
Tumpukan buku, sebuah pena bulu, botol tinta, dan berlembar-lembar kertas penuh coretan. Keempat jenis benda itu berada di atas meja, menjadi hal penting untuk mengerjakan sebuah tugas.
Neu mengambil lembaran kertas penuh coretan itu untuk membaca kembali setiap coretannya. Memahami kembali intisari dari setiap paragraf, kalimat, hingga frasa, ia memindai tanpa henti, seakan menyerap ilmu menuju otak.
Tumpukan buku yang telah ia baca memiliki topik saling berkaitan, yaitu informasi tentang makhluk Familiar dan lokasi tempat tinggalnya, Pulau Familiar Izaria. Ia telah meringkas secara teliti dan singkat setiap materi dari buku itu. Tidak heran, buku dan perpustakaan menjadi salah satu hal favoritnya.
Neu percaya ia telah menyelesaikan tugas liburan semester itu terlebih dahulu. Tidak seperti kebanyakan murid yang memutuskan untuk menikmati waktu jeda dari akademi di kampung halaman masing-masing, termasuk berlatih, ia mencuri start. Lebih baik mengerjakan lebih awal daripada saat terakhir atau tidak sama sekali.
Setelah memastikan seluruh teks sudah dapat ia pahami sesuai keinginan, Neu bangkit dan mulai membereskan meja di hadapannya. Tumpukan buku ia kembalikan sesuai dengan posisi di rak semula. Sisanya, pena bulu, botol tinta yang telah tertutup, dan lembaran catatan ia ambil.
Seluruh pengunjung perpustakaan di kampung halamannya itu pun mulai bangkit menyudahi aktivitas masing-masing, ketika nampak dari jendela bahwa langit mulai bertransisi dari oranye menjadi gelap. Waktu yang tepat bagi perpustakaan untuk tutup.
Perpustakaan di kampung halaman Beatrice dan Neu mungkin tidak selengkap seperti di Akademi Lorelei. Koleksi buku di sana juga tidak kalah banyak jumlahnya. Dinding bebatuan, lantai campuran kain merah dan keramik krem, dan langit-langit zig-zag antara abu dan putih menjadi ciri khas bagi perpustakaan itu.
Neu pun meninggalkan perpustakaan itu menuju pusat kota, yakni pusat bangunan komersial, mayoritas dari tempat perdagangan, terutama berbagai toko, berjajar seakan melingkar. Seluruh penduduk yang bekerja di sana juga ikut menyudahi aktivitas masing-masing menjelang malam.
Setiap permukaan lantai, patung, titian air mancur, dan atap terdapat lapisan salju tipis, hampir menurun atau meleleh setelah sekian lama tidak turun salju atau cuaca cerah pada siang hari.
Penduduk di kota itu beragam jika dinilai dari cara berpakaian. Tentu sudah menjadi umum siapapun yang berpakaian mahal sampai berkilau menarik perhatian merupakan orang kelas atas, yakni bangsawan. Bukan hanya itu, seringnya menumpang di dalam kereta kencana juga menjadi hal umum. Di luar itu, kebanyakan penduduk dari kelas menengah ke bawah hanya berjalan kaki memenhi lalu-lalang.
Dalam kota itu, masing-masing kelas secara ekonomi bertempat tinggal terpisah Mengingat bahwa Beatrice pernah tinggal sebagai bangsawan, cukup canggung Neu sebagai bukan bangsawan untuk mengunjungi pada masa lalu.
Ia sedikit bersyukur dalam hati. Ia telah bertemu Beatrice kembali di Akademi Lorelei setelah sekian lama terpisah. Mereka berdua sudah semakin dekat kembali sebagai teman.
Sambil membayangkan kembali masa kecil, Neu kembali melanjutkan perjalanan menuju rumah.
***
“Terima kasih banyak atas makan malamnya.”
Itulah sekadar hormat setelah selesai menikmati makan malam bersama keluarga. Piring telah kosong tidak bersisa kecuali noda bekas kecil. Neu benar-benar menikmati hidangan buatan ibunya sekali lagi.
