
Keenam kapal yang telah mengantar murid tahun pertama Akademi Lorelei akhirnya memandang sebuah daratan berpasir di depan mata, menandakan mereka baru saja tiba di benua Riswein. Terlebih dahulu, kapal diperlambat ketika tengah mendekati jembatan dermaga. Untuk membantu kapal terhenti, kru kapal mulai menjatuhkan jangkar ke dasar laut.
Seluruh murid mulai menyaksikan aktivitas di dermaga dan pantai, terpana akan pemandangan sebuah dunia luar. Langit biru cerah, cuaca sempurna untuk bertamasya di benua Riswein. Kesibukan pengunjung pantai yang tengah menyelusuri lantai pasir juga dapat terlihat. Aktivitas pelaut untuk mengendalikan lalu lintas kapal dan membawa beberapa kotak berisi barang-barang.
Antusias murid pun melayang tinggi ketika benua Riswein sudah berada di depan mata, apalagi bagi yang sama sekali belum menginjakkan kaki di sana. Bagi siapapun yang berasal dari Riswein seperti Beatrice dan Neu, aroma rumah sudah mulai tercium hingga ingin mengembuskan napas sampai mulut mengutarakan kata “aku pulang”.
Bagi Yudai, sebuah kilas balik tergambar ketika melihat dermaga dan pantai. Dia menggambarkan dirinya yang masih kecil meninggalkan pantai perbatasan benua Riswein bersama kedua orangtua. Sebuah kenangan yang membuat sebuah eskapisme untuk sementara itu mengalihkan dari kenyataan.
Yudai membayangkan wajah kedua orangtuanya ketika menolehkan kepala. Dia meluruskan senyuman ketika kembali menoleh pada kesibukan di dermaga.
Yudai menarik napas dalam-dalam, menghirup udara setiba di benua Riswein. “Ayah, Ibu, aku pulang.”
Neu yang berdiri di samping kirinya melongo heran. “Bu-bukannya kamu berasal dari Grindelr? Kenapa kamu berkata kalau kamu pulang?”
Sans menjawab berdasarkan penjelasan Yudai semalam, “Dia dilahirkan di Silvarion, saat kedua orangtuanya masih bertualang bersamanya.”
Kru kapal mulai menaruh papan titian kayu pada kapal menuju jembatan penyebrangan dermaga. Seorang profesor pendamping masing-masing mengingatkan agar seluruh murid tingkat pertama untuk berbaris lurus dan tertib ketika menuruni kapal melewati papan titian kayu.
Seluruh barisan murid tahun pertama kini berkumpul di hadapan kumpulan pohon bakau, membuat seluruh kesibukan di sana menyingkir untuk sementara waktu. Seluruh professor pendamping, terutama Hunt dan Dolce memastikan semua murid tahun pertama sudah berkumpul dalam bentuk barisan.
Profesor pendamping memanggil nama masing-masing murid untuk absen. Siapapun yang dipanggil mengangkat tangan untuk memastikan kehadiran masing-masing.
Setelah semua sudah dipastikan hadir, seorang pemandu wisata pria berambut ungu berucap, “Selamat datang di Benua Riswein, murid tahun pertama Akademi Lorelei. Saya di sini untuk memandu kalian ke kota Silvarion. Beberapa kereta kencana sudah menunggu di balik hutan pohon bakau.”
“Silvarion!” Yudai mengulang seperti tercerahkan. “Be-berarti—”
Sans melanjutkan, “—kamu bisa mulai mencari petunjuk tentang kedua orangtuamu!”
Neu menggeleng. “Kurasa belum bisa untuk sekarang. Akademi Lorelei telah mengatur beberapa acara sedemikian rupa. Mau tidak mau, kita harus mengikuti acara dengan tertib.”
Dolce mengingatkan setelah pemandu wisata pria berambut ungu telah melewati pepohonan bakau, “Mohon perhatiannya.” Obrolan setiap murid seketika terhenti. “Setiap kereta kencana akan terisi oleh masing-masing satu kelompok. Saat saya memanggil nomor kelompok, harap ketiga anggota kelompok tersebut maju ke depan terlebih dahulu sebelum melewati pepohonan bakau untuk menaiki salah satu kereta kencana. Saya mulai dari kelompok satu, silakan maju ke depan.”
