Lorelei Chronicles

Lorelei Chronicles
Episode 201



Langit hitam bertabur bintang yang cukup samar pada pandangan. Lama-kelamaan, pandangan itu semakin jelas, begitu pula dengan napas tanpa hambatan. Jari-jemari ia perlahan gerakkan, seperti tidak terjadi apapun.


“A-apa … ini surga? Ke-kenapa … kenapa … katanya surga … langit biru cerah,” gumam Sans bingung.


“Kamu bukan di surga.”


Sebuah suara memicunya menoleh ke sebelah kiri. Seorang laki-laki berambut hitam pendek dengan poni menutupi seluruh kening. Kulitnya putih hampir mulus meski berada di tengah-tengah gurun.


“Kamu sudah bangun juga. Syukurlah, kamu benar-benar nekad. Sangat nekad.”


Mendengar ujaran pria itu, ia terpicu kembali tepat sebelum pandangannya menghitam. Dirinya sengaja menjatuhkan dirinya dari sebuah jalan di plateau menuju jurang tak berpohon. Padahal ia sudah putus asa dan tidak memiliki alasan untuk hidup lagi.


“Kenapa?” Sans perlahan menggerakkan tangan menuju kening. “Kenapa? Kenapa kamu menyelamatkanku? Siapa dirimu?” tanyanya bingung.


Pria itu memalingkan wajahnya. “Aku bukannya ingin ikut campur urusanmu. Tapi … aku pernah berada di posisimu. Jujur saja, kamu pasti tidak ingin menerimanya.”


“Tahu apa dirimu tentang aku? Aku … ingin mati saja. Aku pantas untuk mati.” Sans kembali menatap langit. “Kukira aku sudah berada di surga.”


“Kamu beruntung. Untung saja aku cepat menyelamatkanmu. Ini tempat di mana kamu jatuh.”


Sans perlahan mengangkat kepalanya, merasakan sakit yang menusuk di seluruh tubuhnya. Sebuah lembah tinggi terbentang di depan matanya, membuatnya tercengang. Ia tidak percaya ia masih hidup setelah jatuh dari ketinggian yang mengerikan itu..


Mempertimbangkan ketinggian sejauh 15 kaki itu, seharusnya dia sudah mati. Tidak mungkin orang yang mengikuti mendaki dapat menemukan dan menyelamatkannya secepat itu. Ajaib memang.


Setelah mengangkat kepalanya, bahu dan kaki tanpa sadar juga ikut terangkat, memicu nyeri sampai menusuk jaringan otot. Seperti tidak terhubung erat pada tulang, seakan tersetrum hebat.


“Kalau aku jadi dirimu, aku takkan memaksakan diri bangun secepat itu.” Pria itu angkuh menganggapi. “Sihir untuk menyembuhkan luka dalam dan juga ramuan Fluoxiphan masih bekerja pada dirimu. Kira-kira dalam dua jam, kamu dapat menggerakkan kembali tubuhmu secara utuh.”


“Fl-Fluo-Fluoxiphan?” ulang Sans heran.


“Nanti kamu akan mengerti.”


Pria berkulit putih mulus itu bergeser menghampirinya, menggesekkan bokongnya pada tanah untuk melaju. Angin lembut meluncur melawan arahnya, dapat ia rasakan.


“Aku Nine. Aku juga sama sepertimu, mantan murid Akademi Lorelei. Dikeluarkan karena ketahuan menjadi alchemist. Itu pun saat aku mengikuti bootcamp di Vaniar.”


Dikeluarkan karena ketahuan menjadi alchemist. Jawaban Nine seperti terngiang-ngiang di telinganya. Tidak heran, sebelum dirinya, beberapa murid yang terekspos sebagai alchemist dihhukum dan dikeluarkan tanpa kecuali. Ia pikir, ia sebenarnya lebih beruntung. Ia terselamatkan selama sidang berlangsung, berkat kedatangan Arsius, sang kepala akademi.


Ia juga masih memiliki teman-teman yang menemaninya, meski beberapa dari mereka awalnya menjauhi setelah terekspos. Membandingkan dirinya dengan nasib Nine, air mata pun tumpah sambil merasakan angin lembut menyentuh kulitnya, menyesali nasibnya yang malang.


“Kamu menyesal, aku tahu itu,” tebak Nine.


“Ke-kenapa … kenapa … kenapa kamu tahu aku ada di sini? Untuk melihatku mati? Untuk menyelamatkanku? Sejak kapan kamu tahu diriku? Sejak kapan kamu tahu aku ini keluar dari Akademi Lorelei? Sungguh, ceritamu benar-benar bullshit!” sahut Sans.