“Biar aku yang mencuci piringnya.” Sang adik, perempuan berambut hijau panjang diikat di bagian belakang, mulai menumpuk piring bekas di meja makan.
“Ah. Terima kasih,” tanggap Neu.
Melihat ruang makan sekaligus ruang depan di rumahnya membuat rasa rindunya terobati, menikmati makanan enak bersama keluarga sudah menghilangkan kepenatan dari saat berada di Akademi Lorelei. Meja cokelat yang sudah agak lapuk permukaannya sekaligus empat buah kursi merupakan hal pertama Ia lihat ketika kembali ke rumah. Sebuah lukisan potret kedua orangtuanya menambah atmosfer di dinding sisi kanan, sama sekali tidak memudar tintanya.
“Kamu ingin wajahmu dilukis juga, ya, Neu?” Sang ibu, perempuan berambut cokelat diikat gaya bun di bagian atas, memperhatikan ketertarikan Neu terhadap lukisan itu.
“Ibu.” Neu berbalik menatap sang ibu bangkit dari tempat duduk. “Tidak. Menatap lukisan Ibu dan Ayah ini membuatku akan rindu rumah lagi.”
“Ibu kaget saat kamu bilang akan pergi lagi esok hari. Kamu akan kembali ke Akademi Lorelei lebih awal, kan?”
Neu menggeleng. “Ti-tidak, Ibu. Setidaknya, menjelang liburan musim dingin ini berakhir, aku akan kembali ke sana. Sebenarnya, aku ingin mencari lebih banyak informasi lagi untuk tugas liburan.”
“Kamu sudah merindukan teman-temanmu, ya?”
“U-uh—” Neu memalingkan wajah sejenak, tidak tahu untuk merangkai kata demi menjawab pertanyaan sang ibu. “—sebenarnya, teman-temanku baik, sangat baik untuk membantuku berlatih.”
Sebenarnya, Beatrice menjadi orang pertama yang muncul di dalam benak Neu ketika menjawab. Penantian untuk bertemu teman masa kecilnya itu lagi memang sudah terwujud, Pasti senyuman Beatrice kecil berserta nyanyiannya menjadi sebuah bayangan ketika mengingat masa kecil itu.
“Syukurlah. Ibu senang kamu merindukan teman-temanmu di Akademi Lorelei, seperti saat kamu merindukan teman lamamu waktu kecil saat satu per satu mulai pergi,” sang ibu mulai menasihati, “selagi kamu masih belajar di akademi, kamu harus pertahankan persahabatan itu selama mungkin, seperti saat kamu bersikukuh agar tidak berpisah, seperti waktu itu, kamu tidak ingin semua temanmu pergi, memulai mengejar mimpi atau sibuk membantu orangtua masing-masing.
“Pada akhirnya kamu menjadi murid di Akademi Lorelei, sebagai seorang mage, sebuah kebanggaan bagi keluarga ini. Begitu kamu bilang ingin berkeliling dunia setelah lulus, Ibu semakin bangga mendengarnya.”
“Iya, Ibu.”
“Jagalah teman-temanmu di sana seperti kamu menjaga dirimu sendiri, begitu juga dengan sebaliknya, sama seperti waktu kamu kecil ya.”
Sang adik menginterupsi dari dapur, “Ibu kenapa tidak menasihatiku juga seperti itu? Aku juga punya banyak teman perempuan di sekitar sini, dan semuanya masih bisa berkumpul.”
Neu mengangkat kepalanya. “Judith, suatu saat nanti kamu akan merasakan hal yang sama denganku lho. Ada pertemuan dan ada perpisahan.”
“Aku jadi iri mendengarnya. Ya, kamu juga besok akan pergi lagi. Setidaknya, Ibu hanya bisa bersamaku di rumah dong!”
Judith mempercepat langkah dari dapur hanya untuk mengikat sang ibu menggunakan lengannya dari belakang. Senyumannya melebar puas pada bibir sambil memasang wajah manja.
“Ah. Kamu belum tahu bagaimana aku rindu ibuku sendiri, Judith!” Neu juga merentangkan lengan pada bahu ibunya sambil menyandarkan kepala juga. “Justru aku akan sedih sejali sekali lagi harus meninggalkan Ibu. Padahal aku hanya sebentar saja di sini.”
