Lorelei Chronicles

Lorelei Chronicles
Episode 158



Menatap dirinya di hadapan cermin, memakai gaun pengantin sutra putih, rok panjang berdiameter satu meter, area pinggang seperti ikat bunga melati, dan tudung tembus pandang panjang mencapai bagian bawah punggung; wajah Beatrice kecut, sangat kecut, mendapati dirinya akhirnya akan mengikat dirinya dalam sebuah pernikahan.


Ia sudah berpasrah tidak ada lagi keajaiban yang menyelamatkannya. Sang ayah yang mendukungnya untuk menggapai cita-cita sudah tiada. Teruna, pelayan pribadinya dan satu-satunya orang yang dapat ia percaya, tidak terlihat sama sekali semenjak awal hari pernikahan. Impiannya sudah hancur lebur. Hanya tinggal kepingan terakhir yang harus dihancurkan dengan mengucap sumpah pernikahan pada Earth.


Ia tidak dapat membayangkan bagaimana nasibnya jika berhasil mengikat tali perkawinan melalui pengucapan sumpah agar mempertahankan tradisi kalangan bangsawan. Pernikahan tanpa cinta, hanya cinta sebelah tangan, pasti ia tidak akan bahagia selama hidup sebagai istri.


“Kamu cantik sekali, Beatrice sayang,” sang ibu menyapa dan menghampiri dari belakangnya.


Cantik. Bagi Beatrice, ia sama sekali tidak puas. Semua yang ada di luar tubuh, termasuk wajah dan lekuk badan, akan percuma jika dari dalam hati tidak tulus. Kecantikan sejati datang dari dalam diri. Ia tidak pantas memakai gaun dan berdandan feminin.


Di balik pujian, ibunya juga berkata, kali ini nada ancaman tegas mengiringi setiap kata, “Tersenyumlah. Ibu tidak mau kalau tamu tahu kamu tidak bahagia dalam hari spesialmu ini.”


Hari spesial. Ini bukan hari spesial bagi Beatrice. Ini hari spesial bagi ibunya sendiri. Baginya, ini akan menjadi hari terburuknya. Lebih dari itu, hari-hari berikutnya akan menjadi masa depan suram baginya. Mematuhi tatanan kehidupan bangsawan di Beltopia sama saja dengan mengunci kebebasan untuk selama-lamanya.


“Jangan menangis.” Sang ibu memperhatikan setetes air mata menetes di pipi kiri Beatrice. “Ibu tidak mau tahu kalau ini menjadi pernikahan terburuk sepanjang masa di Beltopia. Pokoknya, kamu harus bahagia menghadapi calon suamimu. Ini sudah menjadi aturan terpenting bagi kita, perempuan bangsawan.”


Tidak ada tempat untuk kembali. Kata sang ayah melekat pada pikirannya. Kembali ke rumahnya sama saja dengan kembali masuk sangkar. Benar saja, ia sudah berada di sangkar.


Oya berdiri di hadapan pintu kamar Beatrice, memberi aba-aba. “Ini saatnya.”


Sang ibu menepuk pundak Beatrice yang tidak terlapis gaun. “Ayo. Buat Ibu bangga.”


Beatrice menghela napas saat berdiri. Ia tahu ia tidak akan bahagia setelah keluar dari kamar dengan berpakaian gaun pengantin seperti itu.


***


Entakkan kaki di setiap anak tangga, perlahan mengikuti irama alunan piano, tatapan ke depan menghadap seluruh tamu. Perintah sang ibu bagi Beatrice memang mudah untuk diikuti, tetapi ia melakukannya karena terpaksa. Sang ibu juga berjalan di sampingnya sebagai pengiring pengantin.


Ia membiarkan bagian belakang roknya yang panjang seperti mengalir melewati setiap anak tangga. Kedua tangan mendekati pinggang tanpa menyentuh bagian depan rok. Menyentuh bagian depan rok saja sudah dilarang hukumnya karena tidak menghormati kesakralan upacara pernikahan.


Di depan anak tangga terakhir sudah ada Earth sebagai mempelai yang berpakaian jas hitam bermotif barisan mawar berbatang krem, kemeja dan dasi pita putih menjalar ke bawah, dan celana kain biru gelap. Earth menjulurkan bibir ke atas, wajahnya menggambarkan euforia.


Seorang archbishop (penghulu) berkacamata, berambut abu pendek, dan berpakaian jubah salib emas telah berdiri di samping Earth menyambutnya. Seluruh tamu yang berdiri dari bangku masing-masing di hadapan tangga juga ikut menyambut, hanya memancarkan senyuman.


