Lorelei Chronicles

Lorelei Chronicles
Episode 30



“K-k-kenapa?”


Kekhawatiran Beatrice selama berkunjung ke benua Riswein akhirnya berbuah menjadi kenyataan. Seorang kenalan dari rumah berupa seorang lelaki berkacamata, bertopi hitam polkadot, dan berambut cokelat muda telah berdiri di hadapannya, di gang antara dua bangunan.


Lelaki itu menjelaskan, “Nyonya Muda, pulanglah. Ibumu telah khawatir, benar-benar khawatir. Apalagi sebentar lagi kamu harus menikah dengan lelaki pilihan ibumu, ini demi masa depan keluargamu.”


“Sudah kubilang, aku tidak sudi menikah dengan lelaki yang tidak kucintai.”


“Semua sudah diatur dalam perjodohan. Mau tidak mau kamu harus menerimanya sesuai dengan tradisi. Nyonya Muda, pulanglah. Ibumu telah menunggu begitu lama. Seharusnya kamu tidak melarikan diri dari rumah.”


Beatrice menolak, “Sudah kubilang aku tidak mau pulang. Aku tidak mau mengikuti tradisi perempuan keluarga bangsawan, hanya melakukan pekerjaan perempuan dan menunggu lelaki pilihan perjodohan. Lebih baik aku menjadi song mage daripada perempuan yang hanya melakukan pekerjaan rumah tangga di rumah.”


“Song mage?” Lelaki itu menghela napas. “Sudah kuduga kamu akan berkata begitu, Nyonya Muda, sepertinya aku masih terlalu halus untuk memaksamu pulang. Apa boleh buat, saya punya permintaan lain pada Nyonya Muda.”


“Apa maksudmu?”


“Berjanjilah pada saya. Saya ingin kamu mengambil sebutir air mata Phoenix, tidak peduli bagaimana caranya. Saya akan datang ke Akademi Lorelei suatu saat nanti untuk menagih air mata Phoenix. Kamu berhak untuk tinggal di Akademi Lorelei begitu saya mendapat air mata Phoenix, jika tidak, kamu tahu apa yang akan terjadi.”


Air mata Phoenix. Phoenix. Seekor burung merah berapi yang cukup langka di dunia. Konon, tempat keberadaan Phoenix bisa menjadi acak bergantung dari kemunculannya. Beatrice terpikir peluang untuk menemukan seekor Phoenix cukup kecil, apalagi mengambil sebutir air mata burung tersebut.


“Saya akan menunggu sampai kamu menemukan air mata Phoenix.”


Beatrice segera berbalik keluar dari gang antara dua bangunan tersebut. Sebelum kakinya menapakkan jalan berbatu-bata, dia menyatakan, “Tuan Oya, seorang pelayan, apapun yang terjadi, aku tidak mau kembali ke rumah. Aku lebih suka berada di Akademi Lorelei. Tidak seperti keluargaku, aku punya teman-teman yang mendukung menjadi seorang petualang dan song mage, agar aku bisa melihat dunia luar. Bersama, kami akan berkeliling dunia.”


Oya hanya terdiam menatap Beatrice berpaling dari gang antara dua bangunan tersebut. Dia melepas topi menggunakan genggaman tangan kanan sambil menghela napas, tidak menyangka bahwa Beatrice menjadi semakin liar.


Ketika Beatrice keluar dari gang tersebut, dia sama sekali tidak melihat Sans, Yudai, dan Neu. Dia sudah tahu bahwa dia tertinggal dari langkah ketiga teman lelakinya itu.


Beatrice menggelengkan kepala melihat sekeliling untuk mencari mereka sambil mulai melangkah. Beberapa bangunan dia lewati sambil melihat sekeliling, memastikan beberapa orang di sekitarnya benar-benar masih asing atau hanya murid tidak dikenal.


Beatrice terpicu ketika menatap Sans, Yudai, dan Neu telah berdiri membelakangi salah satu dari bangunan. Yudai melambaikan tangan untuk memanggil Beatrice.


Beatrice mempercepat langkah ketika menemui ketiga temannya. “Teman-teman!”


“Syukurlah, kami kira kamu menghilang!” seru Yudai.


Neu menyikut perut Yudai. “Dia tidak menghilang! Dia hanya tersesat dan teralihkan!”


