Lorelei Chronicles

Lorelei Chronicles
Episode 68



Salah satu ring di barisan tengah menjadi lokasi pertarungan antara Zerowolf dan Baron. Meski tidak bisa terlihat secara langsung oleh Yudai, Zerowolf membulatkan tekad untuk membuktikan padanya bahwa dia benar-benar menjadi seorang saingan.


Tekad tersebut menjadi pemicu semangatnya dalam menghadapi duel melawan Baron, yang juga menjadi ujian akhir semester baginya, sebuah pembuktian perkembangan pelatihannya selama satu semester.


Dia teringat ketika Yudai pernah berkata pertarungan sungguhan tidak perlu memakai aba-aba, hanya selangkah di depannya. Jika terpikir lagi, memang benar, kesimpulan bahwa duel seperti ini tidak akan ada jika berhadapan dengan musuh sesungguhnya.


“Baik, pertarungan putaran pertama—” seru Dolce.


Zerowolf mengangkat busur menggunakan tangan kiri dan mengambil salah satu busur dari quiver-nya, menempatkan kaki kanan di depan, menghadapi Baron.


“—mulai!”


Zerowolf dan Baron menembakkan panah secara bersamaan. Ditariknya ekor panah pada tali busur masing-masing, genggaman keduanya pada tangan kanan mengerahkan tenaga dalam peluncuran. Akurasi dari pandangan tajam juga ikut membantu arah tembakan.


Begitu kedua panah tersebut melayang di udara dan memelesat, keduanya menyingkir bergeser, menghindari tembakan tersebut. Baron memiringkan badan sambil menyeret kaki kiri terlebih dahulu. Zerowolf merunduk dan slide dirinya menggunakan kaki dan tangan pada lantai hingga menuju sudut ujung ring kirinya.


Belum sempat bangkit secara utuh, Zerowolf tertegun ketika tembakan Baron kembali melesat tepat menuju padanya. Dia pun dengan cepat berbaring demi menghindari panah tersebut mengenai bagian tubuhnya.


Panah asli, bukan panah tumpul yang biasa digunakan dalam mock battle. Ujian duel benar-benar hampir menyerupai pertarungan sungguhan. Dapat berbahaya jika kepala panah lancip mengenai salah satu bagian tubuhnya dan menyebabkan dirinya kalah dan harus menyerah.


Panah Baron mendarat tepat di dekat garis ring, sedikit keluar.


“Cepat berdiri!” seru Baron. “Apa itu kemampuan terbaikmu?”


Zerowolf bangkit kembali, kembali mengangkat busurnya. Panahnya dia ambil dari quiver menggunakan tangan kanan. Tatapannya kembali pada arah Baron yang tengah bergeser mencari arah.


Sebuah determinasi juga dapat dia ibaratkan sebagai panah yang tengah dia pasang pada busur. Diletakkannya ekor panah menggunakan genggaman pada tali busur.


Berbeda dari pendekatan Baron, Zerowolf hanya mengandalkan pandangan dan arah pusur sebagai fokus dan pencarian akurasi tepat, berdasarkan kekuatan genggaman dan pelepasan pada ekor panah.


Menjadi archer hebat merupakan cita-cita paling utama bagi Zerowolf. Begitu dia lulus dari akademi, dia ingin bertualang untuk melatih kemampuannya agar membuktikan diri sebagai salah satu archer terhebat di dunia.


Sambil membayangkan hal-hal pemicu yang membuat dirinya tiba pada masa kini, dia kembali bertarung sekuat tenaga. Dimulai dari melepas genggaman erat tali busur dan meluncurkan tembakannya pada Baron.


***


Seluruh murid archer tahun pertama telah berkumpul di ruang pelatihan memanah. Kegirangan di kalangan murid cukup tinggi, mengingat ini merupakan kelas pertama semenjak mereka mengisi lembar pilihan job. Mantel biru gelap juga turut menjadi ciri khas bersama dengan busur dan quiver berisi panah.


Beberapa murid sudah mulai saling berkenalan dan sepakat untuk berjuang bersama. Memang kebanyakan dari mereka bekerja sama akan sepadan dengan hasil terbaik.


Zerowolf melirik beberapa murid lainnya, berkeyakinan bahwa dia harus segera mencari teman untuk dapat diajak berlatih.


