
Seluruh murid satu per satu bangkit dari tempat duduk di aula dan berbaris keluar. Masih saja tidak bisa berkata-kata begitu mendengar pengumuman penting dari Arsius, terutama keberadaan mata-mata di dalam Akademi Lorelei. Semenjak pelakunya bisa saja seorang murid atau seorang profesor, beberapa dari mereka mulai saling melirik, menyipitkan mata, mulai mencurigai salah satu merupakan biang keladinya.
Memandang seluruh murid telah melewati pintu aula, satu per satu profesor mulai bangkit dari tempat duduknya. Arsius merentangkan tangan kirinya membelakangi mereka.
“Semuanya, jam malam juga berlaku untuk kalian. Semenjak salah satu dari kita bisa saja menjadi pelakunya, ada baiknya peraturan itu juga berlaku untuk kita semua. Kalian juga harus tetap berada di koridor ruang profesor dan tidak berkeliaran sembarangan di kastel, kecuali jika ada hal mendesak.”
Arsius menyudahi pertemuan itu dengan berpaling dari podium dan melewati salah satu celah meja khusus murid untuk meninggalkan aula. Tidak heran, beliau benar-benar mengganggap serius masalah ini, terutama ia harus melaporkan hal itu pada kerajaan.
Satu per satu profesor mulai bangkit dan mengikuti Arsius, tapi tidak seperti beliau, mereka justru memutuskan untuk kembali ke ruangan masing-masing untuk beristirahat dan demi mematuhi aturan.
Akan tetapi, saat tengah melewati tangga utama di hadapan gerbang keluar, Hunt menepuk bahu Danson, memanggilnya.
Danson pun menghentikan langkah di tengah-tengah tangga, menoleh.
“Ada yang ingin kutunjukkan.”
***
“I-i-ini … topi Beatrice?”
Danson menepuk keningnya, menundukkan wajah sambil menggeleng. Ia tidak pernah menyangka di balik alasan mengapa Beatrice memutuskan untuk pulang merupakan kedok, kedok bagi keluarga. Ia membayangkan hal terburuk yang terjadi pada murid kesayangannya itu.
“Beatrice biasanya memakai topi ini saat bertualang bersama temannya, saat mengikuti kelas. Tapi … kalau topinya terjatuh, apa logis kalau Beatrice benar-benar ingin pulang? Apa benar Beatrice baik-baik dengan keluarganya.”
Hunt menaruh topi itu di meja dan bangkit dari tempat duduknya. “Pertanyaan bagus.” Ia berpaling dari tempat duduk itu. “Apa mungkin Beatrice mau membuang topinya sebelum ia meninggalkan Vaniar bersama keluarganya? Apakah ini memang tidak disengaja? Yang pasti, ada sesuatu yang janggal menurut saya.”
Hunt menjelaskan ia telah menjadi saksi mata pertemuan Beatrice dan sang ibunda sehari sebelum bootcamp di Vaniar berakhir. Ia dapat melihat dari mata dan gestur tubuh Beatrice. Napas cepat gadis song mage itu juga cepat sampai terdiam tanpa kata. Ia tahu Beatrice sangat kewalahan menghadapi sang ibu.
Beatrice mendadak berubah pikiran setelah diberitahu sang ayah telah sadar dari koma. Sangat cepat dari tertekan menjadi penasaran. Dari situ, Hunt menyimpulkan rayuan sang ibu dalam menggunakan “kondisi ayah” sebagai tameng meluluhkan psikisnya.
“Ah, alasan keluarga. Keluarga itu segalanya, itu alasan ter-klise yang pernah kudengar. Memang, keluarga itu penting, tapi ada alasannya mengapa Beatrice sampai ketakutan bertemu ibunya. Dia sama sekali tidak pernah bercerita padaku hal ini.”
“Dia juga tidak bercerita padaku.” Hunt kembali duduk menghadap Danson.
“Omong-omong, tadi setelah rapat, kamu ingin berbicara pada Arsius tentang Beatrice, dan juga Neu. Sayang sekali, beliau justru ingin fokus mencari mata-mata di akademi ini.”
