Lorelei Chronicles

Lorelei Chronicles
Episode 144



“Akhirnya!!” Zerowolf menyahut saat ia mengangkat barang yang harus ia dapatkan sebagai archer.


Yudai, Tay, Zerowolf, Riri, dan Ruka telah keluar dari toko armor di dekat toko senjata di Silvarion. Membeli peralatan wajib khusus job masing-masing sebelum bootcamp berakhir telah mereka berhasil lakukan. Hasil jerih payah untuk mengumpulkan uang dari misi selama tiga hari terakhir tidak berujung sia-sia.


Tay sudah memakai sepatu kain hitam mencapai paha dan bercincin perunggu. Ia sampai melangkah di tempat untuk mengetesnya.


“Lumayan nyaman juga.”


“Ya, kurasa kita bisa menjadi swordsman yang layak.” Ruka memuji sepatu yang sama dan telah ia pakai juga.


Riri memakai tas punggung berwarna cokelat kemerahan. Tidak seperti yang ditunjukkan asisten profesor monk, tas itu memiliki dua tali punggung.


“Aku jadi ingat dengan kantong milik Sans. Mungkin dia harus beli ini juga nanti.”


Yudai mengangguk setuju, “Kalau di sini, harganya mahal. Paling tidak, aku lihat-lihat dulu apakah di ibukota tas itu juga dijual.”


“Aku terlihat lebih keren menggunakan glove ini!” sahut Zerowolf memamerkan glove yang telah ia pakai.


Glove yang dipakai Yudai dan Zerowolf adalah glove kain dan karet tebal, berwarna cokelat, dan menutupi dari telapak tangan hingga sikut. Begitu mereka menjentikkan jari, gesekan pada kulit jari berkurang signifikan, apalagi saat mereka menarik tali busur dan panah nanti.


“Pasti Sans sangat terkejut bukan cuma aku yang dapat gauntlet,” gumam Yudai secara pelan, tidak ingin yang lainnya mendengar.


“Semua!!” Lana menghampiri mereka sambil melambaikan sebuah perisai berwarna perunggu di pinggirnya.


Semuanya langsung melotot menatap perisai milik Lana. Sama sekali tidak menyangka kalau ia tidak hanya membeli emblem berbentuk perisai perak, tetapi juga perisai sungguhan.


“Ba-bagaimana kamu bisa membeli perisai itu juga?” sahut Zerowolf.


“Ah, sebenarnya, aku masih punya uang senilai setengah dari harga emblem knight sebelum tugas akhir bootcamp. Mumpung aku punya uang lebih setelah membeli emblem, aku beli perisai saja. Ini perisai termurah di sini, tapi berkualitas tinggi daripada di kota lain katanya. Aku ingin menunjukkannya pada Kakak!”


“Lagi-lagi alasanmu hanya untuk pamer pada kakak-mu itu,” sindir Ruka.


“Kita tunjukkan pada profesor pengampu masing-masing sekarang sebelum matahari terbenam,” Riri mengingatkan syarat untuk berhasil mengerjakan tugas akhir itu.


“Omong-omong, Sandee masih berlatih ya?” Zerowolf menyeringai.


***


Matahari pun mulai terbenam, hal itu menjadi pertanda bahwa waktu untuk menyelesaikan tugas terakhir bootcamp telah berakhir. Tidak sedikit murid yang begitu kelelahan harus menyelesaikan misi berturut-turut hanya demi membeli sebuah barang penting untuk job masing-masing. Tidak sedikit pula yang sampai tidak berhasil mendapatkan barang itu, terutama sebagian dari murid kelompok C.


Tidak peduli akan keluhan, kelima profesor pengampu menyuruh mereka untuk berbaris kembali di depan gerbang utama Silvarion. Cukup lesu terutama mengingat mereka ingin beristirahat cukup tenang menunggu hari terakhir bootcamp, hari saat mereka kembali ke akademi.


Hal ini juga terasa bagi seluruh murid royal guard. Berlatih kembali selama tiga hari berturut-turut, apalagi bersama royal guard profesional dari kerajaan, demi mendapatkan sebuah skill penting membuat mereka cukup lelah dan tertekan. Tertekan akibat pengajaran dari Alexandria sekali lagi. Bagi sebagian dari mereka, hal itu sepadan.


Seluruh murid berbaris berdasarkan job masing-masing alih-alih kelompok saat bootcamp berlangsung. Kelima profesor dan masing-masing asisten pun menghadap mereka, mendapati beberapa percakapan berupa ketidaksabaran untuk mengakhiri bootcamp.


