Lorelei Chronicles

Lorelei Chronicles
Episode 141



“AAAAAA!!” Zerowolf mengangkat pukulan tangannya mendekati pipi. Giginya sedikit gemericik, matanya menyipit ingin menangis, kerutan pada pipi meningkat. “Kalau saja aku tidak beli senjata baru, pasti tugas itu akan selesai dalam sehari! Aku bisa saja bebas berlatih selama hari-hari terakhir bootcamp!”


Yudai justru sampai menundukkan kepala, menggigil, dan terbenam dalam kegalauan. Rencana awalnya untuk mulai menyelesaikan tugas akhir bootcamp telah hancur berantakan. Sejak awal, terutama saat penjelasan berlangsung. Pertama, ia telah melakukan kesalahan terbesar tepat sebelum tugas itu diumumkan, ia menghabiskan uangnya untuk membeli makanan mahal dan quiver baru. Kedua, ia ingin sekali menjalankan misi kelas B seorang diri, mengingat dirinya telah selamat dari rintangan-rintangan di kuil Soka. Kini, terpaksa ia mengubah rencana sangat drastis. Sikapnya yang dari selalu semangat kini berubah hampir 90 derajat.


“Berkelompok enam orang … mencari profesor pendamping … lalu … upah dari misi harus dibagi rata, rata.” Zerowolf kemudian diam-diam cekikikan, hawa panasnya telah meningkat. ”Satu-satunya kabar baik, Profesor Alexandria akan sibuk mengajari murid-murid royal guard, jadi … kita tidak perlu cemas dengan bentakan!


“Um, bukannya aku ingin menambah ketegangan kalian, tapi—” Riri menunjuk. “—yang lainnya sudah berbaris di depan quest board.”


Zerowolf perlahan berbalik, sangat pelan hingga ia ingin sekali menyembunyikan ketegangannya di bawah teriknya sinar mentari pagi. Aktivitas penduduk di sekitar pusat kota yang mulai ramai membuatnya merasa enggan menunjukkan perasaan aslinya.


Tepat di hadapannya dan di belakang Riri, sebagian besar murid tahun pertama telah berbondong-bondong mengelilingi quest board. Sangat ramai dengan teriakan dan rebutan misi, terutama bagi mereka yang mengincar misi kelas C berupah tinggi, hanya agar bisa membeli barang yang harus mereka dapatkan.


Masih saja menekan ketegangan dan mengisinya dengan ketenangan semu. Ia menyaksikan satu per satu murid mengambil lembaran misi dari quest board sambil berlari.


Melihat quest board tersebut, memang tidak selebar seperti yang ada di ibukota kerajaan Anagarde, kira-kira dua per tiga lebih sedikit ukurannya. Misi kelas C begitu banyak terambil beberapa detik setelah ia menghampiri deretan murid di hadapannya, menyisakan misi kelas A, B, D, dan E.


Tidak ingin melewatkan kesempatan untuk melewatkan misi kelas B, ia mengambil salah satu dari lembaran itu. Ia bahkan tidak melihat detail misi tersebut sama sekali,


“Aku dapat misinya,” jawab Zerowolf merendah begitu kembali menemui Riri dan Yudai.


“Dasar, harusnya kita cari anggota kelompok lain dulu dan profesor pendamping!”


“Kita?”


“Ya. Kamu, aku, dan Yudai.” Riri merangkul bahu Yudai dan Zerowolf. “Kalian sekelompok saja denganku! Lebih mudah begitu, bukan?”


“Ya, aku setuju!” Lana mennyahut sontak mengejutkan mereka dari belakang.


Bulu kuduk ketiga pemuda itu berdiri terpicu oleh sahutan Lana, meski belum mengajaknya dalam satu kelompok. Yudai terlebih dahulu berbalik menatap gadis itu telah berdiri merangkul Tay.


“Sudah kubilang aku rela ikut misi kelas C sendiri!” sahut Tay.


“Jangan begitu dong.” Lana mempererat rangkulannya. “Kita berdua kan pernah menyelesaikan misi kelas B bersama-sama.”