Sang ibu menepuk kepala Neu. “Tidak apa-apa, Neu. Ibu juga tidak ingin kamu sedih dan khawatir tentang kita. Ibu akan baik-baik saja.”
“Ah, kuharap Ibu juga bilang begitu padaku,” keluh Judith.
***
Neu memang berniat untuk pergi ke sebuah kota di benua Aiswalt untuk mencari informasi lebih banyak lagi tentang Familiar dan tempat tinggalnya, Pulau Familiar Izaria. Dari benua Riswein, menumpang di dalam sebuah kapal, butuh setidaknya satu malam untuk tiba terlebih dahulu di dermaga dekat kota pusat kerajaan Anagarde. Tetapi, dari kampung halamannya, untuk mencapai dermaga dekat sebuah pantai di benua Riswein, membutuhkan dua malam.
Empat malam untuk kembali ke Aiswalt. Mengesampingkan rasa lelahnya, Neu melintasi kota pusat kerajaan terlebih dahulu, sengaja melewatkan Akademi Lorelei untuk tetap fokus mencari informasi di luar.
Melewati sebuah hutan, Neu memanfaatkan berbagai binatang buas yang berkeliaran memburunya sebagai sebuah latihan menyerang menggunakan sihir. Ia mengucapkan berbagai macam mantra yang telah Ia pelajari selama ini, baik di dalam akademi dan selama di kampung halamannya.
Berbagai binatang kelas kakap ia dapat hadapi selama menuju tempat tujuannya demi mencari ilmu. Terlebih cuaca agak dingin dan tanah bersalju tidak menahannya untuk tetap melaju.
Ia akhirnya tiba di kota tujuannya saat larut malam. Tidak ada lagi pilihan selain menyewa kamar di penginapan untuk beristirahat sejenak.
Ketika sang surya telah terbit, perpustakaan menjadi tujuan utamanya setelah membeli makan pagi. Lembaran catatan, pena bulu, dan botol tinta menjadi hal wajib bagi dirinya semenjak berangkat dari kampung halaman.
Bukan tanpa alasan atau memilih secara acak, Neu semula mendapat rekomendasi dari perpustakaan di kampung halamannya untuk mencari salah satu informasi penting tentang Pulau Familiar Izaria. Jadi itulah mengapa Neu menjadikan kota ini sebagai tempat persinggahan untuk sementara waktu, sebelum kembali ke Akademi Lorelei.
Perpustakaan di kota itu lebih kecil daripada di kampung halamannya sendiri dan di Akademi Lorelei. Tembok kayu polos tanpa hiasan, hanya ada deretan rak buku seakan berbaris dengan jumlah lebih sedikit di antara tempat duduk.
Membutuhkan waktu sebentar bagi Neu untuk menemukan buku rekomendasi tersebut di rak kedua menghadap pintu keluar. Diambilnya buku itu, ia menempati salah satu meja di antara rak tersebut.
Dari halaman paling pertama, Neu terlebih dahulu membaca tanpa jeda sama sekali, memindai setiap teks, memutarbalikkan halaman, dan seakan menghayati untuk mendapat kesan pertama terhadap ilmu itu. Buku itu memang cukup tebal, tetapi bukan alasan baginya untuk terburu-buru dalam membaca.
Begitu mencapai halaman paling akhir, Neu memutarbalikkan setiap halaman buku itu kembali menuju halaman paling pertama. Kini saatnya dia mencatat dan meringkas hal penting dari buku tersebut. Kecepatan memindai kata demi kata cukup cepat sambil menulis intisari dari pembahasan setiap bab, terutama hal yang belum ia temukan.
Cukup banyak kertas ia habiskan hanya untuk mencatat hal-hal penting. Pada akhirnya, ia telah selesai menyelesaikan catatan untuk hari itu. Tepat saat itu, sang petugas baru saja mengumumkan bahwa perpustakaan akan segera tutup.
Neu mengambil kembali buku itu dan menaruhnya di rak persis seperti semula. Ia membawa berlembar-lembar catatan, pena bulu, dan botol tinta pada memasukkannya pada kantung bawaan, sebagai seorang petualang.
