Lorelei Chronicles

Lorelei Chronicles
Episode 200



Awan kelabu telah memenuhi langit pada pagi buta, tepat setelah Sans keluar dari kastel dengan membawa kantong berisi berbagai botol ramuan dan Buku Dasar Alchemist. Keadaan langit seperti cerminan dari perasaannya, berat untuk meninggalkan Akademi Lorelei dan juga teman-temannya. Pemuda berkulit sawo matang itu sudah bertekad bahwa sehari yang lalu adalah hari terakhirnya di akademi.


Padahal ia sudah berjanji akan tetap tinggal untuk memulai tahun keduanya di akademi. Kata-kata Alexandria dan juga kematian Duke masih meninggalkan bekas sayatan di dalam benaknya. Sudah sulit untuk menutup meski seluruh teman-teman menyatakan akan mendukungnya selama di akademi, meski statusnya sebagai seorang alchemist.


Ia menggeretakkan gigi mengingat murid-murid lain mencibir job-nya. Ia selamat dari hukuman berkat kedatangan Arsius, kepala akademi, sesuatu yang ia tidak sangka-sangka. Meski begitu, tekanan batin tinggi tidak dapat terbendung lagi.


Merenungi tujuan awalnya, mengumpulkan bahan untuk obat untuk sang ibu, ia sama sekali belum berhasil. Satu pun bahan ia belum sempat ia dapatkan. Bahkan, ia harus merelakan air mata phoenix jatuh ke tangan Beatrice.


Ia hanya baru memiliki gauntlet alchemist yang ia buat berkat bantuan Duke. Gauntlet menjadi ciri khas bagi seorang alchemist sekaligus dapat mempermudah menggunakan kemampuannya. Kini, Duke sudah mati. Ia merasa tidak memanfaatkan lebih banyak bantuan dari mentornya itu. Satu tahun telah berjalan sia-sia.


Saat ia melewati hutan pembatas antara kastel akademi dan kota, ia menoleh ke belakang. Gedung megah itu masih berdiri kokoh meski dipenuhi awan kelabu. Hujan pun mulai turun rintik-rintik. Warna hitam sama sekali tidak memudar dari dinding kastel itu, kemegahan tidak berkurang secara estetik.


Tidak ingin kenangan itu memicunya berubah pikiran, ia membuang muka dan mulai berlari memasuki kota. Air matanya menurun sama persis seperti hujan semakin mengecang. Tanpa menoleh pada apapun, ia melintasi jalan lurus pada kota, melewati alun-alun, sampai tiba di pantai.


Pasir putih kini telah lembab, begitu pula semakin derasnya hujan. Ia terbirit-birit berlari menuju jembatan, di mana sebuah kapal telah bersiap untuk berangkat lebih cepat, terlihat dari nahkoda sudah mulai mengangkat jangkar besi dari dasar laut.


Ia terburu-buru mengeluarkan uang vial untuk membayar demi menumpang pada kapal itu sembari memastikan tujuannya. Ia langsung melintasi papan untuk menaiki kapal tersebut. Memang, tujuannya adalah benua Grindelr.


Begitu menginjakkan kaki pada geladak kapal, ia menyandar pada dinding kapal di dekat pintu, membiarkan hujan deras membasahi dirinya. Ia mendekatkan lutut pada wajah dan kembali meneteskan air mata, membayangkan kembali berbagai penyesalan selama di Akademi Lorelei dalam diam.


***


Sendu dan lesu, Sans mendesah ketika kembali menapakkan kaki kembali di desa Highwind pada hari berikutnya. Seharusnya ia kembali setelah empat tahun, saat ia lulus dari Akademi Lorelei. Kembali lebih cepat terasa memalukan baginya. Ia telah gagal total sebagai murid.


Beberapa penduduk desa menoleh padanya, menghentikan aktivitas masing-masing hanya untuk menyaksikan. Sans pun hanya berdiri tanpa merespon apapun, maka mereka kembali aktivitas masing-masing, seperti berdagang dan membersihkan.