“Sudah kubilang, aku tidak ingin berkelompok, apalagi dengan si mata empat itu, berhubung dia tidak ada.” Tay menangkis rangkulan Lana.


”Berarti tinggal satu lagi,” potong Riri, “satu lagi anggota untuk—”


“Kalian mencariku?” Lagi-lagi, kejutan yang sama dari belakang. Ruka menyapa dengan wajah antara sinis dan datar. Kelopak matanya sedikit hitam, entah karena kurang tidur atau bagian dari kesinisannya.


Lana menjawab penuh kepolosannya. “Ya! Tepat! Dengan begini kita sudah enam orang! Dan … tim penjual crepe di Festival Melzronta kembali bersatu!”


Tay membuang muka. “Terserah kalian saja.”


Riri pun mengambil lembaran misi dari genggaman Zerowolf. Saat ia melihat sebagian besar dari teks itu, terutama detail misinya, ia sampai melongo tanpa memedulikan jumlah upah yang akan mereka dapatkan.


“Kamu tahu kamu ini benar-benar hebat dalam mengambil sesuatu cukup cepat, bukan? Kamu bodoh sekali!”


“Hah? Apa salahku!”


Riri menunjukkan barisan deskripsi misi itu. Berburu serigala berukuran besar di sekitar hutan pada malam hari. Malam hari, tentu saja dua kata itu hal yang paling tidak diinginkan oleh murid Akademi Lorelei satupun saat ingin menjalankan misi.


Lana, Tay, dan Ruka menyipitkan pandangan tertuju pada Zerowolf, seakan menembak panah tersembunyi hingga menembus punggungnya. Kenyataan bahwa jam malam masih berlaku selama bootcamp berlangsung menyadarkan kalau mereka sangat mustahil menjalankan misi itu.


Riri mendesah. “Kita coba diskusi dengan profesor begitu kita rekrut. Setidaknya untuk bisa menjalankan misi ini dan mendapat uang—"


Yudai mendadak mengangkat kepalanya dan kembali berkata polos seakan tidak bersalah, kembali dari renungan kegalauannya.  “Whoa, aku ketinggalan apa?”


***


Sungguh sulit untuk melewati tahap pertama untuk merekrut seorang profesor sebagai seorang pendamping, yaitu mencarinya. Keempat profesor pendamping berpencar saat seluruh mruid tahun pertama, kecuali job royal guard; sibuk mencari misi di quest board. Tidak ada satupun yang mereka beritahu lokasi singgah masing-masing atau hanya untuk sekadar jalan-jalan.


Baron, profesor incaran mereka berenam sebagai pendamping kelompok untuk menjalankan misi kelas B, ternyata sudah direkrut oleh kelompok lain. Pemilihan waktu yang agak kurang tepat saat dia akan mendampingi kelompok itu saat itu juga. Yudai dan Zerowolf cukup lega mereka tidak perlu menghadapi profesor yang sering menegur mereka itu selama bootcamp. Sebenarnya, Baron merupakan usul pertama Riri agar mereka dapat serius menjalankan misi.


Selanjutnya, Clancy, profesor yang menjadi incaran banyak murid sebagai pendamping, juga telah direkrut. Kali ini, Lana, sebagai murid profesor pengampu itu, sampai menggerutu frustrasi tidak mendapat kesempatan menjalankan misi bersamanya saat itu.


Mereka menghentikan langkah mendapati Farrar tengah bermeditasi sambil bertelanjang dada menghadap gerbang masuk labirin.


“Oh, Pro—” Yudai dan Zerowolf tanpa berpikir panjang ingin menyapa tanpa mengecilkan volume.


Riri merentangkan tangan kiri dan mendesis, seraya memperingatkan mereka untuk diam.


Bagi monk, bermeditasi merupakan cara cepat demi mengumpulkan chakra untuk bertarung. Agar pengumpulan chakra berjalan lancar, butuh konsentrasi tinggi dan ketenangan di sekitar. Sangat dimengerti mengapa Riri langsung mendiamkan Yudai dan Zerowolf.


Tay menyindir, “Waktunya tidak tepat. Bisakah kita cari Profesor Speed saja? Profesor pengampu job-ku.”