Nine menyeringai dan mendesis. “Setiap musim panas semenjak aku dikeluarkan dua tahun yang lalu, aku selalu kembali ke ibu kota. Aku selalu menyelinap di halaman depan kastel akademi. Aku ingin tahu apa yang terjadi sebenarnya. Aku ingin mencari tahu sebuah kebenaran.”


Sans tidak bisa berkata apa-apa mendengar cerita dari Nine. Itu bukan jawaban yang ia incar. Ia menghela napas, berpikir lebih baik ia mati daripada harus menanti lama sebuah jawaban.


“Aku melihatmu suatu malam, bersama teman-temanmu, dan juga seorang pria. Waktu di pantai, saat aku sedang bersantai menikmati angin malam. Kalian mengunjungi sebuah tavern yang hanya dibuka selama musim panas. Lalu, kalau tidak dua hari setelah itu, aku menyaksikanmu berlari, menangis sendirian.


“Kebetulan, aku mencuri dengar saat kamu berbicara dengan teman-temanmu, kamu adalah alchemist, seorang alchemist."


Sans terdiam mendengarkan penjelasan dari Nine. Selama ini, ada juga yang mengawasinya dari kejauhan, semenjak ia menyelinap bersama teman-teman dan Duke memasuki tavern malam itu.


“Aku ingin mendengarnya darimu. Kenapa kamu menjadi alchemist?” Nine mengemukakan pertanyaan. "Apa seperti kebanyakan murid bermantel putih lainnya? Apa hanya karena kamu putus asa? Apa karena kamu gagal dalam aptitude test dan ingin lulus dari akademi?”


Pasti begitu. Stereotipe tentang murid bermantel putih di Akademi Lorelei tetap terkenal kental di kalangan murid. Murid bermantel putih dinilai berpeluang tinggi untuk dikeluarkan setelah dua semester.


Oleh karena itu, murid tanpa job sama sekali tidak mendapat pembelajaran seperti job lainnya. Hanya kelas umum. Hanya itu. Mau tidak mau, mereka harus belajar pertarungan seorang diri. Tidak jarang, kebanyakan murid lain tidak ingin bergaul dengan mereka karena stereotipe itu.


Sans memahami bagaimana Nine menderita sebagai sesama murid bermantel putih. Ia juga membayangkan murid bermantel putih lain di kelasnya juga kesulitan dalam mengikuti bootcamp, ujian, hingga tidak lulus.


Sans menjawab dengan suara bergetar, “Aku … punya tujuan, setidaknya begitu. Tujuanku … hanya bisa tercapai dengan menjadi alchemist. Memang benar, pada awalnya aku gagal dalam aptitude test, tapi dengan aku memiliki tujuan untuk menjadi alchemist ... bukan berarti aku ... aku putus asa.


“Ibuku ... dia ... menderita penyakit, sebuah penyakit langka. Dia ... seperti membatu. A-aku ... diberitahu kalau untuk membuat obatnya bisa dipelajari di Akademi Lorelei. Tapi aku tidak menyangka ... kalau hanya alchemist yang bisa membuat obat itu. Profesor Duke bilang aku punya potensi untuk menjadi alchemist. Maka dia membantuku untuk mempelajarinya. Dia ... membantuku membuat gauntlet dan juga ... mengetahui bahan dari obat itu.”


Nine mengangguk, ia paham betul apa maksud dari obat yang Sans maksud. Ia menghela napas sambil menyilangkan lengan pada dada, memperhatikan setiap frasa terlontar dari mulut Sans sepenuhnya.


“Pada akhirnya, aku ... mulai menjadi alchemist, meski Profesor Alexandria—”


Alexandria. Nama yang telah memicu bibir Nine menjulur ke bawah. Mendengar nama itu membuatnya ingin mendengus kasar.


“—melarangnya. Aku bahkan ... pernah tertangkap karena menjadi alchemist, lalu ... Profesor Arsius membantuku lolos dari hukuman. Saat liburan musim panas, Profesor Duke terbunuh. Profesor Alexandria menyalahkanku. Dia bilang ... gara-gara aku menjadi alchemist, Profesor Duke mati, Akademi Lorelei juga ... dalam masalah besar.”


“Stop,” ucap Nine sontak menghentikannya, “ini bukan salahmu. Ini benar-benar bukan salahmu.”


Kalimat itu lagi-lagi terdengar oleh Sans. Sama seperti saat teman-temannya waktu di akademi. Baginya, sudah percuma untuk mendengarkan kalimat itu semenjak Sans tahu dirinya bersalah banyak.


“Karena perkataan Profesor Alexandria, profesor yang brengsek itu, ***** itu, kamu jadi menyesali dirimu sendiri. Kamu malah mengingat larangannya, lalu perbuatannya juga. Kubilang sekali lagi, ini bukan salahmu.”