Hunt mendesah mengangkat kepalanya. “Sungguh hal yang janggal. Aku bahkan tidak melihat Neu saat hari terakhir bootcamp. Ternyata bukan hanya Beatrice yang menghilang, tetapi Neu juga. Mereka memang teman sebangku, sangat dekat. Tapi … sungguh aneh, aku bahkan tidak tahu mengapa Neu menghilang begitu saja.
“Aku ingin mereka berdua kembali ke akademi, sangat ingin. Sungguh aneh tiba-tiba Neu, salah satu murid terpintar di kalangan murid tahun pertama, tiba-tiba menghilang begitu saja, sehari setelah Beatrice memutuskan untuk pulang, tanpa kabar sama sekali.”
Danson dapat bersimpati terhadap Hunt. “Aku tahu mereka murid-muridmu, aku ingin membantumu. Tapi saat ini, untuk Neu, kita tidak punya petunjuk apapun, mengapa dia bisa menghilang begitu saja saat hari terakhir bootcamp. Sementara Beatrice, hal yang kita tahu pasti sejauh ini, dia berada di Beltopia, kampung halamannya. Kita harus ke sana untuk bertanya mengapa Beatrice pulang dan apakah dia baik-baik saja.”
Hunt menggeleng. “Minggu ini kita sibuk sekali dengan rapat dan pengajaran. Belum lagi, dirimu juga harus kembali ke Vaniar saat libur minggu depan.”
“Oh.” Danson mengangkat telunjuknya. “Apa dirimu berpikir hal itu?”
***
“Kita, Tay, Sierra, Riri, Zerowolf, Katherine, Lana, Ruka, dan Sandee.” Yudai melihat nama pada masing-masing surat izin. “Tunggu, Sandee juga ikut? Tapi … kita bahkan tidak dekat dengan murid royal guard itu.”
Sans menganggapi, “Dia teman sekamar Sierra, dan akhir-akhir ini aku sering melihatnya dekat dengan Zerowolf dan Riri. Dia juga rekan satu tim Zerowolf dan Katherine saat stage empat Festival Melzronta.”
Hunt mengambil kembali sepuluh lembar surat izin itu. “Besok hari terakhir sebelum libur pertengahan musim semi. Saat ini, kalian rahasiakan hal ini terlebih dahulu sampai besok. Saat besok telah tiba, bilang pada kedelapan teman kalian yang tercantum namanya di sini—” Ia menekankan telunjuk pada lembaran surat izin. “—untuk menemui saya di aula. Saya ingin kalian menyelesaikan misi ini.”
Mendengar kata misi, seringai Yudai melebar.
“Tidak dibayar. Hanya memastikan apakah Beatrice baik-baik saja. Jika bisa, bawa dia kembali ke sini.”
“Yaaa, kukira kita akan dibayar,” keluh Yudai.
“Saya hanya profesor kalian.” Hunt melebarkan senyuman. “Kembalilah ke asrama kalian.”
Sans dan Yudai bangkit dari tempat duduk dan menundukkan kepala seraya pamit dengan hormat. Mereka pun keluar dari ruangan itu.
Selagi mereka melewati lorong ruangan profesor menuju selasar, Sans kembali menundukkan kepala, merenungi pencapaiannya sebagai murid Akademi Lorelei dan alchemist, apalagi jika kejadian-kejadian tak terduga sama sekali tidak terjadi.
Ia memang berhasil membuat gauntlet khusus alchemist sebelum mengikuti bootcamp khusus job tipe sihir, tetapi ia belum mencapai langkah secara signifikan untuk mencapai tujuan utamanya, mengumpulkan tiga bahan untuk membuat obat penyakit sang ibu. Sayangnya, ia sama sekali belum melakukan hal itu akhir-akhir ini.
Mendapat air mata phoenix menjadi hal yang harusnya bisa ia lakukan jika hal-hal tak terduga seperti adanya mata-mata dari Royal Table tidak terjadi. Ia bisa saja kembali ke gunung berapi untuk menemukan seekor phoenix yang ingin meneteskan air mata padanya. Sayang sekali, karena aturan ketat dan minimnya surat izin, ia belum bisa melakukannya.
