Lorelei Chronicles

Lorelei Chronicles
Episode 42



“Hal paling utama bagi priest memang dapat menggunakan sihir sebagai keajaiban untuk menyembuhkan manusia. Priest dapat diibaratkan sebagai penerap pengobatan alternatif. Cukup banyak masyarakat, terutama seorang petualang, mengandalkan seorang priest untuk menyembuhkan setiap luka, baik luar atau di dalam tubuh.”


Sierra memperhatikan ceramah dari seorang profesor berkepala botak dan berkacamata, rambut putih hanya berada di sisi kiri dan kanan bagian atas kepala seakan membentuk tiga per empat cincin, berkeriput, dan bertubuh relatif lebih pendek daripada kebanyakan murid job priest.


Seluruh murid job priest bermantel hijau menempati posisi duduk masing-masing menghadap profesor berkepala botak tersebut, memperhatikan ceramah dengan saksama.


Seperti di ruangan kelas lain, Sierra menempati salah satu bangku di barisan belakang, tidak ingin terlalu menonjolkan diri sebagai murid terdepan, apalagi murid sok tahu. Meski begitu, profesor pengampu kelas job priest tersebut menganggap perempuan itu sebagai murid terbaik.


“Kita sudah belajar dua mantra dasar pada pertemuan-pertemuan sebelumnya. Heal I untuk menyembuhkan luka petarung dan Remedy I untuk menyembuhkan berbagai status lain seperti racun, patah tulang, dan paralyze. Mungkin sebagian dari kalian pernah mempraktikkannya, terutama saat menjalani tugas di Labirin Oslork.


“Di meja kalian, sudah ada seekor burung merpati putih yang sayapnya telah patah. Di sebelah kanan juga ada pot tanaman yang layu.”


Mendengar penjelasan seperti itu, Sierra bertanya dalam hati. Bagaimana akademi mendapat merpati putih bersayap patah? Tidak mungkin sekadar kebetulan. Di antara dari sekian ekor merpati yang terkumpul di benua Aiswalt, apalagi pusat kerajaan Anagarde, peluang untuk secara kebetulan menemukan yang mengalami sayap patah cukup kecil. Wajahnya masam ketika menarik sebuah kemungkinan tidak manusiawi hanya untuk dijadikan bahan praktik kelas.


Terlepas dari pikiran seperti itu, ia ingin segera menerapkan sihir penyembuhnya, merasa kasihan dengan merpati yang berada di hadapannya itu.


“Sekarang, kalian bisa praktikkan mantra Heal I pada tanaman layu dan Remedy I pada merpati bersayap patah. Kalian boleh pilih mau yang mana dulu, yang kalian paling hapal dan terbiasa menggunakan salah satu dari mantra itu. Jangan lupa juga kerahkan tenaga kalian agar lancar proses penyembuhannya. Silakan.”


Seluruh murid job priest mulai mengangkat tangan kanan dan menghadapkannya salah satu objek, mengerahkan fokus dan tenaga ketika mengucapkan salah satu mantra dasar yang telah dipelajari.


Hasilnya pun beragam, ada yang sama sekali tidak mampu mengeluarkan sihirnya, yaitu berupa cahaya putih dari tangan, ada juga yang berproses lebih lambat ketika menyembuhkan. Lebih parahnya, ada seorang murid yang benar-benar gagal entah karena salah fokus, salah objek, atau salah melafalkan mantra, menyebabkan burung menjerit menderita agar berhenti mematahkan tulang lebih dalam atau pohon justru mengering hingga daunnya layu dan rapuh.


Sierra memutuskan untuk menyembuhkan seekor merpati bersayap patah di mejanya terlebih dahulu. Diangkatnya dari bagian bawah menggunakan tangan kiri, merpati itu menoleh pada tatapan perempuan itu.


Sierra mencoba menenangkan merpati itu setelah mendengar jeritan merpati lain, “Tidak apa-apa. Kamu ingin terbang lagi, kan? Kamu tenang dulu ya selagi aku mencoba menyembuhkanmu.”


Sierra mengangkat telapak tangan kanan. Ditariknya napas sambil memfokuskan pikiran tenaga terhadap merpati yang masih terbaring di atas tangan kirinya.


“Lata eht pyju kando, remedia le ca apelle.”