Tepat sebelum memanfaatkan kesempatan tersebut, Dolce pun tiba menghadap seluruh murid, membuat kebanyakan dari mereka tertegun mendapati alumni akademi sepanjang masa itu telah berdiri di hadapannya.


Beberapa juga berpikir bahwa Dolce akan menetapkan standar cukup tinggi dalam ajaran memanahnya, mengingat dia telah mengalahkan seluruh murid lawannya saat aptitude test bagian akhir dengan mudah.


“Selamat datang di kelas khusus archer, tentu saja kalian sudah tahu, kalian akan diajari teknik memanah. Kalian juga sudah tahu siapa saya. Saya Dolce. Saya akan menjadi pengampu kelas ini.”


Meski sempat ketakutan menyaksikan Dolce mengalahkan setiap lawannya saat aptitude test bagian akhir, termasuk ketika berhasil membuat Sans pingsan, Zerowolf memasang sebuah tekad. Genggaman pada busurnya dia genggam erat, ketakutan tersebut menjadi pemicu pada sebuah tekad.


Dia benar-benar ingin menantang alumni terbaik akademi sepanjang masa itu, meski harus cepat atau lambat.


***


Berkali-kali Zerowolf melancarkan tembakan, baik sambil berlari, melompat, hingga menyeretkan badan di lantai dengan cara slide, Baron merupakan lawan yang tangguh, benar-benar tangguh dalam menghindar.


Waktu pun tersisa kurang lebih enam menit. Dia tidak bisa terus-menerus menyerang tanpa rencana secara gegabah. Dia butuh menemukan titik kelemahan Baron demi memenangkan duel dan lulus ujian.


Zerowolf terengah-engah menurunkan busur, dia tidak ingin membuang lebih banyak panah dari quiver-nya.


Disaksikannya Baron melangkah perlahan, mempersiapkan panah pada tali busur, seraya mengambil ancang-ancang dan mengunci tembakan.


Baron pun melepas ekor panah setelah genggamannya yang kuat dan arahan busur pada Zerowolf. Panahnya pun mulai melesat sesuai dengan kekuatan genggaman mengikuti arah.


Zerowolf dengan cepat menyingkir ke sisi kanan. Tubuhnya pun menghadap sisi kirinya menyaksikan panah tersebut tengah mendarat.


“Ah!”


Dia tertegun ketika menoleh Baron dengan cepat meluncurkan tembakannya kembali. Panah tersebut kembali mengayun di udara.


Saking tertegun hingga tidak sempat menghindar dengan bergeser, berlari, merunduk, atau melompat, Zerowolf pun terjatuh begitu tembakan Baron mengenai betis kanannya.


Tusukan dari kepala panah menuju saraf pada betisnya membuatnya tertegun seperti tertusuk pisau. Respon cepatnya pun membuat tangan kirinya meraih busur tersebut.


Akan tetapi, dia kembali tercengang dan menjerit ketika Baron berhasil menembak dirinya ketika teralihkan. Rasa sakit dari perut kanannya memicu hal tersebut hingga dirinya berlutut jatuh.


Ketika panah tersebut terlepas, darah pun mulai mengalir mengotori pakaiannya. Tembakan cukup kuat membuat kepala panah lancip dari Baron merobek kulit membentuk garis, bukan sekadar tusukan.


Zerowolf menahan rasa sakit ketika menempatkan kedua tangan pada lantai ring, mengeluarkan tenaga untuk mencoba berdiri kembali.


Baron melangkah perlahan. “Apa kamu ingin menyerah?”


“A-apa?” Zerowolf menoleh Baron yang perlahan ingin mendekatinya.


“Jadi begitu, pantas saja kamu gegabah, terutama ketika kamu bersumpah akan mengalahkan Dolce suatu hari nanti, padahal kekuatanmu masih di bawah rata-rata, bahkan lebih rendah dari itu.


“Itu kenapa kamu kalah saat mock battle melawan Yudai. Aku melihatnya tanpa sepengetahuanmu. Yudai juga tidak tahu.”


Sama sekali tidak menyangka, selain teman-teman Yudai, Baron juga ikut menyaksikan secara diam-diam di dekat pintu ruang latihan memanah.


“Akuilah, kamu tidak mampu untuk mengalahkanku.”


