
Sans telah berdiri di hadapan pintu yang ia ketuk setidaknya tiga kali. Pintu pun langsung terbuka, mengungkapkan Duke yang mengenakan kemeja belum terkancing sama sekali.
Duke tercengang bahwa tamu yang mengunjungi ruangan pribadinya bukanlah sesama profesor atau staf, melainkan seorang murid seperti Sans. Ia terburu-buru menutup kancing kemeja tidak ingin dianggap tidak sopan sebagai seorang profesor terhadap murid.
“Kamu tidak ada kelas pagi ini?” Duke melontarkan pertanyaan yang sekadar tidak penting.
“Tidak ada. Anda tahu kalau saya hanya mendapat kelas umum setelah gagal ketiga bagian aptitude test.” Sans yang telah berkemeja tanpa mengenakan mantel putih pun mulai masuk dan menutup pintu. “Aku biasa berlatih bersama teman-temanku kalau tidak ada kelas, paling tidak kami melakukan misi dari quest board untuk mendapat uang tambahan.
“Karena Profesor yang meminta saya datang hari ini, saya ingin mengetahui lebih lanjut tentang alchemist. Saya benar-benar ingin menjadi alchemist karena saya tidak punya pilihan lain, saya tidak punya job seperti kebanyakan murid tahun pertama.”
Duke mengangguk. “Kemarilah.”
Keduanya mendekati berbagai botol yang terletak di atas meja di dekat pintu keluar kamar tersebut. Sans juga menatap gauntlet tengah terbaring di dekat salah satu botol.
Duke mulai menguji, “Baik, berdasarkan apa yang kamu telah baca dari Buku Dasar Alchemist, menurutmu, alchemist dapat didefinisikan sebagai apa dan sebutkan keunggulannya?”
“E-eh, a-anu,” Sans menjawab, “alchemist adalah seseorang yang mempelajari dan menerapkan ilmu alchemy (alkimia). Alchemist diharuskan memahami lebih jauh tentang kimia, fisika, dan teori kuno. Dengan kata lain, keunggulan utama dari job alchemist adalah dapat memanipulasi materi dan energi lebih cepat daripada job lainnya seperti mage dan priest.
“Awalnya kukira alchemist hanya bertugas untuk membuat ramuan, tetapi setelah saya baca lagi, alchemist dituntut untuk memiliki kemampuan bertarung fisik dan menggunakan sihir juga untuk bertualang.”
“Lumayan,” Duke menganggapi,” ada satu hal yang paling penting. Alchemist bukan sekadar petarung. Alchemist juga bukan sekadar mage atau priest yang dapat menggunakan sihir. Alchemist sebenarnya lebih mengacu pada seorang ilmuwan. Seperti yang kamu tahu, fisika, kimia, dan teori kuno menjadi hal penting untuk dipelajari bagi seorang alchemist.
“Meski mereka secara teknis merupakan ilmuwan alih-alih penyihir, kemampuan alchemist dapat dikatakan lebih praktis dan sederhana tanpa perlu repot-repot menyiapkan waktu dan tenaga lebih banyak dibandingkan job lain. Alchemist merupakan job berstandar tinggi, bisa dikatakan begitu. Itulah mengapa Akademi Lorelei tidak memasukkan alchemist dari job system mereka.
“Sementara kamu, bahkan sebelum bertanya, punya potensi lebih daripada yang lain, melebihi seluruh murid bermantel putih yang telah gagal dalam aptitude test. Saya melihat kamu paling bekerja keras meski tidak mendapat kelas khusus job tertentu. Karena alasan itu, saya akan mengajarimu segalanya tentang alchemist.”
Sans hanya mengangguk, menyaksikan wawasan tambahan berbentuk lisan telah mulai masuk ke dalam otak. Pengertiannya tentang alchemist yang didapat dari Buku Dasar Alchemist dikomplemen oleh penjelasan Duke.
“Sans, saya akan mencontohkan seperti apa kekuatan alchemist. Perhatikan.”
Sans berbalik menghadap Duke yang telah mengambil postur tubuh untuk menerapkan salah satu kemampuan alchemist.
Keluarlah sebuah energi berwarna putih di telapak tangan kanan dan lama-kelamaan terbentuk dari sebuah bundaran menjadi sebuah kubus seakan-akan seperti kotak kecil sungguhan. Belum selesai, sebuah bundaran berbentuk cincin turut mengelilingi kubus tersebut.
Kedua mata Sans terbelalak, alisnya juga terangkat. Kekuatan Duke dalam menerapkan salah satu kemampuan alchemist membuatnya terpana dan berdecak kagum.
Tidak dapat disangka Duke bukan sekadar profesor pengampu kelas sejarah yang disukai banyak murid secara instan, meski tergolong sebagai profesor baru, tetapi juga merupakan seorang alchemist yang andal, benar-benar andal.
“Hebat,” gumam Sans.
“Itulah salah satu kemampuan alchemist sejati. Suatu saat nanti kamu akan mampu menerapkannya.” Duke menghilangkan kekuatan di telapak tangan kanannya itu.
