Lorelei Chronicles

Lorelei Chronicles
Episode 152



Dalam pengamatannya, Riri menyadari sebuah perubahan yang terjadi selama dua hari berlangsungnya perjalanan. Perubahan itu seperti mendadak tanpa pemberitahuan. Bahkan kru kapal hanya sibuk melakukan tugas masing-masing, yakni hal-hal berkaitan navigasi kapal, tanpa melakukan apapun untuk mengintervensi.


Empat dari lima royal guard telah memperlakukan banyak dari temannya bukan sebagai sesama penumpang kapal ataupun rekan dalam misi, melainkan lebih rendah dari itu, bahkan lebih rendah daripada ia pikirkan. Ia menyaksikan bagaimana mayoritas temannya seakan menjadi babu.


Ia melihat dari lantai atas Sierra, Sandee, Katherine, Lana, dan Ruka “melayani” perintah dari royal guard. Mulai dari mengambilkan bir, merayu, hingga yang terendah, menepuk bokong saat berjalan. Sandee, sebagai murid royal guard, tertegun atas perlakuan rendah seniornya itu.


“Oh, syukurlah.” Yudai menemui Riri. “Ini sudah terlalu jauh.”


“Apa yang terjadi?”


“A-aku dan Zerowolf melihat Katherine diperlakukan kasar oleh royal guard. Bukan hanya itu, dia bahkan menyuruh membersihkan tahi burung dari armor-nya.


“Saat kami menyuruhnhya untuk berhenti, mereka justru memaksa kami semua jadi pembantunya. Mereka sampai tidak memperbolehkan kru untuk membantu.”


Mendengar hal itu dari Yudai, Riri langsung naik pitam. Ia mempercepat langkah saat melewati tangga, mengawasi *royal*guard tengah minum-minum sambil mencubit bokong Sandee begitu lama.


“Cukup!” jerit Sandee menangkis tangan *royal*guard itu.


Begitu menghampiri, Riri merebut botol dari genggaman *royal*guard berambut cokelat muda pendek tegak ke atas dan berjenggot tipis dari belakang. Ia justru melempar botol bir itu ke lantai geladak hingga pecah berkeping-keping dan menumpahkan segala isinya. Suara pecahan botol itu membantu segala aktivitas yang terjadi, dengan seluruh pandangan tertuju pada Riri.


Bukan hanya kaget, tetapi juga darah mencapai titik didih. *Royal*guard berambut cokelat muda itu menarik kerah mantel Riri.


“Lihat apa yang telah kamu lakukan!”


Riri membalas, “Aku hanya meminta perhatian kalian. Kalian ini adalah *royal*guard.”


“Lalu apa kaitannya? Kamu itu hanya murid Akademi Lorelei!”


“Benar, lalu apa? Memangnya kalian bisa memper—”


“Memangnya kamu ini pemimpin dalam misi ini?”


“Benar sekali. Hanya karena derajat kalian lebih tinggi, kalian tidak berhak memperlakukan kami seperti ini,” Riri menegaskan sampai suaranya nyaring menandingi *royal*guard itu.


Seluruh penumpang, dan bahkan kru kapal menghampiri keduanya. Tiga dari *royal*guard itu juga menggeretakkan gigi menatap Riri berani mengonfrontasi salah satu rekan mereka.


Tay mengomentari perilaku Riri, “Apa yang dia lakukan? Seharusnya jangan ikut campur.”


Ruka menambah dengan sinis, “Si royal guard rambut cokelat itu benar. Kita hanya murid Akademi Lorelei, membantah mereka sama saja dengan memberontak.”


“Kamu ini jangan sok pahlawan ya!” Royal guard berambut cokelat itu melepas cengkeraman kerah mantel Riri dan mendorongnya. “Kami ini lebih superior daripada dirimu, daripada teman-temanmu di sini! Kami bahkan tidak sudi diperintah oleh orang sepertimu!”


“Kalian sendiri lihat kan?”


Riri menunjuk raut wajah Katherine yang ketakutan saat menatap para *royal*guard itu. Juga, Sandee memalingkan wajahnya yang memerah dan masam, sungguh tersinggung oleh perilaku mereka.


“Sungguh, seharusnya kita ini setara, tapi kalian menyalahkan derajat lebih tinggi untuk memanfaatkan kami. Kalian membuat derajat kalian sendiri lebih rendah sebagai *royal*guard!”


*Royal*guard berambut cokelat itu mengambil pedang dari punggungnya cukup cepat, terpicu oleh perkataan itu. Darahnya semakin mendidih saat mengeratkan genggaman pedangnya. Ia mendorong tombaknya seraya ingin menyerang Riri.