Setelah melewati anak tangga terakhir, Beatrice berbelok menghadapi Earth. Sang archbishop mulai menengahi kedua belah pihak dan membuka buku begitu seluruh tamu telah kembali duduk.


“Selamat siang. Ladies and gentlemen. Kita semua berada di sini untuk menyatukan kedua insan di hadapan kita semua, yakni Tuan muda Earth dan Nona Muda Beatrice.”


Beatrice menelan ludah menatap Earth yang sudah gagah menyambutnya menggunakan senyuman.


“Mereka sudah mengundang Anda semua untuk menyaksikan keduanya mendeklarasikan cinta pada satu sama lain dan berbagi kebahagiaan.” Sang archbishop bertanya pada Earth. “Tuan Muda Earth, apakah Anda di berada di sini atas kehendak sendiri?”


“Ya, Bapa.”


“Nona muda Beatrice, apakah Anda di berada di sini atas kehendak sendiri?”


Jika harus jujur, Beatrice pasti ingin berkata tidak. Sang ibu tidak akan mengizinkannya. Maka ia menjawab, “Y-y-ya.”


“Bagus,” jawab sang ibu.


Archbishop melanjutkan pidatonya, “Tuan Muda Earth dan Nona Muda Beatrice telah berjanji untuk menikah hari ini, kami meminta Surga untuk memberkati persatuan ini. Oleh karena itu, jika seseorang dapat menyatakan alasan yang adil, mengapa tidak dapat disatukan, oleh Hukum Tuhan atau Hukum Alam, silakan bicara atau tetap diam untuk selama-lamanya.”


“Sebenarnya—” Sebuah sosok di barisan ketiga bangku sebelah kiri berdiri. Beatrice tercengang mendengar suara familier itu. “—saya ingin tahu kenapa harus memaksakan pernikahan yang hanya cinta sebelah tangan harus terjadi di hadapan kami semua.”


Beatrice terbelalak menatap sosok pemuda berjas cokelat itu. “Ri-Riri?”


“Kami ingin tahu. Kenapa harus memaksakan Beatrice yang sejak awal tidak ingin menikah dengan Earth?”


Seluruh tamu kaget melihat beberapa orang mengungkapkan diri dengan berdiri dan berjalan menuju karpet yang menengahi dua sisi barisan tamu. Mereka adalah Sans, Yudai, Zerowolf, Sierra, dan Lana. Mereka juga sudah berpakaian formal, sama seperti Riri.


“Ah, coba saja kita aku bisa bawa panah dan quiver ke sini,” keluh Zerowolf.


Earth, kedua orangtuanya, ibu Beatrice, dan seluruh pelayan keluarga tercengang sampai tidak dapat bernapas sementara waktu mendapati pesta pernikahan telah disusupi oleh pihak tidak dikenal.


“Ka-kalian.” Mata Beatrice berbinar-binar, bahagia mendapati temannya sudah tiba.


Seluruh tamu mulai bertanya-tanya memicu keramaian.


“Ba-bagaimana bisa? Bagaimana bisa pesta pernikahan ini disusupi tamu tidak diundang seperti mereka!!” jerit ibu Beatrice pada Oya.


***


Di gerbang keluar kota barat dekat daerah kalangan bangsawan, setidaknya empat orang bangsawan telah tergeletak tidak sadarkan diri menyandar di semak-semak. Wajah mereka telah membiru berkat aksi hantaman. Pakaian mereka hanya menyisakan kemeja dan ****** *****. Sungguh memalukan, ****** *****.


Riri telah selesai memakai jas dan mengusap-usap bagian lengan panjang, memastikan semuanya sudah halus dan rapi, tanpa ada elemen kusut. Ia mengumumkan strateginya.


“Begini rencananya, Aku, Sans, Yudai, Sierra, Zerowolf, dan Lana akan menyamar menjadi tamu pernikahan. Irons dan Tatro, setelah sekitar lima belas menit kami masuk, kalian serang setiap penjaga di halaman. Jika perlu sekap mereka.”


Riri melempar sebuah cermin oval kecil pada Tatro. “Setelah aku mulai beraksi, tancapkanlah cermin ini pada matahari untuk memberi sinyal. Yang lainnya bisa menerobos masuk untuk menyerbu.”


Ruka menjawab datar, “Jadi, saat ada cahaya dari cermin, kita langsung masuk saja? Begitu?”


Zerowolf menyindir, “Kenapa kalau sudah tahu bertanya?”


