakan sihir untuk menyalin pikiran setiap profesor di akademi. Begitu semua terkumpul, aku akan menyimpulkan rahasia tergelap itu. Kemudian, kita jalankan rencana untuk menghancurkan reputasi Akademi Lorelei.”
“Bagus, Black Jack’s Apprentice. Rencanamu menarik sekali, benar-benar menarik. Rahasia gelap itu merupakan kelemahan Akademi Lorelei.”