“Harap tenang!” Sambutan dari Baron seketika memotong segala percakapan.


Seluruh pandangan tertuju pada kelima profesor pengampu itu. Benar-benar tidak ingin mendengar ceramah dan sambutan terakhir sebelum bootcamp berakhir, satu-satunya hal yang ingin mereka lakukan hanyalah kembali ke penginapan masing-masing sesuai kelompok dan beristirahat.


Tepat saat Alexandria tengah membuka mulut untuk bersuara, memberi pidato, deretan langkah kaki terdengar nyaring dan jernih. Saat semuanya beralih pandangan pada sumber suara itu, gerombolan berpakaian zirah baja merah gelap tengah menghampiri. Suara langkah sepatu zirah pada tanah cukup menggelegar telinga semakin dekat pasukan itu tiba.


Seluruh royal guard yang berperan sebagai penjaga pun mulai menghadang, termasuk beberapa dari mereka yang tengah menunggangi kuda. Mereka membidikkan tombak, halberd, atau pedang seraya ingin bertahan, bersiap untuk hal terburuk.


“Si-siapa kalian!” bentak Alexandria mengambil tombaknya.


Sosok pemuda melewati pasukan berzirah merah gelap itu. Topi hitam, topeng zirah merah yang hanya menutupi wajah, dan zirah emas. Pemuda itu tampak seperti seorang pemimpin dari pasukan itu. Seluruh profesor dan royal guard mengalihkan pandangan padanya.


“Tidak usah kaget begitu,” sapanya.


“Memangnya kami tidak kaget? Kalian yang seharusnya kaget,” sindir Baron.


“Jangan lantang begitu, para profesor dari Akademi Lorelei, akademi yang menghasilkan petualang di kerajaan Anagarde, atau … untuk mengabdi pada kerajaan. Atau itu yang kalian pikir, itu yang juga kalian tanamkan pada anak-anak ini.”


Menyaksikan sindiran dari sosok misterius itu, hampir seluruh murid saling menatap, melotot dan membuka mulut lebar, sama sekali kebingungan apa yang sedang terjadi. Tidak ada satu pun yang menyangka di balik kedamaian seluruh tiga benua, yakni sebagai kerajaan Anagarde, sebuah konflik terhadap kelima profesor itu telah terjadi tepat di depan mata.


“Ka-kalian mau apa!” Speed mengeluarkan pedangnya bersiap untuk bertarung.


Baron cukup sigap mengambil panah dari quiver dan mengangkat busurnya. Genggaman pada tali busur dan panahnya sangat erat sambil gemetar pasti membidik pada sosok itu. Perkataan sosok itu memicunya naik darah, menganggap sebagai pertanda buruk.


“Speed! Baron! Kita tidak usah meladeni mereka, apalagi kita tidak punya waktu untuk bertarung!” tegas Alexandria.


“Tepat sekali. Kami tidak kemari untuk bertarung melawan kalian. Kami hanya ingin melihat murid-murid tahun pertama Akademi Lorelei yang masih lugu, sangat rapuh dalam menuju kedewasaan.”


“Semuanya—” Clancy ingin sekali memberi arahan pada seluruh murid tahun pertama ber-job tipe striker itu.


“Kalian sudah tidak bisa ke mana-mana. Seharusnya kalian sudah tahu kalian sudah dikepung.”


“Apa?” gumam Farrar.


Alexandria mengingatkan menggunakan bisikan agak mengeras, “Kalian sendiri lihat, kan?”


Tidak hanya di hadapan seluruh murid dan profesor pengampu, tetapi juga mengiringi membentuk lingkaran besar, menutupi akses kembali menuju kota melalui gerbang utama. Terdesak, sungguh tidak masuk akal harus mengepung jika tidak ingin bertarung.


Yudai menghela napas melirik seluruh pasukan bertopeng baja itu. Sungguh, ia ingin sekali menarik panah dari quiver-nya. Ia sudah menyentuh ekor panah, otaknya kini sudah penuh hampir tidak tertampung lagi keinginan untuk menyerang pihak musuh itu.


“Oh, kami lupa memperkenalkan diri,” sosok misterius itu menundukkan kepala, “kami adalah Royal Table.”


“Ro-Royal Table?” ulang Yudai tertegun.


“Si-siapa mereka ini?” sahut Zerowolf.


Speed kembali berseru, “Buat apa kalian kemari?”