Nine menegaskan, “Aku mengerti mengapa kamu seperti itu. Aku mengerti kenapa kamu memutuskan untuk keluar dari Akademi Lorelei. Kamu sudah mengambil jalan menjadi alchemist, tidak diragukan lagi. Tidak seperti murid lain yang telah menjadi alchemist, kamu justru lebih beruntung. Kamu ... diselamatkan oleh Profesor Arsius, kepala akademi saat ini.


“Kamu berpikir hidupmu sudah hancur setelah perkataan Profesor Alexandria, setelah Profesor Duke, mentormu, mati dibunuh. Kamu jadi membuang semuanya, lalu kamu mencoba mengakhiri hidupmu sendiri.” Suara Nine terdengar antara sedih dan marah.


Nine bangkit dari duduknya dan berpaling membelakangi Sans. Napas kembali ia keluarkan melalui mulut. Ia menatap langit biru cerah, kumpulan awan putih seakan bergerak menyamping.


“Sans, kamu tahu apa yang terjadi setelah aku dikeluarkan?” Nine kembali bercerita, “aku tidak berdiam diri saja. Aku terus melatih diriku sendiri sebagai seorang alchemist, tidak peduli bagaimana kata orang. Katanya alchemist itu ilegal di kerajaan Anagarde, tapi entah kenapa ... sampai sekarang aku tidak tertangkap sampai masuk penjara. Aku hanya mendapat cemoohan orang.


“Tapi kamu tahu, aku tidak peduli dengan semua bullshit itu. Masa bodoh. Biar mereka saja yang menganggapku sebagai sampah masyarakat. Hidup mereka, ya hidup mereka. Hidupku, ya hidupku.


“Aku mengerti kenapa kamu memutuskan untuk meninggalkan Akademi Lorelei. Kamu mungkin memutuskan pergi karena merasa hidupmu sudah tidak ada gunanya lagi. Kamu mungkin merasa dirimu gagal setelah Profesor Duke mati. Sekarang, kamu ... coba ingat apa tujuanmu. Mengapa kamu sudah sampai sejauh ini? Mengapa kamu sudah semakin lebih kuat? Ingat apa yang telah kamu katakan padaku.”


Sans kembali menundukkan kepalanya, tatapannya kini menghadap tanah bebatuan yang kasar, tempat di mana ia mendarat setelah melakukan bunuh diri. Ia kembali memikirkan saat Alexandria berkomentar dengan nada sinis setelah kematian Duke. Ia juga telah mengabaikan teman-temannya di Akademi Lorelei, merasa bersalah dan menyesal.


“Kamu sudah membuat sebuah hal yang mungkin Profesor Alexandria tidak bisa terima. Pada akhirnya, kamu tidak bisa terlalu bergantung pada perkataannya. Seperti diriku, kamu harus berusaha sebaik mungkin untuk melanjutkan hidup, menggapai tujuanmu. Akademi Lorelei mungkin tidak cocok bagimu, apalagi dirimu sudah menjadi alchemist. Tapi kamu masih bisa melakukan yang terbaik untuk menyembuhkan ibumu.


“Kalau tidak, kamu akan tenggelam di dalam penyesalan seumur hidup. Kamu mungkin tidak akan bertahan. Setidaknya, kamu beruntung. Aku menyelamatkanmu. Bersyukurlah kamu masih hidup saat ini,” ucap Nine penuh semangat.


Sans membuang napas dan kembali termenung. Ia mengingat kembali lontaran kata Nine yang penuh semangat. Cerita Nine ada benarnya juga. Seharusnya ia tidak menjadi seperti ini.


Memang, ia merasa dirinya yang mudah menyerah bukan seperti dirinya. Pada saat yang sama, ia sudah tidak memiliki harapan lagi untuk melanjutkan agar mewujudkan mimpinya.


Sang menganggapi dengan suara bergetar, “Aku ... tidak tahu. Aku sudah menyia-yiakan satu tahun. Aku ... belum melakukan apapun untuk mendapat bahan untuk obat penyakit ibuku. Aku hanya membantu teman-temanku, fokus untuk melakukan ujian. Pada akhirnya, sampai sekarang aku tidak berhasil.”


“Kalau begitu, aku akan membantumu.” Nine kembali menatap Sans. “Aku akan membantumu mengumpulkan bahan-bahan untuk obat penyakit ibumu. Setidaknya, aku juga punya tujuan sebagai seorang alchemist.”


***


Kembali pada dua tahun setelahnya, Sans dan Nine kini telah menapaki salah satu dataran dari gunung berapi di benua Aiswalt, terdekat dari ibu kota. Lantai bebatuan gunung terasa keras bersama embusan angin sampai menusuk kulit berkeringat pada teriknya siang hari. Melihat satu lebih jalan menanjak, Nine menyimpulkan puncak gunung berapi itu akan lebih terasa panas lagi, apalagi dekat kawah.


