Lorelei Chronicles

Lorelei Chronicles
Episode 151



Bukanlah kabar baik saat menatap mata sayu dan wajah merana Teruna, Beatrice memang sudah tahu hal itu.


“Ti-tidak ….” Mata Beatrice kembali berkaca-kaca.


“Maafkan aku, ayahmu telah meninggal dunia.”


Meninggal dunia, dua kata sekaligus kabar yang tidak ingin Beatrice dengar. Kepalanya merunduk, seperti hujan badai di luar rumah, dalam otaknya juga demikian. Tetesan air mata berlinang melewati pipi.


Tubuhnya gemetar masih terkejut membiarkan kabar itu terngiang-ngiang di pikirannya, hatinya seperti teriris dan tertusuk. Tangisannya perlahan meledak.


“Maafkan aku.” Teruna mengikat bahu Beatrice dan samping.


Pelukan hangat dari Teruna belum cukup untuk meringankan duka yang tertancap dalam hati Beatrice. Gadis malang itu menempelkan kepala pada bahu pelayan setianya itu, membiarkan air mata menetes.


Perjuangannya mendapat air mata phoenix demi menyembuhkan penyakit ayahnya harus berakhir tidak seperti harapannya. Sudah bersusah payah dirinya berjuang mendapat air mata phoenix atas suruhan Oya, apalagi mendengar kabar dari ibunya sebelum terpaksa pulang. Semuanya sia-sia.


Teruna mematahkan ekspektasi Beatrice, “Sebenarnya, perjuanganmu tidak sia-sia, Beatrice sayang. Aku tahu kamu ingin ayahmu benar-benar sadar saat kamu pulang, aku bisa tahu. Ayahmu ingin kamu terus berjuang.”


Buntu, seperti kalimat ayahnya yang ia ingat, tidak ada tempat untuk kembali. Ia sudah terperangkap di tempat yang tidak dapat membiarkannya kembali ke Akademi Lorelei. Nasibnya kini telah menjadi bencana, ia harus menikahi Earth saat libur pertengahan musim semi.


“Maaf, Beatrice sayang.” Teruna melepas pelukannya dan bangkit. “Aku tidak bisa lama-lama di sini. Aku … akan berusaha untuk mengeluarkanmu dari sini, kali ini aku serius.”


Beatrice sama sekali tidak menjawab, masih saja membendung air matanya dengan kedua tangan menutupi wajah. Saat itu, ia hanya dapat mendengar langkah kaki Teruna keluar dari kamarnya.


Ia sudah kehilangan harapan untuk kembali ke Akademi Lorelei. Nasib suram kini menantinya, suka atau tidak, ia harus menjadi sesuatu yang tidak ia inginkan.


***


Rasanya memang aneh kali ini, Sans dan Yudai cukup terbiasa dengan keberadaan Riri dan Katherine dalam menjalankan misi di atas kemampuan mereka, juga Tay dan Sierra yang biasa ikut misi seperti biasa, tetapi juga Zerowolf, Sandee, Lana, dan Ruka ikut bergabung. Tidak dapat disangka-sangka, rival bebuyutan Yudai, Zerowolf, ironisnya juga bersedia ikut atas perintah Hunt dalam misi “tidak resmi” ini.


Keberadaan lima orang royal guard di antara mereka selama misi demi menjemput Beatrice di Beltopia juga terasa canggung. Sangat malu jika ingin berinteraksi, apalagi semenjak berangkat dari kastel akademi dan kerajaan, tatapan tajam dan sipit mampu mengintimidasi. Begi kelima royal guard itu, satu-satunya alasan mengapa mereka harus ikut kesepuluh murid Akademi Lorelei ke Beltopia karena perintah Arsius, selaku kepala akademi.


Berkat Arsius yang mendanai perjalanan menuju Beltopia, kapal pun tentu saja lebih besar daripada biasanya, daripada saat mereka pergi ke Silvarion atau Vaniar saat bootcamp. Kurang lebih setara dengan saat mereka mengarungi laut saat field trip ke Silvarion, menuju pulau Familiar, dan mengikuti bootcamp, lebih mengilat tanpa noda, dan konon nahkoda kapal itu berasal dari Beltopia. Tidak heran, nahkoda itu sering sekali mengantar penumpang bolak-balik menuju ibu kota kerajaan Anagarde.


Begitu mereka semua menapakkan kaki pada geladak kapal, sang nahkoda menyuruh krunya untuk mengangkat jangkar dari dalam laut, pertanda mereka akan mulai berangkat. Ia juga mengumumkan perjalanan menuju Beltopia dari ibu kota akan menghabiskan empat hari.


Begitu kapal meninggalkan dermaga menuju samudera, hanya warna biru muda dari langit dan air laut menjadi landskap saat perjalanan cukup panjang. Sekelompok burung camar turut berkicau dan mengepakkan sayapnya menyambut kedatangan seluruh penumpang kapal dalam melintasi samudera.