“Oh ya, untuk menghindari kecurigaan.” Riri melepas knuckles-nya. “Tim yang menjadi tamu, titip senjata.”


Zerowolf protes, “Serius? Kalau ada bahaya bagaimana? Bahkan sebelum strategi kita—”


Yudai melempar quiver dan panahnya ke tanah. Begitu pula dengan Sans yang melempar belatinya, meski masih memakai gauntlet.


Bara api di mata mereka berdua, selaku teman dekat Beatrice, menyala dan seperti membakar pupil. Dari tatapan mereka, Riri menganggap mereka ingin menyelamatkan Beatrice dari jeratan tatanan bangsawan dan pernikahannya dengan Earth sebelum dimulai.


“Ah.” Lana menaruh pedang dan tamengnya, menumpuk keduanya di atas panah dan quiver milik Yudai dan belati milik Sans. “Ayo kita lakukan ini, Kakak.”


Sierra berlutut dan menaruh lembut tongkat sihirnya.


“Ka-kalian gila!” jerit Zerowolf.


Tatro ikut membujuk, “Jangan khawatir, kami akan memberikannya pada kalian begitu giliran kami masuk.”


Tay membuang muka. “Repot sekali. Lebih repot menyembunyikannya di dalam jas.”


“Ba-baiklah.”


Zerowolf akhirnya melepas quiver dari punggungnya. Ia meletakkan quiver bersama dengan panah di atas tumpukan itu.


“Oke. Kita jalankan sekarang!” ucap Riri.


***


Earth merentangkan tangan menghadapi para penyusup pesta itu. “Kamu salah besar.” Ia sedikit mendorong Beatrice. “Beatrice dan aku saling mencintai. Aku sudah tahu Beatrice sebenarnya mencintaiku saat kami berdua bertemu kembali di Akademi Lorelei. Dia ingin sekali berada di pangkuanku. Maka, aku pantas menjadi suaminya, juga pendamping masa depannya.”


“E-Earth!” sahut Beatrice perlahan.


Sebuah pintu terdobrak lebar, bunyinya nyaring hingga memicu seluruh tamu menoleh ke belakang, beberapa dari mereka juga berdiri. Mereka turut kaget mendapati lima orang di antaranya adalah *r*oyal guard seperti Tatro dan Irons. Tay, Ruka, Sandee, dan Sierra juga berdiri di hadapan para tamu.


“A-apa ini!” jerit ibu Beatrice. “Ka-kalian juga mengundang mereka! Para royal guard? Tidak! Aku tidak sudi kalau pernikahan ini menjadi kacau!”


“Pernikahan ini sudah kacau bahkan sebelum dimulai,” sindir Tatro, “saya sudah mendengar dari teman-temannya kalau Beatrice memang tidak mencintai Earth. Kalau dipaksakan, yang ada kacau dan tidak bahagia.”


“Kamu ingin terdengar keren,” ucap Irons datar. “Sebagai royal guard kerajaan, saya bisa mengerti mengapa keluarga ini ingin mempercepat pernikahan ini. Kalian menjemput Beatrice, tapi dari yang saya lihat, dia tidak bahagia, apalagi mendengar kalian memaksakan pernikahan ini.”


Tatro melanjutkan, “kalian sebenarnya menculik Beatrice. Apa kami benar?”


Seluruh tamu kembali tergelak. Bahkan sebagian mereka telah berdiri sambil mengutarakan frustrasi. Mereka akhirnya angkat kaki dari ruang depan kediaman keluarga Beatrice melewati pintu keluar.


“A-apa! Kami tidak—” Ibu Beatrice ingin mengelak, akan tetapi, tidak terbantahkan mayoritas dari tamu sudah melewati pintu itu menuju halaman rumahnya.


“Baik, saya tidak ingin terlibat dengan masalah ini.” Archbishop juga ikut mengangkat kaki.


Melihat hampir seluruh tamu telah pergi, menyisakan banyak bangku kosong, ibu Beatrice akhirnya murka. “Kalian ini … mengacaukan semuanya! Kalian tidak tahu apa-apa tentang Beatrice!”


“I-Ibu!” ucap Beatrice. “Me-mereka—”


“Diam, Beatrice,” bujuk Earth.


‘Baik, kalau itu mau kalian.” Ibu Beatrice melayangkan tangan kanannya dan menjentikkan jari.


Seluruh pelayan, termasuk Oya melepaskan jas mereka dan melemparnya ke atas. Mereka menarik pedang dari selongsong yang selama ini tertempel pada paha atas kanan masing-masing. Tidak ada yang menyangka sekalipun bahwa seluruh pelayan keluarga Beatrice merupakan pengguna pedang, sudah terlatih lebih tepatnya.