Beatrice melebarkan senyuman, meski harus terbayang akan perjanjian dengan Oya, pelayannya. “Dia benar, aku hanya tersesat.” Melihat pintu bangunan yang terbuka lebar, Beatrice langsung tertarik dengan isinya, sebuah kedai teh. Pengunjung di setiap meja terlihat tengah menikmati secangkir teh. “Eh, mungkin teh akan membantu kita lebih tenang untuk besok! Ayo!”


***


Selesai menikmati secangkir teh di sebuah kedai, mereka berempat beralih menuju sebuah tokoh senjata dan armor. Hampir sama seperti toko senjata yang mereka kunjungi sebelumnya di dekat kerajaan Anagarde, berbagai senjata terletak di beberapa meja. Kali ini, meja bertatakan senjata lebih sedikit dibandingkan toko di dekat kerajaan Anagarde karena tempat tambahan untuk armor, helm, topi, dan jubah.


Beatrice dan Yudai menatap sebuah chain mail terpasang pada manekin di sudut kiri dalam toko tersebut, begitu pula dengan jubah penyihir warna merah. Tatapan mereka terfokus pada chain mail.


Beatrice bertanya pada Yudai, “Kalau kita beli ini, bagaimana cara memakainya? Apa seperti memakai baju biasa?”


Neu menggenggam beberapa scroll berisi mantra, memilah beberapa mantra yang mungkin akan cocok dan mudah dia pelajari suatu saat nanti. Dia mengangguk ketika meletakkan kembali salah satu scroll di rak sudut kanan.


Sans menatap berbagai senjata yang tertata rapi di setiap meja bagian tengah dalam toko, mulai dari pedang berbentuk persegi panjang dan tampak berat dari penampilan besi hitamnya hingga sebuah crossbow berwarna cokelat tua. Tampak juga tulisan harga seperti membelakangi senjata, harganya dapat dikatakan tidak mencapai harapannya, cukup tinggi bagi standarnya.


“Aku hanya akan membeli scroll mantra,” Neu membujuk sang pemilik toko di depan meja.


“Whoa. Hanya itu?” ucap Yudai.


“Ya. Mereka memiliki mantra earth di sini. Aku sudah mempelajari fire, thunder, dan ice saat di kelas dan melalui scroll. Berkat scroll, aku bisa menguasai ketiga mantra yang kupelajari di kelas begitu cepat.”


Beatrice membalas, “Tidak heran kamu selalu mendapat pujian dari setiap professor.”


“Cepatlah!” seru seorang murid dengan kedua temannya memasuki toko tersebut. “Ah! 4400 vial? Yang benar saja!”


“Kita bahkan tidak punya uang sebanyak itu!”


“Ah! Bagaimana ini! Kita tidak bawa senjata sama sekali! Tahu ada tugas di labirin, kita pasti akan membawanya!”


Percakapan tersebut turut mengundang perhatian Sans dan ketiga teman dekatnya, melirik pada ketiga sesama murid Akademi Lorelei. Semakin sering mereka mendengar keluhan dari beberapa murid lain akan tugas kejutan selama bertamasya.


Yudai berbicara pada Beatrice, “Kejutannya benar-benar tidak terduga. Apapun bisa terjadi, terutama saat aptitude test.”


Beatrice menatap jubah penyihir berwarna merah tersebut, mengibaratkan setiap serat benang berwarna merah terbuat dari bulu Phoenix. Bersamaan dengan itu, perkataan Oya, pelayan keluarganya, tentang perjanjian untuk mendapat air mata Phoenix, semakin menguat di dalam pikiran.


Tekad untuk mencari Phoenix menguat, apalagi untuk mencari informasi setelah tamasya berakhir. Terlebih, Beatrice telah menganggap Akademi Lorelei sebagai satu-satunya rumah yang membuat nyaman, jadi kembali ke rumah bukanlah pilihan.


“Kenapa, Beatrice?” Yudai membuyarkan lamunan Beatrice.


“Uh.” Beatrice menghela napas.


Beatrice berpikir dua kali untuk memberitahu dirinya terancam untuk dipaksa pulang ke rumah oleh Oya. Pikirannya cukup kacau, cukup kacau. Mendapati Sans, Yudai, dan Neu menyimpulkan bahwa dia tersesat selama “penculikan” berlangsung, bukan hal terbaik untuk memberitahu ancaman tersebut.


Beatrice juga tidak bisa secara tiba-tiba bertanya keberadaan Phoenix, apalagi untuk menemukan air mata Phoenix. Dia tidak ingin kesenangan bertamasya bersama pada hari kedua terpecah belah hanya karena revelasi tersebut.