Sayang sekali, sambutan burung camar itu sudah termasuk jika salah satunya buang air. Tahi berwarna putih pun mendarat tepat pada bahu seorang royal guard berambut cokelat muda pendek tegak ke atas dan berjenggot tipis. Baju zirah perunggunya telah tercemar oleh sebuah tahi burung.dari langit.


Melihat bentuk tahi itu seperti sebuah cipratan kecil cat putih sudah membuat dirinya menggeretakkan gigi, sungguh jijik baju zirah yang ia kenakan sebagai royal guard kerajaan telah kotor, apalagi jika bau tidak sedap mulai menyebar menuju hidung.


Ia pun menoleh pada Katherine yang sungguh kewalahan menyaksikan Yudai tengah bersama Sans menatap lautan dari sisi kanan kapal.


“Hei, kamu!” Royal guard itu menyahutnya.


Katherine menoleh sekeliling, teralihkan dari tatapannya terhadap Yudai. Ia pikir royal guard itu memanggil salah satu dari temannya yang juga bbersantaii di geladak.


“Ya, kamu!” Sayang sekali, tebakannya salah. “Kemarilah.”


Dari gaya bicara yang cukup menohok dan air muka royal guard itu mengerut, Katherine kembali gugup saat menemuinya. Kesan pertama terhadap wajah garang royal guard itu memicu gemetar pada otaknya, sama seperti saat ingin berbicara pada Yudai.


“Armor-ku kotor sekali,” ucap royal guard itu angkuh, “aku ingin kamu membersihkannya.”


“Ma-ma-maksudmu a-a-aku harus membersihkannya?” Katherine ingin memastikan ia tidak salah dengar.


“Iya.”


Mendengar tanggapan tegas royal guard itu, Katherine mendekatkan pandangannya pada bagian bahu kanan yang telah tercemar tahi burung camar itu, seperti cipratan cairan putih pada zirah porselen yang harusnya mengilat.


“Kenapa hanya melihat saja? Cepat cara pembersih atau apapun!”


Katherine langsung tercengang menganggapi royal guard itu. “Ba-baik!!”


Dua royal guard yang berdiri dari kejauhan menyaksikan kejadian itu. Mereka menunggingkan bibir secara sinis, tahu akan rencana mereka selanjutnya.


***


Memasuki malam pertama saat perjalanan, saat kebanyakan penumpang dan kru telah berada di lantai bawah kapal alih-alih geladak untuk beristirahat. Riri justru menghela napas menatapi lautan yang mengikuti warna hitam dari langit, seakan tidak ada apa-apa pada pemandangan samudera.


Ia menundukkan kepala mengarah pada lautan, merefleksi cerminannya yang tengah termenung. Sejauh ini, hari pertama dalam perjalanan sesuai dugaannya, tidak ada kekonyolan dari teman-temannya, terutama Zerowolf. Ditambah lagi, lima orang royal guard juga harus mendampingi sebagai jaminan agar mereka baik-baik saja.


Yang ia pikirkan bahkan lebih dari itu, semenjak mendengar pengumuman dari Hunt pada hari sebelumnya, ia masih tidak percaya, sangat tidak percaya apa yang ia dengar dan terima.


***


“Aaaaaah ….” Lana mengangkat kedua tangannya, menjulurkan senyuman di balik wajah cerahnya. “Akhirnya bersama Kakak juga!” Seperti biasa, ia menganggap Sans sebagai kakak-nya. “Sungguh pertama kali aku menjalani misi bersama Kakak.”


Hunt cukup bingung, memang ia tahu Lana bukan adik Sans secara biologis. Sandee juga memperhatikan Lana memanfaatkan situasi yang tidak sesuai.


Tay mendengus, “Bolehkah kita ke kamar sekarang?”


“Satu hal lagi,” Hunt mengungkapkan, “Riri, kamu akan menjadi pemimpin dalam misi ini,”


Riri tertegun tidak menyangka akan keputusan Hunt. “A-aku?”


Sans dan Yudai ikut mengangguk seraya sepakat.


Zerowolf menganggapi, “Kenapa tidak aku saja yang menjadi pemimpinnya coba?”


Lana secara halus menolak, “Ya, kalau kamu jadi kapten, nanti kita jadi hancur berantakan.”


“Kapten?” ulang Ruka. “Bukannya pemimpin?”


Sandee juga setuju, “Benar, benar. Yang ada kamu malah sesuka sendiri mengatur.”


“Bukan begitu!” bantah Zerowolf.


Riri mengangkat tangan seraya menhentikan percakapan sebelum menjadi sebuah argumen. Ia hanya mengangguk. “Baik, saya terima. Saya bersedia menjadi pemimpin dalam misi ini.”


***


Bodohnya, itu pikirnya. Ia bisa saja menolak tawaran dari Hunt untuk menjadi seorang pemimpin dalam misi. Kata-kata sudah telanjur terucap, ia tidak bisa mengecewakan semua orang, terutama teman-temannya, apalagi Hunt.