Ketiga anggota kelompok satu melangkah meninggalkan barisan masing-masing untuk menemui setiap profesor pendamping. Murid-murid lainnya menunggu dan menyaksikan ketiga anggota kelompok satu tersebut mulai melewati pepohonan bakau untuk menaiki salah satu kereta kencana.
Neu menghela napas, perjalanan kembali ke benua kampung halamannya akan kacau balau dan canggung jika harus sekelompok bersama Tay. Seandainya Sans bisa menggantikan posisi Tay, pengalaman bertamasya bersama mungkin tidak akan menjadi kacau balau. Sayangnya, semua sudah menjadi “keputusan” Akademi Lorelei berdasarkan undian. Pasti tidak akan bisa meminta untuk menukar seorang anggota kelompok dengan anggota kelompok lain.
Begitu pula dengan Tay, mukanya semakin masam jika memikirkan dirinya akan satu kelompok dengan Yudai dan Neu. Neu, ya, seorang yang dapat dianggap musuh bebuyutannya. Canggung dan kacau balau, itulah satu-satunya harapan Tay ketika sekelompok dengan Neu selama tamasya di kota Silvarion berlangsung.
Satu per satu kelompok telah memisahkan diri dari barisan untuk menemui profesor pendamping dan berlalu menuju pepohonan bakau, di mana beberapa kereta kencana telah menunggu. Hanya menyisakan beberapa orang, tidak heran mereka tidak sabar untuk dipanggil.
“Kelompok 13,” panggil Dolce.
Terpicu oleh panggilan “kelompok 13”, Tay dan Neu masing-masing memutuskan untuk membuka muka pada satu sama lain ketika menemui setiap profesor pendamping, terutama Dolce dan Hunt. Yudai yang biasanya bersemangat terpaksa harus rela bergabung dengan kesuraman akan calon bencana dalam kelompok 13.
Beberapa murid tahun pertama yang tersisa bahkan betapa tidak beruntungnya nasib Yudai. Tay dan Neu dalam satu kelompok sudah menjadi ekuivalen bencana mengingat insiden perkelahian di balik perang makanan di kantin. Mereka bahkan menargetkan Tay sebagai topik pembicaraan utama tentang kelompok 13 karena diibaratkan sebagai biang masalah. Tak heran tidak ada yang mau berteman dengan Tay.
Pembicaraan itu terhenti ketika Yudai, Tay, dan Neu berlalu melewati pepohonan bakau untuk menaiki kereta kencana. Seluruh murid tahun pertama yang tersisa di barisan-barisan menyaksikan kelompok 13 berlalu tanpa berbicara, hanya ada kebencian terselubung.
Sans menghela napas menyaksikan Yudai dan Neu akan lelah berurusan dengan Tay. Dia menoleh pada Beatrice dan Sierra, teman satu kelompoknya. Jantungnya berdegup ketika memikirkan dia sekelompok dengan murid perempuan, berarti sebagai laki-laki, dia wajib melindungi mereka jika ada masalah.
Sekali lagi, Sans berpikir dia belum cukup kuat untuk bertarung menggunakan belati hitam, apalagi melindungi Beatrice dan Sierra. Mengingat dirinya juga sebagai murid bermantel putih, tanpa job sama sekali, peluang untuk dipercaya sebagai pemimpin cukup rendah, sangat rendah. Sierra mungkin memandangnya sebagai laki-laki yang tidak berdaya, murid laki-laki bermantel putih.
“Kelompok 15,” panggil Dolce.
Sans terbuyarkan ketika terpicu oleh panggilan Dolce. Mengikuti langkah Beatrice dan Sierra, dia terlebih dahulu menghadapi setiap profesor pendamping, terutama Hunt dan Dolce.
Dolce memastikan ketiga anggota kelompok 15 sudah lengkap dengan memanggil nama. Sans, Beatrice, dan Sierra. Dia mengangguk sebelum mempersilakan mereka untuk melewati pepohonan bakau.
Tanpa berbicara sedikit pun, ketiga anggota kelompok 15, yaitu Sans, Beatrice, dan Sierra, melewati deretan pohon bakau. Ketika mencapai ujung pepohonan bakau, jalan berpasir seakan berganti menjadi jalan bebatuan, menyaksikan begitu banyak kereta kencana terparkir di depan mata.
Sebuah cargo kotak tertutup berwarna hitam berhias atap emas, satu pintu, dan dua jendela masing-masing di sisi kiri serta kanan, badan roda merah, dan tali yang tersambung pada kuda merupakan model kereta kencana di depan mata. Seorang kusir berseragam kemeja merah dan berwig abu-abu gulungan membukakan pintu bagi setiap kelompok yang akan menumpang.
