Lorelei Chronicles

Lorelei Chronicles
Episode 31



Sama seperti bagian luar, bagian dalam labirin Oslork memiliki dinding pagar rumput yang merambat seperti semak belukar. Kali ini, sama sekali tidak ada alas berupa langit-langit atau atap, melainkan hanya pandangan langit yang tampak. Langit biru cerah menjadi penanda waktu tugas di Labirin Oslork bagi seluruh murid tahun pertama Akademi Lorelei.


Tanpa petunjuk berupa peta atau sebagainya, masing-masing kelompok mengeksplorasi labirin tersebut, melewati dan memilih secara acak atau suara mayoritas setiap belokan yang ditemui. Sering sekali mereka menemui sebuah jalan buntu hingga mereka harus berbalik. Tidak sedikit pula yang melupakan jalan sebelumnya karena tekanan batin entah ketakutan akan berbagai rintangan, tersesat di tengah jalan, atau kejutan tidak terduga.


Beruntung, mereka belum menemukan rintangan yang sebelumnya telah disebutkan Hunt dan Dolce, berhubung masih bagian awal dari labirin. Satu-satunya rintangan hanya memanfaatkan kesabaran ketika tersesat dan di dalam tekanan untuk mencari jalan.


Terdapat pula kesempatan atau peluang langka bahwa dua kelompok akan saling bertemu. Jika itu terjadi, mereka akan saling menyapa. Bahkan, ada satu kejadian yang menyebabkan perseteruan antar kelompok bahkan sebelum memulai bekerja sama untuk menyelesaikan tugas.


Matahari pun mulai naik memancarkan sengatan terik pada labirin. Tidak heran begitu banyak yang memutuskan untuk beristirahat sejenak. Peluh mereka mulai bercucuran akibat sengatan panas cuaca cerah tersebut. Lebih buruknya, sedikit pula yang membawa botol air demi melepas dahaga. Kelompok yang sama sekali tidak membawa air setetes pun harus rela menahan dahaga di balik teriknya matahari yang semakin menuju puncak.


Kelompok 13 menjadi salah satu kelompok yang sama sekali tidak membawa sebotol air. Tidak heran jika langkah Yudai, Tay, dan Neu mulai melambat demi menahan diri dari kurasan tenaga.


Tay mengeluh, “Seharusnya kalian setidaknya bawa air!”


Yudai menjawab, “Maaf, kalau tahu begini, aku pasti bawa air. Ternyata Labirin Oslork cukup luas.”


“Cukup luas, bodoh! Mereka bilang kita harus mencari jalan keluar sebelum matahari terbenam! Pasti ini lebih luas dari dugaan kita!”


Neu menghela napas. “Siapa juga yang sudi repot-repot membawa air, lalu tersesat!”


“Jangan ikut campur, mata empat! Terpaksa kita di sini tanpa air, matahari terik, dan tersesat di antah berantah seperti ini!” jerit Tay.


Yudai mencoba kembali menenangkan sambil mengangkat kedua tangan. “Sudah, sudah. Ini bukan saatnya untuk bertengkar. Kita hanya harus tenang untuk menghemat tenaga dan menahan dahaga.”


“Terserah.” Tay mendahului Yudai dan Neu di posisi terdepan.


Neu pun menyusul dan berbicara pada Yudai, “Dia orang yang buruk sekali! Tidak heran tidak ada yang mau berteman dengannya dengan sikap seperti itu!”


“Lagi-lagi kamu bilang begitu,” tanggap Yudai, “tapi kenapa sekali lagi kamu mengganggap begitu? Aku bahkan percaya ada sesuatu yang tersembunyi di—”


“Sikap buruk tidak pernah berbohong sama sekali, Yudai,” Neu mengemukakan, “aku mengerti dia ingin menjadi royal guard, dia berakhir menjadi seorang swordsman. Kamu juga ingat saat Tay dan mantan teman setia-nya menyerang dirimu dan Sans. Kamu juga sendiri tahu dia adalah orang yang tidak baik.”


“Cepatlah!” jerit Tay sambil berbelok kiri.


Yudai mempertanyakan perkataan Neu sambil mengikuti Tay, “Kenapa kamu masih saja berkata begitu? Aku tahu, dia lolos aptitude test bagian akhir, dia juga membawa pedang dari awal, dan kudengar dari beberapa orang dia punya kemampuan berpedang yang mengagumkan, meski aku belum pernah melihatnya. Tapi aku juga heran mengapa meski kemampuan Tay yang bisa dibilang mengagumkan, mengapa yang lainnya harus iri? Mengapa yang lainnya harus menilai dari sikapnya? Mengapa kamu menganggapnya sebagai orang jahat?”