Sans hanya mengangguk kagum. Saking kagumnya, ia ingin secepatnya memulai belajar lebih lanjut tentang alchemist, apalagi menerapkan segala kemampuannya dengan lancar.
“Baik, saya beri kamu tugas pertama sebagai murid job alchemist.”
Duke membuka laci di bawah meja tersebut. Diambilnya dua buah benda dan ditunjukannya pada Sans, yakni sebuah batang pohon berujung seperti bentuk kail dan sebuah jaring laba-laba berwarna aquamarine.
Sans menatap kedua benda tersebut di telapak tangan kanan Duke. Kedua benda itu sama sekali belum pernah ditemuinya. Pandangannya terpana sekali lagi sekali lagi menemui kedua benda unik tersebut.
“Saya ingin kamu membuat sebuah benda. Kedua benda ini merupakan bahan dari benda yang akan kamu buat, kayu pohon sier dan benang laba-laba antis.”
Nama dari kedua benda itu terdengar asing bagi Sans, sangat asing. Selama hidupnya, pohon sier dan laba-laba antis tidak terbayang oleh benaknya, apalagi mendeskripsikan suatu ciri khas masing-masing.
“Satu bahan lagi. Saya ingin kamu mendapatkannya sendiri, yaitu tulang kelelawar api.”
“Tu-tulang kelelawar api?” ulang Sans.
“Masih asing juga ya? Nanti kamu akan mengetahui begitu menemukannya. Pergilah ke sebelah utara akademi, di sana ada hutan lebat. Kamu ambil arah barat, kemudian kamu akan menemukan sebuah tebing dengan gua. Itulah lokasi keberadaan kelelawar api.
“Karena ini adalah rahasia kita berdua, yaitu kelas rahasia job alchemist antara saya dan kamu, saya ingin kamu pergi ke sana seorang diri. Kamu tidak perlu mengajak temanmu untuk ke sana hanya untuk berburu tulang kelelawar api. Ini giliranmu untuk melatih kekuatan bertarungmu seorang diri. Saya yakin kamu pasti bisa. Saya beri kamu waktu sampai besok.”
Sans tidak menyangka bahwa Duke akan berkata bahwa misi tersebut hanyalah misi individual, tanpa bantuan siapapun sama sekali. Berarti ia tidak bisa meminta Yudai, Beatrice, atau Neu untuk mendampinginya selama melakukan misi tersebut.
Sans akhirnya mengubah keraguan itu menjadi sikap optimis. “Baik, Profesor. Tulang kelelawar api. Itu saja yang harus saya cari.”
“Baik, kamu boleh pergi.”
Sans berbalik menghadap pintu, mengingat kembali misi dari Duke.
“Sans,” Duke memanggil tepat sebelum Sans menyentuh gagang pintu, “asal kamu tahu saja, terkadang kamu harus menyelesaikan sebuah masalah dengan tanganmu sendiri, bukan dengan bantuan orang lain.”
***
Beatrice dan Neu tidak menyangka, sama sekali tidak menyangka mendengar Yudai telah mendengar salah satu profesor terkuat di akademi. Terlebih, mengingat beberapa orang langsung mendapat ketegangan ketika mengetahui harus melawan Dolce saat aptitude test bagian akhir, terutama Sans.
Sans sama sekali tidak terkejut dengan perkataan Yudai, bahkan ia sudah tahu dua hari setelah upacara pembagian mantel. Ia justru melanjutkan makan siangnya. Dilahapnya sepotong **** panggang hingga memfokuskan rasa asin dan gurih dari kelembutan daging.
“Oh ya, mumpung kita tidak ada kelas setelah ini, sebaiknya kita berlatih atau mengambil misi dari quest board,” usul Yudai.
“Lagi?” seru Neu. “Kamu sudah melakukannya kemarin!”
“Habisnya kalian sibuk! Sans ada urusan dengan Profesor Duke. Kamu dan Beatrice juga berada di perpustakaan. Ini saatnya untuk kita menjalani misi bersama-sama lagi!”
Mengingat perkataan Duke agar tidak membocorkan sebuah rahasia, Sans menatap kembali ketiga temannya. Keraguan untuk menyimpan sebuah rahasia antara dirinya dan Duke lama-kelamaan pasti akan terbongkar.
Satu-satunya kabar baik hanyalah ketika dirinya memberikan kejutan, terutama Beatrice dan Neu yang sama sekali belum mengetahui tentang alchemist. Baginya, mereka berdua pasti akan tercengang dengan perkembangannya dalam mengambil job di luar job system Akademi Lorelei dan kemampuan bertarung.
“Bagaimana denganmu, Sans?” Neu membuyarkan lamunannya. “Kamu mau ikut, kan?”
“Uh. Aku tidak bisa ikut kalian siang ini. A-aku ada urusan.”
Yudai menerka, “Biar kutebak, dengan Profesor Duke lagi? Memang sejak kemarin kamu berurusan dengan Profesor Duke?”
“Hah? Profesor Duke? Profesor yang menjahilimu itu?” Neu menghela napas.