“Ladies first,” suruh kusir seraya memberi hormat dengan melakukan tundukan kepala dan menempatkan lengan kanan pada perut layaknya seorang pelayan.
“Te-terima kasih,” ucap Beatrice menaiki cargo kereta kencana tersebut.
Sierra tanpa berbicara sedikitpun juga ikut menaiki cargo, mulai duduk di samping Beatrice di sebuah tempat duduk empuk berwarna merah. Sans menjadi anggota kelompok terakhir yang memasuki kereta kencana tersebut.
Seluruh kelompok dan semua professor pendamping telah menaiki kereta kencana masing-masing sesuai arahan pemandu. Seluruh kusir mulai mengayunkan cambuk karet hitam pada punggung kuda di hadapan masing-masing untuk mulai lepas landas. Masing-masing kuda menjerit terlebih dahulu sebelum mulai berjalan menggiring kereta kencana.
Kereta kencana kelompok satu berada di posisi terdepan ketika meninggalkan deretan pepohonan bakau memasuki rerumputan menuju kota Silvarion. Dapat terlihat juga beberapa kargo barang ikut melintas dari arah yang berlawanan untuk menuju pantai.
Setiap kusir secara andal mengendalikan kendali kereta kencana dengan mengarahkan seekor kuda di hadapannya, entah menggunakan tali ikatan untuk berbelok atau cambuk untuk menambah kecepatan.
Di dalam cargo kereta kencana, setiap anggota kelompok masing-masing sebagai penumpang mulai mengobrol dari memperkenalkan diri hingga melihat ke arah jendela memperhatikan keindahan alam di benua Riswein.
Keindahan alam di Riswein dapat meliputi aliran sungai di sisi jalan, rerumputan utuh panjang, deretan pepohonan tidak terlalu serindang di benua Aiswalt, dan langit cukup berawan melawan terik matahari. Udara pun mulai cukup menyejukkan tubuh, membuat beberapa murid tahun pertama ingin menghirup napas mencicipi aroma benua Riswein.
Beda cerita bagi kelompok 13 dan kelompok 15. Sama sekali tidak ada anggota yang mengajak berbicara.
Di kereta kencana kelompok 13, alih-alih kesenangan dan ketidaksabaran untuk menikmati tamasya, ketegangan dan kecanggungan justru mendominasi. Siapa lagi kalau bukan Tay dan Neu yang menyebabkan semua kekacauan terselubung tersebut.
Tay dan Neu saling menatap tajam seperti sambaran kilat. Tanpa perlu berbicara saja sudah menunjukkan refleksi dari hubungan permusuhan keduanya bagi Yudai.
Yudai sama sekali tidak tahu bagaimana cara untuk menenangkan suasana. Kecanggungan juga terasa baginya jika melihat Tay dan Neu secara langsung, apalagi untuk saling berbicara demi sekadar berbaikan.
Melihat ke arah jendela dan mengenang masa kecil sama sekali tidak membantu bagi Yudai. Ketegangan di balik keheningan sudah terlalu menguasai di dalam kargo kereta kencana kelompok 13.
Tay dan Neu berandai-andai mereka tidak perlu saling bekerja sama sebagai satu kelompok selain hanya membuat kegaduhan dan kecanggungan. Alih-alih berbicara hingga berujung pertengkaran, mereka hanya terdiam, menggerutu di dalam hati mengutarakan keluhan.
Kalau boleh, Tay ingin menebas Neu menggunakan pedang. Hal yang sama juga berlaku pada Neu, dia juga ingin menggunakan sihir untuk menyerang Tay dan semuanya akan beres.
Di kereta kencana kelompok 15 juga penuh dengan kesunyian. Tidak saling berbicara, sudah pasti. Satu-satunya suara selain entakan kaki kuda dan putaran roda meliputi entakan kaki kanan Beatrice.
Beatrice menghela napas berkali-kali, memikirkan situasi terburuk jika kembali ke Benua Riswein. Dia membungkus kedua tangan dan menundukkan kepala hingga sun hat putih menghalangi.
Menumpangi kereta kencana membuat Beatrice kembali mengingat masa kecil. Dulu, bersama keluarganya yang merupakan bangsawan, kemanapun mereka pergi pasti menggunakan kereta kencana.
