
Tidak seperti saat tamasya bersama murid tahun pertama lainnya, mereka berlima harus berjalan kaki begitu tiba di pantai menuju Silvarion. Demi menghemat uang, mereka rela tidak menyewa kereta kencana untuk persiapan dalam menyelesaikan misi.
Pepohonan bakau mereka lewati. Dahan yang minim dedaunan menjadi pemandangan khas ketika menuju Silvarion. Tanah bercampur salju yang mereka injak juga terasa cukup empuk dan membasahi alas kaki masing-masing.
Beruntung, saat itu tidak turun salju, apalagi badai. Udara di Silvarion tidak sedingin di ibu kota di benua Aiswalt. Mereka dapat leluasa melangkah sebaik mungkin menyusuri pepohonan tersebut.
Sans benar-benar kagum menatap langsung pepohonan tersebut. Setiap kali dia menggerakkan kepala, semakin terpana pula tergambar pada wajahnya. Raut wajah berseri-seri beserta mulut terbuka lebar membentuk senyuman kagum menatapi “keajaiban” itu.
Butuh setidaknya dua setengah jam untuk tiba di gerbang masuk Silvarion hanya dengan berjalan kaki. Sungai di bawah jembatan penyebrangan bagai membeku memancarkan warna biru dan putih berasal dari langit. Tanah di sekitarnya berselimutkan salju. Pilar patung ksatria berpedang dan dinding pembatas juga bagai berselimut salju.
Memasuki bagian kota, asap dari setiap cerobong bangunan batu-bata yang menjadi ciri khas kota itu nampak bagai terangkat ke langit. Tentu setiap penduduk kota menyalakan perapian demi menambah kehangatan di dalam rumah.
“Oke, sekarang apa?” ucap Yudai. “Kita cari penginapan, lalu mencari informasi di perpustakaan? Begitu saja?”
“Lebih baik jangan makan hidangan khas Silvarion lagi,” ucap Beatrice.
Riri mengangguk ketika menyaksikan matahari tampak jelas tanpa satupun awan menghalangi. Langit biru cerah beserta awan kelabu menjadi pertanda baik pada siang hari.
“Begini saja. Beatrice dan Katherine bisa ke perpustakaan dekat sini untuk mencari informasi tentang Basilisk. Aku, Yudai, dan Sans bisa berlatih di hutan dekat gerbang kota. Demi persiapan, hanya untuk berjaga-jaga untuk besok,” Riri memberi usul.
Katherine menelan ludah. Kesempatannya untuk berbicara dengan Yudai, apalagi tanpa Riri, Sans, dan Beatrice di sampingnya telah hilang untuk hari itu, kecuali saat malam ketika akan berkumpul kembali.
“Oh ya, Beatrice. Kamu tidak keberatan, kan, kalau ditemani Katherine?” tanya Yudai.
“A-anu, ini sebenarnya kedua kali aku bersama kalian. A-aku jadi ingat, anu … lupakan saja.”
Riri mendekati Beatrice. “Ingat apa? Apa ada sesuatu yang tidak menyenangkan saat kamu ke sini sebelumnya?”
Yudai mengambil alih untuk menjawab secara polos, “Sebenarnya, dia takut kalau bertemu kembali dengan salah satu pelayan keluarganya—”
“Yu-Yudai, i-itu benar-benar memalukan!” Beatrice menghentikan ucapan Yudai.
Sans menginterupsi, “Ka-kalau begitu, kita sebaiknya sewa kamar sekarang juga, lalu kita berpencar. Dan … lebih baik kita tidak mengambil makanan khas Silvarion sebagai makan siang.”
Mendengar frasa makanan khas Silvarion tentu sudah membuat ingin muntah, apalagi membayangkan rupanya. Escargot, hiu fermentasi, acar herring, usus bakar, puffin panggang, dan kepala domba. Hidangan-hidangan tersebut sungguh tidak menggugah selera.
Hanya Yudai yang benar-benar tertarik memakan hidangan-hidangan tersebut. Yang lainnya, tidak merasa lapar, melainkan ingin muntah jika benar-benar tersaji di hadapan mereka.
Begitu selesai melakukan konfirmasi sewa kamar di sebuah penginapan, penginapan yang sama persis seperti saat tamasya, mereka ingin mencari makanan yang setidaknya layak menggugah selera sebelum berpencar.
***
Perpustakaan di Silvarion setidaknya dapat menandingi perpustakaan di Akademi Lorelei. Langit-langit berbentuk oval beratap jendela bermotif beberapa bujursangkar. Setiap sisi dinding atap krem hingga kecokelatan terpasang jendela berbentuk lingkaran seakan-akan sedang mengawasi. Setiap pilar mengimpit rak buku.