Ia menjadi pengunjung paling akhir yang keluar dari perpustakaan itu. Kini, hampir semua materi telah behasil ia kumpulkan untuk memenuhi tugas liburan semester. Saatnya untuk kembali ke penginapan.
Neu melintasi suasana berakhirnya aktivitas pasar, tepat saat matahari tengah terbenam. Pedagang tengah memberekan kios masing-masing, membawa barang dagangan dan membereskan tenda serta papan penanda. Bukan lagi kebetulan semenjak ia akhir-akhir ini sering menghabiskan waktu di perpustakaan seharian.
Melirik suasana sekitar pasar mungkin menambah wawasan baru bagi Neu terhadap kota ini. Jika di kampung halamannya dan di kota pusat kerajaan Anagarde memiliki gedung tersendiri masing-masing untuk setiap toko, kota ini memiliki kios di luar ruangan.
Ketika tengah mengambil belokan, masih melirik pada keadaan pertokoan, dia terkena tubrukan yang membuatnya melirik pada sumbernya. Bahu kanannya menjadi korban tubrukan ringan, seperti sebuah sentuhan yang memintanya melirik dan menghentikan langkah.
“Ka-kamu!” Neu mengenali suara itu bahkan sebelum melirik.
Tidak salah lagi. Laki-laki berambut hitam pendek disisir ke kanan berpedang di punggungnya. Tay. Neu sama sekali tidak ingin menemuinya seorang diri, apalagi saat berlibur.
Tay memutar kedua matanya mendapati Neu telah berdiri di hadapannya.
“Kamu! Sedang apa kamu di sini?” Tay meninggikan nada suaranya.
“Sedang apa aku di sini? Kamu sendiri sedang apa?” Neu memantang.
“Baik. Jika kamu mau tahu, ini kampung halamanku.” Tay mengangkat kedua tangannya. “Sebenarnya aku lega tidak harus melihatmu setiap hari seperti saat di akademi. Aku lega kamu enyah dari hadapanku saat liburan. Tapi kamu berani sekali kemari, menunjukkan mukamu pada diriku. Kamu mau mengacaukan liburanku?”
“Lalu, siapa yang melarangku ke kampung halamanmu ini? Siapa? Aku hanya sedang mencari informasi tentang tugas selama liburan ini.”
“Oh! Jadi kamu akan berkeliling dunia hanya untuk mencari informasi? Sok pintar sekali dirimu!”
“Itu rekomendasi petugas perpustakaan di kampung halamanku! Setidaknya tidak ada yang melarangku ke sini! Sekarang, aku juga baru tahu ini kampung halamanmu!”
Tay mendengus kesal, ia menarik kerah pakaian Neu erat.
“Oke! Apa ini maumu mencari masalah denganku?”
Neu mengalihkan topik, “Aku sebenarnya punya pertanyaan untukmu semenjak kita sudah saling bertemu lagi.”
Menyaksikan pakaian dan kulit Tay sudah penuh noda goresan hitam, entah hasil dari latihan atau pertarungan asli melawna monster, Neu pasti sudah tahu jika menilai dari perilakunya di akademi.
“Kamu belum melakukan apa-apa untuk tugasmu, bukan? Jangan salahkan aku kalau kamu sampai diomeli hanya karena tidak mengerjakan tugas sama sekali.”
“Cih!” Tay membuang ludah. “Enyahlah. Siapa juga yang mau mengerjakannya, libur masih lama!”
Tay mendorong bahu Neu seraya memintanya untuk minggir dan membuat jalan. Benar-benar tidak ingin dipermalukan di depan umum selagi beberapa orang di sekitar menyaksikan konflik di antara mereka.
“Aku anggap jawabanmu tidak akan mengerjakan tugas itu!” Neu kembali memprovokasi.
Dia menggeleng sambil kembali melangkah. Cukup berat dalam menghadapi Tay, mau itu di akademi atau di luar, termasuk saat di Silvarion. Setidaknya, rencana selanjutnya dalam mengerjakan tugas akan berjalan lancar tanpa musuh bebuyutannya itu.