Sierra sama sekali tidak berbicara, melainkan hanya menatap ke arah jendela. Sesekali dia memperhatikan Beatrice yang menunjukkan ketegangan.
Sans justru memandang pakaian Sierra yang mengagumkan layaknya seorang bangsawan seperti Beatrice. Pakaian serba hitam berupa gaun tanpa lengan membuat pandangannya cukup terpana akan sebuah kecantikan di bagian luar.
Sans kemudian mengalihkan dari kekaguman terhadap pakaian Sierra kepada Beatrice. Bisa dia perhatikan Beatrice sama sekali tidak menikmati perjalanan menuju kota Silvarion.
Sans sudah memiliki kata-kata yang siap terlontar untuk membujuk Beatrice. Akan tetapi dia urungkan, tidak ingin membuat Beatrice semakin panik selama perjalanan berlangsung.
Sans kembali menoleh pada jendela, memperhatikan deretan keindahan alam yang telah kereta kencana tumpangan mereka lewati, sambil menunggu tiba di kota Silvarion.
Kurang lebih satu jam telah menempuh perjalanan menggunakan kereta kencana, sebuah jembatan penyebrangan merintangi aliran sungai telah berada di depan mata. Begitu melewati jembatan tersebut, terlihatlah bagian pilar patung ksatria berpedang seakan mengucapkan selamat datang. Disusul oleh dinding cukup tinggi seperti pagar pembatas antara kota dan hutan, terbuat dari batu-bata hitam.
Yudai tentu mengingat beberapa patung ksatria berpedang tersebut dapat diibaratkan sebagai gerbang masuk kota Silvarion berdasarkan ingatannya. Mulutnya terbuka lebar selagi dia merasa senang dapat kembali ke kota tersebut melalui dinding pembatas kota.
Seluruh murid di kereta kencana mulai tertegun hingga terengah-engah melihat keindahan akan bangunan batu-bata di kota Silvarion. Kata “wow” dan “mengagumkan” terlontar dari mulut kebanyakan murid seraya memuji keindahan kota yang dikelilingi oleh dinding batu-bata hitam tersebut..
Seluruh kereta kencana akhirnya berhenti di hadapan sebuah air mancur berpatung ksatria, pusat dari kota Silvarion. Kedatangan seluruh murid tahun pertama Akademi Lorelei turut menjadi perhatian bagi masyarakat kota yang tengah beraktivitas di sekitar air mancur tersebut.
Satu per satu murid tahun pertama Akademi Lorelei menuruni kereta kencana masing-masing dan menapakkan kaki pada lantai batu-bata hitam. Air mancur berpatung ksatria menjadi perhatian utama bagi kebanyakan murid karena keestetika desain marmer dan pancuran air dari bagian pedang.
“Selamat datang di kota Silvarion,” sambut sang pemandu wisata.
“Semuanya, mohon perhatiannya,” Dolce memanggil.
Seluruh murid tahun pertama beralih pada semua profesor pendamping, merespon panggilan Dolce, membelakangi air mancur.
Hunt mulai mengambil alih untuk berbicara, “Kota Silvarion merupakan salah satu kota terbesar di benua Riswein yang terkenal dengan pusat tipe job striker, terutama swordsman dan knight. Sebelum kita mengetahui lebih lanjut tentang kota ini dengan tur, kita ke penginapan, beristirahat dan makan siang. Setelah makan siang, kita langsung tur kota. Kalian paham?”
Dolce melanjutkan, “Pembagian kamar sesuai dengan saat kalian di asrama. Teman sekamar kalian di asrama sekali lagi akan menjadi teman sekamar di penginapan. Sampai jam makan siang, kalian punya waktu bebas untuk beristirahat di kamar masing-masing.”
“Kita masuk ke penginapan sekarang.” Hunt menunjuk salah satu bangunan berbentuk persegi panjang cukup luas di jalan samping kiri air mancur pusat kota.
Mengetahui mereka akan kembali menjadi teman sekamar, Tay dan Neu kembali saling menatap tajam, seakan menembakkan petir pada satu sama lain. Gerutu dan cakar keluar dari pandangan bersiap untuk meledak.
Yudai sekali menggelengkan kepala, masih tidak tahu bagaimana meredam api di balik kelompoknya. Setidaknya, dia beruntung bisa kembali sekamar dengan Sans, tidak perlu mengurusi kedua anggota kelompoknya setiap malam.