Neu memberi tanggapan, “Karena pada akhirnya setiap orang akan melihat orang lain dari sikapnya terlebih dahulu, bisa dibilang sebuah representasi dari kepribadian diri. Dengan representasi dari kepribadian Tay seperti itu, tidak heran semua orang iri, dan tidak ada yang mau dekatnya dengannya sebagai teman. Itu juga berlaku pada sikap konyolmu seperti kamu nekad memanjat pohon sampai menjatuhkan sarang lebah pada kepala Sierra saat aptitude test bagian luar.”


Yudai membela diri sambil sedikit menyeringai, “Sebenarnya itu tidak disengaja. Aku bahkan tidak tahu kalau ranting pohon yang kutunggangi sudah mau patah.”


“Setidaknya kamu punya representasi kepribadian lebih baik daripada Tay, setidaknya. Jangan berbuat hal konyol lagi kalau tidak mau membahayakan kita semua.”


“Itu jiwa petualangku!” Yudai mulai berlari menyusul Neu dan Tay. “Setidaknya kita belum tahu apa-apa lagi tentang Tay, kan?”


“Kamu bisa lihat sendiri apa dia orang baik atau jahat.”


***


Berbagai patung aneh juga kerap ditemui dalam berbagai bentuk dan rupa. Patung-patung tersebut kebanyakan terbuat dari rerumputan, hampir sama seperti dinding pagar labirin. Akan tetapi bentuk patung-patung tersebut membuat hampir semua kelompok melongo, tercengang ketika menatap patung tersebut saat berbelok.


Salah satunya kelompok 15, yaitu Sans, Beatrice, dan Sierra. Mereka mendapati sebuah patung berbentuk lonjong dengan bentuk ikatan tali di bagian depan. Bentuk aneh patung tersebut membuat mereka tercengang dan tidak tahu harus berkata apa.


Bagi Beatrice, keanehan patung tersebut menjadi hal unik. Matanya berbinar kagum terhadap “kreativitas” tersembunyi di balik bentuk patung-patung di Labirin Oslork. Senyumannya melebar seakan memuji sesuatu yang berbeda daripada biasanya.


Sierra menyimpulkan bentuk patung di hadapan mereka setelah mengambil belokan, “Bo-bokong kuda?”


Sans sampai membeku seperti patung sejenak, berpikir patung bokong kuda bukanlah hal yang masuk akal. Terlebih, wajah kuda berada di bagian belakang patung tersebut.


Berbagai patung berbentuk aneh juga termasuk bentuk bundar 360 derajat pada kepala dan badan. Wajah patung makhluk bundar tersebut juga datar tanpa ekspresi, mata dan bibir tertutup lurus tanpa melengkung sama sekali.


Patung-patung berbentuk aneh tersebut sempat membuat hampir seluruh kelompok menghentikan langkah hingga terdistraksi, bahkan kelompok 13 juga menatap patung berbentuk seorang perempuan berwajah penuh keriput, bermulut lancip seperti unggas, berambut bagaikan kobaran api, dan beranting berlian.


Yudai memuji patung tersebut, “Patung itu akan kuingat sebagai salah satu patung terbaik yang pernah kulihat.”


Tay menggeleng. “Berarti seleramu payah.”


“Cepatlah! Jangan buang waktu lagi untuk melongo!” bujuk Neu menunjuk belokan kiri di hadapan patung tersebut.


“Diamlah, mata empat!” jerit Tay.


Seluruh dinding pagar rumput tiba-tiba bergetar. Dinding pagar tersebut mulai terbelah dan bergeser, seperti membelah diri.


“A-apa yang kamu lakukan!” ucap Neu.


“A-aku tidak melakukan apapun!” jerit Tay.


Seluruh kelompok juga terhenti ketika menatap seluruh dinding pagar rumput mulai bergetar dan membelah diri, tercengang akan kejadian tersebut secara mengejutkan, apalagi matahari telah mencapai puncak langit, pertanda bahwa sudah tiga jam telah berlalu semenjak kelompok satu masuk ke dalam labirin.


Beberapa kelompok bergeser ke samping atau mundur ketika dinding pagar mulai bergerak demi menghindari kemungkinan tubrukan. Seluruh dinding pagar tersebut berpindah entah berputar atau bergeser membuat tatanan baru dan berbeda.