Sans mulai berkeliling sambil melirik ke segalah arah, ingin mencari sesuatu yang berharga. Ia perlahan melangkah memastikan dirinya tidak terjatuh, apalagi mendekati ujung tebing sampai terjun.


“Benarkah ini tempatnya?” tanya Nine.


“Sudah kubilang berkali-kali. Aku pernah kemari untuk mendapatkannya tapi gagal,” jawab Nine.


Nine terkejut begitu menoleh ke belakang, lebih tepatnya jalan menurun kembali ke daratan hutan. Ia berfokus pada kumpulan warna merah seperti melayang.


“Mungkin yang itu?” tunjuk Nine.


Sans menoleh pada Nine, lalu tatapan tertuju pada langit. Ia tertegun bahwa kumpulan warna merah di langit itu adalah seekor phoenix berukuran besar yang berkicau nyaring. Semakin dekat, phoenix itu mengarah terbang pada mereka.


Sans terheran-heran ketika mendapati phoenix itu berhenti tepat di hadapannya. Begitu menatap kepala dari phoenix itu, terutama dari paruh emas, mata hitam, dan bulu merah keemasan, ia terpana melihat burung itu berani mendekatinya. Phoenix itu tampak menatap Sans dengan tatapan tajam dan penasaran, seolah-olah mengenali wajahnya dari dua tahun lalu. Tatapannya kini terfokus pada mata warna hitam milik Phoenix, seakan mirip cermin. Tak lama, dahi phoenix itu menyentuh pipi Sans.


“Dia memilihku,” ucap Sans dengan nada tidak percaya sambil mengeluarkan botol kecil bertutup gabus dari sakunya.


“Tidak salah lagi. Phoenix tidak akan meneteskan air matanya ke sembarang orang,” komentar Nine kagum.


Sans menarik gabus dari botol kecil itu perlahan. Didekatkannya mulut botol itu pada mata sang phoenix. Tetes demi tetes air mata phoenix mulai masuk ke dalam botol tersebut. Hanya setetes, burung api itu menjauhkan kepala dari mulut botol tersebut.


Phoenix itu kemudian meliriknya, seakan mematung.


Sans tertegun phoenix di hadapannya itu diam setelah beberapa detik. Ia lalu menebak, “A-apa ... kita pernah bertemu? A-apa ... kamu ... pernah dipelihara olehku? Bersama Beatrice dan Yudai?”


Mata burung api itu berkilauan, seakan-akan mengingat masa lalu.


Nine terkejut mendapati Sans bertanya seperti itu. Ia berpikir sangat mustahil phoenix dijadikan sebuah peliharaan seperti familiar.


“Kamu ... bercanda kan?” tanyanya skeptis.


Phoenix itu kembali menyentuhkan keningnya pada pipi Sans. Dirasakannya bulu halus dan panas, tapi tidak membakar meski api mengiringi. Hanya kehangatan teraba pada kulit. Phoenix itu mendesis lembut, seolah-olah mengucapkan terima kasih


“Kalau itu benar dirimu, sudah lama tidak bertemu. Kamu sudah bebas di alam liar. Terima kasih banyak.”


Sambil mengingat kembali saat merawat bayi phoenix bersama Yudai dan Beatrice waktu libur musim dingin tahun pertama di akademi, air mata Sans berlinang tanpa disadari. Sans tersenyum haru saat phoenix itu berpaling meninggalkannya kembali menuju langit.


Melihat phoenix itu sudah kembali terbang sampai seperti tertelan langit, Sans teringat bagaimana dirinya, Yudai, dan Beatrice panik mencarinya setelah pulang dari pulau familiar. Namun, ia menggelengkan kepala. Baginya, tidak ada waktu lagi untuk mengenang masa lalu. Ia hanya ingin fokus pada masa depan dan tujuan utamanya.


Dilihatnya sudah diambilnya setetes air mata phoenix di dalam botol, Sans merasa ia sudah satu langkah lebih dekat untuk menggapai tujuannya. Ia menatap botol itu dengan tatapan penuh tekad. Ia tahu bahwa air mata phoenix adalah salah satu bahan yang dibutuhkan untuk membuat obat yang bisa menyembuhkan penyakit ibunya.


“Satu sudah, tinggal dua,” tanggap Nine dengan nada serius, “selanjutnya, lebih berbahaya dari ini.”


Sans menggesekkan lengannya pada mata dengan cepat, menyapu air mata dari pipi. Ia mendengus mengembalikan semangat dari kesedihan menjadi garang.


“Kita buktikan hasil latihan selama dua tahun. Kita akan dapatkan bahan itu.”