Berbagai kilas balik ia mainkan di dalam benaknya, sejauh ini ia berhasil memimpin dalam berbagai misi bersama Zerowolf, Katherine, Lana, dan Ruka. Ia dan Katherine juga berhasil melewati tantangan yang melebihi kemampuan mereka sejauh ini bersama Sans, Beatrice, dan Yudai. Apalagi, ia juga berhasil menjual semua crepe bersama Lana dan Ruka saat stage keempat Festival Melzronta. Terakhir, ia menjalankan tiga misi saat bootcamp bersama Yudai, Zerowolf, Tay, Lana, dan Ruka demi menyelesaikan tugas terakhir.


Memimpin kesembilan temannya, termasuk Sierra dan Sandee, orang yang sama sekali belum ia ajak dalam misi atau berlatih bersama; akan lebih merepotkan seperti biasa. Ditambah lagi lima royal guard mendampingi. Ia tahu, ia tidak boleh mengecewakan semuanya.


“Riri,” Sans menyapa dan menghampirinya, “sudah kuduga kamu di sini.”


“Belum tidur juga?” balas Riri.


Sans beralih pandangan pada lautan. “Aku ingin melihat laut saat malam hari. Biasanya saat kita berangkat menggunakan kapal untuk field trip atau saat bootcamp, aku berada di dalam. Dan pemandangan malam hari cukup indah.”


“Anginnya juga lembut.”


“Benar.”


“Sans.” Eiri menghela napas. “Sejujurnya, aku tidak tahu apa yang sedang kulakukan saat menjawab aku bersedia jadi pemimpin dalam misi ini. Aku hanya merespon secara refleks, aku bersedia. Hanya saja … aku tidak pernah memimpin lebih banyak orang.


“Memang, kata Lana, aku pandai dalam memimpin dalam setiap misi yang dia juga ikuti, Zerowolf, Ruka, Katherine, dan aku. Aku juga sudah pernah mengajak dirimu, Yudai, dan Beatrice menyelesaikan misi di penginapan berhantu. Ya, pada akhirnya, aku masih tidak percaya kalau itu masih merupakan hantu asli.


“Aku bahkan tidak tahu apa yang akan kulakukan sebagai pemimpin nantinya. Saat menjemput Beatrice, jika ada bahaya meradang, aku tidak bisa membayangkannya.”


Sans terdiam mengamati, berusaha keras untuk mendengar keluh-kesah dari Riri. Ia sama sekali tidak menyangka murid ber-*job*monk itu memiliki sebuah kegalauan di balik kepandaian dalam mengatur strategi.


Kini, saatnya ia merespon, “Aku juga. Saat mendapat mantel putih dan tidak lulus aptitude test, aku sedih sekali dan berpikir apa yang telah kulakukan. Kupikir ini akhirnya, aku tidak akan bertahan di akademi. Tapi … kuingat tujuanku.”


Sans tentu saja tidak dapat memberitahu bagaimana cara untuk menggapai tujuannya di Akademi Lorelei, sama sekali. Ia tidak mungkin memberitahu Riri bahwa ia mengambil jalan menjadi seorang alchemist alih-alih cara normal seperti kebanyakan murid.


“Aku berlatih lebih giat, belajar lebih giat, dan semuanya juga berkat bantuan Beatrice, Yudai, dan Neu. Aku takkan menjadi seperti sekarang kalau tanpa mereka, aku takkan menunjukkan perkembanganku di depan Profesor Dolce saat ujian akhir semester.”


“Sans,” Riri membalas, “itulah kenapa kamu sangat gigih. Aku ingat kamu berusaha sekuat tenaga untuk mengalahkan Dolce, benar-benar berjuang keras. Sangat tidak kusangka, murid bermantel putih sepertimu mematahkan ekspektasi orang-orang. Itulah kenapa aku ingin berkenalan dengan kalian, lalu sisanya, kita berteman dan mengikuti misi bersama-sama.


“Oh ya, itu gauntlet yang keren. Kamu mendapatkannya di mana?” Riri akhirnya memperhatikan gauntlet yang terpasang di tangan kanan Sans.


“Uh.” Lagi-lagi, Sans tidak bisa mengatakan yang sebenarnya. “Ini pemberian dari Profesor Duke, setelah Festival Melzronta berakhir.”


“Begitu.”


Sans merenungi kembali tujuannya untuk pergi ke Beltopia. Bukan hanya didampingi Yudai sesuai rencana, tetapi berkat Hunt, teman-temannya beserta lima royal guard turut menemani. Ia tidak akan melupakan bantuan dari Hunt karena telah mengambil surat izin sebelum kehabisan.


Ia ingin melihat Beatrice kembali ke Akademi Lorelei, memastikan kalau murid song mage itu baik-baik saja.