Ia juga mulai belajar sintesis dan sintetiser, bisa dibilang salah satu hal mendasar jika ingin menuju tingkat menengah alchemist. Ia telah berhasil membuat sebuah katapel melalui kedua proses itu. Hanya tinggal tugas terakhir sebelum libur pertengahan musim semi dimulai, ia sangat ingin berhasil menyelesaikan tugas itu agar Duke tidak kecewa, apalagi dirinya.
Untuk sekarang, ia ingin melakukan apa yang ia bisa saat itu.
***
Bom magni, bahan selanjutnya yang harus Sans buat, terutama saat hari terakhir sebelum libur pertengahan musim semi dimulai. Ia telah memurnikan dua bahan menggunakan kristal magi pada hari sebelumnya.
Dua bahan untuk membuat magni adalah serbuk pohon dan kurang lebih segelas air nibel, yakni air berwarna magenta (ungu bercampur merah muda). Ia mendorongkan kedua bahan itu menggunakan kedua tangan dan mengempaskan tenaga serta mana dalam proses sintesis.
Sulit untuk membayangkan kedua bahan itu menyatu menjadi bentuk bom magni, apalagi dalam bentuk cair dan serbuk. Medekonstruksi dan merekonstruksi kedua unsur menjadi satu saja sudah sulit terbayang dalam pembentukannya.
Konsentrasi dalam mempertahankan tenaga dan mana sambil membayangkan sulitnya pencampuran kedua bahan terbentuk menjadi bom magni. Sampai menggeretakkan gigi kesulitan untuk menyeimbangkan.
Jam pasir menyisakan hanya kurang lebih seperdelapan dari tabung bagian atas telah tersisa. Ia menutup mata menekankan konsentrasinya. Ia tidak ingin upayanya berakhir dalam kegagalan. Ia harus berhasil saat hari terakhir sebelum liburan pertengahan musim semi.
Tenaga dan mananya akhirnya memicu serbuk pohon seakan menyatu dan membentuk sebuah bundaran, seperti sebuah gelembung. Air nibel juga terangkat dari gelas ukur dan merembes masuk ke dalam. Keduanya kemudian bersatu dan berubah bentuk serta warnanya.
Jadilah bom magni berbentuk gelembung dan berwarna magenta.
“Syukurlah, saya sangat senang kamu berhasil tepat saat pasirnya sudah habis.” Duke merujuk pada tabung bagian bawah jam pasir yang sudah terisi penuh.”
Sans menghela napas lega, pelajaran alchemist saat hari terakhir sebelum liburan musim semi akhirnya berakhir.
“Oh. Sudah waktunya.” Duke kembali bangkit dan menaruh bom magni hasib sintesis Sans di dekat deretan kantung bahan.
“Terima kasih banyak, Profesor.” Sans bangkit. Kali ini ia mengatakannya penuh tekad dan kepercayaan diri.
***
Begitu Sans dan Yudai memberitahu pengumuman dari Hunt bahwa kedelapan teman yang tersisa di akademi harus berkumpul di aula tanpa memberitahu tujuannya, kebingungan menyelimuti, semenjak murid-murid lain tidak harus ke sana.
Mereka berdelapan sudah duduk di bangku hadapan meja khusus murid tahun pertama seperti biasa, paling kiri. Hanya tinggal menunggu Hunt atau Danson untuk kemari.
Zerowolf menganggapi heran, “Kalau kalian tidak memberitahu kenapa kita berkumpul, aku juga masih bingung.”
Tay menjawab sinis, “Itu tanggapanmu? Aku bahkan tidak sedang mood untuk berkumpul bersama kalian, aku hanya ingin di kamarku sendiri.”
“Apa ada sesuatu yang salah?” tanya Sandee.
Zerowolf justru menggoda, “Kalau benar, pasti itu karena dirimu menyinggung Alexandria, dan juga sering sekali pada diriku. Memang, kamu ini bisa dibilang kelihatannya naik beratnya.”