“Sudah kami bilang, kami di sini bukan untuk bertarung, apalagi melawan murid-murid lugu ini,” sosok misterius itu mengingatkan, “mereka juga butuh apa yang sesungguhnya terjadi. Apa yang sebenarnya terjadi di kerajaan ini! Apa yang sebenarnya tidak ditulis di buku sejarah kalian! Buku sejarah kerajaan Anagarde!”


“Lebih baik kalian pergi dari sini.” Alexandria menggeram, mengambil satu langkah, “dengar, seluruh sejarah di kerajaan Anagarde adalah sebuah kejujuran! Kenyataan yang terjadi pada masa lalu. Semuanya, tidak ada yang tertinggal sama sekali.”


“Klasik sekali,” tanggap sosok misterius itu dengan tenang. “layaknya air, sejarah itu seperti benda cair. Ketika kalian menemukan sebuah peristiwa yang berkaitan, saling berkaitan, pasti kalian ambil. Pasti kalian mengumpulkan bukti.”


Clancy menganggapi dalam ketegangan, “I-itu memang benar. Se-sejarah memang butuh bukti agar orang dapat percaya.”


Sosok misterius itu mengangkat telunjuk dan mendekatkannya pada mulut. Semuanya cukup tertegun dapat terdiam, bahkan Alexandria saja sampai tidak berkutik meski air mukanya mulai mengerut dan hawa panas seakan mulai menguap.


“Tapi bagaimana kalau kalian, sebagai pencari kebenaran, justru mengabaikan sebuah peristiwa. Peristiwa penting, sangat penting. Bahkan terlalu penting untuk mengejutkan semua orang! Jadi kalian mengabaikannya begitu saja!


“Lalu kalian … mengandalkan murid-murid lugu ini, sangat lugu. Kalian, kerajaan Anagarde dan Akademi Lorelei, ingin mencuci otak mereka. Ingin memanipulasi pikiran, ingin sekali memanipulasi sejarah sampai-sampai kebenaran yang sebenarnya tidak diketahui semuanya, seluruh masyarakat kerajaan ini. Ya, sampai kalian semua dibodohi.”


Seluruh murid pun tertegun, termasuk kelima asisten. Lagi-lagi percakapan mulai terdengar nyaring, sangat nyaring saking penasaran dengan apa yang dimaksud Royal Table.


“Ya, pasti royal guard seperti kalian sudah lama mengabdi pada kerajaan. Pasti kalian dibodohi lama sekali sampai kalian jadi babi.”


“Bangsat!!” Sebagian besar royal guard terpicu akan provokasi sosok misterius itu.


Termakan hawa emosi, mereka mengangkat senjata dan melesat ingin menyerang. Sosok misterius itu jadi tujuan utama. Hawa api membara memicu keluarnya tenaga dalam mengayunkan halberd, tombak, atau pedang.


Pasukan Royal Table cukup cepat menghampiri dan memangkis serangan tersebut, melindungi sosok misterius itu di belakang mereka. Gemericik benturan senjata meledak menuju telinga.


Alexandria membentak, “Siapa suruh kalian menyerang!!”


Bentakan Alexandria cukup untuk menghentikan serangan setiap royal guard di barisan terdepan. Sungguh, seluruh murid juga tidak percaya Alexandria, hanya sebagai profesor yang paling dibenci, dapat mengendalikan seluruh royal guard, seakan ia seorang kapten atau jenderal.


“Benar, kami tidak ingin bertarung melawan kalian. Kasihan murid-murid kalian,” tanggap sosok misterius itu dengan santai.


Kedua belah pihak berhenti saling serang dan menurunkan senjata masing-masing, meski banyak yang enggan. Emosi masih saja mendidih bagi sebagian besar dari royal guard kerajaan, masih tidak terima dibandingkan dengan binatang.


Giliran Baron yang meminta secara tegas, “Royal Table, kami tidak peduli bagaimana bisa kalian menemukan kami, bagaimana tujuan kalian sebenarnya. Pokoknya, harap tinggalkan kami!”


Sosok misterius itu mengangguk dan berbalik. Ia masih saja menyeringai. Ia mengangkat kepala dan mulai terbahak-bahak dan menggeleng.


“Aku lupa. Namaku Spade. Sebaiknya kalian bersiap-siap, lebih banyak rahasia akan terungkap, terutama dari dalam.”


Seluruh prajurit Royal Table akhirnya mulai melangkah membentuk beberapa barisan, menginggalkan seluruh murid tahun pertama beserta kelima profesor pengampu. Mereka tanpa kata-kata mengikuti langkah Spade memasuki area hutan.