“Whoa!” jerit Sans tercengang menyaksikan *royal*guard itu mengunci leher Riri sebagai target.


Secara refleks, Riri ingin sekali menghindari mata tombak itu. Akan tetapi, mata tombak milik *royal*guard itu justru mencapai kulit leher sebelah kiri, hampir mengenainya.


“Tarik ucapanmu tadi!” jerit *royal*guard berambut cokelat itu.


“Sudah cukup!”


Semuanya menoleh pada tangga kanan menuju lantai atas geladak di belakang Riri. Sumber suara tersebut berasal dari seorang kapten kapal,


“Ka-kapten!” sahut para kru.


Semuanya ikut terdiam saat kapten kapal itu menapakkan kaki dari tangga ke lantai geladak. Sans dan Yudai terbelalak menatap bentuk tubuh kapten tersebut, berbeda daripada yang mereka lihat kebanyakan. Tubuh lebih langsing, lengan seperti berisi, dan terutama kepala gundul hanya menyisakan rambut kuncir belakang.


Ruka bertanya sinis, memalingkan wajah, “Kenapa dihentikan? Tidak seharusnya Anda ikut campur.”


“Suara kalian terdengar sampai lantai atas tahu,” sang kapten menjawab.


“Tanya saja dia!” *Royal*guard berambut cokelat itu menarik kembali tombaknya. “Dia yang mulai duluan!”


“Tatro.” Keempat *royal*guard rekannya menghampiri. Nama royal guard berambut cokelat pendek itu adalah Tatro.


“Mereka memperlakukan kami dengan rendah, menyalahgunakan status royal guard. Bukankah *royal*guard seperti mereka seharusnya tidak semena-mena menjadikan kami babu? Memaksa kami melayani layaknya babu?”


“Kau ini!!” jerit Tatro. “Sebenarnya dia yang mulai! Dia yang memecahkan botol birku!”


Zerowolf akhirnya bersuara saat Riri ingin melakukannya, mencuri kesempatannya, “Kalian ini egois sekali. Kalian ini seperti anak kecil yang marah-marah sendiri, sampai ingin menangis seperti bayi.”


“Zerowolf!” jerit Riri, Sierra, dan Sandee memperingatkan secara bersamaan.


“Apa? Aku mengatakan hal yang sebenarnya,” respons Zerowolf.


“Baiklah! Kita bertanding!” jerit Tatro, mengejutkan semua orang, terutama keempat rekannya. “Tiga ronde, masing-masing satu lawan satu! Di sini! Sekarang juga!”


“A-apa!!” jerit Zerowolf, Lana, dan Sandee tertegun mendengar tantangan Tatro.


Sans dan Yudai juga teringat saat perjalanan dari benua Grindelr untuk pertama kalinya, mereka pernah menyaksikan pertarungan melawan perompak, saat badai pula. Mereka juga tidak menyangka pertarungan juga akan terjadi saat itu juga.


Mereka dapat melhat sorot mata Tatro dan Riri menajam, seakan sedang bertarung hanya menggunakan mata. Ingin sekali mereka menjawab tantangan Tatro, tetapi tensinya amat tinggi.


Ruka membuang ludah dan berani protes terhadap tantangan Tatro. “Sungguh, saat perjalanan laut begini, mau bertarung?”


Tatro membalas dengan menentukan syarat, “Pihak yang dua kali menang lebih dulu, mereka bisa melakukan apapun yang mereka mau pada pihak yang kalah.”


Bahkan seluruh kru kapal juga ikut kaget.


“Begitu, Tatro!!” sahut salah satu rekannya.


Sang kapten pun tidak dapat menahan gelak tawanya sampai mengangkat kepala menatap langit. Lagi-lagi para royal guard juga ikut tertegun.


“Menarik sekali. Kuizinkan kalian bertarung di sini. Di kapal ini, sering sekali ada pertarungan untuk mempertaruhkan sesuatu, bahkan sampai mempertaruhkan nyawa sekalipun.”


Katherine kembali mundur mendengar pernyataan dari kapten itu. Dirinya gemetar ketika menyadari salah satu dari mereka di kapal akan mempertaruhkan nyawa selama bertarung.


“Jangan khawatir,” ucap Tatro, “ini bukan pertarungan sampai mati.” Ia berbalik ke belakang menghampiri keempat rekannya. “Tentukan siapa yang akan bertarung. Asalkan ini pertarungan jarak dekat, menggunakan pedang atau belati, atau senjata yang biasa kami pakai sebagai *royal*guard.”