Wajah Sandee memerah kembali, tersinggung terhadap perkataan Zerowolf, “Kamu ini! Masih belum puas mengejekku!! Perutku memang begini!”
Katherine sangat gugup karena tiga alasan, ingin sekali menghentikan pertengkaran antara Sandee dan Zerowolf, menatap Yudai yang duduk tepat di hadapannya, dan ingin berbicara pada Sierra yang duduk di sebelah kanannya. Terlebih lagi, setiap kali membuka mulut untuk mulai bersuara, pikirannya ia urungkan.
Riri dan Sierra juga hanya melirik percakapan antara Sandee dan Zerowolf. Riri sampai menepuk keningnya menganggapi tingkah Zerowolf, sementara Sierra masih terpikir akan penyelidikan terbuka, yang penting kedoknya sama sekali tidak terbongkar.
Ruka mengangkat tangannya. “Jujur saja, kalian berdua.” Sans dan Yudai ia tunjuk. “Memangnya di mana orang yang menyuruh kalian untuk berkumpul di aula?”
“Di sini.” Hunt pun menapakkan kaki di lantai aula dan menghampiri kesepuluh murid tahun pertama itu. Ia juga sudah membawa sepuluh lembar surat izin dan menaruhnya di meja.
“Profesor Hunt?” sapa Zerowolf.
Tay membuang muka. “Kenapa Anda menyuruh kita semua berkumpul di sini saat yang lain tidak perlu?”
Hunt menghela napas. “Pertanyaanmu masuk akal, Tay. Mengapa saya menyuruh Sans dan Yudai agar kalian berkumpul di aula?”
Riri menebak, “Karena kita akan mengikuti pelatihan khusus?”
“Kita akan masuk ke area kerajaan?” tanggap Ruka.
“Dua-duanya kurang tepat.” Hunt mulai mengelilingi murid-murid itu dari belakang. “Sebenarnya, kalian sudah tahu kalau kedua teman kalian telah menghilang setelah bootcamp berakhir di Vaniar.”
Sierra menjawab, “Ya, benar. Neu menghilang entah ke mana, dan Anda bilang kalau Beatrice memutuskan untuk kembali ke Beltopia untuk menjenguk ayahnya.”
Hunt meletakkan topi milik Beatriice di meja. Sierra menjadi orang pertama yang tercengang menatapnya. Katherine juga meletakkan tangan kanan dekat mulutnya, sama sekali tidak menyangka akan sebuah kenyataan.
“Tu-tunggu, apa maksudnya, Profesor?” jawab Riri.
Sierra menghela napas. “Fi-firasatku … jadi kenyataan. Beatrice tidak pernah melepas topinya saat kita berlatih bersama, apalagi saat kelas.”
Tay mendengus kasar. “Mungkin si topi putih memang sengaja membuang topinya, mungkin saja dia memutuskan untuk mencari jati dirinya yang baru.”
“Tapi kalau benar, kenapa?” Riri mengambil topi tersebut. “Apakah dia sengaja membuang topinya sebelum keluar dari Vaniar. Kurasa tidak mungkin mengingat ini adalah favoritnya.”
Hunt mengangkat telunjuknya. “Sekarang pertanyaan saya, apakah logis Beatrice memang membuang topi favoritnya saat perjalanan pulang? Apakah memang Beatrice tidak ketakutan menatap ibunya yang menjemput lalu mendapat kabar kalau ayahnya sudah sadar dari koma?”
Sierra langsung menyadari pernyataan dari Hunt, sampai-sampai bangkit dari tempat duduknya. Ia menyimpulkan memang rayuan sang ibu pada Beatrice tentang sang ayah merupakan motif utamanya. Sesuatu yang salah untuk Beatrice
Giliran Yudai yang berbicara, “Aku tahu apa yang kamu pikirkan, Sierra. Beatrice pasti ketakutan saat melihat ibunya, apalagi aku dan Sans juga pernah melihat dirinya gemetar saat bertemu Oya, ketua pelayan keluarganya. Beatrice memang sudah bilang kalau dia tidak ingin kembali ke rumahnya di Beltopia.”