Menatap Spade dan pasukannya seakan menghilang ditelan kegelapan malam, seiring langit telah menghitam seluruhnya, kelima profesor itu mulai menggeretakkan gigi. Marah, cemas, panik, dan terancam, apalagi sebuah kilas balik terpicu pada pikiran.


Kekhawatiran Arsius saat rapat awal semester mulai terngiang-ngiang, berputar beberapa kali. Clancy sampai berlutut menyentuh kepalanya, masih saja tidak percaya sebuah perkataan menjadi wujud nyata.


Speed menyentuh jidatnya, menahan sakit kepala tidak tertahankan, akibat tekanan darah naik ke ubun-ubun. Meski menarik napas berkali-kali, ia tetap tidak dapat menerima apa yang telah terjadi.


Farrar mengusap punggung Speed seraya menenangkannya. Ia juga termenung memproses setiap kejadian yang telah ia saksikan, terutama perkataan Spade tentang “kebenaran” sebuah sejarah kerajaan Anagarde.


“Oh tidak.” Sebuah kilasan ingatan juga muncul di benak Yudai saat melihat reaksi setiap profesor di hadapan seluruh murid. “Jangan-jangan—"


Bantingan keras pun meledak di pendengaran. Semuanya mematung beralih pada sumber suara itu. Seperti dugaan mereka, Alexandria melempar tombaknya ke tanah, cukup keras hingga memicu suara seperti ledakan.


“Alexandria, ini—” Baron mencoba menenangkannya.


“Aku tidak ingin mendengarnya!” Bentakan Alexandria bukan lagi karena tegas, tetapi karena keberangan yang tidak bisa padam begitu saja. “Ternyata benar. Royal Table.”


“—ini tentang alchemist?” Yudai menyiumpulkan, tidak ingin siapapun, termasuk Zerowolf di belakangnya, tahu apapun.


Zerowolf memperhatikan raut wajah Yudai, apalagi gerakan bibirnya. Sebuah suara dari Yudai sungguh samar bagi pendengarannya, entah karena suara pelan atau situasi tertekan sama seperti murid-murid lain.


Alexandria mengumumkan, “Saat kalian kembali ke akademi dalam dua hari. Bersiaplah, akan ada perubahan, perubahan besar. Kalian takkan menduganya sama sekali.”


Masih saja dalam keadaan syok, menyangkal semuanya, kelima profesor pengampu perlahan bangkit dan kembali ke kota terlebih dahulu. Angin malam lembut bahkan tidak mampu meredakan gejolak emosi sedikitpun.


Tanpa aba-aba apapun, seluruh murid turut ikut melewati gerbang kota itu, sampai memecahkan barisan seraya memisahkan diri. Setiap kalimat dari Spade mereka renungi bersamaan dengan reaksi kelima profesor.


Ada yang salah dengan akademi ini, benar-benar salah. Sejarah menjadi bahan manipulasi, terdapat rahasia tidak terungkap, dan provokasi dari Royal Table.  Sebuah aksi reaksi membuat mereka ikut bereaksi, bukan hanya syok, tetapi keraguan tertanam di benak mereka. Begitu banyak yang bisa merasakannya, menjadi percakapan seluruh murid tahun pertama.


***


Neu berbaring di sebuah lantai kayu, masih saja menutup mata dan tidak bergerak sama sekali. Familiarnya, Cherie, masih saja tertidur lelap di bahunya.


Sierra yang menatapnya bersama rekan lelaki berkulit hitam mengambil sebuah botol berisi air berwarna biru bening dan membuka gabus penutupnya.


Ia mendekatkan ujung botol yang terbuka itu pada bibir Neu, membiarkan air itu mengalir keluar memasuki mulut.


“Katamu ini akan membuatnya tertidur selama beberapa hari.”


“Benar.”


Sierra menutup mulut Neu sehabis menghabiskan seluruh air dari sebuah botol kecil.


“Tak kusangka gagasanmu tentang air kehidupan dapat bekerja juga.” Sierra kembali bangkit menatapi langit-langit kayu.


“Sebagai rencana darurat,” Rekannya yang berkulit hitam itu mengingatkan, “jika Black Jack sampai tahu kita melakukan kesalahan lagi, bisa saja rencana kita berantakan. Kamu sendiri tahu bagaimana sifat dia, bukan?”


“Tidak. Kurasa kita dapat memanfaatkannya saat dia sadar. Dan satu hal lagi, familiarnya juga kerjaannya hanya tidur.”


“Kamu tahu kamu harus kembali ke akademi. Nol kesalahan, berhati-hatilah.”