Beatrice membuka suara, “Lain kali, aku ingin ikut bersama kalian dalam mengambil pekerjaan di quest board. Maksudku, aku ingin kita berempat bersama-sama menjalankan pekerjaan dari quest board.”


Sans mengangguk. “Ya. Dengan senang hati, justru lebih baik.”


“Kalau aku ada waktu ya,” tanggap Neu menghampiri membawa scroll di genggamannya. “Kalian tidak akan membeli apapun di sini?”


***


Tidak ada yang menyangka berupa dari halaman depan Labirin Oslork berupa dinding cukup tinggi, bukan terbuat dari batu-bata atau kayu, melainkan pagar rumput. Tinggi pagar rumput pada Labirin Oslork dapat dikatakan hampir mencapai tiga kali lipatnya kebanyakan bangunan di kota Silvarion.


Beberapa murid mungkin terpikir sebuah pertanyaan, bagaimana mereka membangun pagar rumput setinggi itu? Apakah menggunakan sihir atau sekadar keajaiban? Yang jelas mereka tergopoh-gopoh menandangi setiap dedaunan pada pagar rumput tertata secara sempurna tanpa saling menghalangi.


Sans juga mengangkat kepala melebarkan pandangan pada pagar rumput tersebut, ikut tidak menyangka akan keteraturan sempurna akan kumpulan dedaunan berbentuk persegi panjang membentuk sebuah gerbang.


Seperti kemarin, mayoritas dari murid tahun pertama sama sekali tidak mempersiapkan diri, bahkan menggenggam senjata atau mengenakan armor. Sedikit sekali yang mampu membeli senjata untuk melaksanakan tugas di dalam Labirin Oslork.


Dolce dan Hunt, bersama dengan seluruh professor pendamping, telah berdiri di hadapan seluruh murid tahun pertama yang berbaris sesuai kelompok masing-masing.


Dolce memperkenalkan tugas yang akan dikerjakan pada hari ketiga tamasya itu, “Semuanya, semoga jiwa petualang kalian masih tetap segar karena dalam beberapa saat tugas hari ketiga akan segera dimulai. Kita di salah satu dungeon terkenal di benua Riswein, Labirin Oslork!”


Hunt menambah, “Seperti yang saya telah katakan kemarin, ini adalah lokasi tugas kalian. Labirin Oslork dapat dikatakan unik karena dindingnya bukan terbuat dari bebatuan, melainkan pagar rumput.”


“Sekarang, kalian akan masuk sesuai dengan urutan kelompok untuk memulai tugas hari ini. Kalian punya waktu sampai matahari terbenam untuk menyelesaikannya.”


‘Tugas kalian cukup sederhana, kalian harus mencari jalan keluar dari labirin itu, tentunya bukan kembali ke jalan masuk. Tetapi kalian juga harus menghindari berbagai rintangan seperti jamur yang mengeluarkan gas penidur, ranting hidup merayap yang akan mengikat tubuh, dan sosok roh anak-anak bernama spooky.”


“Oh, kalian juga bisa mengalami halusinasi yang entah apa penyebabnya, pokoknya dalam hal acak, kalian akan kehilangan kesadaran dan mengalami sesuatu yang tidak nyata. Berhati-hatilah.”


Hunt mengangguk memastikan. “Baik, kalau semuanya sudah mengerti. Kita mulai tugasnya! Dimulai dari kelompok satu, silakan maju.”


Ketiga anggota kelompok satu terlebih dulu maju bersama-sama menghadapi pintu masuk Labirin Oslork. Begitu seluruh professor pendamping berlalu seakan barisan membelah menjadi dua membentuk celah, kelompok satu melewati pintu masuk tersebut.


Setiap kelompok diberi celah waktu agar mereka tidak mendapat keuntungan awal untuk saling bekerja sama. Beberapa menit setelah saatu kelompok masuk, satu kelompok mengikuti dan memasuki Labirin Oslork.


Menatap kelompok delapan mulai memasuki Labirin Oslork, silent treatment masih mendominasi kelompok 13. Yudai mulai terpikir dia harus mengajak Tay dan Neu, teman sekelompoknya, bekerja sama mulai saat menapakkan langkah pertama di dalam labirin. 


Yudai mulai membuka suara, berupaya untuk mendamaikan suasana demi membujuk, “Uh, kalian berdua. Sudah dong, tidak perlu saling berdiam diri. Ini kan tugas kelompok. Mengapa tidak begini saja? Kita saling bekerja sama dalam menyusuri labirin dan mencari jalan keluar. Kita ini satu tim, satu tim.”