“Jadi sebenarnya … Anda ingin kami semua ke Beltopia?” Zerowolf menyimpulkan.
“Nah!” Hunt mengangguk. “Kalian akan menjemput Beatrice kembali ke akademi. Kalian akan memastikan apakah hipotesis saya benar. Apakah ada yang salah di balik pulangnya Beatrice? Sayang sekali, saya tidak bisa ikut. Kalian akan ditemani oleh para royal guard dalam perjalanan, atas perintah Profesor Arsius. Beliau juga sudah membayar perjalanan kalian untuk besok.
“Sekarang—” Hunt membagikan lembaran surat izin sesuai nama. “—tinggal kalian tandatangani lembar surat izin ini agar kalian resmi boleh meninggalkan akademi menuju Beltopia.” Ia juga meletakkan pena bulu dan botol tinta di meja.
Riri menatap lembar surat izinnya sudah terisi, hanya tinggal tanda tangan. “Pantas saja surat izinnya cepat habis.”
“Aku ikut,” ucap Zerowolf.
Sans dan Yudai saling menatap, tinggal hari esok mereka akan berangkat untuk menyelamatkan Beatrice.
***
Hujan, mendengar setiap tetesan air di luar yang deras sungguh tidak membantu Beatrice menenangkan diri. Belum lagi sambaran petir menggelegar membuatnya ia sungguh terpenjara. Kembali ke rumah sama saja seperti masuk sebuah kurungan baginya.
Lagi-lagi ia merenung, duduk di tempat tidur yang seharusnya nyaman dan empuk baginya, seharusnya ia berada di Akademi Lorelei, bersama teman-temannya. Lebih banyak kenangan indah yang ia dapatkan selama di sana, pengalaman baru sebagai song mage, sebagai perempuan yang bebas, dan juga awal dari impiannya, melihat dunia luar.
Sama sekali tidak ada kenangan indah di rumah. Mulai dari saat ia dilarang menemui teman sebayanya, terutama laki-laki termasuk Neu; ia terpaksa harus berperan sebagai layaknya perempuan bangsawan, sesuatu yang ia tidak nikmati, terutama mengikuti pelajaran khusus mereka. Apalagi, mimpi buruknya akan menjadi kenyataan, menikahi Earth, pria yang tidak ia cintai sama sekali, saat libur pertengahan musim semi. Jika menjadi seorang istri, ia tidak bisa kembali ke akademi, ia hanya harus menjadi perempuan bangsawan yang layak.
Ketukan pintu menghentikan renungannya. Saat menoleh, pintu pun terbuka setelah putaran kunci mendengung pada telinga.
“Tenang, ini aku.”
Seorang perempuan berambut perndek dengan kepang di belakang memasuki kamar dan menutup pintu rapat. Sungguh kelegaan bagi Beatrice.
“Teruna.”
Teruna mulai duduk di sisi kiri kasur. “Maafkan aku begitu mendengar kamu harus kembali ke sini. Pasti kamu tidak nyaman begitu mendengar harus menikahi Earth dalam lima hari. Aku tahu itulah salah satu kenapa kamu ingin melarikan diri dari rumah.”
Beatrice tetap diam, tidak bernafsu untuk menganggapi.
“Bahkan, aku berani memanfaatkan saat kembali ke kampung halaman untuk menemuimu di Akademi Lorelei, untuk tahu kondisimu. Pastinya, kamu juga sudah dapat kabar dari Oya kalau kamu harus mendapat air mata phoenix. Kamu berhasil saat musim dingin.”
“Ayahku—” Beatrice ingin tahu apa yang telah menjadi tujuan awalnya untuk pulang. “—bagaimana dengannya? Bagaimana keadaan ayahku?”
Wajah cerah sirna menjadi wajah masam, sungguh berat bagi Teruna untuk menjawab pertanyaan itu.
“Maafkan aku, Beatrice.”