Deretan kursi dan meja menjadi pusat dari perpustakaan itu. Jumlahnya lebih sedikit jika dibandingkan dengan di akademi. Tidak banyak pula pengunjung yang tengah bersantai atau meluangkan waktu untuk mencari bacaan.
Butuh beberapa lama bagi Beatrice dan Katherine untuk memindai setiap judul buku di rak. Sama sekali tidak ada penanda kategori buku pada rak.
Katherine kembali termenung mendapati hanya Beatrice berada di sampingnya. Sama sekali tidak ada Yudai, Sans, dan Riri. Baginya, menemui orang yang baru saja berkenalan membuatnya cukup gugup.
“Ah, ketemu!” Beatrice menemukan sebuah judul dengan tulisan basilisk tertulis di sampul buku.
“A-anu—” Katherine mulai berbicara ketika mereka mulai mendekati salah satu dari deretan kursi dan meja.
Beatrice menoleh begitu meletakkan buku itu di atas meja. “Ya. Katherine? Oh ya, ini mungkin pertama kalinya kita berdua, tanpa teman dekat.”
“A-a …. Tidak jadi.”
“Eh? Ke-kenapa?” Beatrice tertegun ketika mereka mulai duduk saling berhadapan.
“A-anu, aku … ini terlalu memalukan untuk diungkapkan. Maaf, aku tidak terlalu pandai dalam bersosialisasi. Apalagi aku hanya diam saat berdiskusi tentang misi. Misi kelas A. Aku … takut kalau Riri sekali lagi dalam bahaya.”
Pada kenyataannya, dia juga takut bahwa Yudai, orang yang ingin dia ajak bicara, juga menghadapi situasi itu, yakni dalam kondisi bahaya saat menghadapi Basilisk. Dirinya juga merasa gemetar jika hal itu terjadi padanya.
“Jadi begitu ya?”
“Kulihat kamu menikmati berkomunikasi dengan teman-temanmu. Kulihat Sierra sering bersama kalian di kantin dan juga dalam menyelesaikan misi. Di-dia hebat sekali.di kelas. Dia seakan sudah sempurna, bisa berkomunikasi dan pintar. Sementara aku—”
Beatrice memotong, “Aku juga awalnya tidak terlalu pandai berkomunikasi semenjak aku pertama kali ke akademi. Aku … hanya tinggal di rumah sebelum ke akademi, tidak berkomunikasi dengan teman sebaya. Tapi berkat Neu, Sans, dan Yudai, aku jadi menikmatinya. Aku suka kalau mereka mengajakku ikut berlatih dan menyelesaikan misi bersama. Sekarang, aku masih berlatih bagaimana aku bisa lebih berguna lagi sebagai song mage. Aku akan melakukannya sebaik mungkin.”
Katherine menghela napas. “Maaf. Aku benar-benar malu, sangat malu hingga menjadi gugup. Baik dalam … berkomunikasi … saat … misi dan di kelas. Jadi, anu … sekarang aku benar-benar gugup ingin bertanya.”
Beatrice melebarkan bibirnya. “Tidak apa-apa. Terima kasih sudah mau ikut aku, Yudai, dan Sans untuk mengikuti misi kelas A saat libur begini.”
“E-eh? Se-sebenarnya Riri yang mengajakku untuk ikut.”
“Tidak apa-apa. Sierra belum kembali ke akademi. Beruntung Riri punya teman priest sepertimu. Apalagi ini adalah misi yang lebih suit dari biasanya yang kita ambil.” Beatrice mulai membuka buku di hadapannya. “Nah, kita akan cari tahu bagaimana basilisk—”
Ucapan Beatrice terhenti saat menatap paragraf pertama dari narasi buku tersebut. Alih-alih sebuah penjelasan ilmiah, sebuah kalimat cerita yang tampak.
“Tu-tunggu dulu. Ja-jangan-jangan ini hanya buku cerita tentang basilisk!”
***
Cuaca pada musim dingin apalagi situasi hutan yang tengah penuh salju pada tanah tidak membuat Riri menghentikan kebiasaan sebagai seorang monk. Dia menanggalkan rompi cokelatnya hingga bertelanjang dada sebelum duduk untuk melakukan meditasi, mengumpulkan chakra.
Memang wajib menyuruh Sans dan Yudai agar berlatih cukup jauh darinya. Konsentrasinya akan pecah jika panah menyasar secara tiba-tiba apalagi hingga melukainya.
Sebagai monk, chakra dapat membuat tubuhnya bertahan menghadapi serangan fisik, melakukan regenerasi tubuh tanpa perlu ada sihir dengan cepat. Itulah ciri khas monk, menyerang sambil bertahan.