Neu membalas, “Yudai, jujur saja, aku ingin sekali bekerja sama denganmu seperti biasa, seperti saat kita bersama Sans dan Beatrice. Tay benar-benar tidak bisa diandalkan! Lalu kekuranganmu, saat aptitude test bagian luar, kamu bisa saja menjadi sembrono!”


“Ayolah, apa itu perlu. Nah, sebaiknya kita buang energi kebencian dan mengubahnya menjadi energi kerja sama.”


Tay membuang muka. “Sudah berkali-kali kubilang aku tidak sudi berkelompok dengan mata empat.”


Neu meletakkan telapak tangan pada pinggang. “Begitu juga denganku! Tapi mau bagaimana lagi, Yudai benar. Begini saja, beruntung kita membawa senjata masing-masing, setidaknya aku juga punya mantra, kita saling membantu. Tay, kalau kita terperangkap oleh rantai bergerak, kamu—”


Tay memotong, “Siapa juga yang memilihmu jadi pemimpin? Aku tahu apa yang harus kulakukan!”


Yudai menggeleng. “Tidak ada kata aku dalam tim.”


“Kata kakekmu lagi?” tebak Neu.


“Yang penting, apapun yang terjadi, kita harus kerja sama, keluar bersama! Ayo, kelompok 13! Yeah!” Sorakan Yudai menjadi canggung ketika Tay dan Neu sama sekali tidak merespons apapun.


Yudai melongo dalam hati sekali lagi, kehabisan solusi agar dia membujuk Tay dan Neu berminat untuk bekerja sama. 


Kali ini, lain halnya dengan kelompok 15. Beatrice secara optimis mengemukakan senyuman pada Sierra dan Sans, yakin mereka dapat keluar dari labirin dengan selamat jika bekerja sama.


Beatrice mendeklarasikan, “Sans, kamu yang jadi pemimpinnya. Oke?”


“A-aku?” Sans heran sampai menunjuk diri menggunakan telunjuk.


Sierra menyetujui, “Sebenarnya masuk akal. Kamu memegang belati, kamu juga laki-laki. Berarti, kalau soal serangan, kamu bisa diandalkan. Setidaknya, kamu bisa membuktikan kalau kamu bukan hanya sekadar murid bermantel putih seperti yang diceritakan Beatrice padaku.”


Beatrice menambah, “Aku akan membantumu! Aku akan bernyanyi Give Us Strength untuk menambah kekuatanmu. Sierra akan heal kalau kita diserang. Dengan begitu, kita bisa menyelesaikan tugas ini dan mendapat nilai lebih.”


Berkat kalimat penyemangat dari Beatrice, Sans mengubah pola pikir dari tidak enak mengganggu dua anggota perempuan menjadi dapat dipercaya sebagai pemimpin. Dia mengangguk setuju.


“Baik. Akan kulakukan sebaik mungkin!”


“Yes!” seru Beatrice mengangkat tangan. “Saatnya kita bersemangat menyusuri labirin bersama! Ayo!”


Semenjak kelompok sembilan mulai memasuki labirin, kelompok-kelompok lain, terutama kelompok 13 dan 15, mulai tidak sabar ingin memulai tugas sesegera mungkin. Hanya berdiri tidak peduli kaki lelah, mereka hanya ingin mulai menyusuri labirin.


Penantian pun akhirnya berakhir bagi kelompok 13 beberapa menit setelah kelompok 12 memasuki labirin. Hampir tanpa basa-basi, Yudai, Tay, dan Neu akhirnya melangkah setelah terpicu oleh panggilan Dolce.


Yudai berseru ketika tengah menapakkan langkah pertama di dalam Labirin Oslork. “Kita masuk! Ini dia!”


Tay dan Neu hanya terdiam mengikuti Yudai, membiarkannya memimpin di posisi terdepan.


Begitu menyaksikan kelompok 14 juga sudah mulai memasuki labirin, beberapa menit kemudian, Dolce memanggil kelompok 15 untuk menghampiri gerbang masuk. Sans mengangguk pada Beatrice dan Sierra siap untuk menjadi pemimpin.


“Ayo!” seru Beatrice bersemangat ketika dirinya, Sans, dan Sierra mulai melangkah.


“Oke. Ini dia,” Sans menarik napas terlebih dahulu sebelum menapakkan langkah pertama memasuki labirin.


Seluruh profesor pendamping berbalik menatap pintu masuk labirin tersebut setelah semua kelompok mulai menyusuri labirin.


“Kita tahu apa yang harus dilakukan,” ucap Dolce.