Zerowolf menggelengkan kepala ketika Baron semakin mendekatinya. Dia tidak mau kalah. Dia tidak mau gagal dalam ujian duel sama sekali. Dia tidak mau kalah lagi dari Yudai. Dia ingin membuktikan pada Dolce yang menyaksikan pertarungannya bahwa dia benar-benar serius akan tujuannya.


***


Entah karena tegang menghadapi Dolce sebagai pengampu kelas memanah atau tidak, hampir seluruh murid archer kesulitan dalam menembak target berupa papan lingkaran kurang lebih tiga puluh meter. Benar-benar meleset tidak sesuai dengan perkiraan tatapan dan fokus.


Bahkan tembakan Yudai hanya mampu mencapai bagian ujung papan target. Meski begitu, antusias untuk belajar didampingi Dolce tetap membuatnya semangat.


Zerowolf menjadi satu-satunya murid archer yang berhasil menembak pusat dari papan target. Seluruh murid pun berdecak kagum pada dirinya, sampai ada yang bersorak memuji.


Dolce mengungkapkan setelah semuanya selesai mencoba menembakkan panah pada papan target tiga puluh meter di hadapan mereka, “Sebenarnya, saya memiliki harapan besar pada kalian semua. Kalian memutuskan untuk menjadi archer begitu kalian mendapat mantel biru gelap yang dikenakan. Saya sudah yakin kalian sudah berlatih memanah.


“Tapi ternyata, kalian tidak sebaik yang saya harapkan. Beberapa dari tembakan kalian meleset tidak mengenai satu pun bagian dari papan target, beberapa lagi justru tidak mencapainya hingga mengenai lantai.


“Kalian harus berpikir mengapa kalian ingin menjadi archer. Buktikan kalian pantas berada di sini. Buktikan kalian pantas memakai mantel biru gelap dan memegang busur. Ingat tujuan utama kalian. Saya harap setelah ini, kalian akan berlatih memanah, mulailah dari sekarang. Berikutnya, kalian akan mulai berlatih secara serius. Terima kasih banyak.”


Satu per satu murid keluar dari kelas dengan sendu dan lesu, menyadari bahwa kekuatan mereka masih belum apa-apa, masih lemah, tidak mendekati standar Dolce yang memang merupakan alumni terbaik sepanjang masa.


Begitu keluar dari kelas, menyadari dirinya sebagai satu-satunya murid yang berhasil mengesankan Dolce dan juga menetapkan tujuannya, dia mendeklarasi, “Aku sudah tahu salah satu tujuanku. Suatu saat nanti, cepat atau lambat, aku akan mengalahkan Dolce.”


Beberapa murid tertegun hingga melirik pada Zerowolf, bahkan beberapa di dekatnya justru meremehkan tujuan tersebut. “A-apa? Ka-kamu ingin mengalahkan Profesor Dolce? Alumni terbaik sepanjang masa itu?”


“Kamu tidak lihat ya? Kamu bodoh ya? Dia sudah mengalahkan semua murid yang menghadapinya saat aptitude test bagian akhir. Kamu mau bernasib sama seperti mereka?”


“Tidak mungkin kamu bisa mengalahkannya.”


“Tidak masalah,” Zerowolf membungkam keraguan sesama murid archer di sekitarnya, “Tidak usah terburu-buru. Suatu saat nanti … suatu saat nanti, aku akan melawan Dolce dan mengalahkannya. Aku akan menjadi archer terbaik di akademi ini, meski aku sudah menjadi alumni nanti!


“Oke, kita mulai berlatih masing-masing! Kita kembangkan kemampuan memanah!”


***


“Akan kupaksa kamu menyatakan menyerah.” Baron telah membidik lengan kirinya. “Menunggu saja telah membuang-buang waktu.”


Zerowolf pun terpikir instruktur macam apa yang menyuruh muridnya menyerah saat ujian berlangsung. Benar-benar kejam dan merendahkan. Di hadapannya, Baron telah menarik tali busur dan ekor panahnya bersiap untuk meluncurkan tembakan pada lengan kiri.


Memanfaatkan celah di dekat kakinya, ditambah lagi betis kanan yang tidak terluka sehabis tertusuk panah, Zerowolf mengayunkan kaki kanan, mengunci lutut Baron sebagai target.


“A-Ah!” jerit Baron ketika lututnya terkena tendangan kaki kanan Zerowolf hingga kehilangan keseimbangan untuk berdiri, menggagalkan tembakannya.