“Bukan. A-aku—” Sans berupaya untuk mengarang, “—ingin menyusuri hutan lebih jauh, sendirian. Sekalian demi berlatih.”
“Eh?” Beatrice melongo. “Kenapa tidak di sekitar sini saja? Kenapa tidak sekalian mengambil misi quest board bersama-sama?”
Yudai menyimpulkan omongan Sans, “Ah! Kamu kan sering berlatih sendiri ketika kami bertiga sibuk. Ya, kurasa ide bagus jika harus menyusuri hutan. Terkadang kita juga harus menyusuri hutan untuk menyelesaikan misi. Bahkan, Sans dan aku menjalankan misi pertama menyusuri hutan untuk berburu **** hutan.”
“Masuk akal.” Neu mengangguk. “Tapi, Sans, kamu kan hanya seorang diri untuk menyusuri hutan. Kamu yakin ingin ke sana sendirian?”
“I-iya. Aku hanya ingin melatih diri sendiri, sambil berburu.” Sans menghabiskan makan siangnya sebelum bangkit dari kursi. “A-aku permisi dulu. Nanti kita bertemu lagi malam ini di asrama.”
“Eh? Cepat sekali?” seru Beatrice menyaksikan Sans tengah meninggalkan mereka.
“Sans, hati-hati,” ucap Yudai.
Ketika melangkah meninggalkan kantin, Sans menatap balik pada Yudai. Ia mengingat kembali bahwa Yudai sebenarnya sudah tahu dari awal rencananya. Dari pemberian Buku Dasar Alchemist dari Nacht hingga saat membacanya. Bahkan, ia mengajak Yudai untuk berburu jaring laba-laba es untuk bahan sarung tangan alchemist.
Kini, karena Duke menyuruh untuk menjaga rahasia, Sans tidak mungkin berkata bahwa ia akan sungguh-sungguh menjadi alchemist, sebuah job yang berada di luar job system Akademi Lorelei. Tidak dapat terbayang apa jika ia memberitahu keputusan untuk menjadi alchemist kepada seluruh teman sekelasnya, terutama Beatrice, Yudai, dan Neu.
Sans mempertimbangkan perkataan Duke. Lebih baik, ia dicap sebagai murid gagal dan bermantel putih untuk sekarang.
Menyaksikan Sans meninggalkan kantin, Yudai juga ikut berdiri setelah menyelesaikan makan siangnya. Beatrice dan Neu juga melongo.
“Kurasa kata Sans ada benarnya juga. Aku juga ingin berlatih sendiri di ruang kelas memanah. Demi melatih tembakanku. Ya, berhubung Profesor Dolce tidak masuk hari ini karena ada kesibukan di luar kota lagi.”
“Eh? Ta-tapi bagaimana dengan misi di quest board?” tanya Beatrice.
“Mau bagaimana lagi.” Neu mengangguk setuju. “Untuk sekarang, kita berlatih sendiri-sendiri saja dulu. Oh ya, Beatrice, kamu sedang belajar lagu song mage baru ya?”
“Profesor di kelas song mage setuju kalau aku butuh lagu baru. Bukan hanya Give Us Strength yang menambah kekuatan serangan fisik. Kalau dipikir lagi, hanya berlatih bernyanyi satu lagu agak membosankan. Aku belajar dua lagu Speedy Cheer dan Miracle Refrain.”
Neu mengetahui kedua lagu itu. “Ah, dua lagu itu. Speedy Cheer dan Miracle Refrain. Kalau kamu sudah menguasainya, gunakan padaku saat kita bertualang dan menjalankan misi dari quest board. Speedy Cheer untuk menambah kecepatan rekannya, sementara Miracle Refrain untuk menambah kekuatan sihir. Jujur saja, banyak lagu song mage yang bermanfaat, bahkan ada juga yang untuk penyerangan.”
“Ah! Kukira tidak ada lagu penyerangan!”
“Beatrice.” Neu kembali menggelengkan kepala. “Kamu itu lulus aptitude test bagian luar dan dalam, berarti kamu song mage tipe support dan defender. Kamu hanya akan mendapat lagu sesuai dengan tipemu.”
“E-eh!” jerit Beatrice melongo.
“Oh ya, aku langsung ke kelas saja sendiri. Panah dan busur sudah tersedia di sana. Sampai jumpa nanti malam,” Yudai akhirnya pamit sebelum meninggalkan kantin.
“Ja-jadi, hanya kita berdua saja? Apa kita tetap jadi mengambil misi di quest board?” Neu ingin memastikan.
“Um, sebaiknya kita berlatih saja dulu,” Beatrice secara canggung menawarkan solusi, “daripada kita hanya berdua lagi menjalankan misi untuk quest board. Lagipula, aku juga ingin kamu mendengar dua lagu baru yang sedang kupelajari.”
“Baiklah. Cukup adil. Tapi kamu juga saksikan aku berlatih, aku punya mantra baru yang telah kupelajari dari scroll.” Neu berdiri setelah menyelesaikan makan siangnya.
“A-aku belum selesai makan! Tu-tunggu!” Beatrice mulai buru-buru menghabiskan makan siangnya.