Di antara penduduk tersebut, hanya satu orang yang menghampirinya. Tidak salah lagi, Mery. Perempuan berambut biru pendek itu justru menghampirinya setelah satu tahun tidak berjumpa.


“Sans?”


Mendengar namanya terpanggil, air matanya tidak dapat terbendung lagi. Tangisannya meledak. Terpicu kembali oleh pikiran hujatan dari Alexandria dan murid-murid lain.


Melihat Sans menangis, Mery segera memeluknya demi menenangkan. Ia mengusap-usap scapula Sans, memberi sedikit kehangatan.


Tangisan Sans juga memicu warga lain menoleh padanya. Banyak dari mereka langsung abai begitu saja dan membuat berbagai omongan.


Mery pun dapat merasakan pakaian Sans basah kuyup akibat hujan hari sebelumnya. Alhasil, sebagian pakaiannya juga ikut kena.


***


“Apa yang terjadi?”


Pertanyaan Mery setelah tiba kembali di rumah memicu Sans kembali sendu. Meski seharusnya ia berada di Akademi Lorelei sebagai murid tahun kedua, kembali ke rumah menjadi keputusan tepat baginya. Akan tetapi, terdapat sebuah konsekuensi bahwa ia harus merelakan mimpinya terkubur. Mimpi untuk menyembuhkan sang ibu tanpa gangguan apapun, baik hujatan atau bencana, harus sirna.


Takdir yang ia ambil sebagai seorang alchemist memang berkonsekuensi tinggi. Alexandria benar, pikirnya. Ia hanya seorang pengacau dan pencari bencana. Sulit sekali untuk menjelaskan pada Mery. Sungguh aneh jika ia memberitahu bahwa ia dikeluarkan dari akademi, mengingat jika benar terjadi ia seharusnya kembali pada awal musim panas.


“Sans?”


Sans bahkan tidak dapat melihat Mery tepat pada mata. Melihatnya saja ia sudah merasa malu, sangat malu. Ia telah gagal untuk mencapai tujuannya.


“Ka-kamu … gagal? Kamu dikeluarkan kan?”


Sans menggeleng dan mendesah. Air matanya terus mengalir dari kelopak mata, membasahi wajahnya. Ia menutup kembali wajahnya.


“Sans? Jawab aku,” pinta Mery.


“A-a-aku … aku—”


Sans terlebih dahulu menatap langit-langit rumahnya, sungguh sulit mengubah kesedihan yang terbendung tak berujung menjadi sebuah kalimat. Bahkan memikirkan agar tidak bertele-tele saja sudah susah.


Ia pun duduk di atas kasur bambu, menatap ke arah lantai. Masih tidak ingin memicu kontak mata, apalagi setelah Mery duduk di sampingnya.


“Kamu kenapa tidak ingin menceritakannya?” Mery tahu bertanya seperti itu terasa seperti memaksa. Ia tidak ingin menekan Sans lebih terpuruk lagi.


“Aku … sebenarnya berhasil lulus ujian akhir semester kedua.” Jeda, Sans mengangkat kepalanya, masih berpaling dari tatapan Mery. “Ta-tapi … Profesor Alexandria … Profesor Alexandria—”


“Apa? Kenapa dengan Profesor Alexandria?”


Sans bangkit dari duduknya. “Aku tidak ingin menjawabnya. Aku butuh udara segar.”


Melangkah begitu cepat, ia menghindari Mery. Tanpa berpaling lagi, pintu rumah ia lewati begitu saja, mulai menapakkan kaki pada tanah kering desa Highwind.


“Sans! Sans!” sahut Mery mengikutinya berbelok.


“Tidak, jangan ikuti aku!” Sans mempercepat langkahnya.


“Sans, ada apa denganmu sebenarnya?”


Mery tercengang sampai mundur satu langkah. Ia tidak pernah menatap Sans benar-benar meluapkan segalanya, apalagi menjerit. Ia menghela napas sejenak memproses reaksi.