Zerowolf perlahan bangkit meski betis kirinya membuat tubuh berguncang mencari keseimbangan. Dia mundur secara berhati-hati demi tidak menambah rasa sakit.


Dia kembali menyiapkan panah menuju busurnya. Akan tetapi, genggaman kencang pada tali busur dan ekor panah justru membuat dirinya seperti tersambar kembali, melemahkan kekuatannya.


Baron pun kembali bangkit perlahan, menatap Zerowolf masih belum menyerah melawannya.


“Meski Anda menyuruh saya menyerah, saya tidak sudi. Saya tidak akan terpaku oleh instruktur yang seperti itu, menjatuhkan lawan dan menyuruh untuk menyerah saja. Itu tidak seperti yang kulihat pada Profesor Dolce! Seorang instruktur harus tetap membangun muridnya, tidak peduli apapun yang terjadi!


“Anda memang menguji saya dalam ujian duel ini. Ada aturan kalau tidak mampu bertarung lagi, katakan menyerah, sesederhana itu, tapi kalau dipaksa untuk menyerah melalui kata-kata, aku tidak sudi! Lebih baik aku terus bertarung, meski aku terluka seperti ini! Uh!”


Zerowolf melepas tembakannya meski dia tahu akan meleset mengingat genggamannya tidak stabil karena luka bahu kanan. Meski begitu tembakannya melesat mendekati bahu bagian kiri dan ujung leher Baron.


Baron pun tercengang ketika kepala panah lancip sedikit mengenai kulit pada ujung leher bagian kirinya, menimbulkan luka dan memicu keluar darah sedikit demi sedikit. Panah tersebut terjatuh di luar ring, mendekati ring lain di belakang.


Zerowolf menghela napas mengalihkan rasa sakit dari bahu dan betisnya, sedikit meringis. Apapun yang terjadi, dia harus tetap bertarung dan menang.


Baron membuang napas dan mengedip sebelum mengungkapkan, “Baiklah, determinasimu tinggi sekali setelah saya menekanmu untuk menyerah. Dalam situasi genting pun, apalagi kamu terluka, kamu memutuskan untuk melanjutkan bertarung, itu bagian dari ujian dari saya. Baik, kamu menang.”


Saking tercengangnya, Zerowolf sampai menurunkan tangan dan menjatuhkan busur ke lantai. Seperti mematung, tidak bisa membalas ucapan Baron lagi.


“Sebenarnya, jika ini duel sungguhan, salah satu dari kita akan jatuh. Pasti kita ingin saling mengalahkan dan menjatuhkan hingga tidak bisa bertarung lagi sama sekali. Kamu berhasil menunjukkan tekad bulatmu sebagai seorang archer. 


“Ta-tapi … aku bahkan tidak mampu menjatuhkan Anda, Profesor.” Zerowolf merendah. “Kekuatanku belum apa-apa.”


“Saya juga sudah melihatmu berlatih dan berkembang setiap saya secara diam-diam memasuki kelas Dolce. Jujur, saya ingin menantangmu dan melatihmu.


“Kamu adalah murid archer yang hebat, salah satu murid tahun pertama yang benar-benar membuatku terkagum-kagum. Mungkin tahun depan aku akan melatihmu bersama teman-temanmu. Kamu berhasil menang dalam duel ini.”


Zerowolf mengangkat kepala, tercerahkan berkat pujian dari Baron.


“I-iya.”


Baron berpesan, “Tujuanmu pasti sangat kuat, makanya kamu penuh dengan tekad. Ayo, sebaiknya kita temui para murid priest agar luka kita disembuhkan.”


“Ba-baik!”


Ketika keluar dari ring, dipandangnya lagi Dolce yang berkeliling mengawasi setiap pertarungan di setiap ring di ruang pertarungan fisik. Memang benar kata Baron, tujuan untuk mengalahkan Dolce semakin naik dan kuat.


Dia sempat menoleh pada Yudai yang tengah menonton duel Beatrice dan Neu melawan Hunt dan Danson. Tekadnya, Yudai akan menjadi lawan yang harus dia kalahkan terlebih dahulu. Itulah mengapa Yudai cocok sebagai saingan yang juga ingin mengalahkan Dolce suatu saat nanti.