“Di-dia itu ….” Zerowolf sangat geram. “Aku ingin bertarung melawan mereka!!”


Riri memberi isyarat, mengayunkan tangan kiri menghadap dirinya sendiri, pada kesembilan temannya untuk berkumpul. Sebagai pemimpin, ia ingin menentukan yang terbaik untuk menjamin kemenangan.


Zerowolf menyindir, “Paling tidak, sebelum dirimu menjadi *royal*guard sesungguhnya, kamu sudah dibuat malu. Mau dibuat malu lagi?”


“Kamu ini diam saja! Lagipula, kamu juga tidak boleh bertarung!”


“Ya, aku hanya ingin menonton bagaimana dirimu bertarung.”


Tay mengambil pedang hitam dari punggungnya. “Aku yang pertama maju. Aku ingin sekali bertarung melawan mereka dan menang!”


Giliran Yudai yang menyindir, “Kamu hanya ingin mendapat pengalaman sebenarnya dengan bertarung melawan *royal*guard, kan?”


Riri pun mengangguk. “Baik, pertarungan pertama, Tay. Pertarungan kedua, Sandee. Tinggal pertarungan terakhir, Lana dan Ruka, siapa yang ingin bertarung?”


Ruka memalingkan wajahnya lagi. “Ya, sebenarnya aku malas meladeni mereka, tapi kalau sudah begini, apa boleh buat.”


Lana juga menjawab, “A-aku juga ingin sekali melawan mereka!”


Sans mengajukan diri. “Biar aku saja.”


Semuanya tertegun dengan apa yang dikatakan Sans, benar-benar tidak percaya. Mereka tidak salah dengar sama sekali. Riri sama sekali tidak menduga Sans akan mengajukan diri. Padahal, Sans hanya murid bermantel putih dan tanpa job sama sekali, pasti meragukan mengingat lawan mereka lebih kuat, jauh lebih kuat dan superior.


“S-Sans?” ucap Sierra.


“Kakak?” Lana juga tercengang.


Yudai mengingatkan, “Ka-kamu yakin, Sans? Mereka itu *royal*guard lho! Dan pertarungan terakhir adalah penentunya jika Tay atau Sandee kalah.”


Sans menoleh pada Yudai. “Itu dia. Aku harus melawan mereka. Aku juga sudah berkembang, jadi aku siap melawan salah satu dari mereka.”


“Tapi kalau kalah, kita benaran kalah lho!” tambah Zerowolf.


“Aku tahu,” tanggap Sans, “aku ingin bertarung sekuat tenaga dan menang. Aku percaya dengan kemampuanku sejauh ini. Semua berkat kalian. Latihan bersama, menjalankan misi, ujian akhir semester, dan Festival Melzronta. Aku bisa melakukannya.”


Meski Sans sungguh yakin, wajahnya seakan terpapar cahaya optimisme, keraguan masih saja


“Baik.” Riri membuat keputusan. “Kamu akan bertarung di ronde terakhir.”


“Ri-Riri!!” sahut Zerowolf. “Apa kamu gila? Kamu sendiri tahu bagaimana kemampuan Sans dalam bertarung!”


“Benar, tapi aku yakin dia jauh lebih berkembang daripada saat melawan Profesor Dolce di ujian akhir semester, dan selama dua misi bersamanya, aku merasa dia punya potensi dalam bertarung. Ingat, dia bukan sekadar murid bermantel putih yang tidak lulus aptitude test.”


Yudai mengangguk setuju. “Ya, aku juga percaya. Melihat Sans sudah mencapai sejauh ini sebagai murid tanpa job. Dia bahkan dapat pujian dari Dolce saat ujian akhir semester lho!


Tay menyindir balik, “Pada akhirnya kamu juga meragukan si mantel putih itu, kan, alis melengkung?”


Riri akhirnya menegaskan, “Baiklah! Sudah diputuskan! Petarung pertama, Tay. Petarung kedua, Sandee. Dan yang terakhir, Sans!”


***


Lantai geladak bawah seakan berubah menjadi arena pertarungan, kecuali lantai kayu dan hanya di atas kapal. Penonton berupa penumpang dan kru menempati lantai geladak atas seakan menempati arena penonton di stadium. Terpisah menjadi dua kubu, yaitu royal guard dan murid Akademi Lorelei yang menjalani “misi” menuju Beltopia.


Awan pun bermunculan mulai menghalangi biru cerahnya langit, Seakan bergerak sendiri, matahari pun sudah tak memancarkan cahayanya di balik awan menuju samudera. Entah mengapa, pihak *royal*guard menganggap situasi cuaca seperti ini sungguh cocok dalam pertarungan.