Sans dan Yudai berlatih di sisi lain, jauh dari Riri. Seperti biasa, Yudai melatih menembak panah dengan berbagai cara. Pertama, dia menembakkan satu panah terlebih dahulu sebelum mengambil dua atau tiga sekaligus. Dua atau tiga panah tersebut ia tembakkan menuju target, yaitu batang pohon tak berdaun.
Seperti latihan menggunakan belati sebelumnya, Sans menggores badan pohon dengan keahlian dan teknik dalam mengayunkannya. Mengikuti arahan dari Duke, ia mencoba menyeimbangkan tenaga dari dalam tubuh dalam berlatih, terutama mengayunkan belati.
Melihat Riri tidak ada di dekat mereka, Yudai mengambil kesempatan untuk bertanya pada Sans, terutama tentang rahasia mereka berdua. Ia menurunkan busur sejenak sambil menghampiri Sans.
“Oh ya, saat berlatih bersama Profesor Duke, apa tentang alchemist lagi? Bagaimana?”
“Oh.” Sans berpaling dari hadapan pohon yang menjadi target latihannya. “Aku berlatih transmutasi lagi. Kali ini, beliau menyuruhku untuk membuat ramuan penyembuh luka, ramuan merah yang waktu itu.”
“Ramuan yang kita pakai untuk menyembuhkan korban perompak? Wow!” Yudai berdecak. “Keren. Kamu nanti bisa membuat ramuan sendiri untuk kita gunakan!”
“Tapi untuk sekarang, kita punya Sierra dan Katherine, dua-duanya priest. Jadi kita akan pakai ramuan itu kalau kita mengambil misi hanya berdua. Lalu saat libur, aku juga sempat bertanya tentang kristal Variant. Aku belum siap, itu yang beliau katakan. Aku harus berlatih transmutasi terlebih dahulu, maksudku tetap, dan juga tetap berlatih bertarung.
“Saat berlatih transmutasi, aku harus menyeimbangkan tenaga dan konsentrasi. Aku harus meminimalisasi tenaga selama melakukannya. Pada saat yang sama, imajinasiku harus cukup kuat untuk membayangkan hasil akhirnya.”
“Wow,” komentar Yudai, “ternyata cukup sulit untuk menjadi alchemist. Kukira hanya sekadar alternatif—”
“Tentu saja. Untuk menyembuhkan penyakit ibuku juga sulit.”
“Sans,” Yudai menyatakan, “untuk sekarang, aku tidak bisa mencari informasi tentang keberadaan kedua orangtuaku sekarang, karena misi ini lebih sulit, benar-benar sulit daripada biasa kita ambil. Suatu saat, kalau kita ke sini lagi, kalau ada kesempatan, atau bahkan hanya aku sendiri, aku ingin melakukan yang terbaik untuk mencari mereka. Aku ingin bertemu dengan mereka lagi. Aku hanya ingin mereka tahu kalau aku telah menjadi seperti sekarang.”
Sans mengangguk. “Iya.”
***
Menikmati makan malam di restoran dalam penginapan dapat menjadi mimpi buruk karena makanan khas Silvarion. Mereka lebih memilih menikmati hidangan di kedai demi mendapat makanan layak dan masuk akal.
Kedai tersebut merupakan kedai yang sebelumnya mereka kunjungi saat waktu istirahat selama bertamasya bersama murid tahun pertama lainnya. Bukan hanya teh yang menjadi ciri khas tempat itu, tetapi juga meatloaf, daging cincang gulung. Setiap potongannya berbentuk seperti sepotong roti tawar. Saus berwarna merah seakan menjadi atap hidangan tersebut.
Dinding batu-bata berwarna pudar dari aslinya, lampu gantung di setiap sudut dinding, dan lantai kayu menjadi pemandangan kedai tersebut. Tidak jauh berbeda seperti di kedai roti di dekat balai kota di kerajaan.
Begitu lima piring meatloaf telah tiba di meja, Beatrice dan Yudai langsung melahap hidangan itu masing-masing, menikmati seperti sedang kelaparan. Katherine tetap gugup mendapati Yudai duduk di hadapannya, sampai gemetaran ketika menggenggam pisau dan garpu untuk memotong meatloaf-nya.
“Bagaimana? Apa yang kalian temukan tentang basilisk?” Riri memulai percakapan sambil menikmati gigitan pertama meatloaf-nya.
“A-anu … se-sebenarnya—” Katherine berupaya untuk menjawab.
Beatrice sebenarnya ingin membuka mulut untuk bersuara. Menatap Katherine ingin berbicara, dia menutup mulut dan mengangguk.
“—ka-kami tidak menemukan buku yang membahas pe-penjelasan basilisk. Ta-tapi kami menemukan deskripsinya di se-sebuah buku cerita. Mungkin buku cerita legenda, kami tidak tahu pasti.”