Keluarlah cahaya putih bercampur hijau sebagai representasi mantra remedy dari telapak tangan kanan Sierra. Cahaya tersebut terserap pada merpati putih di atas tangan kirinya.


Hampir seluruh murid menoleh padanya ketika cahaya telah terasa pada pandangan. Sekali lagi, kemampuan Sierra sebagai murid priest tahun pertama terbaik memang bukan isapan jempol belaka.


Merpati itu mengepakkan sayap kirinya yang semula patah kembali, dari atas ke bawah. Ia sembuh, sayapnya telah kembali utuh berkat sihir Remedy I dari Sierra.


Merpati putih itu akhirnya berpaling dari tangan kiri Sierra dan dengan bebas mengepakkan sayap ke udara. Kejadian itu turut mengundang perhatian sang profesor.


“Whoa! Bagus sekali! Sierra berhasil menggunakan Remedy I pada merpati bersayap patah. Bagus, sayang. Tugasmu hanya tinggal menyegarkan pohon itu.”


Sierra beralih fokus pada pohon yang layu. Diangkatnya kembali telapak tangan, ditariknya napas dalam-dalam, dan diubahnya kembali tenaga menjadi sumber sihir.


“Dstorv eht pyjuness hetw weib—”


“Hunt.” Woodyatt melewati deretan barisan bangku murid. “Tenanglah, murid saya sedang mempraktikkan dua mantra.”


“Ini gawat sekali. Saya membutuhkan Anda. Seorang profesor mengalami luka bakar akibat sihir! Lukanya cukup parah!”


Seluruh murid sempat terhenti dari aktivitas masing-masing, menoleh terhadap percakapan kedua profesor di dekat pintu ruangan kelas itu. Mendengar kata “luka bakar cukup parah”, bukan tidak mungkin lagi kelas akan segera dibubarkan saat itu menurut mereka.


“Tolonglah, demi keselamatannya! Jika begini terus dia bisa—”


“Sierra,” panggil Woodyatt menoleh.


Begitu terpanggil, Sierra tertegun. Ia bangkit menghadap kedua profesor tersebut sambil menduga-duga.


Dugaannya benar ketika Woodyatt memohon, “Kamu tolong bantu Profesor Hunt untuk menyembuhkan temannya. Kamu juga sudah belajar Heal II di luar kelas, bukan?”


“Memang benar, tapi saya belum pernah mempraktikkannya secara langsung.”


“Kalau begitu ini saatnya kamu mempraktikkannya. Kamu boleh pergi dari kelas ini.”


“Ba-baik, Profesor Woodyatt.”


“Sierra, mari,” bujuk Hunt.


Karena keadaan mendesak, Sierra bergegas meninggalkan bangkunya dan pohon yang layu di mejanya. Ia turut mengikuti langkah Hunt begitu keluar dari kelas.


***


Memasuki salah satu ruang pribadi seorang profesor, Sierra tertegun karena ini kali pertama memasukinya. Lebih elegan daripada kamar asrama murid, itu yang ia pikir ketika membuat kesan pertama.


Sierra dan Hunt menghampiri seorang profesor yang mengalami luka bakar tersebut. Bisa terdengar raungan cukup nyaring terlontar dari yang dapat dianggap sebagai seorang pasien.


Profesor yang mengalami luka bakar dan bertelanjang dada tersebut terbaring kaku di tempat tidur. Kulitnya tampak berwarna merah merona dan hampir hangus, kasar, dan mati rasa. Epidermis dan dermis terlihat mengalami kerusakan dalam. Bagian dada, tangan, kaki, dan pipi menjadi korban luka tersebut.


“Lukanya pasti parah sekali,” Sierra bereaksi terhadap keadaan profesor yang mengalami luka bakar tersebut.


“Dia mengalami kecelakaan saat menggunakan sihir api. Dia terbakar hidup-hidup. Cepatlah, gunakan Heal II.”


Ini adalah kali pertama Sierra menggunakan Heal II secara langsung pada pasien manusia. Keraguan sejenak hampir memenuhi benaknya, tidak yakin apa ia mampu menggunakannya langsung, apalagi jika melafalkannya dengan tepat dan energi sihirnya keluar dari tangan.


Mengesampingkan keraguannya, ia tahu hal di hadapannya, korban luka bakar cukup parah, merupakan hal darurat. Jika didiamkan atau terjadi satu kesalahan, sang profesor bisa mati dalam waktu dekat.