Pertarungan pertama. Tay menghadapi Edgar, seorang *royal*guard berambut cokelat tua agak ikal, pipi berpori, dan berkulit agak kecokelatan. Keduanya telah menggenggam erat pedang masing-masing dan menempatkan kaki kiri ke depan mengambil ancang-ancang.


“Mulai!!” seru salah satu kru yang menengahi pertarungan itu.


Tay mulai mengangkat kaki dan mengayunkan pedangnya ke depan, mengunci tatapannya pada Edgar. Ia melesat cukup kencang hingga ia mengempaskan ayunan pedang pada sang lawan.


Seperti dugaan, Edgar seketika menangkis mata pedang Tay. Momentum *royal*guard itu dalam mengempaskan dorongan pedangnya seakan lebih menggeram. Serangan Tay seakan terpental memicu bunyi.


Tay mengayunkan pedang memanfaatkan titik celah Edgar, setiap kali, ia masih saja tidak mampu menembusnya, bahkan setelah ia mengganti posisi kuda-kudanya.


“Ayo, Edgar! Tunjukkan kemampuanmu!” seru Tatro.


“Tay, apa yang kamu lakukan!!” jerit Zerowolf.


“Tay, menanglah,” bisik Riri.


Tay memundurkan langkah dan mengunci momentum pada kaki kiri di belakangnya sebelum melepaskannya dari lantai, membiarkan tubuhnya melayang di udara sejenak dan kembali memanfaatkan kesempatan untuk kembali menyerang. Ayunan pedang kini ia gerakkan menuju atas.


Begitu ia luncurkan ke bawah, Edgar kembali menangkis dan menghindar. Tay tetap mengayunkan ke segala sudut, selama ia melihat titik lemah untuk dimanfaatkan.


“Menarik,” ucap Edgar sambil mundur menghindar dan menangkis setiap serangan Tay. Matanya cukup jeli saat ia terfokus pada titik lemah bagi lawannya itu. “Kurasa kamu memiliki sebuah kesalahan.”


Tepat saat pedang Tay hampir mencapai pipi kirinya sampai harus menyerong kanan, tanpa disangka-sangka, ia menendang bagian perut lawannya itu.


“AAAH!” Tay pun terdoong hingga berlutut di lantai geladak, meringis akibat perutnya terhantam nyeri.


“Kamu hanya memanfaatkan bagian atas untuk menyerang, sampai-sampai perutmu menjadi titik lemah untuk dijadikan sasaran empuk.”


“Masih belum.” Tay perlahan menancapkan ujung pedangnya pada lantai geladak pada garis kayu lantai geladak, selama ia tidak menghancurkannya, untuk menjadi tumpuan agar bangkit kembali.


“Kalau begitu, ayo.” Edgar kembali mengedepankan ayunan pedangnya.


Tay kembali melesat dan mengayunkan pedangnya dari atas, serangan yang sama seperti sebelumnya. Saat bertubrukan dengan pedang milik Edgar, pedangnya seakan mulai goyah menahan dorongan.


Tay pun akhirnya tidak mampu menahan serangan Edgar lebih lama lagi. Tidak lama, ia tercengang saat lawannya itu mulai mengayunkan pedang secara horizontal dan mencapai perutnya.


Kemeja putihnya di balik mantel dark blue teriris memicu aliran darah merembes dari kulit. Ia menggeretakkan gigi menahan hawa nyeri, tidak ingin menerima dirinya kalah secara kemampuan dan kekuatan, ia memaksa tubuhnya untuk kembali melawan. Sekali lagi, pedangnya ia ayunkan seraya membalas.


Edgar pun memanfaatkan tenaganya yang lebih besar untuk menangkis kembali hingga pedangnya memental. Ayunan pedangnya memicu tubuh Tay terlempar.


“UUUH!!” jerit Tay akhirnya terpental menuju dinding kapal, tepat di bawah lantai atas “bangku penonton”.


Pedangnya cukup jauh di sebelah kanannya, akan tetapi nyeri tidak dapat membantu tubuh mematuhi perintah otaknya. Ingin bergerak, tetapi nyeri pada perutnya justru memblokir dirinya untuk melakukannya.


“Pemenang, Edgar,” ucap sang kru.


“Hah?” Lana, Sandee, dan Zerowolf melongo menyaksikan kekalahan Tay dan menundukkan kepala.


Sandee dan Sans, terutama Sans, menjadi harapan agar mereka dapat memenangkan pertarungan melawan pihak *royal*guard.