Beatrice berkomentar ketika seluruh dinding pagar di sekitar dirinya, Sans, dan Sierra telah terdiam beradaptasi pada tatanan baru, “A-apa ini pernah dikatakan oleh Profesor Hunt dan Profesor Dolce?”


Sierra menjawab, “Aku tidak ingat. Sepertinya mereka menambah hal ini!”


Beberapa kelompok seperti kelompok 13 dan kelompok 15 telah mencapai bagian tengah dari Labirin Oslork. Tidak peduli hawa panas atau dahaga memperlambat langkah, mereka tetap rela melanjutkan perjalanan menyusuri setiap belokan.


Bagian tengah tersebut menjadi hal yang paling mengejutkan seluruh kelompok. Pasalnya, seluruh rintangan yang telah disebutkan sebelumnya oleh Hunt dan Dolce berpusat di sana. Beberapa kelompok sudah telanjur menemui beberapa dari rintangan tersebut.


Beberapa murid terkena halusinasi yang masih tidak diketahui penyebabnya, entah karena hawa panas atau puncak dahaga disebabkan sama sekali tidak membawa air, sebotol air telah habis, kecemasan dan ketakutan akan labirin tersebut, atau apapun. Peluang untuk mendapat halusinasi cukup acak. Halusinasi pun diawali ketika mereka mengira telah keluar dari Labirin Oslork. Setelahnya pun bervariasi, ada yang tiba di sebuah kota, ada pula yang tiba kembali di rumah.


Halusinasi tersebut menggambarkan hal-hal tidak terduga, seperti kembali ke Akademi Lorelei, mendapat pujian dari keluarga, dan mendapat senjata baru. Halusinasi tersebut tampak akan terhenti dalam beberapa saat bergantung dari orang yang mendapatkannya.


Ketika murid-murid yang terkena halusinasi itu tersadar, sering sekali mereka telah terjebak di dalam rintangan, mulai dari mendapat jeritan makhluk spooky, menabrak pagar rumput, terikat oleh ranting, hingga terkena gas tidur oleh jamur. Jeritan makhluk spooky dari kejauhan juga dapat menyadarkan dari halusinasi.


Jeritan pun meledak dari berbagai murid yang telah mendapati rintangan-rintangan tersebut, entah karena tersadar dari halusinasi atau bukan. Siapapun yang menjerit cukup panik ketika mendapati makhluk spooky menakuti-nakuti atau ranting hidup bergerak mengikat tubuh.


Beruntung bagi kelompok 13 dan 15, mereka sama sekali tidak mendapat halusinasi. Mereka terus melanjutkan perjalanan dengan kecepatan berbeda. Kelompok 13 semakin melambat ketika hawa panas semakin terik dan mengeringkan tenggorokan lebih jauh.


Tay menatap ke belakangnya memperhatikan langkah Yudai dan Neu semakin melambat dibandingkan diri sendiri. Dia terhenti kembali menoleh tidak tahan lagi, meski dirinya juga mengalami tenggorokan kering dan dahaga hebat akibat panas udara terik.


“Kalian hanya memperlambat!” sindir Tay. “Kalau saja hanya tugas individu, aku pasti akan cepat sampai!”


Neu membalas sindiran Tay, “Ini tugas kelompok, Tay. Aku tahu kamu tidak menerima tugas, begitu juga dengan diriku. Yudai juga. Kita semua sama sekali tidak meminta kedua hal ini.”


“Lalu kenapa para professor setuju begitu saja dengan kelompok ini! Kalau ini kelompok hasil undian—”


“Cukup!” Neu menjerit. “Ini adalah hasil undiannya, mau tidak mau kita harus terima! Aku juga sebenarnya tidak sudi berkelompok denganmu!!”


“Um, Tay, Neu, sudah, jangan buang-buang tenaga untuk bertengkar,” Yudai mencoba untuk melerai pertengkaran dengan melangkah menuju antara mereka berdua.


“Baiklah, aku tidak terima dengan kelompok ini!” Tay meninggikan nadanya ketika berbalik menuju sebuah jalan menuju pertigaan. “Persetan dengan tugas kelompok. Aku akan mencari jalan keluar sendiri! Kalian bisa meninggalkanku sekarang!”