Sans menoleh ke belakang, dapat ia lihat Mery tersentak sampai mengangkat tangan kiri. Ia sadar telah mengiris perasaan Mery menggunakan amarahnya.


Ia menggelengkan kepala, kembali mengeluarkan air mata. “Ma-maafkan aku. Maafkan aku.”


Tanpa memedulikan panas terik di desa Highwind akibat sinar matahari, ia kembali berlari kencang, meninggalkan Mery begitu saja.


“Sans!”


Lagi-lagi menghindar, itu pikir Sans. Ia kembali meringis, menggeretakkan gigi, dan mengambil napas cepat. Berlari, berlari, dan berlari hingga keluar dari desa.


***


Mata air kehidupan menjadi tempat terakhir yang Sans pikirkan untuk kunjungi setelah meninggalkan Mery. Terpicu karena kegagalannya, ia mendekati genangan bundar luas itu, mulai dari ujung menuju dasarnya.


Tubuh sang ibu yang berada di dasar dapat terlihat dari permukaan mata air itu. Cukup samar, tapi Sans tahu dari ciri khas tersebut.


Sans kembali meneteskan air matanya, kedua tangal terkepal kencang, sampai kuku seperti mencakar kulit telapak tangan.


“Maafkan aku, Ibu—” Sans berlutut di dekat ujung permukaan mata air itu. Tetes demi tetes, air matanya mencapai genangan mata air Pemuda berkulit sawo matang itu meneruskan bicara sambil menunduk. “—maafkan. A-aku … sudah mengecewakan Ibu. A-aku … sudah berada di Akademi Lorelei tahun lalu …. Tapi … aku gagal berkali-kali.


“Aku sudah gagal dalam aptitude test. Aku sama sekali tidak mendapat job. Aku … justru menjadi seorang alchemist. Aku tahu itu satu-satunya jalan untuk menyembuhkan Ibu, tapi … aku sadar kalau alchemist merupakan job terlarang.”


Sans mengusap pipinya untuk menyapu air mata. Ia bahkan berpaling pada sang ibu, tidak mampu lagi menatap tepat pada wajah, apalagi kedua mata yang tetap tertutup.


“Aku sebenarnya sudah lulus ujian akhir semester. Meski aku ketahuan menjadi alchemist, meski aku awalnya tidak diharapkan untuk lulus. Teman-temanku telah membantu menghadapi semuanya. Tapi … aku sudah tidak kuat lagi. Aku sudah bekerja keras, tapi … aku tetap begini terus. Aku … menyebabkan mentorku sendiri, Profesor Duke … mati. Mati!


“Kupikir aku akan siap sebelum Profesor Duke meninggalkanku. Tapi … aku belum mendapat apa-apa untuk membuat obat untuk Ibu. Aku sudah menyia-yiakan waktuku selama di akademi.


“Jujur, aku tidak bisa menatap Ibu. Aku malu karena gagal. Aku gagal total. Aku keluar dari Akademi Lorelei. Profesor Alexandria benar.”


Entah mengapa, jawaban yang seharusnya ia lontarkan pada Mery berhasil menjadi rangkaian kata. Memang, jawaban itu ia katakan pada sang ibu. Meski begitu, ia tahu ibunya masih seperti patung yang tenggelam di dalam air.


Sans tahu ibunya tidak dapat bereaksi terhadap perkataannya. Dilihatnya kembali wajah perempuan itu, mata tertutup, bibir tertutup rapat dan datar, serta tidak ada gerak pada kerutan pipi.


“Maafkan aku, Ibu. Maafkan. Aku … aku ….” Sans bangkit dari posisi berlutut. “Aku sudah tidak punya apa-apa lagi. Aku tidak ingin lagi melakukannya. Maafkan aku.”