Yudai menganggapi, “Legenda ya?”
Melihat Yudai merespon perkataannya, wajah Katherine mulai berseri-seri. Kesenangan pun hanya sekejap ketika Katherine kembali gugup dalam berkata-kata.
“I-iya,” Katherine mulai menjelaskan, “Basilisk … sebenarnya dapat dibilang sebagai raja ular. Di-dia memiliki ukuran besar daripada ular biasanya.”
Riri menganggapi, “Pantas saja dia cukup menakutkan bagi penduduk Salazar.”
“Ta-tapi ini yang lebih mengerikannya. Jika seseorang yang menatap langsung tepat pada mata basilisk, dia akan mati.”
“Hiiiii!!” jerit Beatrice meski dia sudah mengetahui hal itu. “Se-seram! Kita bahkan tidak bisa melawan basilisk tanpa menatap langsung pada mata!”
Riri mengangguk. “Inilah misi kelas A, lebih sulit daripada misi kelas C ke bawah yang biasanya kita ambil. Apalagi misi kelas B sudah membuat aku dan teman-teman yang lain kewalahan.”
Yudai bertanya sambil mengunyah sesuap meatloaf-nya, “Apa ada cara untuk membunuhnya? Tanpa menatap langsung matanya? Apa kita harus membutakan matanya terlebih dahulu agar kita selamat?”
Sans menundukkan kepalanya. “Kalau saja ada Neu di sini. Dia bisa menggunakan sihir—”
“Percuma saja kalau dia menatap langsung pada mata basilisk. Lagipula, belum tentu akurasinya tepat sasaran tanpa menatap secara langsung targetnya,” Riri membalas, “Oh ya, karena bagian selatan Riswein penuh dengan rawa, akan berisiko jika kita menyewa kereta kencana ke sana. Ditambah lagi, kami juga sempat bertanya dan tidak ada yang berani untuk pergi ke sana. Kira-kira dalam dua hari, kita akan tiba di Salazar. Maksudku, kita cari dulu tempat pengungsian penduduknya.
“Karena kita belum menemukan kelemahan basilisk, kita ke perputakaan sebelum berangkat saat siang hari. Semoga saja kita dapat mengalahkan basilisk tanpa menatap matanya secara langsung.”
Beatrice menghela napas lagi. “Misi kelas A benar-benar sulit, sangat sulit setengah mati. Yudai, aku mengerti kamu ingin mengambil misi seperti ini, saat misi kelas C ke bawah tidak ada, demi mendapat uang.”
“Benar-benar berisiko. Nyawa jadi taruhannya. Kalau kita tidak menemukan kelemahan basilisk sama sekali, apalagi menyerangnya tanpa menatap langsung pada mata, aku tidak yakin.” Riri meletakkan garpu dan pisau begitu selesai menikmati meatloaf-nya. “Apa kita harus kembali ke akademi dan menyerah saja?”
Yudai menolak, “Tentu saja tidak! Kita sudah jauh-jauh kemari untuk mencoba misi itu.” Dia menundukkan kepala. “Aku tahu misi ini bisa membunuh kita semua. Kita bisa mati tanpa sempat meraih mimpi masing-masing, apalagi mencapai tujuan kita untuk belajar. Tapi, selagi kita bersama, meski tanpa Tay, Neu, dan Sierra, atau teman-teman yang biasa Riri dan Katherine ajak untuk mengikuti misi dari quest board, kita pasti bisa melakukannya, menggunakan kemampuan masing-masing.
“Aku … aku ingin menjadi lebih kuat lagi, lebih kuat untuk mencapai tujuanku. Kita semua adalah petualang, murid akademi Lorelei. Pasti sebuah risiko diambil, terutama setelah kita lulus dari akademi. Oleh karena itu, Riri, Katherine, dan juga … Sans serta Beatrice yang biasa menemani saat mengambil misi bersamaku, juga Tay, Neu, dan Sierra, mohon bantuannya.”
“Sebentar,” Riri menginterupsi, “apa kamu tidak takut sama sekali? Apalagi setelah tahu tatapan langsung pada basilisk—”
“Iya.” Yudai meletakkan garpu dan pisaunya pada meja, menimbulkan bunyi. “Aku takut. Benar-benar takut. Tapi itu bukan alasan untuk melarikan diri sebagai petualang, kita harus menghadapinya. Kalau tidak, aku tidak punya alasan untuk meraih tujuanku.”
“Yu-Yudai,” Sans sampai tidak bisa berkata-kata.
“Oke! Kita habiskan meatloaf-nya!” Yudai kembali melahap makan malamnya. “Ayo! Sebelum kita berangkat siang besok!”