Tay berjalan cukup cepat menuju pertigaan jalan tersebut, seorang diri, meninggalkan kedua teman satu kelompoknya. Neu tidak punya lagi kata-kata untuk menasihati sebagai balasan, amarah semakin membara di dalam hati.


Yudai hampir mengambil ancang-ancang untuk mulai melangkah demi mengikuti Tay agar berubah pikiran. Neu pun menghentikan hanya menggunakan kata-kata.


“Biarkan saja dia. Dia yang akan bertanggung jawab atas kegagalan kita sebagai kelompok, apalagi mengerjakan tugas ini! Terserah dia kalau memang berniat untuk menjatuhkan kita semua.”


Yudai mencoba untuk membalas, “Ta-tapi kan—”


“Jangan ada perdebatan lagi. Kita akan cari jalan keluar hanya berdua. Kita akan keluar bersama.”


Yudai hanya mengangguk pelan. “I-iya.”


“AAAAH! Lepaskan! Lepaskan!” Jeritan Tay cukup nyaring tiba di kedua telinga Yudai dan Neu.


Tanpa perlu berargumen lagi, Yudai dengan cepat berlari menuju pertigaan jalan di hadapannya itu, mendengar jeritan Tay dari belokan kanan.


“Yudai!” jerit Neu mengejar.


“AAAH!” jerit Tay tersandung setelah kedua kakinya terikat oleh sebuah ranting hidup.


Tay mengambil pedang dari punggung dan menggenggamnya menggunakan tangan kanan sekuat tenaga. Pedang tersebut dia upayakan untuk mengayun demi menebas ranting yang mengikat kedua kaki tersebut.


Namun, ranting hidup dari pagar rumput di samping kanannya juga meraih tangan kanan, menjatuhkan pedang ke lantai. Jeritan Tay semakin mengerang ketika tangan kanannya ikut terikat, diikuti oleh dadanya.


“Tay! Astaga!” jerit Yudai tiba mendapati tubuh Tay telah terbaring dan terikat oleh ranting hidup di hadapannya. “Tenanglah! Akan kuselamatkan dirimu!”


Ketika Yudai mulai mengambil busur dari quiver di punggung menggunakan tangan kanan, digenggamnya busur menggunakan tangan kiri dengan erat. 


Neu tertegun ketika menyaksikan sumber dari ranting hidup tersebut. Ranting yang telah mengikat tubuh Tay berakar dari salah satu pagar rumput di hadapannya, menyimpulkan bahwa beberapa pagar rumput memiliki ranting hidup.


Menyaksikan Tay terikat oleh ranting hidup, Neu justru berpikir dua kali. Neu hanya berniat untuk meninggalkan Tay terikat pada ranting hidup seorang diri. Namun, menatap Yudai bersikeras untuk menolong Tay, dia membuang napas membuang amarah.


Karma. Itulah yang Neu pikirkan. Tay pantas terikat oleh ranting hidup seorang diri.


***


Bagi kelompok 15, alih-alih menemukan rintangan seperti jamur bergas tidur, makhluk spooky, atau ranting hidup, berkali-kali patung berbentuk aneh mereka temui. Mereka juga sering menemukan jalan buntu setiap kali berbelok.


Setelah berkali-kali tersesat tanpa tujuan, mereka akhirnya menemukan sebuah jalan lurus tanpa belokan. Mereka tertegun ketika menatap jalan bercelah luas jauh di hadapan mereka.


Ketika tiba di sebuah tatanan luas berbentuk persegi panjang, lantai tanah seakan beralih menjadi keramik krem. Yang tidak mereka sangka adalah seorang pemuda berambut hitam panjang dan berbando tipis telah berdiri dari kejauhan.


Sans, Beatrice, dan Sierra tidak menyangka menemukan seorang pemuda seorang diri berdiri tegak di hadapan mereka, seakan menghalangi satu-satunya jalan lurus. Mereka menghentikan langkah saking tercengangnya.


“Si-siapa dia?” tanya Beatrice. “Aku tidak pernah melihat orang itu. Bahkan dia bukan salah satu profesor pendamping dari akademi.”


“Aku tidak tahu, mungkin ini juga kejutan dari mereka, sama seperti saat perubahan tatanan labirin.”


“Aku ingin menantang kalian berduel, di sini,” pemuda berambut hitam panjang itu bersuara sambil mulai melangkah menemui mereka.


Sans mulai mengambil belati dan menggenggamnya erat-erat menggunakan tangan kanan, bersiap untuk situasi terburuk selama tugas di Labirin Oslork berlangsung.