Ketika berpaling dari genangan mata air kehidupan, terlintas kembali berbagai kilas balik saat ia berada di Akademi Lorelei. Mulai dari gagal aptitude test hingga terekspos dirinya sebagai seorang alchemist oleh Alexandria. Satu per satu, semangatnya telah hancur, apalagi setelah profesor yang paling dibenci itu menuduhnya sebagai pengacau. Menurut Alexandria, ia telah menjadi biang kerok kematian Duke.


Tidak ingin terpicu lagi oleh kenangan buruk itu, ia mempercepat langkah meninggalkan area mata air itu. Mendaki kembali dataran gua menuju pintu keluar. Sungguh cepat, hingga ia sempat terpeleset, membiarkan kulit pada tangan sobek meneteskan sedikit darah.


Ia membiarkan luka itu mengiris hatinya, memicu lebih banyak tusukan secara harfiah. Entah sengaja atau tidak, ia membiarkan dirinya tersandung, jika perlu, sampai terluka akibat terkena jalan batu.


Saat ia keluar dari gua tersebut, apalagi setelah melewati jalan berliku-liku, ia menyentuh kepalanya dan kembali menatap bebatuan. Tubuhnya mendadak seperti kehilangan kendali, memicunya berlutut kembali. Lehernya kini penuh cucuran keringat.


Napasnya kini berhiperventilasi. Sulit untuk mengendalikan napas, saat menarik dan membuang. Sungguh cepat, sampai ia kesulitan untuk mengendalikannya.


Lebih buruk lagi, beberapa sosok seakan tengah mengelilinginya. Pertama, di hadapannya, Alexandria.


Kamu tahu, semuanya salahmu, kematian Profesor Duke, membahayakan teman-temanmu selama melawan Royal Table, kamu intinya mengacaukan rencana kerajaan untuk menumbangkan Royal Table!


Begitu pula dengan berbagai murid lain. Berbagai cemoohan dan hujatan terlintas, seperti sebuah bilah pedang menusuk seluruh tubuhnya, semakin pula luka batinnya pula.


Lebih baik kamu dikeluarkan daripada bikin malu! Kalau bisa hukum mati saja!


Ya! Kamu keluar saja! Hukum! Hukum! Hukum!!


Hei, Sans! Kamu tidak pantas berada di sini!!


Dasar alchemist bangsat!


“Hentikan! Hentikan! Hentikan!!” jerit Sans sangat lantang.


Tangisannya semakin meledak saat ia menempatkan tangan kiri pada tanah. Ia menjerit bertubi-tubi merasakan nyeri mental terpicu oleh berbagai kenangan buruk.


Ia menoleh ke belakang, di puncak pintu masuk gua itu, terdapat sebuah bukti cukup tinggi. Terpiculah dirinya untuk bangkit. Otaknya seakan memerintahkan untuk ke sana.


Melewati jalan mendaki di sebelah kiri gerbang itu, kakinya merasa seperti terkena berbagai beban. Berat, sangat berat. Mendaki satu langkah saja sudah terasa sakit, ingin sekali berlutut dan menyerah.


Ia telah melewati puncak gerbang gua itu dan melampauinya, lama-kelamaan ia melangkah dan mencapai sebuah plateau cukup tinggi, sangat tinggi. Menoleh ke kiri, dapat ia lihat sebuah lembah di bawahnya, kering, sangat kering. Minimnya pepohonan pastinya tidak membuat siapapun yang terjatuh karena kaki tergelincir dari tingginya dataran menjamin tidak selamat.


Sans menapakkan kaki, menempatkan jari-jemari pada ujung jalan itu. Menatap ke bawah, pembuluh nadi seakan memperingatkannya sampai menuju otak. Perlahan, kaki kanannya terangkat sampai tidak menginjak lagi dataran. Kaki kirinya seakan ia sengaja buat tergelincir.


Tubuhnya kini tergelincir dari dataran tersebut, meluncur di udara, membiarkan dirinya terjatuh menuju sebuah jurang. Ia menutup mata siap menerima nasib akhirnya.