“Kupikir profesor pengampu kelas swordsman murid tahun pertama itu Profesor Rivera,” tanggap Zerowolf.


Lana menyentuh kedua pipinya yang memerah. Sampai-sampai ia menggoyangkan badan seakan tubuhnya lebih lentur. Terutama pandangannya tertuju pada lengan bagian belakang dan punggung Farrar yang kekar.


“Coba saja kalau aku sering melihatmu bertapa seperti ini, Riri. Minimal di halaman kastel akademi.”


“Lebih baik aku bermeditasi di dalam kamar daripada tergoda oleh gadis-gadis.” Riri memutar matanya, malu, sangat malu.


“Mesum,” Ruka lagi-lagi menyindir sinis.


Farrar akhirnya menghela napas dan mulai bangkit perlahan sambil mengambil rompi cokelat di samping kanannya. Meditasinya ia hentikan entah karena mencuri dengar percakapan di belakangnya atau memang sudah selesai. Dadanya yang bidang, perut kotak-kotak, dan lengannya yang berisi menjadi fokus utama bagi Lana.


“Bangunkan aku kalau memang ini mimpi.”


Yudai juga berkomentar pelan, “Wow, jadi begini ya tubuh atletis?”


Farrar menyapa setelah memakai rompinya, “Kalian menemukan saya. Meski kami tidak bilang masing-masing dari kami akan ke mana.”


Tay memalingkan wajah begitu menjawab, “Kecuali Profesor Alexandria yang melatih royal guard sekali lagi, demi mendapatkan sebuah skill. Sungguh, kami lega tidak harus berhadapan lagi dengan beliau.”


“Intinya, kami ingin merekrut Anda dalam menjalankan sebuah misi kelas B,” Zerowolf lancang menyeruakan. “Kami—"


“Sebenarnya ….”


Riri menunjukkan lembar misi yang telah ia pegang.


Melihat setiap kata pada lembar misi tersebut, terutama tertuju pada fakta bahwa misi itu harus dikerjakan malam hari, Farrar perlahan cekikikan hingga terbahak-bahak.


“Malam hari? Kalian ini cukup konyol. Kalian juga tahu jam malam masih berlaku selama bootcamp.”


Kini Zerowolf merasa menyesal mengambil misi yang salah, salah besar.


Farrar pun berhenti tertawa. “Menarik sekali. Boleh, boleh, boleh saja kalian menyelesaikan misi ini. Asalkan saya ikut sebagai pendamping kalian.”


Riri dan Lana sampai membuka mulut lebar, tercengang karena keputusan Farrar yang bisa dibilang terlalu langsung, meski harus rela melanggar jam malam.


Yudai mengangkat tangan. “Ja-jadi … kita boleh keluar kota nanti malam?”


“Boleh sekali!” Farrar mengacungkan jempolnya. “Bahkan, saat saya masih menjadi murid akademi seperti kalian, saat disuruh menjalankan misi malam hari, profesor saya mengizinkannya. Jadi tidak ada alasan untuk melarangnya.”


Zerowolf sangat girang sampai menyelesaikan penjelasan Farrar. “Tidak ada aturan yang disebutkan juga, kan?”


Riri justru melirik tajam, secara tidak langsung mengontradiksi perkataan konyolnya.


“Sekarang kalian mau apa?”


“Eh?” tanggap Yudai dan Zerowolf kebingungan.


“Bukan eh. Kalian tentu harus menunggu hingga malam menyingsing untuk menjalankan misi ini, bukan. Dari sini, tampaknya kita akan berangkat sore hari. Kenapa tidak begini saja, saya ingin melihat kemampuan dari masing-masing dari kalian, lalu saya akan coba tentukan formasi bertarung selama misi nanti, dan juga kalau menghadapi para monster.


“Itu juga berlaku untukmu, Riri, meski saya sering melihatnya.”


Riri mengangguk dan menepuk kepalan tangannya. “Baiklah. Selama ini akan mempermudah kita dalam menjalankan misi, kita terima. Lalu … kita berenam akan mendapat barang yang harus didapat demi menyelesaikan tugasnya.”