“Oke, ini benar-benar aneh menurutku,” ucap Zerowolf, “apa mereka lebih dulu berlatih di Akademi Lorelei seperti kita?”


Ruka juga menarik pedangnya dari selongsong. “Repot sekali. Seharusnya pelayan seperti mereka tidak menggunakan senjata.”


Lana dan Katherine terburu-buru berbalik dan mengambil senjata mereka yang dititipkan dari tiga orang royal guard pendamping. Mereka juga mengambil senjata milik Riri, Sans, Yudai, Zerowolf, dan Sierra.


Tay, Tatro, dan Irons juga ikut menarik senjata dan menapakkan kaki kanan ke depan, memulai posisi untuk bertarung. Sandee dan ketiga royal guard pendamping juga ikut mengambil senjata. Sierra mengangkat tongkat dan sedikit mundur, bersiap siaga jika ada seseorang yang terluka.


“Tangkap!” sahut Lana melemparkan knuckles dan belati.


“Uh … ah!!” teriak Katherine melempar quiver dan panah milik Yudai dan Zerowolf satu per satu.


Ibu Beatrice memberi perintah, “Hantam mereka semua.”


Giliran Oya mengetuai kurang lebih sepuluh pelayan berpedang itu. “Serbu!”


Seluruh pelayan itu muai melesat mengayunkan pedang masing-masing, memulai penyerangan. Oya hanya diam menoleh pada Earth dan Ibu Beatrice. Sisa tamu pernikahan kemudian berlari terbirit-birit keluar dari rumah itu.


“Serang!!” balas Riri memberi perintah.


Riri dan teman-temannya juga ikut berlari menghampiri seluruh pelayan keluarga Beatrice yang telah bersenjata pedang. Katherine justru mundur begitu mengambil tongkatnya di lantai setelah melempar senjata milik Yudai dan Zerowolf.


Zerowolf ikut mundur dan mengambil panah dari quiver. Ekor panah ia mulai lekatkan bersama tali busur sebelum menariknya sambil membidik.


Saat mata pedang dari setiap pelayan menghampiri, Riri dan teman-temannya menangkis. Bagi yang berpedang, mata pedang mereka tubrukkan. Tatro mendorongkan mata tombaknya yang runcing menuju mata pedang salah satu pelayan, seakan sedang menggunakan pedang. Sandee menggunakan halberd-nya untuk menangkis dan berputar menghindar.


Saat Yudai mulai membidik, ia mendapati Beatrice dibawa lari melewati tangga oleh ibu Beatrice dan Earth. Earth lah yang menarik tangan Beatrice seakan mereka sedang melakukan kawin lari.


“Sans! Beatrice!” Yudai menunjuk.


Sans yang kebetulan tidak sedang melawan satu pelayan pun, hanya menyaksikan setiap pertarungan mulai sengit, mulai dari satu lawan satu hingga dua lawan dua. Ia mengikuti arahan wajah Yudai mendapati Beatrice, Earth, dan ibunya Beatrice telah berbelok begitu menaiki tangga.


Ia dan Yudai melesat tanpa pikir panjang lagi. Mereka memang bertekad ingin membawa pulang Beatrice dan menyelamatkannya. Akan tetapi mereka mendapati Oya berlari dari samping kanan mereka dan mulai mengayunkan pedang saat mulai mendekati tangga.


Tatro yang telah berhasil mengalahkan lawannya dengan menggorokkan tombak pada dada hingga tumbang juga melesat. Tepat waktu, ia menubrukkan tombaknya pada empasan pedang Oya.


“Pergilah!” sahutnya pada Sans dan Yudai.


Mereka berdua mengangguk, percaya bahwa Tatro telah melindungi mereka. Mereka melesat melewati tangga.


Riri dan Tay juga telah menghantam lawan mereka. Lawan Riri tumbang dengan bekas pukulan berupa memar merah kebiruan pada daerah kening dekat mata dan pipi kiri dengan gigi copot meneteskan darah. Lawan


Mendapati mereka satu-satunya yang telah terbebas dari lawan, Riri memberi perintah. “Tay, kita ikut mereka!”


Tay menyemburkan ludah melalui mulutnya. Tanpa mengelak, ia mengikuti Riri menaiki tangga, meninggalkan seluruh rekannya yang masih kesulitan menghadapi sisa pelayan keluarga Beatrice.


“A-apa-apaan ini!” jerit Zerowolf. “Apa ini lelucon kalau mereka ini jago berpedang!!”